
"Sean.." Sheila duduk di sampinh Sean masih dengan menggelayuti lengannya. Sean berdehem menjawab panggilan Sheila, atensinya masih pada ponsel yang ia pegang.
"Kau tidak serius kan dengan gadis itu?" tanya Sheila membuat fokus Sean pecah.
Ia beralih menatap gadis di sampingnya dengan pandangan tak terbaca. "Sheila..."
"Listen to me, kau sama memiliki posisi penting dalam hidupku. Namun, aku menganggapmu tak lebih dari seorang sahabat. Aku benar benar serius dengan hubunganku, dan gadis itu adalah Zee. Aku tau kau pasti mengerti." Sean berucap lembut dengan menatap sepenuhnya pada Sheila yang mulai berkaca-kaca. Perlahan tangannya melepas lengan Sean.
"Sean, kau tau kau menyakitiku?" tanya Sheila.
"Aku-"
"Aku mengerti dan akan berusaha bahagia untukmu..." Air mata Sheila jatuh bebas ke pipinya diikuti air mata yang lainnya jatuh semakin deras.
"Aku minta maaf... tapi hubungan kita tidak akan lebih dari seorang sahabat." Sean membawa Sheila ke dalam pelukannya. Pelukan persahabatan yang begitu erat.
"Apa aku harus menunjukkan ini pada Zee?" tanya seseorang dari arah belakang keduanya setelah bersiul menatap hasil jepretannya. Atensi keduanya beralih ke arah belakang menatap kedua. Ralat, pada ketiga makhluk yang baru saja datang itu.
"Mommy! Apa Aunty cantik ada disini?" tanya seorang bocah dalam gendongan ibunya. "Tanya sama Uncle Sean, Sayang."
Bocah itu lantas segera turun dari gendongan sang ibu lantas berlari ke arah Sean. "Uncle! I miss u."
"Hola Ravel, I miss u too," balas Sean, membawa bocah tersebut ke pangkuannya.
"Dimana Aunty cantik, Uncle?" tanya Ravel.
"Apa yang kau maksud Zee?" Ravel mengangguk semangat dengan penuh binar.
"Coba cari dia dan ajak bermain." Sean menurunkan Ravel yang langsung berlari ke dalam mansion sembari berteriak memanggil Zee.
"Hai Sheila, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" sapa Aurel sambil menghampiri Sheila yang sedari tadi diam.
"Aku baik... bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak datang ke pesta kemarin?" tanya Sheila.
"Zach ke Indonesia untuk pekerjaan. Jadi, sekalian saja kami berlibur di sana. Kau tau? Di sana sangat nyaman dan ramah! Andai aku bisa tinggal disana," ucap Aurel penuh binar menceritakan liburannya. Akhirnya kedua wanita ini membicarakan tentang destinasi wisata dan obrolan wanita lainnya hingga tak mempedulikan kedua pria yang sedari tadi sudah tak ada.
"Jadi, bagaimana investigasimu?" tanya Sean to the point ketika mereka sampai di kamar lama Sean.
__ADS_1
"Jawabannya ada di sini, kau bisa menontonnya." Zach memberikan sebuah flashdisk pada Sean. Sean mengambil laptop di atas meja belajarnya lantas menyetel video yang terdapat di dalam flashdisk tersebut.
'Hola guys! look's what I found! So sexy and beautiful! Dia kekasihku yang polos dan naif. Dia cantik dan baik hati, atau bodoh? Hahaha aku tidak tahu! Kita lihat ke dalamnya yang semakin cantik dan sexy...'
Video berlanjut hingga berdurasi 30 menit yang berisi pria tersebut mempertontonkan tubuh setengah naked Zee dan perbuatan bejat pria tersebut pada Zee yang tak sadarkan diri. Wajahnya memang tak diperlihatkan, hanya sebatas dagu, tetapi ia bisa langsung mengenali siapa gadis di dalam video tersebut. Wajah bagian bawahnya terdapat banyak memar yang langsung Sean sadari.
Brak!
Suara bantingan laptop terdengar keras di dalam kamar yang hening ini membuat Zach yang tengah mengotak atik ponselnya terhenyak.
"Siapa bocah bajingan itu?" tanya Sean dingin dengan intonasi nada yang dalam.
"Kekasihnya," jawab Zach masih pada posisinya.
"Di-dia mantan kekasihnya Zee, Samuel Ragardan." Zach buru-buru meralat jawabannya begitu sadar suasana hati Sean.
"Dia tidak mendapat hukuman karena ayahnya pemilik sekolah mereka. Sedangkan Zee hanya bisa bungkam karena ancaman Samuel dan ayahnya mengenai video itu. Ayahnya adalah salah satu politisi disana, dan mungkin masih memiliki salinan video ini." Zach menjelaskan.
"Kau harus berhati-hati, Sean. Jangan gegabah mengambil langkah dengan video ini. Aku bukan tak peduli pada Zee, justru karena inilah aku peduli padanya. Pikirkan mengenai Zee dari sana Sean," ucap Zach sembari menepuk pundak Sean beberapa kali. Berusaha mengurangi emosi yang membuncah dalam diri Sean yang disalurkannya lewat kepalan tangannya. Zach tau itu.
Sean menarik napasnya kembali dan berusaha meredam emosinya yang masih di titik tertinggi. Dirinya pastikan keluarga yang sudah menyakiti gadisnya akan hidup sengsara sampai rasanya mati adalah pilihan terbaik. Politisi? Cih! Lihat saja bagaimana Sean akan membalas mereka lebih kejih dari cara terkejih melalui cara bisnis. Sean beranjak dari duduknya dan mengambil kembali flashdisk tersebut kemudian memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia menyugar rambutnya dan menggulung lengan kemejanya hingga ke siku lantas melangkah keluar.
"Kenapa dengan kakimu sayang?" Zee berjingkat terkejut mendengar suara Sean yang tiba tiba saja masuk ke dalam telinganya.
"Selalu saja mengejutkanku!" ketus Zee.
"Maaf, Sayang..." Sean kembali memeluk pinggang Zee.
"Panggil Sheila untuk ke meja makan." Zee melepaskan tangan Sean yang memeluknya dan melenggang pergi membuat Sean yang sedikit heran. Rasanya ada sedikit perubahan pada diri Zee.
"Hai Zee," sapa Zach dari arah berlawanan Zee setelah keluar dari kamar Sean.
"Hai Zach, kapan kau sampai?" tanya Zee sembari tersenyum.
Kenapa cara menjawab Zee padanya dan Zach sangat berbeda? Sean bertanya pada dirinya sendiri melihat sikap Zee yang berbeda jauh padanya.
"Baru saja, aku akan memanggil Aurel sekalian dengan Sheila." Zach berlalu setelah mendapat anggukan Zee.
__ADS_1
Zach menepuk pundak Sean yang berada beberapa meter di belakang Zee. "Kau menunggu apa? Cepat kejar dia sebelum dia bertambah marah, Bodoh!"
Sean mendengus dan segera menyusul Zee. Apa maksudnya bertambah marah? Apa Zee marah padanya? Tapi untuk sebab apa? Pertanyaan-pertanyaan timbul di dalam kepala Sean.
"Babe... What's wrong?" tanya Sean tak peka, ia menghadang jalan Zee.
Zee menatap Sean dengan kesal. Ia melipat tangannya di depan dada. "Menurutmu?"
"Kau marah? Aku minta maaf, jika membuat salah padamu." Zee memutar bola matanya lantas berjalan melewati Sean begitu saja. Membuat Sean semakin bertanya tanya. Apa yang sudah dirinya lakukan hingga membuat gadis itu marah padanya?
"Zach!" teriak Sean memanggil nama pria itu. Ia berjalan menghampiri mereka bertiga yang hendak ke meja makan juga.
Sean menarik kerah baju Zach dan menatapnya tajam. "Apa kau memberikan fotoku dan Sheila tadi?"
"Wow, Chill, Dude... Easy Man. Aku tidak pernah memotret kalian. Bisa kau lepaskan bajuku?" tanya Zach sembari mengangkat kedua tangannya.
Sean menatap Sheila yang juga menatapnya. Sheila mengangkat bahunya acuh seolah tak tahu.
"Katakan sejujurnya!"
"Kau bisa melihatnya di ponselku." Zach menyodorkan ponsel miliknya pada Sean yang langsung di rebutnya.
"Sudah kubilang aku berkata jujur, kan?" tanya Zach setelah mendapatkan ponselnya kembali.
"Biar kuberi tahu kau ya Kakak ipar. Jika seorang wanita cemburu kau harus membujuknya dengan manis," ucap Zach lantas melenggang pergi menyusul kedua wanita tadi yang sudah meninggalkannya.
Sean diam di tempatnya seperti orang idiot. Kata-kata Zach seketika masuk ke dalam otaknya. Jadi alasan Zee bersikap dingin padanya adalah cemburu. Sean bodoh!
Ia bisa saja pintar dalam bidang bisnis, namun orang seterhormat dan berwibawa macam Sean bisa juga bodoh karena tak bisa menebak seorang gadis yang cemburu.
-
-
-
tbc
__ADS_1
See u in the next chapter readers!
Follow ig Riby_Nabe