
Zee sejak tadi tak melepaskan tautan jarinya dengan Sean. Bahkan saat keduanya kini tengah berada di dalam mobil. Zee sama sekali tak melepaskan genggaman tangan Sean. Ia bahkan selalu menggelayuti lengannya Sean. Satu tangan Sean menyetir sedang tangannya yang lain dikuasai Zee. Sean mengecup lembut punggung tangan Zee yang ia genggam ketika lampu berwarna merah. Sean kembali melajukan mobilnya setelah lampu hijau. Hingga beberapa menit mobil Sean bersama dengan kendaraan lainnya di jalan raya, akhirnya mobilnya terparkir di sebuah restoran berbintang yang terkenal di kota London.
Zee langsung membuka pintu mobil dan menutupnya, diikuti dengan Sean. "Easy, Babe. Mereka ada di dalam dan tak akan kemanapun."
"C'mon, Sean! Aku sudah tak sabar!" seru Zee tak mengindahkan apa yang dikatakan Sean.
Zee mendahului langkah Sean untuk masuk ke dalam restoran tersebut. Begitu ia masuk ke dalam, matanya sibuk mencari keberadaan kedua sahabat sehidup sematinya yang sudah beberapa bulan ini tak bertemu. Matanya menangkap sepasang manusia yang tengah berbincang di meja dekat jendela restoran ini. Mereka terlihat begitu asyik. Melihat keduanya membuat mata Zee berkaca-kaca. Kenangan-kenangan yang mereka lewati satu persatu berputar di otaknya.
Lamunannya buyar ketika seseorang merangkul pinggangnya. "Kenapa kau masih disini, Sayang?"
"Ayo," ajak Sean.
Perlahan Zee melangkah dengan masih menatap keduanya. Meski hanya beberapa bulan, ia merasa seolah sudah sangat lama dan bertahun-tahun. Bagaimana tidak? Sedari dirinya duduk di bangku sekolah dasar, setiap hari mereka selalu bersama, saling melindungi, dan saling menyayangi layaknya saudara kandung meskipun tak memiliki hubungan darah.
"Kyra..." Gadis yang dipanggil Zee itu seketika mendongakkan kepalanya menatap seseorang yang dikenalnya.
"Zee..." Air mata Kyra jatuh begitu saja tanpa aba-aba begitu melihat Zee berada di depannya saat ini. Kyra berdiri dari duduknya lantas dengan cepat memeluk Zee yang sudah bersiap merentangkan kedua tangannya.
"Zee... gue yakin lo masih hidup dan itu beneran... walaupun polisi bilang lo udah meninggal, tapi gue percaya lo pasti masih hidup," ucap Kyra dengan di tengah sesegukannya di dalam pelukan Zee.
Zee tak dapat mengeluarkan kalimatnya ditengah tangisnya yang juga tak kalah dari Kyra. Ia hanya bisa mengangguk menjawabnya.
"Zee gue kangen sama lo," lanjut Kyra setelah melepas pelukannya.
"Zee kangen Kyra juga," jawab Zee masih dengan tangisannya.
"Aidan! Ga kangen Zee, nih?" tanya Zee yang kini beralih menatap Aidan yang masih bergeming di tempatnya menatap interaksi Kyra dan Zee.
"Of course I miss you too my little sister." Aidan membawa Zee kedalam pelukannya dan mengecup singkat rambutnya.
Sean sebenarnya ingin sekali menarik Zee kembali ke sisinya, tetapi ia tak mau merusak pertemuan pertama mereka setelah lama tak bertemu. Dirinya juga dapat merasakan kasih sayang Aidan pada gadisnya tak lebih dari seorang kakak pada adiknya. Sean sedikit tenang sekaligus ikut bahagia untuk Zee. Sedikit perasaannya merasa bersalah setelah memisahkan mereka.
"Ayo duduk dong, udah nangis-nangisannya." Aidan melepas pelukannya dan menghapus air mata dipipi Zee.
"Silahkan duduk, Tuan Rexford," ucap Aidan mempersilahkan Sean juga duduk.
"Zee gimana kabarnya?" tanya Aidan.
"As you look, Aidan," jawab Zee dengan senyuman manisnya.
"And I see you not fine?" Semua yang ada di meja mendadadak menatap Aidan beberapa detik.
__ADS_1
"Tentu saja aku baik baik saja," ucap Zee memecah keheningan sembari tertawa renyah diikuti tawa yang lainnya kecuali Sean.
"Emm Zee... jadi bagaimana ceritanya?" tanya Kyra sembari melirik Sean sebentar.
Zee melirik sebentar Sean dan kembali menatap Kyra. "Aku sebenarnya... memang kecelakaan." Ia tidak bisa menceritakan yang sebenarnya sekarang pada sahabatnya. Kyra menggenggam erat tangan Zee yang berada diatas meja berusaha menyalurkan kekuatannya pada Zee.
"Sean menolongku dan..."
"Aku jatuh cinta padanya dan menjadikannya tunanganku." Sean memotong ucapan Zee sebelum Zee menyelesaikan ucapannya. Zee langsung mengalihkan tatapannya pada Sean yang duduk di sampingnya yang juga tengah menatapnya intens.
"Em... wow it's really romantic," ucap Kyra berkomentar setelah di antara mereka hanya terdiam.
"Itu acara yang sangat mendadak, jadi aku tidak memikirkan mengundang siapapun. Lagi, Sean menjadikannya sebagai kejutan." Zee yang menyadari tatapan Kyra, segera menjelaskan.
"Aku ucapkan selamat pada kalian," ucap Aidan angkat suara.
"Saya harap, Anda bisa menjaga adik kecil saya, Tuan Rexford," sambung Aidan.
Sean hanya menatap datar Aidan, tak berniat menjawab. Perbincangan dilanjutkan dengan pembicaraan Kyra, Zee, dan Aidan yang membicarakan banyak hal. Setelah sekian lama, mereka kembali berbincang panjang lebar.
"Sayang, aku harus ke kantor untuk mengecek beberapa dokumen sebentar. Setelah selesai, aku akan menjemputmu." Sean berkata setelah menatap ponselnya.
Zee mengalihkan atensinya. Ia menatap Sean lantas menggangguk mengiyakan. "Take care."
"Bye..."
"He's so hot and so sweet, Zee!" puji Kyra setelaj kepergian Sean.
"Babe..." tegur Aidan, menyuarakan ketidaksukaannya.
"Zee kau yakin dengan pria itu?" tanya Aidan beralih menatap Zee.
Zee menatap Aidan dengan tatapan sulit diartikan ketika mendapat pertanyaan itu dari Aidan. Pria ini selalu saja mengetahui apa yang Zee rasakan. Ia bisa menebak, jika Aidan tidak mempercayai sepenuhnya apa yang dikatakan olehnya tadi.
"Aidan tapi gue bisa rasain kalau Zee emang beneran sayang dengan Tuan Rexford, iya kan Zee?" tanya Kyra menatap Zee kembali.
"Aku juga bisa melihatnya, tapi aku juga bisa melihat keraguan di matanya. Kalau memang Zee serius, bagaimana dengan Tuan Rexford?" Aidan bertanya kembali.
"Kita belum terlalu mengenalnya, kita sudah melindungi Zee dari semua pria bajingan yang mendekatinya, lalu kenapa kita tak melakukan hal yang sama padanya?" lanjut Aidan.
"Aidan!" seru Kyra
__ADS_1
"Apa pantas lo menyebut tunangan orang yang lo sebut ade, bajingan?!" Kyra berseru keras.
"Lo sendiri bahkan belum terlalu mengenal Tuan Rexford dan dengan seenak jidat lo ngejudge dan nyimpulin dia bajingan, bahkan didepan Zee! Sean bahkan nolongin Zee waktu kita berdua kalut nyari sahabat yang udah kita anggap ade kita sendiri!" Kyra menyorot Aidan dengan mata yang tajam.
"Aidan, Kyra kalian kok jadi berantem gini sih!" Zee melerai mereka berdua. Ia belum pernah melihay mereka berdua terlihat tidak akur seperti ini.
"Aku baru kembali dan bertemu kalian lagi bukan untuk melihat kalian berdebat, ok? Ayolah!" ucap Zee.
"Arrgh sejak tadi kita mempertengkarkan Sean! C'mon... apa tidak ada hal yang lain?" tanya Zee jengah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kyra Aidan!" seru Zee yang sama sekali belum mendengar apapun dari keduanya.
"I'm sorry Zee, Aidan ga maksud.. gue cuman khawatir aja, Zee." Aidan menghela napas dan berbicara lebih dulu.
Zee tersenyum dan menggangguk menatap Aidan. Ia memberi kode dengan lirikan matanya untuk membujuk Kyra.
"Babe..." Aidan beralih menatap Kyra yang berada di sampingnya.
"I'm sorry," ucap Aidan sembari memegang tangan Kyra yang berada diatas meja.
"Ra... " Kini giliran Zee yang berusaha membujuk Kyra.
"Find! Gue juga minta maaf!" Kyra membawa keduanya kedalam pelukannya sekaligus. "Kita kangen lo Zee..."
"Me too Ra, me too."
"Ayo dong pesen makanan, Zee laper nih!" Kyra langsung menjitak kepala gadis itu begitu dirinya merasa kesal karena momen mereka selalu saja rusak akibat ulahnya.
"Kyra!!!"
"Zee!!!"
Keduanya sama-sama berteriak kesal dan kemudian tertawa bersama. Ahh Zee sangat merindukan saat-saat ini. Benar-benar sangat.
-
-
-
tbc
__ADS_1
Follow ig Riby_Nabe