Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 38 : talk


__ADS_3

Zee keluar dari toilet setelah selesai dengan urusannya yang memakan waktu 30 menit lebih. Yang lebih banyak dihabiskan dengan sibuk menenangkan dirinya sendiri. Dirinya berharap dengan berlama-lama di toilet membuat Sean sudah tertidur. Namun, harapan tinggalah harapan. Karena Sean belum tidur. Ia tengah duduk manis di atas kasur dengan laptop dipangkuannya. Sean masih tak menyadari keberadaannya. Buru-buru dan hati-hati Zee melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar kamar.


"Kau mau kemana, Sayang..." Baru saja tangannya menyentuh knop pintu, suara Sean membuat tubuhnya berhenti bergerak.


"Aku... aku akan... akan menonton!" seru Zee setelah alasan dibuat-buat itu keluar di kepalanya.


"Kemarilah." Sean menyimpan laptopnya di meja nakas dan menepuk tempat kosong di sampingnya. Akhirnya mau tak mau Zee berjalan ke atas kasur. Namun, sedikit menjaga jaraknya dari Sean. Alhasil keduanya sekarang sama-sama berada di ujung kasur.


"Zee..." Suara berat Sean bernada datar kembali terdengar yang membuat Zee mau tak mau masuk kedalam pelukan Sean yang merentangkan tangannya.


Sean mematikan lampu nakas dan membimbing Zee untuk tidur dengan beralaskan tangannya. Zee hanya diam dalam keheningan malam tak membantah lagi perkataan Sean. Bagaimana dirinya bisa tidur jika Sean memeluknya seperti ini. Yang ada dirinya akan terjaga sepanjang malam.


"Tidurlah, Sayang." Tangan Sean yang lain, yang memeluk tubuhnya, bergerak mengelus punggung Zee teratur dan lembut.


"Sean..." Sean hanya berdehem menjawab panggilan lembut Zee.


"Kenapa kau membuat keputusan seperti ini?" tanya Zee.


"Keputusan yang mana?" Sean balik bertanya menjawab pertanyaan Zee.


"Membuatku... bertunangan denganmu?" Zee mendongak menatap Sean samar di kegelapan kamar.


Usapan lembut pada punggung Zee berhenti. Sean membuka matanya perlahan, membalas tatapan Zee yang juga menatapnya. Keduanya saling menatap satu sama lain di dalam kamar dengan cahaya lampu yang temaram.


"Agar kau tak kabur lagi dariku sampai kapanpun." Jawaban Sean sedikit tidak memuaskan Zee.


"Aku bisa."


"Tidak karena aku sudah mengikatmu."


"Aku bisa melakukannya."


"Tidak bisa."


Zee mengalah tidak membantah lagi. "Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Zee mengalihkan pembicaraan.


"Ini surprise untukmu," jawab Sean.


"Bagaimana jika aku tidak mau, tadi?" tanya Zee kembali.

__ADS_1


"Tapi kenyatannya kau mau dan sekarang kita sudah bertunangan." Zee menjeda kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulutnya. Otaknya masih tak menemukan alasan apa yang cukup masuk akal dibalik keputusan Sean.


"Sean... Aku masih tak menemukan apa alasan yang paling masuk akal dibalik keputusanmu." Akhirnya kejujuran keluar dari mulut Zee.


"Kita tak saling mengenal satu sama lain, kita baru saja bertemu satu bulan lebih yang lalu. Kita tak memiliki hubungan apapun sebelumnya, kau menculikku dan tak membiarkanku pergi, aku masih tak tahu apa alasanmu. Kau melecehkanku lalu memohon maaf padaku, memperlakukanku dengan baik dan sekarang kau membuat aku terikat denganmu. Apa maksud dari semua ini?! Aku sama sekali tak mengerti dirimu... Kenapa harus aku?" Akhirnya semua pertanyaan yang berakar dan membuncah di kepala serta dada Zee, meluap begitu saja.


Tangisnya sudah pecah, ia sudah tak tahan untuk tak menanyakannya. Bukankah ia juga berhak tahu karena dirinya adalah korban? Ia sudah masa bodo jika Sean akan melecehkannya seperti saat itu lagi. Ia hanya ingin tahu apa maksud dari semua yang dilakukan Sean padanya. Apa mungkin Sean akan benar-benar membuat dirinya selamanya terkurung dengannya?


"Sstt... Babe, kumohon jangan menangis." Sean membawa Zee ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya kembali dengan lembut dan menciumi rambutnya. Tangis Zee teredam di dalam dada Sean.


"Aku minta maaf padamu, Sayang... berhentilah menangis," ucap Sean.


"Kau ini bodoh atau pura pura bodoh! Aku tidak butuh maafmu, aku ingin penjelasan darimu Sean!" seru Zee ditengah tangisannya.


"Oke oke aku akan menjelaskannya padamu, tapi tolong berhentilah menangis dulu. Tenggorokan dan matamu akan sakit jika terlalu banyak menangis." Zee menjauhkan wajahnya dari dada Sean. Isakannya masih ada, tetapi tangisnya telah berhenti. Ia menyusutkan ingusnya yang keluar ke kaos yang digunakan Sean, tak lupa mengelap wajahnya dengan kaos Sean.


"Cepat jelaskan! Kenapa kau menatapku!" ketus Zee yang menunggu Sean tak kunjung membuka mulutnya.


"Iya, aku harus menjelaskannya dari mana?" tanya Sean.


"Semuanya dari awal kau menculikku!" Zee semakin geram.


"Sean!" seru Zee.


"Aku menyukaimu!" Zee terdiam mendengarnya.


"Hah? Tapi sejak kapan? Kenapa bisa?" tanya Zee beruntun sembari mengedip-ngedipkan matanya tak percaya menatap Sean.


"Mungkin saat kau tertidur saat aku berpidato di kampus? Mulai dari situ aku mencaritahu tentangmu melalui Axel." Sean diam beberapa saat sebelum mengucapkan kalimat selanjutnya.


"Aku tidak tau bagaimana bisa, tapi saat aku menatapmu, kau begitu berbeda. Jika wanita lainnya menatapku penuh kekaguman dan memuja, kau sama sekali tak tertarik dan begitu acuh padaku. Menatapmu dari jauh semakin membuatku gila memikirkamu, jadi aku memutuskan untuk menculikmu dan mengurungmu di mansionku agar aku bisa memantaumu di jangkauanku." Sean mengakhiri penjelasannya.


"Kau gila! Kau hanya terobsesi padaku Sean! Bukan menyukaiku! Perasaanmu tak lebih dari rasa penasaran yang semakin membuatmu terobsesi padaku." Zee bangun dari tidurnya yang membuat Sean ikut terbangun.


"Percayalah... perasaanmu tak akan bertahan lama." Sean diam, tak mengatakan apapun atau membantah apa yang diucapkan Zee.


"Kau pasti bisa menemukan seseorang yang benar-benar kau cintai dan mencintaimu dan itu... bukan aku." Zee menelan ludahnya setelah mengatakan kalimat itu. Kalimat yang cukup berat ia utarakan.


"Aku bisa berteman denganmu, dan kita masih bisa bertemu kapanpun... kan?" tanya Zee kemudian.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak ingin berteman denganmu."


"Tapi-"


Sebelum ucapan Zee selesai, Sean lebih dulu membungkam bibir Zee yang terbuka dengan bibirnya. Ciumannya semakin dalam dan memburu membuat Zee terkejut dan tak sempat menolak. Zee berusaha mendorong dada Sean yang sudah berada diatasnya, tetapi tenaga Sean tentu saja lebih besar darinya. Ia hanya bisa menunggu hingga Sean melepaskan bibirnya, tanpa membalas ciumannya. Beberapa saat Sean barulah melepaskan tautan bibir keduanya karena membutuhkan oksigen. Bibirnya membengkak, begitupun dengan milik Zee yang lebih membengkak dan memerah. Napas keduanya memburu satu sama lain, saling mencuri oksigen. Sean masih menahan tubuhnya diatas tubuh Zee tak beranjak sedikitpun. Ia menatap dalam mata Zee dan menempelkan dahinya pada dahi Zee.


"Zee... aku memang tak tahu perasaan ini akan bertahan sampai kapan, tapi saat ini aku menginginkanmu lebih dari itu. Kumohon tetaplah bersamaku..." Di dalam kamar yang bercahaya temaram ini, Zee dapat melihat siluet wajah penuh permohonan Sean yang berada diatasnya.


"Kau tidak akan selamanya mengurungku seperti ini kan? Kau pasti akan bosan dan menemukan wanita itu, Sean... aku tidak bisa bersama seseorang yang tak mencintaiku," ucap Zee.


"Kalau begitu ajari aku untuk mencintaimu." Sean menjawab langsung.


"Aku tidak bisa dan tidak mau," jawab Zee sembari memalingkan wajahnya.


"Kenapa?"


"Apa karena-"


"Aku sudah memaafkanmu untuk hal itu... hanya saja aku tidak mau kau mencintaiku." Zee langsung menatapnya.


"Kenapa?" untuk kedua kalinya pertanyaan itu keluar.


"Ada begitu banyak wanita luar biasa di sekitarmu tapi kenapa kau memilih aku?" Zee malah bertanya padanya.


"Hanya karena aku tak tertarik dan acuh padamu? Di luar sana mungkin lebih banyak wanita sepertiku yang tak tertarik padamu, dan mungkin mereka wanita luar biasa. Kenapa kau tak memilih mereka saja?"


Sean kembali ke sisi Zee, ia menatap wajah Zee dari samping. "Zee... hei look at me, Bae."


"Kenapa kau seakan-akan merendahkan dirimu, hm? Aku memilihmu karena itu adalah kau. Aku tidak peduli pada wanita lain yang lebih baik daripada kau, aku hanya ingin dirimu." Sean mengelus pipi Zee yang halus. Zee tak kunjung membalas tatapan matanya, ia diam menatap ke arah lain tak menjawab ucapan Sean. Ia tidak bisa atau lebih tepatnya tidak mau, karena sesuatu dalam dirinya. Masa lalunya.


"Tolong buat aku mencintaimu Zee."


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2