
Dante terlihat sangat terkejut dan tidak memberikan respon apapun setelah mendengar cerita dari Sean dan Zee. Ia baru saja senang karena melihat putri semata wayangnya itu kembali dari negeri yang jauh. Namun, yang dibawa oleh putrinya pulang adalah sesuatu yang membuat ia sangat kecewa. Tidak pada putrinya, tetapi pada dirinya sendiri. Ayah mana yang tidak sedih dan kecewa mendengar jika putrinya sudah hamil sebelum menikah.
Dante bersandar pada sofa dan menutup wajahnya dengan satu tangan. Perlahan air matanya mengalir membasahi wajahnya. Ia tidak bisa berkata apapun sampai menangis.
"Papi, maafkan Zee." Zee segera mendekat pada sang ayah dan memeluknya. Ia juga mulai ikut menangis, melihat ayahnya yang menangis.
Sean membiarkan hal itu saja. Ia yang memiliki budaya berbeda dari mereka berdua, sedikit tidak mengerti dengan ayah Zee. Namun, ia jelas mengetahui jika calon ayah mertuanya itu sangat kecewa. Namun, lebih kepada dirinya sendiri.
"Apa selama ini Papi kurang mendidikmu? Atau Papi salah dalam mendidikmu? Papi benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini, Zee. Papi kecewa pada diri sendiri karena tidak bisa mendidik putri Papi dengan benar dan tidak bisa menjaganya." Dante menggelengkan kepalanya.
Ayahnya yang selama ini selalu tegar dan tidak pernah menangis setelah kepergian ibunya, kali ini menitikkan air matanya kembali setelah sekian lamanya. Dan itu karena dirinya, putri kandung dari ayahnya sendiri.
"Tidak, ini semua salah Zee, Pi. Zee yang salah, tolong maafkan Zee." Zee ikut menggelengkan kepalanya menyangkal apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Dante sambil melirik ke arah Sean setelah menghapus air matanya. Meski ia benar-benar kecewa, tetapi ia sedikit lega dan tenang karena pria yang sudah menghamili putrinya mau bertanggung jawab bahkan hingga datang sendiri kemari.
"Sean mengatakan, aku boleh melanjutkan kuliahku setelah melahirkannya. Ia juga mengizinkan aku untuk melakukan apapun yang aku inginkan meski kami sudah menikah dan memiliki anak." Zee menjawab.
"Papi lega mendengarnya kalau begitu, Zee," timpal Dante.
"Lalu, apa Papi akan merestui hubungan kami?" tanya Zee pelan sedikit takut.
"Apa lagi yang bisa dilakukan jika keadaanmu sudah seperti ini? Tidak ada gunanya Papi melarang kalian, malah akan semakin buruk." Dante berbicara seraya berdiri dari duduknya.
"Papi!" seru Zee seraya ikut berdiri.
"Terima kasih, dan maaf." Zee memeluk sekali lagi sang ayah.
Dante tidak mengatakan apapun selain membalas pelukan dari putrinya. Setelah melihat keseriusan dalam diri calon menantunya tadi sewaktu berbicara menjelaskan, ia melihat sebuah rasa cinta pada putrinya. Begitu pun dengan kebahagiaan yang dirasakan putrinya saat ini. Ini membuat ia mengenang masa lalu dimana ia meminta izin pada ibu Zee. Sama seperti ini. Ia tidak ingin Zee berakhir seperti ibunya yang hamil lebih dulu dari menikah. Namun, apa yang dikatakan perbuatan orang tua akan turun pada anaknya sepertinya adalah benar.
__ADS_1
"Papi ingin istirahat dulu. Kalian berdua tidak membiarkan aku beristirahat dan membuat aku terkejut setelah lelah bekerja!" ucap Dante seraya melepaskan pelukan mereka.
"Selamat malam, Papi. Selamat beristirahat." Zee membiarkan ayahnya pergi.
"Kalian harus tidur di kamar terpisah! Suruh pria itu tidur di kamar tamu, Zee." Danter berbicara tanpa berbalik menatap keduanya.
"Namanya Sean, Pi!" Sang ayah tidak menjawab lagi.
"Aku tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh ayahmu tapi sepertinya ia merestui kita?" Sean berbicara sepeninggalnya ayah Zee.
Zee berbalik menatap Sean dan mengangguk senang. Sean segera mencium bibir Zee terburu-buru. Jika biasanya Zee juga akan senang dan membalas ciumannya, kali ini Zee buru-buru melepaskan bibir mereka kemudian melirik ke sekitar.
"Kita di rumah Papi!" peringat Zee.
"Apa yang salah dengan mencium tunanganku sendiri?" tanya Sean bingung.
"Jangan lupa kita ada di Indonesia, bukan di Inggris! Jaga sikapmu, Sean." Sean sedikit kecewa dengan aturan di negara Indonesia yang tidak bisa terlalu bebas.
"Apa kita tidak bisa tidur bersama?" tanya Sean.
"Tidak akan mungkin," jawab Zee yang membuat Sean semakin kecewa.
"Kau membawa barang-barangmu sendiri, kan?" tanya Zee setelah sampai di kamar yang akan ditempati oleh Sean.
"Selamat beristirahat, Sean." Zee baru saja hendak meninggalkan Sean.
"Dimana kamarmu, Zee?" tanya Sean sambil menahan tangan Zee.
"Kamarku ada di seberang kamarmu. Aku sarankan untuk tidak menyelinap ke kamarku karena kamar Papi ada di sebelah kamarmu." Zee tersenyum dan mulai melepaskan satu persatu jari Sean yang menahan pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang." Ia kemudian menutup pintunya.
Zee menghembuskan napas lega setelah mengirim Sean ke kamarnya. Ia lantas tersenyum, mengingat kembali bagaimana wajah Sean yang penuh kekecewaan. Zee pergi ke kamarnya yang ada di seberang kamar Sean.
Zee segera mandi dan mengganti pakaiannya yang sudah sangat lengket oleh keringat. Perjalanan yang ditempuh untuk sampai kemari adalah 16 jam kurang yang mau tak mau tubuhnya akan sangat pegal karena harus duduk terus menerus di pesawat. Meski memakai jet pribadi sekalipun, tidak ada yang bisa dilakukan selain duduk atau berbaring.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Zee melanjutkannya dengan memakai rangkaian skincare malam yang rutin ia pakai. Biasanya, ia akan minum obat sebelum tidur, tapi kali ini tidak. Ngomong-ngomong mengenai obat, ia juga melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya yang sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Ia terlalu takut untuk membicarakan hal tersebut pada ayahnya yang mungkin akan lebih sedih daripada ini. Jadi, Zee memilih menguburnya dalam-dalam dan membiarkan itu sebagai masa lalunya yang buruk. Hidupnya sudah lebih baik sekarang dan ia harus menjalaninya.
Zee mematikan lampu dan ruangan berganti cahaya menjadi lebih redup dari lampu tidur. Kamar tidurnya, masih tetap sama seperti saat terakhir kali ia tinggalkan. Rasa rindu yang selama ini ada di dalam dirinya, akhirnya terbayar sudah.
Baru saja ia memejamkan kedua matanya, ia mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka. Zee kembali bangun dan menyalakan lampu yang lebih terang. Melihat dengan jelas Sean yang sudah ada di kamarnya.
"Sean! Aku sudah mengatakan kalau kita--"
"Kalau begitu jangan menimbulkan suara apapun," potong Sean sambil membekap mulut Zee.
"Tapi Sean, Papi ada di kamar!" seru Zee.
"Aku hanya akan tidur di sampingmu sambil memelukmu saja. Tidak yang lain. Dan aku akan pindah pagi-pagi nanti sebelum ia bangun ke kamarku." Sean yang berbicara dengan nada penuh permohonan pada Zee membuat ia tidak bisa untuk menolaknya.
"Hanya tidur dan kau akan pindah nanti," ucap Zee yang kemudian kembali berbaring.
"Tentu saja!" Seperti anak-anak yang baru saja diberikan permen oleh Zee, Sean segera naik ke atas kasur dan tidur memeluk Zee seperti yang biasa mereka lakukan.
Zee semakin merapatkan tubuhnya pada Sean. Sudah lama sejak ia merasakan kenyamanan tidur dalam dada bidang Sean. Perlahan kedua matanya memberat dan alam mimpinya siap datang menjemput.
-
-
__ADS_1
-
To be continued