Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 43 : Surprise


__ADS_3

"Aidan!" seru Kyra sembari menepuk pundak Aidan berulang kali. Aidan menoleh ke arah Kyra yang nampak fokus pada ponselnya sembari menepuk-nepuk pundaknya.


"Ini Zee kan, Ai?" tanya Kyra sembari memberikan ponselnya pada Aidan.


Aidan mengambil ponsel Kyra sedikit tergesa dan menatap lamat-lamat layar ponselnya yang menampilkan foto Zee bersama seorang pria di sebuah pesta dalam berita utama pagi ini. Judul besar yang terpampang, tertulis jelas jika pria itu adalah pengusaha muda yang terkenal, bertunangan dengan Zee.


"Ini... dia... pria yang waktu itu datang ke kampus kita kan, Ai?" tanya Kyra sembari menarik kerah kemeja Aidan dengan mata berkaca-kaca.


"Aidan! jawab!" seru Kyra yang tak kunjung mendapat jawaban Aidan.


"Tuan Rexford," ucap Aidan lemah.


"Aku yakin Zee pasti masih hidup, kan? Dan itu buktinya." Pecah sudah tangis Kyra. Aidan memeluk erat Kyra dengan mata yang juga ikut berkaca-kaca. Tangannya mengelus rambut Kyra lembut berusaha menenangkannya, meskipun hatinya sendiri sedikit lega dan sedikit gundah.


"Iya, Zee masih hidup," ucap Aidan dengan suara yang bergetar. Ia menyeka air mata di sudut matanya yang hendak turun ke pipinya.


Setelah satu hari, Zee menghilang, mereka berdua melapor pada polisi. Para polisi yang mencari, hanya menemukan Zee dalam keadaan cukup mengenaskan dan menyimpulkan jika Zee kecelakaan yang berakhir menewaskannya. Aidan dan Kyra tentu tidak mempercayainya karena jasad Zee tak kunjung ditemukan. Dan kepercayaan mereka serta usaha mereka mencari Zee, akhirnya membuahkan hasil. Melihat foto yang dipastikan adalah sahabat mereka, mereka cukup senang dengan fakta bahwa sahabatnya masih hidup.


Zee dan Sean sudah berada di dalam jet menuju kembali ke London.


"Istirahat saja di kamar, ya? Kau terlihat pucat," ucap Sean sembari mengelus rabut Zee lembut.


Pagi itu semuanya baik baik saja, tetapi setelah satu jam penerbangan mereka, Zee muntah-muntah dan demam tinggi. Bodohnya tidak ada dokter ataupun perawat yang disiapkan Sean di dalam pesawat. Zee mengangguk lemah di depan wastafel setelah memuntahkan cairan untuk yang ke-3 kalinya. Sean dengan sigap menggendong Zee untuk dibawanya ke dalam kamar. Zee terlihat sangat lemah, ia menyandarkan kepalanya pada dada Sean dan memejamkan matanya.


"Sean..." panggil Zee lirih ketika Sean tengah menyelimuti tubuh Zee.


"Kau menginginkan sesuatu, hm?" tanyanya sembari mengelus pipi Zee lembut.


"Jangan tinggalkan aku." Zee mengambil tangan Sean yang mengelus pipinya dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


"Tidak akan, Sayang... aku ada di luar jika kau butuh sesuatu. Sekarang, beristirahat lah, ya?" Zee menatap Sean dengan pandangan tak terbaca. Ia masih diam ketika Sean mencium dahinya lembut. Sean lantas menegakkan tubuhnya kembali setelah mencium Zee dan hendak berlalu pergi. Zee memegang jari kelingking Sean saat pria itu hendak melangkah meninggalkannya.


"Apa ada yang kau mau?" tanya Sean. Zee diam saja ketika ditanya, ia hanya menatap Sean dengan mata yang berkaca-kaca bagai anak kucing meminta makan.


"Ada apa sayang? Bicaralah..." Sean berbalik dan tersenyum menatapnya.


"Tidak! Sana pergi kau, Sean!" Zee melepaskan jari kelingking Sean kasar sembari mendorong paha pria itu kemudian memutar tubuhnya menunggungi Sean.


5 menit, Sean masih bergeming ditempatnya menatap punggung Zee yang bergetar tanpa isak tangis. Namun, dirinya tau jika Zee tengah menangis. Zee merasakan ranjang yang ditidurinya bergerak, disusul dengan tangan besar yang hangat memeluk perutnya erat di dalam selimut yang ia pakai. Sebuah kecupan lembut mendarat di rambutnya.


"My Love... berhenti menangis, ok? Aku minta maaf karena tak peka padamu." Bisikan lembut itu mengalun lembut ditelinganya membuat Zee berhenti menangis. Ia diam saja ketika tangan besar Sean mengelus perutnya.


Begitu hangat dan menenangkan membuat tubuh Zee relax dan damai. Kantuk mulai menyerangnya hingga ia tak kuasa untuk menahannya dan ia pun akhirnya jatuh tertidur membiarkan alam mimpi menjemputnya. Deru napas teratur dan dengkuran halus terdengar di telinga Sean menandakan bahwa gadis itu sudah tertidur nyenyak. Dengan perlahan, ia melepas pelukannya dan bangkit berdiri dari atas kasur. Setelah memastikan Zee tidur dengan nyaman, Sean lantas keluar dari kamar.


"Berapa lama lagi kita sampai?" tanya Sean datar pada asisten setianya sekaligus tangan kanannya, Axel.


"Apa ada bandara terdekat yang bisa jadi pemberhentian?" tanya Sean kembali.


"Sayang sekali tidak ada, Tuan." Sedikit takut, Axel menjawab.


"Siapkan Dokter begitu kita mendarat!" perintah Sean.


Sean mulai berkutat dengan tablet ditangannya. Memeriksa beberapa email yang masuk yang salah satunya adalah email dari Dokter Johan, psikiater Zee. Dokter Johan mengatakan dalam emailnya bahwa hasil diagnosanya sudah keluar, dan ada satu hal penting yang hendak dikatakan Dokter tersebut. Akhirnya Sean menjanjikan janji temu malam ini pada dokter tersebut di mansionnya. Setelah lama berkutat dengan tabletnya, ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.


Kyra dan Aidan. Kedua nama itu masuk ke dalam jajaran kotak masuk email perusahaan. Keduanya sama-sama menanyakan keberadaan Zee. Apa yang sebaiknya ia lakukan?


Seluruh latar belakang Zee, Sean sudah mengetahuinya termasuk hal gelap itu. Ia juga tau bahwa kedua nama itu adalah nama penting di dalam kehidupan gadisnya. Ia menatap cincin pertunangannya yang melingkari jari manisnya. Rasa takut mulai menyelimutinya, jika ia membiarkan Zee bertemu dengan teman-temannya. Otaknya mulai berpikiran mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada setiap opsi yang ia akan ambil dan menimbangnya antar positif dan negatifnya.


Sean akhirnya memutuskan. Ia berdiri dan melangkah untuk masuk ke dalam kamar. Disana masih tetap sama, Zee masih tetap tidur dengan tenang di atas kasurnya. Sean mendekati ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Zee. Memeluk Zee yang sedikit terusik tetapi tak sampai bangun. Hanya semakin merapatkan tubuhnya pada Sean mencari kenyamanan pada dada bidang Sean. Lamat-lamat Sean menatap Zee yang menutup mata indahnya. Wajah khas Asia ini mampu membuat Sean jatuh kedalam pesonanya. Jika biasanya pesona Sean tak dapat ditolak, kini dirinyalah yang tak dapat menolak pesona seorang Linzy Alanza. Gadis Indonesia ini menyembunyikan luka yang dalam dibalik wajah manis, lugu, dan senyumannya.

__ADS_1


Sean mengecup dahi Zee lembut. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun Linzy. Kau hanya milikku." Sean berbisik lembut dan ikut memejankan matanya ikut menyusul Zee ke dalam alam mimpinya.


*Zee POV*


Aku membuka mataku dan bangkit berdiri. Kulihat sekelilingku yang aku tidak tahu dimana. Namun, nama tempat ini aku mengetahuinya. Taman bermain. Begitu banyak aneka macam permainan yang biasa dimainkan anak TK pada umumnya. Mataku menelusuri taman yang luas ini, kosong. Tak ada siapapun. Suara ayunan yang berderit masuk ke dalam telingaku membuat aku mengalihkan atensiku untuk berusaha mencari asal sumber suaranya. Di arah jam 6 aku melihat seorang bocah perempuan manis yang duduk di atas ayunan itu sembari menunduk.


Kakiku melangkah untuk mendekatinya. Saat sudah berada didepannya, anak perempuan tersebut mendongak menatapku. Astaga! Wajahnya mirip sekali dengan Sean, tetapi dalam versi perempuan. Aku tersenyum hangat menatap wajahnya yang juga tengah tersenyum kepadaku. Tanganku perlahan mendekati kepalanya mencoba mengelus kepalanya.


"Mommy!" pekiknya sembari bangkit dari ayunan tersebut dan memeluk tubuhku. Hingga aku tak dapat menahan keseimbangan tubuhku membuat aku terjatuh.


Bruk!


Zee membuka matanya langsung, jantungnya berpacu dengan cepat. Bulir bulir keringat dingin membasahi wajahnya. Baru kali ini dirinya bermimpi hal lain selain masa lalunya. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan duduk disisi ranjang. Zee mengatur pernapasannya dan menenangkan diri. Tangannya terulur mengambil gelas di atas nakas dan meminum isinya hingga tandas. Kembali ia letakan gelas yang telah kosong itu ke tempat semula. Kepalanya menoleh ke arah jam dinding. Pukul 20.05.


Ingatannya berputar ketika melihat jam. Tunggu. Bukankah terakhir kali ia tertidur adalah di dalam pesawat menuju london bersama Sean? Tapi kenapa ia sudah berada di dalam kamarnya?


Zee berdiri dari duduknya dan keluar dari kamar untuk ke dalam ruang kerja Sean. Mencari keberadaan pria itu. Tangannya memegang gagang pintu dan memutarnya, sebelum ia membuka pintu. Suara Sean membuat ia menghentikan gerakannya.


"Bagaimana resiko pengobatan jika Zee hamil?"


-


-


-


tbc


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2