
Zach membuka kaleng soda yang sudah diambilnya dari mesin minuman beberapa detik lalu. Meminum isinya dengan sangat menikmatinya untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena sejak tadi terus berbicara. Menceritakan sebuah kisah kepada dua anak muda di depannya.
"Ahhh...!" lenguh Zach setelah meneguk setengah minumannya. Ia menatap bergantian ekspresi wajah di depannya.
"Aku mengetahui apa yang kalian rasakan. Namun, jangan melakukan apapun apalagi berusaha memisahkan Sean dan Zee. Meski cara Sean salah dalam mendapatkan gadis sebaik Zee, tetapi pada akhirnya mereka saling mencintai. Kalian bisa melihatnya sendiri. Terlebih Sean. Ia sepertinya akan mati hanya karena kerinduan pada Zee jika tidak ada di sisinya untuk beberapa lama. Selama aku mengenal Sean, meski dia adalah pria brengsek sebelumnya, setelah bertemu Zee, aku yakin dia akan menjadikan Zee wanitanya selamanya." Zach mengakhiri penjelasannya.
"Aku yakin dia hanya terobsesi pada Zee. Bukan mencintainya. Setelah mendengar cerita darimu," ucap Aidan membantah.
Zach mengangkat bahunya. "Aku tidak segila Sean, tetapi begitulah dia mencintai dan melindungi Zee. Yang bisa aku pastikan, Sean tidak akan pernah melepaskan Zee."
"Bagaimana jika Papi Zee melarang hubungan mereka?" tanya Kyra.
"Kurasa kau sudah mengetahui bagaimana kuasa keluarga Rexford, Nona. Meski begitu, apa ayah Zee akan tega merebut kebahagiaan putrinya?" jawab Zach.
"Sudah kukatakan untuk tidak melakukan apapun karena tidak akan berguna. Kecuali jika salah satu di antara mereka berhenti mencintai. Meski aku tidak yakin," ujar Zach kembali seraya berdiri dari duduknya.
"Sebaiknya kita menemui mereka. Aku yakin kalian tidak memiliki waktu banyak untuk bersama Zee." Perkataan Zach akhirnya membuat Aidan dan Kyra mau tak mau menyetujuinya.
"Well, sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat." Zach mendengus kasar ketika melihat kemesraan yang sudah memenuhi ruangan yang mereka datangi.
Sean dan Zee serempak mengalihkan perhatian mereka pada orang-orang yang baru saja masuk. Aidan dan Kyra memperhatikan wajah Zee yang terlihat lebih baik karena seri kebahagiaannya yang terpancar jelas. Mereka akhirnya mengerti dan menerima perkataan Zach. Sahabat mereka sudah sepenuhnya memberikan hatinya pada Sean. Yang bisa mereka lakukan hanya mendukung dan tetap berada di sisinya.
"Aidan, Kyra." Zee memanggil nama kedua sahabatnya yang sejak tadi terdiam menatapnya.
"How your feeling?" tanya Aidan lebih dulu.
"Better. Sepertinya aku dan Sean akan pulang sekarang," jawab Zee memperlihatkan seluruh tubuhnya yang hanya sedikit terdapat luka lecet.
"Zee, apa kau tidak akan tinggal bersama kami lagi?" Pertanyaan Kyra membuat Zee cukup lama untuk menjawabnya.
Ia melirik pada Sean. Sudah pasti pria ini tidak akan suka dan tidak akan mengizinkannya. Namun, jika sedikit permohonan kepadanya mungkin pria ini akan luluh nantinya. Bagaimanapun dalam beberapa hari, ia harus kembali kuliah untuk menjalani semester baru. Ia harus memikirkan mengenai papinya juga yang sama sekali belum mengetahui kondisinya. Apapun resikonya.
"Itu akan menjadi salah satu pembicaraan kami ke depannya. Banyak juga yang harus kami bicarakan," ucap Zee menjawab pada akhirnya.
"Jadi, apa Sean masih tetap akan menggugurkan kandunganmu, Zee?" Zach kali ini berbicara.
__ADS_1
"Tidak," jawab Sean singkat.
"Aku senang akan memiliki keponakan!" seru Zach lantang.
"Aku akan membicarakan ini pada Aurel. Sepertinya mereka akan segera menggelar pernikahan megah di London setelah mendengarnya," ucap Zach kembali dengan semangatnya.
"Sean ... " Zee memanggilnya sambil menyentuh tangan pria itu.
"Itu akan dipikirkan nanti. Kita akan pulang sekarang agar kau bisa beristirahat." Sean seakan mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Zee, menenangkannya.
"Zee, kami juga harus pulang sekarang." Aidan angkat suara.
"Apa kalian tidak akan ikut denganku ke mansion Sean untuk menghabiskan waktu lebih banyak?" tanya Zee dengan mata yang melirik pada Sean. Ia masih ingin berlama-lama dengan kedua sahabatnya yang kini jarang ditemui.
"Kau harus beristirahat, Sayang." Sean mulai menyuarakan ketidaksetujuannya. Zach melirik Sean dan memikirkan dalam hatinya bahwa Sean hanya ingin memonopoli Zee kembali.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan Rexford benar, Zee. Kami juga memiliki beberapa urusan yang belum selesai," tambah Kyra yang membuat Zee semakin murung.
"Kau akan memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan mereka lagi," ujar Sean berusaha menghibur Zee.
"Jaga dirimu tetap sehat dan juga kandunganmu, My Little Zee." Aidan berpelukan dengan Zee untuk berpamitan. Ekspresi wajah Sean sudah terlihat sangat ingin menghajar Aidan. Zach hanya bisa berdoa agar ini semua segera berakhir tanpa konflik apapun.
"Bye, see u, Zee." Keduanya keluar dari ruangan Zee.
"Kau sudah mengurus administrasi rumah sakit?" tanya Sean pada Zach, sepeninggalnya mereka berdua.
"Sudah diurus. Sebagai gantinya, kau harus memberikanku tumpangan pulang." Zach menjawab membuat Sean mendengus. Ia melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Zee kemudian menggedongnya.
"Aku tidak lumpuh kalau kau lupa, Sean." Zee memutar bola matanya malas dengan tingkah berlebihan Sean.
"Kau adalah pasien yang terluka. Harus tetap beristirahat," jawab Sean tanpa menatap Zee. Pandangannya lurus ke depan koridor rumah sakit yang tiba-tiba dipenuhi lalu lalang orang.
Mereka berdecak akan kekaguman pada wajah Sean. Lebih dari itu, mereka merasa iri dengan gadis yang berada di dalam gendongan Sean. Zach hanya bisa bersabar sepanjang perjalanan melihat kemesraan mereka berdua. Saat itu juga ia merindukan Aurel.
"Terima kasih atas tumpangannya. Sampai jumpa dan jaga dirimu-"
__ADS_1
"Sialan!" Zach mengumpat kesal karena perkataannya belum selesai sedangkan Sean sudah menginjak pedal gas meninggalkannya.
"Hei, tidakkah kau terlalu kejam padanya?" tanya Zee kesal dengan apa yang dilakukan Sean.
"Dia pantas mendapatkannya," jawab Sean tenang tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Zee. Sepanjang perjalanan, satu tangan Sean terus menggenggam tangan Zee. Sesekali menciumnya. Setelah perkataan tersebut, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka sampai mereka tiba di mansion.
"Tunggu!" seru Sean menghentikan Zee yang sudah lebih dulu melepaskan sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil.
"Aku tidak akan membiarkanmu berjalan. Biar kugendong," ucap Sean seraya keluar dari mobilnya dan memutari mobil.
"Aku bisa jalan sendiri," bantah Zee yang sudah lebih dulu keluar mobil dan hendak melangkah.
"Menurutlah atau kau akan mendapatkan konsekuensi," ujar Sean yang langsung menggendong Zee.
"Selamat datang kembali, Nona, Tuan." Bodyguard yang tadi mengantar mereka ke rumah sakit sudah menyambut kedatangan mereka di mansion.
Sean tidak mendengarkan. Ia terus berjalan hingga masuk ke dalam lift untuk mengantar Zee ke kamarnya. Sepertinya Sean memang berniat memperlakukan ia seolah dirinya adalah orang lumpuh. Seperti hari itu. Ditambah dengan kehamilannya. Membayangkan bagaimana sikap Sean kepadanya akan bertambah menyebalkan dan memberikan banyak batas kepadanya.
"Beristirahatlah, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan di ruang kerja. Setelah bangun, kau bisa mencariku di ruang kerjaku, Sayang." Zee kali ini tidak ingin banyak membantah dan mengangguk patuh.
"Good girl," ucap Sean kemudian mencium dahi Zee lembut sebelum akhirnya ia membiarkan gadis itu beristirahat.
__ADS_1
To be continued