Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 59 : Meet Future Parent-in-laws


__ADS_3

"Kedatanganmu benar-benar sebuah kejutan," ucap Zee.


"Untukmu?" tanya Sean.


"Untuk seluruh mahasiswa kampus." Tawa Zee terdengar.


"Mereka semua pasti iri kepadamu karena pria yang mereka puja hanya milikmu seorang," ucap Sean.


"Dasar sombong!" jawab Zee masih dengan tawanya. Apa yang dikatakan Sean tidak sepenuhnya salah. Ia memang sangat beruntung mendapatkan Sean.


"Ngomong-ngomong, Sean. Kita akan pergi kemana?" tanya Zee mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Orang tuaku ada di London. Jadi, kita akan menemui mereka. Mereka pasti sudah mengetahui kabar kehamilanmu dan segera terbang kemari." Berbeda dengan Sean yang terlihat senang, menunjukkan tawanya, Zee terlihat tegang dan pucat.


"Hei, apa pakaianku baik hari ini? Bagaimana jika kita kembali ke mansionmu lebih dulu untuk mengganti pakaianku agar terlihat lebih baik. Kita pergi ke toko-"


"Calm down, Bae." Sean memotong ucapan Zee sambil menggenggam tangannya. Bertepatan dengan itu, mobil Sean berhenti tepat di lampu merah.


Zee menghela napas kasar dan berdecak. "I can't."


"You can," timpal Sean.


"Apa mereka akan menerimaku dan dia?" tanya Zee menoleh ke arah Sean sambil menyentuh perutnya.


"Of course! Mommy tadi menelponku dan memarahiku karena tidak mengabarinya. Mereka langsung pergi kemari setelah mendengar kabar berita ini. Itulah kenapa aku langsung membawamu sebelum mereka bertambah marah kepadaku," jelas Sean meyakinkan.


"Kalian pasti akan diterima. Jika tidak diterima pun, aku tetap akan menerimamu," lanjutnya.


Perkataan Sean tidak mendapatkan respon apapun dari Zee. Wanita itu menatap jalanan di luar mobil, sibuk dengan pikirannya yang gelisah. Meski sudah sedikit tenang, mendengar apa yang dikatakan Sean. Namun, Zee masih mengkhawatirkan mengenai apa yang akan dikatakan oleh orang tua Sean dengan dirinya yang sudah hamil bahkan sebelum menikah dengan Sean. Pola pikir itu yang dibawanya dari tempat kelahirannya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, yang perlu kau pikirkan adalah dirimu dan anak kita. Ingat perjanjian kita, Zee." Suara Sean mengalihkan atensi Zee.


"Aku akan selalu ada di sisimu dan mencintaimu. Selamanya." Zee membawa tangan Sean yang menggenggam tangannya ke bibirnya.


"I love you too," ujar Zee.

__ADS_1


Mobil Sean memasuki gerbang dari sebuah bangunan besar yang disebut mansion. Mansion yang berbeda dan lebih besar dari milik Sean yang selama ini ditempati oleh Zee. Diam-diam Zee penasaran seberapa kayanya pria yang menjadi tunangannya sekaligus calon suaminya ini. Zee yang hidup berkecukupan bahkan bisa dikatakan lebih, bisa merasa kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding Sean.


Setelah sampai di pekarangan mansion, mobil Sean perlahan berhenti. Zee melepaskan sabuk pengamannya dan berhenti tepat ketika hendak membuka pintu mobil. Kedua orang tua Sean sudah ada di depan pintu untuk menyambutnya. Rasa gugup itu kembali merayap dalam diri Zee.


"Babe ... " Suara Sean di sampingnya yang sudah membuka pintu mobil membuat Zee segera tersadar.


"C'mon." Zee menerima uluran tangan Sean dan berjalan bersamanya menghampiri kedua orang tua pria itu.


"Zee!" Alana segera memeluk Zee begitu ia berada di depannya.


Zee merasakan kehangatan dalam pelukannya dan membalas pelukan ibu dari Sean. Keraguan dan kegelisahannya yang sejak tadi dirasakannya, meluap bersama dengan pelukan mereka.


"Ayo kita bicara di dalam. Udara dingin tidak baik untuk Zee." Suara Sean lebih dulu terdengar daripada Alana.


"Benar-benar, apalagi Zee sekarang sedang mengandung." Kali ini Alana tidak marah dan menyetujui usulan Sean sembari membawa Zee masuk ke dalam lebih dulu bersamanya, meninggalkan Sean dan ayahnya.


"Sepertinya Alana tidak akan melepaskan Zee dengan mudah, Son." Julian menatap Sean dan mengangkat kedua bahunya.


Sean mendengus kasar karena ibunya yang mulai memonopoli wanitanya. Tidak tahukah ibunya itu bahwa ia baru saja bertemu dengan Zee setelah beberapa hari lamanya. Ia ingin berdua dan bermesraan sepuasnya. Namun, ibunya mengacaukannya. Pilihannya membawa Zee kemari langsung adalah pilihan buruk.


"Kenapa kami mengetahui hal ini dari adikmu?" tanya Julian memulai pembicaraan setelah mereka duduk di sofa.


"Awalnya aku bahkan rela membuang bayi itu untuk Zee agar tetap baik-baik saja dan sembuh," lanjut Sean yang semakin tidak dimengerti Julian.


"Apa kau sudah kehilangan akal membuang anakmu sendiri?" tanya Julian.


"Aku kira kau sudah mendengarnya dari Zach, Dad." Sean menatap lurus pada Zee dimana tengah berbincang bersama ibunya.


"Dia punya luka di dalam jiwanya," ucap Sean.


"Apa yang dilewatinya sampai memiliki luka itu?" Julian segera memahaminya.


"Seorang pria bajingan," jawab Sean.


"Dan aku semakin membuat lukanya dalam dan berakibat dengan hadirnya bayi itu. Aku berencana menyembuhkan Zee dengan membuang bayi itu. Tapi karena aku yang terlalu egois juga dengan membuat Zee mencintaiku justru membuat ia ingin mempertahankan bayi itu."

__ADS_1


"Aku memiliki pilihan apa jika dia menginginkan hal itu?" tanya Sean pada akhirnya menatap sang ayah.


"Ternyata kisah cintamu begitu istimewa. Bagaimana kau bertemu Zee dan jatuh cinta padanya?" Julian bertanya balik.


Pertanyaan itu mengingatkan Sean pada perbuatannya di masa lalu ketika ia menculik Zee dan memperlakukannya sebagai obsesi. Itu juga adalah kesalahannya dengan memulai sesuatu dengan cara yang salah hingga berakibat pada hal ini. Jika ia dan Zee tidak berakhir saling mencintai seperti saat ini, apa yang akan terjadi?


"Dia gadis yang cantik, siapa yang tidak jatuh cinta padanya?" Julian tertawa.


Jawaban bohong itu bisa langsung diketahui olehnya. Ada banyak gadis cantik di dunia ini yang bahkan terang-terangan mendekati Sean. Namun, pada akhirnya, Sean memilih gadis istimewa seperti Zee. Itu pasti sesuatu yang sangat istimewa.


"Lalu, apa kau sudah memberikan pelajaran yang setimpal pada pria brengsek yang pernah menyakitimu wanitamu?" Julian bertanya kembali.


"Tentu saja. Ia mungkin sekarang sedang menderita dan berharap mati adalah pilihan yang lebih baik. Tidak ada yang bisa selamat dari keluarga Rexford jika sudah bermain-main." Ekspresi wajah Sean berubah menjadi dingin ketika membicarakan Samuel. Pria masa lalu yang menjadi penyebab Zee seperti saat ini.


"Bagus, itu yang aku ajarkan juga." Julian puas dengan jawaban Sean.


"Ngomong-ngomong, Sean-"


"Mommy, sudah cukup! Aku ingin berduaan dan bermesraan dengan tunanganku. Kenapa kau yang memonopoli Zee?" Sebelum Julian sempat melanjutkan ucapannya, Sean beranjak dari duduknya dan menghampiri Zee. Sudah Julian duga, jika selama mereka berbicara, Sean sudah gatal ingin mendekati Zee.


"Tidak tahukah Mommy, aku baru saja bertemu dengan Zee kembali setelah 10 hari?!"








__ADS_1



To be continued


__ADS_2