Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 35 : Jealous


__ADS_3

L.A California, USA. In Royal luxury RX hotel


Seorang pria dengan setelan tuxedonya yang terlihat begitu rapi dan licin mengkilap. Nampak begitu gagahnya berdiri di depan cap mobil sport hitam yang berharga selangit miliknya. Ia memainkan ponselnya sembari sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Akhirnya setelah lama menunggu dan yang ditunggu tak kunjung datang, ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah duduk nyaman di dalam mobilnya, Ia kembali membuka ponselnya untuk mendeal nomor seseorang. Didering ke 2 panggilannya langsung terjawab.


"Bagaimana?"


"..."


"Baiklah, aku menunggu didalam, suruh Zee untuk masuk." Sean menutup panggilan tanpa mendengar jawaban dari bawahan setianya. Setelah memasukan kembali ponselnya ke saku celana, ia membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam bangunan megah di depannya.


Kamera dengan kilat blitz sudah biasa bagi Sean. Disodori dengan microfon oleh ratusan wartawan tak membuat ia membuka suaranya. Setelah security telah menyingkirkan wartawan yang terus mencoba mewawancarai Sean, ia akhirnya dapat masuk ke dalam ruang ballroom hotel yang sudah di sulap sedemikian rupa hingga cantik dan indah menyerupai istana kerajaan. Langkahnya begitu santai sekaligus tegas. Tatapannya tetap dingin menyorot ke depan tanpa ekspresi.


"Whats'up, Son!" Seorang pria setengah baya yang lebih dulu menyadari keberadaannya, menyapa Sean begitu ia sampai di depan ketiga orang yang tengah berbincang itu membuat atensi mereka teralih.


"Sean!" pekik wanita setengah baya yang masih terlihat begitu cantik dan lebih sexy dengan tubuh berisinya.


Ia berdiri di samping ayahnya. Wanita di depan Sean memeluknya erat membuat Sean kesulitan bernapas, ditambah ia harus membungkuk karena tinggi ibunya yang tak seberapa ini.


"Mommy merindukanmu, Nak. Bagaimana kabarmu, Son?" tanyanya setelah mengurai pelukan mereka.


"Aku baik," jawab Sean seadanya.


"Kau ini masih saja dingin dan irit bicara! Kau ini akan bertunangan! Ramahlah sedikit." jiwa keibu ibuannya mulai keluar pada putra semata wayangnya.


"Sudahlah Sayang-"


"Diam kau Lucas! Aku tidak mau menantuku sepertiku yang setiap hari bersama kulkas berjalan!" Sang ibu ikut memarahi ayahnya ketika ia angkat bicara.


Ayahnya terdiam bungkam, lebih memilih mengalah pada istri tercintanya. Wanita memang selalu benar. Apalah daya pria yang selalu salah dimata wanita. Lebih baik mengalah dan diam meskipun wanitanya salah, daripada berpuasa satu bulan. Jika tak ada jatah, dirinya juga yang kelimpungan.

__ADS_1


"Sean... dimana calon tunanganmu? Kau pasti berbohong kan hanya untuk menolakku?" Seorang wanita cantik bertubuh bak model ini yang sejak tadi diam, angkat suara bertanya kepada Sean.


"Ya, dimana calon menantu mommy, Sean? Apa yang dikatakan Sheila benar dan Aurel salah?" tanya ibunya juga mulai mencari-cari keberadaan seorang gadis di dekat putranya.


"Aku akan menjemputnya." Sean berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


"Sheila, Sayang. Kamu sudah dengar kan apa yang dikatakan Sean? Jadi Sean hanya menganggapmu sebagai teman masa kecilnya saja," ucap ibu Sean lembut sembari mengusap tangan wanita muda di sampingnyadengan lembut. Terlihat tatapan yang begitu kecewa dalam diamnya.


Bruk!


Suara yang lumayan keras terdengar sampai ke dalam hotel hingga membuat atensi semua orang mengarah pada suara keributan tersebut.


***


Jantung Zee semakin berdegup kencang ketika mobil yang ia tumpangi perlahan berhenti di depan red carpet. Di luar sana sudah banyak wartawan dengan kamera kilat blitz, dan microfon mereka. Siap menyorot Zee yangakan turun dari mobil. Pintu mobil dibuka perlahan oleh Axel. Ia mengulurkan tangannya agar Zee berpegangan padanya. Zee sudah bisa merasakan perhatian wartawan mulai terarah pada mobilnya, atau lebih tepatnya kepada dirinya. Setelah menarik napas dan menghembuskannya kembali, Zee menginjakan kaki kanannya ke atas carpet merah, diikuti dengan kaki kirinya. Senyum manis terpatri di bibirnya menyapa para wartawan, sesekali menunduk membalas sapaan. Axel membimbing Zee di depannya menghalau wartawan yang mulai semakin menggila.


"Bisa beritahu siapa, Nona?"


"Apa Nona model baru dibawah RX corp?"


Begitulah beberapa pertanyaan-pertanyaan yang terdengar oleh Zee.


"Aku Linzy Alanza," jawab Zee seraya berhenti melangkah untul menjawab pertanyaan wartawan yang terus bertanya padanya.


Kamera blitz semakin menjadi memotret dirinya. Zee kembali memasang senyum manisnya kembali berjalan untuk masuk ke dalam. Berusaha mengabaikan mereka semua. Tetapi langkahnya kembali berhenti ketika pinggangnya merasakan tangan seseorang yang memeluknya.


"Dia calon kekasihku!" Suara berat seorang pria masuk ke dalam telinganya tepat di sisi kirinya. Ia menatap pria tinggi di sampingnya yang terlihat begitu tampan dengan tuxedo dongkernya. Manis dan ramah, begitulah kesan pertama Zee padanya.


Akhirnya setelah pria itu memberikan jawaban membuat wartawan tak semakin menggila. Ruang untuk jalan pun terbuka, membiarkan keduanya masuk ke dalam ballroom hotel, tempat pesta diadakan. Langkah Zee semakin dekat bersamaan dengan pria itu yang masih merangkulnya. Ia melihat wajah seseorang yang ia kenal berdiri di depan pintu masuk dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya, menatap dirinya begitu dingin dan tajam. Ketika Zee tepat berdiri di depan Sean, tatapan pria itu masih tetap dingin dan tajam. Pandangannya mulai turun pada tangan seseorang yang memeluk pinggangnya.

__ADS_1


"Whats'up, Brother!" Pria di sampingnya menyapa Sean dengan sebutan Kakak.


"Aku menemukan gadis cantik ini-"


Bugh!


Tanpa aba-aba apapun, Sean melayangkan tinjunya ke rahang pria di samping Zee hingga membuat dirinya sedikit terpental ke belakang karena belum siap.


"Tunggu, Sean! Ada-" Sean menarik kerah kemeja pria tadi kemudian memukulinya membabi buta. Membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Zee masih belum mengerti. Ia masih diam di tempatnya tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya menatap Sean yang memukul pria yang sudah terluka mengeluarkan darah, tak dapat melawan karena Sean tak memberikan jeda. Lantas matanya menatap sekeliling yang melihat kearah mereka. Security yang berusaha melerai mereka ikut terpental, wartawan semakin menggila. Tubuh Zee masih membeku.


"Sean..." Zee perlahan mendekati Sean yang sudah seperti orang kesetanan. Panggilan Zee bahkan tak diindahkan Sean sedikit pun. Orang yang dipukulinya berusaha meminta ampun, dan menyerah tanpa perlawanan.


"Tuan! Nona Alanza ketakutan!" seru Axel yang membuat Sean tersadar ketika mendengar nama Zee.


Sean berhenti memukuli pria yang sudah setengah sekarat itu. "She's mine Bastard! Remember that or I'll kill you right that too!"


Sean melepaskan kerah kemeja pria tersebut secara kasar. Lalu berjalan menghampiri Zee yang berdiri kaku di tempatnya, dengan air mata yang sudah mengalir deras. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke bahu Zee yang bergetar. Tangan seseorang yang menyentuh punggung Zee membuat dirinya tersadar. Ia melirik takut ke arah Sean. Tangan Sean yang penuh darah bergerak hendak menyentuh pipi Zee membuat Zee memalingkan wajahnya.


Sean menghela napas. Tanpa berkata apapun, ia menggendong Zee membelah kerumuman tamu yang menonton mereka. Membawa Zee ke arah lift menuju kamar hotel lantai atas tanpa mempedulikan tatapan seluruh orang yang menyaksikan mereka.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Love to readers from author RibyNabe


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2