Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 36 : Deep kiss


__ADS_3

Sean menurunkan Zee diatas kasur dengan hati hati. Tubuhnya tak segemetar tadi, tetapi mulutnya masih enggan untuk mengeluarkan sepatah atau dua patah kata. Sorot matanya begitu kosong menatap ke depan.


"Babe..." Zee tersentak ketika suara bariton khas Sean terdengar.


Tangan Sean menyentuh rambutnya lembut. Zee masih menatap Sean dengan tatapan penuh ketakutan sembari menjauhkan kepalanya dari tangan Sean. Bayangan Sean yang sangat menyeramkan tadi terlintas di ingatannya ketika ia menatap Sean.


"Please don't be affraid to me, Bae..." lirih Sean menatap Zee sayu.


"You made me." Zee balas berbisik lemah menatap Sean sama sayunya.


"I'm so sorry, I don't know what's wrong with me? I just... don't like it, when other guys around you." Sean menjawabnya dengan sedikit keraguan di dalam nada bicaranya, seolah tak tahu juga apa jawaban dari pertanyaan Zee. Mungkinkah ini yang dinamakan kecemburuan?


"Kau marah?" tanya Sean karena Zee tak kunjung mengeluarkan suaranya.


"Kau hanya membuatku takut," jawab Zee lirih.


"Aku minta maaf karena membuatmu takut. Aku akan berusaha tak akan mengulanginya lagi, aku berjanji, Sayang." Sean hendak membawa Zee ke dalam pelukannya, tetapi tangan Zee menahan gerakan Sean.


Sean sedikit lesu dengan penolakan Zee. Ia menatap Zee memelas. "Kau marah."


"Tanganmu kotor, aku tidak mau kecantikanku terkotori tanganmu." Zee melirik tangan Sean yang masih ada bercak darah kering.


Segera Sean bangkit dan menuju ke arah toilet hotel untuk membersihkan tangannya agar dapat memeluk Zee. 5 menit berlalu, setelah dirasa ia sudah membersihkan tangannya sampai bersih dan harum lalu mengeringkannya. Sean keluar toilet dan langsung memeluk tubuh Zee dari belakang.


Zee yang sedang menata kembali dirinya di depan cermin terkejut dengan kedatangan Sean yang tiba-tiba langsung memeluknya. Ia terkesiap lalu membalikkan tubuhnya menghadap Sean yang masih memeluknya.


"Kau sudah berjanji." Sean mengangguk sekali dalam cerukan leher Zee. Jambang halus yang menumbuhi rahang Sean membuat Zee kegelian karena langsung menyentuh kulit lehernya. Zee melepaskan pelukannya saat Sean mulai menciumi lehernya. Ia menatap Sean yang juga menatap dirinya tanpa melakukan atau mengatakan apapun.


"Apa aku sudah memujimu hari ini?" tanya Sean di tengah keterdiamannya.


Dengan alami pertanyaan itu membuat pipi Zee memerah padam. "Kau cantik, selalu cantik dan akan bertambah cantik." Sean mengelus pipi cubby yang berona itu membuat Zee semakin menundukan kepalanya dalam.


"Jangan menunduk terus, Sayang. Aku tidak bisa melihat kecantikanmu." Sean menyentuh dagu Zee lembut dan menggerakkannya agar mendongak menatap dirinya.


"Sean!" seru Zee kesal sembari menutup matanya tak berani menatap Sean. Kekehan Sean terdengar di kamar hotel yang sunyi itu membuat Zee melayangkan cubitannya pada perut keras Sean.


"Babe!" ucap Sean pura pura kesakitan yang sebenarnya hanya rasa geli yang dirasakan.


"Maaf..." Zee membuka matanya menatap Sean bersalah.

__ADS_1


Sean tersenyum menatap Zee yang juga menatapnya. Ia mendekatkan dahi Zee pada bibirnya. Kecupan manis yang dalam penuh penghayatan mengisi malam yang indah itu, Sean berikan pada Zee yang terlihat berkali-kali lipat sangat cantik.


"Gergeous as always." Sean menjauhkan wajahnya setelah mengucapkan kalimatnya. Ia masih menatap Zee yang tersenyum menatapnya dengan pipi yang masih merona.


"Apa kau mau pulang atau ingin melanjutkan pestanya?" tanya Sean.


Zee terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengatakan, "Aku ingin ke bawah."


"As you wish my lady." Sean memberikan tangannya untuk Zee gandeng yang Zee terima dengan senang hati.


Baru saja Sean akan membuka pintu kamar, Zee yang tiba-tiba berlari ke arah kamar mandi membuat Sean ikut menyusulnya.


Huekk! Huekk!


Suara muntahan Zee terdengar mengisi kensunyian kamar. Ia memuntahkan air putih yang ia minum tadi sebelum dirinya berangkat ke hotel dan air liurnya. Sean merapikan rambut Zee yang terjuntai, dan mengurut tengkuk Zee lembut. Ia menatap Zee cemas karena wajahnya yang nampak kesakitan ketika mengeluarkan muntahannya.


Setelah berkumur dan mengelap mulutnya dengan tisu, Zee bersandar di depan wastafel. Sean membawa Zee kepelukannya dan mengusap punggungnya teratur.


"Kita pulang ke panthouse saja ya?" Sean kali ini berusaha membujuk Zee.


Zee menggeleng dalam pelukan Sean. "Aku ingin minum."


Sean melepas pelukannya dan keluar toilet, mengambil air putih untuk Zee. Zee menenggaknya hingga tandas. Ia mengelap mulutnya dengan tisu dan sedikit menata rambutnya.


"Sean kau melarangku." Tatapan Zee berubah dengan air wajah yang berkaca-kaca seolah siap menumpahkan air matanya.


"Alright you got it!" Akhirnya Sean membawa Zee turun kembali ke lantai ballroom, tempat diadakannya pesta. Kedatangan Sean dan Zee membuat mereka menjadi pusat perhatian. Hampir seluruh pasang mata menatap ke arah keduanya.


"Sean..." bisik Zee sembari meremas lengan atas Sean yang ia gandeng.


"I'm here." Sean menenangkan Zee dengan mengusap tangan Zee lembut.


"Angkat kepalamu, Sayang," perintah Sean. Zee perlahan mengangkat kepalanya, berusaha tersenyum dengan sisa tenaganya yang ada.


"Sean!" Suara seorang wanita paruh baya yang adalah ibu Sean, terdengar memanggil.


Wanita itu melambaikan tangannya memberi kode pada putranya agar mendekatinya. Sean tentu saja menurutinya, sebelum ratunya itu mengamuk.


Tangan Zee yang menahan tangan Sean menghentikan langkah mereka. "Sean... aku takut."

__ADS_1


Zee mengingat peristiwa beberapa hari yang lalu dengan ibu Sean di hari itu. Jika mengetahui bahwa yang mengangkat telfon adalah dirinya dan dirinya ada di sini, ia pasti akan marah.


"Ibuku baik, Sayang. Bahkan sangat baik. Aku ada bersamamu ya." Sean membawa Zee dengan sedikit paksaan karena langkah Zee yang terseret-seret sebab sedikit enggan. Zee masih mengingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh ibu dari Sean padanya di telfon. Pria ini hari ini akan bertunangan yang entah dengan siapa. Namun dirinya masih tetap datang.


"Hi, Beautiful!" Nada bicara ibu Sean yang begitu antusias dan ramah begitu berbeda jauh dengan nada bicaranya di telfon pada hari itu.


"Halo Aunt, aku Linzy Alanza." Zee mengulurkan tangannya sopan dengan senyuman manisnya.


Ibu Sean tiba tiba tertawa membuat Zee bingung, ia kembali menarik tangannya. Namun sedetik setelah ia menarik tangannya, pelukan hangat ia rasakan pada tubuhnya.


"Panggil aku mommy, Sayang. Kau pasti Zee kan?" tanya ibu Sean setelah melepas pelukannya dan menatap Zee dengan senyuman hangat khas keibuan. Zee bertanya-tanya, apakah ia tidak mengingat suaranya? Jika ya, syukurlah.


"Ayo ikut aku, ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu." Ibu Sean menggiringnya untuk ke meja makan yang terletak tak jauh dari mereka.


"Mom!" seru Sean berusaha mencegah ibunya. Tetapi ibunya menatapnya seakan mengerti.


Sang ayah yang berada di sampingnya, menepuk pundak Sean. "Tetap berjalan sesuai rencanamu?"


Sean mengangguk. Ayahnya pun ikut mengangguk kemudian mengambil gelas yang berisi minuman beralkohol dan berjalan menuju tangga untuk naik ke atas panggung.


"Ladies and gentlemen, please pay attention..." Suara bariton khas ayah Sean membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Pertama tama, saya ucapkan terima kasih kepada anakku Sean karena sudah menjalankan usaha bisnis kecil keluarga kami yang sudah kakekku rintis sejak kecil. Kemudian saya ingin berterima kasih pada istriku, putriku, dan seluruh keluargaku karena sudah mendukungku hingga sekarang." Suara tepuk tangan yang riuh terdengar setelah kepala keluarga Rexford itu mengucapkan kalimat pembukanya.


"Saya juga sangat berterima kasih kepada asistenku, pegawaiku, seluruh staff dan jajarannya yang sudah bekerja keras dan bekerja sama mengembangkan perusahaan kita. Aku ucapkan selamat ulang tahun ke 125 tahun untuk Rexford Corp." Tuan Rexford mengangkat gelasnya setelah mengucapkan itu yang diikuti para tamunya yang lainnya dan meneguknya bersama. Setelah menyimpan gelas yang dipegangnya, Sean berjalan ke atas panggung menyusul ayahnya.


"Ada satu berita bahagia yang akan aku umumkan juga pada kalian semua," ucap ayah Sean kembali berbicara di depan microfonnya.


"Acara ini juga sekaligus acara pertunangan putraku dengan kekasihnya yang ia rahasiakan selama ini." Setelah kalimat itu mengudara di dalam ballroom hotel, suara bisik-bisik mulai terdengar.


"Gadis itu adalah..."


-


-


-


tbc

__ADS_1


See u in the next chapter readers :)


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2