Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 60 : Worries


__ADS_3

"Aku-"


Sebelum Aidan selesai menyelesaikan perkataannya, Kyra lebih dulu mencium bibir Aidan lembut. Aidan tak menolak dan semakin memperdalam ciuman mereka. Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya Kyra mengakhirinya lebih dulu karena merasa membutuhkan oksigen. Napas keduanya terengah-engah setelah bibir mereka terlepas.


"Kamu benar-benar tidak akan naik ke atas?" tanya Kyra.


"Sudah jam 10, aku harus pulang. Ada beberapa tugas yang harus aku kerjakan," jawab Aidan dengan ekspresi wajah yang menyesal.


"Maafkan aku karena memaksamu untuk berkencan di tengah kesibukanmu." Kyra kali ini yang memperlihatkan ekspresi wajah menyesal.


"Tidak, aku juga senang kita menghabiskan waktu bersama. Sekarang masuklah ke dalam dan beristirahat. Zee pasti sudah pulang juga," ucap Aidan.


Kyra memeluk Aidan untuk terakhir kalinya sebelum ia keluar. Sesekali Aidan mengelus lembut rambut Kyra dalam pelukannya sebelum mereka berpisah.


"Hati-hati di jalan," ucap Kyra sambil melambaikan tangannya pada mobil Aidan yang mulai melaju pergi.


Kyra berjalan memasuki apartemennya yang masih cukup ramai untuk jam yang sudah cukup malam. Pemandangan ini sudah tidak asing lagi di kota ini. Apalagi di jalan-jalan yang lebih ramai lagi meski jam sudah menunjukkan tengah malam sekalipun.


Sambil memainkan ponselnya, Kyra berjalan masuk untuk ke dalam lift. Karena ia yang tak melihat jalan, seseorang tiba-tiba saja menabraknya. Segera Kyra mengalihkan atensinya dari ponsel pada orang yang ia tabrak.


"I'm so sorry, Sir." Kyra menundukkan kepalanya beberapa kali sambil mengucapkan permintaan maafnya.


Pria berpakaian serba hitam dan bertopi itu tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Kyra. Ia melenggang pergi begitu saja. Kyra menoleh ke belakang untuk melihatnya terakhir kali.


"Punggung yang tak asing," gumam Kyra sambil masih memperhatikan tubuh belakang pria tersebut. Tak lama ia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya kembali.


"Bagaimana? Sudah kukatakan jika mereka akan sangat senang dengan kabar ini. Itulah kenapa mereka langsung terbang ke kota ini untuk melihatmu," ucap Sean di tengah perjalanan mereka di dalam mobil.


Zee tidak menjawab dan hanya memperlihatkan senyumnya saja. Senyum penuh kelegaan. Ia senang dan lega, setelah pertemuannya dengan kedua orang tua Sean yang juga akan menjadi orang tuanya juga. Nasehat dan perkataan dari ibu Sean, terlebih lagi. Ia seperti mendengar nasehat dari ibunya sendiri. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.


"Apa saja yang Mommy katakan tadi?" tanya Sean.


"Ini hanya di antara wanita saja. Rahasia." Zee tidak menjawab.

__ADS_1


"Yang perlu kau ketahui hanyalah apa yang kau dengar dari Mommy dan Daddy tadi," lanjut Sean.


"Aku rasa kau juga tadi mendengar apa yang dikatakan Daddy," timpal Sean.


"Tentu saja," jawab Zee angkuh.


"Jadi, sebaiknya, kau tinggal kembali bersama denganku di mansion. Di sana semua keperluanmu sudah tersedia. Keamanan sudah terjaga. Dan kemana pun kau pergi, akan ada yang mengantar. Kenapa kau masih memilih tinggal bersama temanmu?" Sean berkata dengan nada yang sedikit kesal.


Zee kembali menoleh menatap Sean. Ia tidak menjawab cukup lama.


"Mansionmu memang sudah menyediakan semuanya, tapi tidak dengan kehangatan. Itu lebih seperti sangkar emas untukku. Kau tidak ingin aku stress berlebihan bukan?" Dari nada bicara Zee, ia terdengar serius. Kali ini Sean yang terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Zee.


"Dan lagi, Sean, apa kau tidak membangun mansion terlalu jauh dari kota? Jika aku pergi kuliah dari mansionmu, itu bisa menghabiskan waktu satu jam lebihnya. Bukankah itu sama dengan pergi ke kantormu?" Zee bertanya dengan tawa sesudahnya untuk mencairkan suasana.


"Mansion itu sudah lama aku tinggalkan dan jarang aku kunjungi. Aku lebih sering menginap di kantor atau penthouse," jawab Sean.


'Pantas terasa sangat dingin suasananya.' Zee berkata dalam batinnya.


"Tapi sejak kau tinggal di sana, mansion itu lebih terasa hangat. Jadi, aku membawa pekerjaanku ke sana untuk lebih sering bersamamu." Sean melanjutkan.


"Sekarang sudah terlalu malam, kau pulanglah dan beristirahat, Sean." Zee berkata untuk mencegah Sean yang hendak turun dan mengantarkannya sampai ke atas.


"Tapi ini juga sudah malam untukmu, Zee." Sean membantah.


"Aku hanya tinggal masuk dan naik ke lift dan sampai. Sedangkan kau, harus melalui waktu yang lebih lama untuk sampai ke rumahmu. Sampai jumpa," ucap Zee sebelum akhirnya mencium pipi Sean cepat dan keluar dari mobil Sean.


Zee melambaikan tangan pada mobil Sean yang mulai melaju meninggalkan bangunan apartemennya. Ia lantas masuk ke dalam menuju lift. Namun, Zee tanpa sengaja menabrak seseorang yang membuat ia mundur beberapa langkah.


"I'm sorry, Sir." Zee menundukkan kepalanya singkat dan melanjutkan langkahnya tanpa memperhatikan pria tersebut lagi. Ia hanya ingin segera masuk ke dalam apartemennya dan tidur.


Setelah sampai di lantai apartemennya, ia melangkah pelan menuju unit apartemennya. Langkah kakinya terdengar seperti ada seseorang yang juga melangkah di belakangnya. Zee menoleh ke belakang dan melihat pria yang ditabraknya tadi juga sampai di sini. Pikiran buruk mulai menghinggapi Zee. Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan apakah pria mencurigakan di belakangnya memang mengikutinya.


Ketika ia mengetikkan password pintu apartemennya dengan panik, seseorang menepuk pundaknya. Zee menjerit dan dengan reflek menepis tangan tersebut yang menyentuh bahunya. Tubuhnya entah sejak kapan sudah gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Hei, Babe. It's me, Sean." Mendengar suara itu, Zee mendongak dan mendapati wajah Sean yang khawatir menatapnya.


"Sean, kenapa kau masih di sini dan kemari?" tanya Zee berusaha untuk tetap tenang.


Ia menoleh ke arah pria yang tadi ia kira mengikutinya. Pria tersebut masuk ke dalam salah satu unit apartemen membuat hembusan napas penuh kelegaan keluar dari mulutnya.


"Aku hanya khawatir dan memastikanmu sampai dengan selamat." Sean menyeka keringat yang ada di dahi wanita itu.


"Aku baik-baik saja dan sudah sampai. Jadi, pulanglah sekarang," ucap Zee sambil mendorong pelan Sean agar menjauh darinya.


"Apa kau yakin tidak ingin berlama-lama lagi denganku?" tanya Sean dengan tatapan menggodanya.


"Kita harus beristirahat, Sean! Pulanglah dan hati-hati saat menyetir. Aku akan menunggumu." Zee melipat kedua tangannya di depan dada menunggu Sean meninggalkannya.


"Aku akan pergi setelah kau masuk," bantah Sean.


"Baiklah. Jangan pergi kemana pun lagi setelah ini!" peringat Zee sambil menunjuk Sean.


"Iya," jawab Sean singkat.


"Sampai jumpa," ucap Zee berpamitan sebelum akhirnya ia masuk ke dalam.


Sean masih memasang senyum hangatnya sampai Zee benar-benar masuk ke dalam dan menutup pintunya. Begitu Zee sudah sampai dengan selamat, ekspresi wajahnya berubah menjadi dingin kembali. Tangannya mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Bagaimana dengannya?" tanya Sean langsung pada seberang telpon.


"..."


"Cari dan temukan dia! Sebelum aku melihatnya mengikuti tunanganku lagi!"


-


-

__ADS_1


-


To be continued


__ADS_2