Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 76 : The Past


__ADS_3

"Zee, Sayang."


Sentuhan halus yang Zee rasakan pada pipinya membuat ia segera tersadar. Kepalanya miring dan wajahnya tertutupi oleh rambut panjangnya. Sesuatu yang begitu rapat dan lengket menghalangi mulutnya untuk sekedar merintih. Alisnya berkerut bersamaan dengan rasa sakit yang ia rasakan pada kepalanya. Ditengah matanya yang berat dan setengah terbuka, Zee menatap apa yang bisa ia lihat dari posisinya. Sakit di kepalanya bertambah dengan ingatan-ingatan terakhir kali saat ia tersadar, yang masuk secara terus menerus ke dalamnya.


"Kamu sudah tersadar, Sayang?" Suara itu kembali masuk ke dalam indra pendengarannya.


Setelah dipikirkan lagi, Zee begitu mengenali suara itu, meski waktu sudah lama menelannya. Suara yang sangat tidak ingin Zee dengar lagi dimanapun. Wajah seseorang menunduk menatapnya yang membuat Zee dapat melihatnya. Saat itu juga ia membulatkan matanya ketika melihat wajahnya. Ia berpikir untuk mengingat siapa orang di depannya.


"Kenapa? Apa kau tidak mengenaliku karena luka di wajahku?" tanya pria tersebut.


Sudah Zee duga jika dirinya mengenali pria ini. Namun, akibat luka di wajahnya itu, Zee tidak bisa mengingat siapa sebenarnya pria ini.


"Pria bajingan yang selalu ada di sampingmu lah yang sudah melakukan ini padaku, Zee. Kamu tidak tau siapa dia sebenarnya?" Jeritan Zee tertahan ketika pria di depannya menjambak rambutnya kasar hingga ia mendongak.


"Oh, sepertinya yang selalu ia perlihatkan padamu hanyalah sisi lembutnya. Dia sudah melakukan ini padaku, Samuelmu yang kamu sayangi. Kenapa dia melakukan ini padaku dan keluargaku?!" Tarikan di rambutnya semakin kuat membuat Zee hanya bisa merintih tertahan sambil memejamkan matanya.


Satu orang yang Zee kenal memiliki nama Samuel dan memiliki sangkut paut dengan dirinya dan Sean. Samuel yang sampai saat ini tidak bisa ia lupakan karena menorehkan sebuah luka yang tidak akan pernah sembuh oleh masa lalu. Tapi, apa katanya? Sean melakukan itu pada Samuel? Ia juga bertanya-tanya, apa Sean yang sudah melakukan hal kejam itu padanya.


"Apa kau memberitahunya mengenai kita berdua? Tidak mungkin seseorang seperti dia setelah mengetahui masa lalumu mau denganmu. Apalagi melakukan ini padaku dan keluargaku!" seru Samuel berteriak sambil terus memperkuat cengkramannya pada rambut Samuel.


Zee membuka kedua matanya dan melakukan kontak mata dengannya. Menatap Samuel dengan mata penuh permohonan disertai dengan air mata yang berderai. Tiba-tiba saja Samuel yang memasang raut wajah penuh kemarahan, berubah tersenyum.


"Ahh... ekspresi itu, aku pernah melihatnya. Saat kita melakukannya, kan?" Samuel melepaskan rambut Zee kasar dan tertawa kencang.


"Aku jadi memikirkan sebuah ide bagus," ucap Samuel dengan seringaian seram sembari mengelus pelan wajah Zee.


Zee berusaha menghindari tangan Samuel dari wajahnya. Ia masih menangis dan menggelengkan kepalanya, sambil masih menatap Samuel dengan tatapan permohonan.


"Bagaimana jika kita melakukannya lagi, Zee?" tanya Samuel yang terus mendapatkan gelengan kepala dari Zee.

__ADS_1


Jangankan bertemu dengan Samuel, ia sudah ketakutan setengah mati ketika mendengar namanya. Yang ia ingat ketika mendengar namanya, hanyalah sebuah mimpi buruk yang sayangnya adalah masa lalunya. Zee sekarang benar-benar ketakutan setengah mati dengan kehadiran Samuel. Ditambah dengan apa yang dikatakannya tadi.


"Bagaimana, Zee?" tanya Samuel sekali lagi.


Samuel kali ini melepaskan selotip yang membekap mulut Zee. Saat itu juga Zee terisak pada Samuel. Namun, Sam tidak mengindahkan tangisnya dan mulai berusaha mencium bibir Zee. Tentu saja Zee menggelengkan kepalanya dan berusaha menghindari bibir Samuel.


"Sa-Sam, a-aku mohon, aku mohon, tolong lepaskan aku." Zee berkata tergagap yang bercampur dengan isakan tangisnya.


"Aku sudah menunggu kesempatan ini, Zee. Kenapa aku harus melepaskanmu?" Samuel berhenti berusaha dan menatap rendah pada Zee.


"Tolong aku, sekali ini saja, Sam. A-aku berjanji untuk tidak memberitahu ini pada siapapun termasuk Sean. Sam, kumohon ... " Zee menunduk sebagai tanda permohonannya pada Samuel.


"Apa pria itu akan bertindak meskipun aku menculikmu? Kamu ini terlalu percaya diri, Zee. Mana mungkin pria kaya sepertinya mau denganmu." Samuel berdecak tiga kali sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini hanya ****** sampah bekasku, Zee. Kamu tidak lupa apa yang sudah kita lakukan saat SMA, kan? Kalau kamu melupakannya, aku sedikit kecewa," ujar Samuel dramatis.


"Sa-sam, kumohon." Tangis Zee tak kunjung juga berhenti.


Suara teriakan sekaligus rintihan Zee terdengar setelah tamparan keras Samuel melayang pada pipinya. Kursi yang ia duduki bahkan sampai terguling membuat ia terjatuh. Karena saking kerasnya tamparan tersebut, bibir Zee mengeluarkan darah dan pipinya berwarna merah. Rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan kekhawatirannya pada kandungan yang ada di dalam perutnya. Dalam batin, Zee hanya bisa berdoa pada tuhan dan berharap Sean segera datang.


'Sean ... '


Melihat dari tatapanmu, sepertinya kau masih memiliki harapan pada pria itu. Apa kau benar-benar percaya padamu? Dia tidak akan menolong sampah sepertimu, Zee." Samuel berjongkok di depan Zee sambil sekali lagi menjambak rambutnya.


"Jangan lupa, Zee. Kamu hanyalah sampahku yang sudah aku gunakan. Kamu hanyalah ****** tak berarti." Samuel melepaskannya kasar membuat Zee terantuk.


"Di-dia akan datang, Sam. Di-dia adalah penyelamatku darimu." Sambil terbatuk, Zee berkata dengan lirih.


Ekspresi wajah Sam kembali berubah menjadi penuh amarah. Ia sekali lagi menampar pipi Zee hingga wanita itu sekali lagi terantuk. Sam menendang perut Zee beberapa kali membuat Zee berteriak kesakitan bercampur ketakutan. Tangannya yang terikat di belakang kursi membuat ia tidak bisa melindungi perutnya.

__ADS_1


"Berhenti, Sam! Kumohon berhenti!" teriak Zee yang mulai merasakan perutnya serasa diremas sesuatu.


Ikatan tali yang menghalangi pergerakan tangan Zee akhirnya terlepas. Sesegera mungkin Zee melindungi perutnya dari kaki Samuel yang menendanginya dengan membabi buta. Rasa sakit pada perutnya kian menjadi dan ia mulai merasakan sesuatu yang basah, mengalir keluar dari organ intimnya.


Ditengah kesadarannya yang tersisa, ia terus memohon dan meminta pada tuhan untuk segera menyelamatkannya dari monster di depannya. Yang ada di pikirannya hanyalah Sean dan anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia ini.


'Sean ... kumohon datang dan selamatkan aku.'


"Padanya, kau begitu mengagungkannya dan dengan suka rela mau berhubungan dengannya. Tapi padaku, kau bahkan menatapku seperti menatap kotoran!" Samuel semakin menggila dalam menyiksa Zee.


Sam akhirnya berhenti dan sedikit panik kala ia melihat darah yang mulai mengalir di antara kedua kaki Zee. Ia menatap lama Zee yang ikatan talinya sudah terlepas. Hal yang pertama kali dilakukannya adalah melindungi perutnya. Bukan melepaskan tali pengikat di kakinya dan mencoba melarikan diri darinya.


"Ku-kumohon lepaskan aku, Sam. Aku hanya ingin menyelamatkan anakku." Zee mendongak pelan menatap pada Sam sambil berkata dengan lirih, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.









__ADS_1


To be continued


__ADS_2