Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter enam : New Friend


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa Zee dan Kyra sudah menjalani bangku kuliah selama 4 bulan. Semester satu akan segera berlalu. Zee, Kyra, Aidan, dan satu pria teman baru mereka bernama Athan Guelt, yang adalah teman satu organisasi Aidan. Awal perkenalan mereka adalah Athan yang menolong Zee mengembalikan dompetnya yang tertinggal di cafe. Athan dan Zee terlihat begitu akrab satu sama lain.


Hari itu Zee dan Kyra mengerjakan tugas bersama di cafe. Setelah selesai mengerjakan, keduanya membereskan barang-barang mereka dan tanpa sadar dompet Zee tertinggal di kursi yang didudukinya. Akhirnya Zee dan Kyra pulang ke apartment mereka dengan masih belum sadar. Setelah sampai di apartment, barulah Zee sadar dan sibuk mengobrak abrik tasnya mencari dompet kesayangannya. Namun tak lama seseorang membunyikan bel apartment mereka yang ternyata adalah Athan yang menemukan dompetnya dan berniat mengembalikannya. Zee sangat berterima kasih dan mengajak Athan untuk masuk dan ikut makan bersama mereka di apartmentnya.


Beberapa hari kemudian mereka bertemu lagi Athan yang kali itu bersama Aidan. Ternyata Aidan dan Athan adalah teman satu organisasi dan satu fakultas membuat Zee dan Athan lebih sering bertemu bersama Aidan. Aidan yang mengenal Athan semenjak masuk kuliah, membuat ia percaya pada Athan. Begitupun dengan Kyra dan Zee.


Mereka kini tengah duduk di Cafe Sunrise, tempat favorit mereka untuk hang out setelah kegiatan kampus. Satu bulan lalu mereka keluar untuk hang out bersama. Itu waktu yang cukup lama karena kesibukan yang mereka lakukan selepas pembelajar formal selesai. Aidan dan Athan satu organisasi yang lebih sering bersama, Kyra di club marching bandnya, dan Zee yang sekarang juga sibuk dengan club Aestheticnya yang berkegiatan melukis.


"Athan lihat! Ini yang aku lukis tadi," ucap Zee memperlihatkan kanvas yang berisi hasil lukisannya di club aesthetic tadi. Athan tersenyum lalu mengambil kanvas tersebut untuk melihatnya lebih dekat.


"Beautiful and perfect." Athan memujinya dan menatap Zee dengan bangga.


"Can I have?" tanya Athan yang mendapat gelengan dari Zee. Athan sedikit kecewa melihatnya.


"Akan ada pameran seni dan lukisanku yang ini akan menjadi salah satu pajangannya!" Zee berkata dengan senang, sedangkan Athan tersenyum menanggapi meskipun sedikit kecewa.


Aidan dan Kyra yang memperhatikan interaksi keduanya, mengulum senyum. Ikut senang jika sahabatnya ini kembali bahagia. Terlihat pancaran tatapan yang menyukai Athan pada mata Zee.


"Aidan aku mau tambah cakenya dong," ujar Zee beralih menatap Aidan yang bermesraan dengan Kyra di sampingnya. Kyra memberenggut tak suka ketika kalimat itu keluar dari mulut Zee.


"lo minta Athan aja dong yang ambil, ganggu aja momen gue!" Kyra mendengus, sedangkan Aidan sudah pergi memesan kembali cake. Zee memeletkan lidahnya mengejek Kyra.


"Awas aja lo kalau udah jadian sama Athan, gue ganggu balik momen lo!" Zee yang mendengarnya langsung memerah padam, membayangkan jika Athan adalah kekasihnya. Sedangkan Athan tertawa dengan perkataan Kyra, meski tidak mengerti bahasa yang dipakai Kyra.

__ADS_1


Aidan sudah kembali dengan membawa cake pesanan Zee, sekaligus memesan camilan untuk yang lainnya. Keempatnya kembali menikmati makanan yang tersedia sembari mengobrol tanpa kehabisan topik. Waktu terus mengalir begitu cepat, keempatnya begitu menikmati waktu yang mereka habiskan. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 20.30 P.M. Aidan yang pertama sadar angkat suara untuk segera pulang.


"Ladies, ini sudah malam sebaiknya kita pulang." Aidan memperlihatkan jam di tangannya.


Athan mengerutkan dahinya karena merasa pukul 20.30 masih terlalu sore untuk mereka pulang.


"Mereka cewek Indonesia punya kebiasaan untuk sudah berada di rumah sebelum pukul 10 malam Athan," ucap Aidan memberitahu Athan yang mengerutkan dahinya merasa heran. Athan pun mengangguk mengerti.


"Kalian di depan, kita di belakang ngikutin kalian," ujar Aidan kembali sembari membereskan semua barangnya yang ada di meja. Begitupun dengan mereka bertiga. Setelah selesai merekapun masuk ke mobil masing masing. Kyra dan Zee. Aidan dan Athan.


Kyra menyalakan mesin mobilnya lalu mengendarainya membelah jalanan kota London yang masih begitu ramai. Diikuti oleh mobil Aidan yang berada di belakangnya. Aidan dan Athan sampai di depan unit apartment Zee dan Kyra. Setelah melihat kedua gadis kesayangan Aidan masuk ke apartment dengan selamat, barulah Aidan mengajak Athan pulang.


Mobil sedan hitam mengkilap, terparkir tak jauh dari apartment Zee. Seseorang di dalamnya menatap kedua mobil yang memasuki basemant apartment. Dari mulai kegiatan Zee sampai di cafe dan pulang ke apartmentnya, ia memperhatikan semua kegiatan gadis itu. Sudah empat bulan dirinya memperhatikan dan menatap Zee dari jauh. Setiap kegiatan yang dilakukan gadis itu terpantau oleh Sean. Pria yang kini menguntit dan memperhatikan Zee setiap hari adalah Sean. Sean Rexford, sang pemilik kampus tempat Zee kuliah.


"Kita pergi!" perintah Sean mengintrupsi yang diangguki oleh Axel.


"Siapkan jat pribadiku untuk ke Manhattan. Aku akan menetap disana selama sebulan," ucap Sean sembari memijat pangkal hidungnya. Ia menyandarkan kepalanya ke belakang, mengistirahatkan kepalanya yang terasa pening dan dipenuhi oleh gadis itu.


Dirinya akan ke manhattan mengurusi proyeknya disana sekaligus berlibur selama sebulan. Ia merasa perlu menjauh dari gadis itu agar kegiatannya yang sudah ia lakukan selama empat bulan ini berhenti. Mobilnya memasuki jalan di hutan belantara yang gelap. Tak berapa lama, sebuah mansion besar nan mewah mulai terlihat. Para penjaga berdiri di setiap penjuru mansion ketika mobilnya memasuki pelataran mansion dan berhenti tepat di depan pintu masuk.


Sean keluar mobil dan masuk ke dalam mansion tersebut. Terlihat gurat kelelahan yang begitu kentara pada wajahnya. Ia memasuki lift untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah memasuki kamarnya yang berdominasi warna cat abu-abu dan hitam, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang king sizenya. Aroma maskulin begitu terasa di dalamnya. Kamarnya begitu dingin dan lembab. Seseorang mengetuk pintu kamarnya diikuti dengan seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya, membawa jas dan tas kantor Sean.


"Sean, kau sudah pulang?" tanya wanita paruh baya itu lembut sembari mendekati Sean yang tertidur dengan posisi tengkurap.

__ADS_1


"Ya, Marlyn, terima kasih," jawab Sean pelan.


"Aku sudah memasak sup ayam kesukaanmu. Kau pulang setelah empat bulan lamanya. Makanlah nak," ucap Marlyn lembut sembari mengusap rambutnya penuh sayang.


"Aku menunggumu di meja makan." Tanpa menunggu jawaban Sean, Marlyn menarik tangannya dari rambut Sean kemudian berlalu pergi keluar kamar.


"Aku akan ke Manhattan selama sebulan Marlyn," ucap Sean membuka suaranya setelah ia mendudukkan bokongnya di kursi pantry. Satu sendok sup ayam masuk kedalam mulutnya.


"Jaga dirimu dan jangan terlalu bekerja berat," nasehat Marlyn yang diangguki oleh Sean. Ia melanjutkan makannya hingga menghabiskannya.


Marlyn adalah pengasuhnya sejak ia balita. Orang tua Sean yang begitu sibuk membuat dirinya sering kali ditinggal pergi bekerja oleh orang tuanya yang workaholic. Saat ia kekurangan kasih sayang sejak kecil, Marlyn mengurus dirinya dan membesarkannya seperti anaknya sendiri. Hubungan keduanya layaknya hubungan ibu dan anak karena Sean yang menganggap Marlyn adalah ibunya, begitupun dengan Marlyn yang menganggap Sean sebagai anaknya sendiri.


Saat dirinya lulus dari universitas, Sean memutuskan untuk keluar dari rumah orang tuanya di kota Washington dan memilih menjalankan perusahaan ayahnya di cabang kota London. Ia juga membawa serta Marlyn untuk mengurus mansionnya yang jarak ia tinggali. Hingga berakhilah dirinya sampai sekarang menetap di kota London.


*


*


*


tbc


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2