
"Sean aku boleh pergi?" Pertanyaan itu kembali keluar dari mulut Zee untuk kesekian kalinya.
Dirinya sudah berada di pangkuan Sean setelah selesai sarapan dan dibawa serta oleh Sean ke ruang kerjanya. Hanya memandang diagram dengan angka-angka yang sama sekali tak ia mengerti atau sesekali memainkan rubi yang berada di meja Sean. Selama 15 menit ia masih tahan, tetapi sekarang sudah satu jam berlalu hanya menemani Sean bekerja tanpa melakukan apapun.
"Sean..." rengek Zee yang mulai jengah dengan Sean yang tak menggubrisnya.
Sean hanya berdehem menjawab atau mengecup pelipisnya setiap kali Zee mengeluh bosan dan meminta untuk pergi.
"Sean!" seru Zee menghindari bibir Sean yang lagi-lagi hendak menciumnya.
"Duduk manislah di sana dan temani aku bekerja," ucap Sean tanpa mengalihkan fokusnya sembari melayangkan kembali kecupan pada pelipisnya.
"Aku bisa mati kebosanan disini! Biarkan aku pergi..." Zee merengek sekali lagi sembari mendongakan kepalanya menatap Sean yang tampak fokus menatap layar komputer dengan kacamatanya.
Sean menatap Zee di bawahnya dan mengecup ujung hidungnya lalu kembali fokus ke layar komputernya. Zee berusaha berdiri untuk pergi, tetapi lagi-lagi terhalang oleh kedua lengan Sean yang mengurungnya.
Ia menatap kembali Sean di atasnya dan mencium rahangnya yang tegas. "Please..."
Zee menatap Sean yang juga tengah menatapnya dengan puppy eyesnya. Sean mendekati wajah Zee, sementara Zee sudah mengambil jarak menjauhi wajah Sean.
"I say no, Baby girl," bisik Sean menekan kata 'tidak' tepat di depan telinga Zee dan meniupnya pelan membuat bulu kuduk Zee merinding.
Tubuh Zee membatu saat itu juga meskipun Sean sudah menjauhkan wajahnya dan kembali fokus dengan komputernya. Zee diam selama beberapa menit berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggila. Namun lagi lagi, rasa bosan menghampiri dan kembali mendominasi.
Haaah...
Helaan napas panjang Zee keluarkan karena ia tak bisa melakukan apapun lagi untuk bisa terbebas dari Sean. Entah berapa menit lagi dirinya bisa bertahan, mungkin satu jam lagi nyawanya sudah tak ada karena rasa bosan membunuhnya.
"Kau berjanji untuk pergi ke gym bersamaku hari ini tapi kau sibuk dengan pekerjaanmu, jadi biar aku saja sendiri." Zee lagi-lagi membujuk Sean.
"Aku mengundurkannya bukan membatalkannya, Sayang." Zee diam tak menjawab. Ia kembali menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Kini giliran Sean yang menghela napas.
"Kau boleh pergi." Suara Sean menyadarkan kembali Zee, ia mendongakan wajahnya menatap Sean dengan tatapan mata berbinar.
"Tapi..." Kata selanjutnya yang Sean keluarkan membuat ia kembali kecewa.
"Dengan bodyguard atau tidak sama sekali, bagaimana?" Cukup lama Zee terdiam.
"Jadi bagaimana?" Suara Sean kembali masuk kedalam telinganya.
"Argh... Baiklah!" Zee menaikkan nada suaranya karena kesal.
Sean menekan intercome yang ada di mejanya dan mengatakan pada dua bodyguardnya untuk masuk. Pintu ruangannya diketuk dari luar oleh seseorang, disusul dengan masuknya dua orang pria bertubuh tinggi.
Sean akhirnya melepaskan tangannya dari pinggang Zee membiarkannya untuk pergi.
__ADS_1
"Jangan nakal." Zee mendengus mendengar perkataan Sean dan berjalan keluar sembari menghentakkan kakinya.
Sean kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang terasa tak ada habisnya itu. Zee melangkah masuk ke dalam lift dan menekan angka 3 untuk lantai yang akan dikunjungi. Setelah lift mengeluarkan bunyi nyaring, pintu terbuka dan Zee keluar diikuti dengan dua bodyguard yang setia mengikutinya.
"Kalian jangan masuk dan jaga saja di depan," ucap Zee di depan pintu perpustakaan, mencegah kedua bodyguard itu yang hendak masuk.
"Tapi Nona..."
"Kau masih bisa melihatku dari luar kan?" Kedua bodyguard itu pun akhirnya mengangguk mengerti dan berjaga di depan pintu masuk. Zee kembali melangkahkan kakinya ke dalam ruang perpustakaan yang memiliki bau yang khas.
Kakinya yang beralaskan sandal bulu berjalan melewati rak demi rak buku hingga langkahnya berhenti tepat di depan rak buku berjudul sasta.
Matanya menjelajahi dengan teliti setiap warna sampul buku, hingga tatapannya jatuh pada buku berwarna merah muda. Ia menarik buku yang terlihat cukup tua tersebut. Zee mulai membuka halaman terakhir buku untuk membaca sinopsisnya, kemudian kembali ke halaman depan. Ia menghirup dalam aroma khas buku yang sudah lama tak dibuka. Aroma yang menjadi candu baginya. Ia menyandarkan punggungnya pada rak buku dan mulai terhanyut dalam bacaan buku yang ia pegang.
Di tengah fokusnya dalam membalik setiap halaman buku dengan penuh penghayatan dan beragam ekspresi, kakinya merasakan pelukan hangat seseorang membuat Zee sedikit terkesiap dan mengalihkan atensinya. Makhluk kecil yang memiliki tinggi sebatas perut bawahnya itu memeluk pahanya erat sembari tersenyum memperlihatkan giginya yang renggang dan ompong. Zee menyimpan bukunya di rak asal, senyumnya mengembang menatap bocah laki-laki di bawahnya. Kemudian berjongkok menyamakan tingginya dengan bocah itu.
"Hei little boy, who are you?" tanya Zee.
"Are you lost?" tanya Zee kembali. Bocah didepannya masih tersenyum menunjukkan giginya yang renggang dan ompong.
"You can call me Ravel, Aunt." Bocah tersebut mengeluarkan suaranya.
"What's your name, Aunt?" tanya bocah itu masih mempertahankan senyumnya.
"Can I call you beautiful aunt?" tanya bocah tersebut.
Zee tertawa mendengarnya. Ia menjawab, "Sure little boy."
"Beautiful Aunt, what are doing here? Come play with me." Bocah yang mengaku bernama Rav ini menarik tangan Zee yang bertengger di bahunya.
"Ravel! Sweetheart!" Suara teriakkan seorang wanita mengalihkan atensi keduanya. Mereka serempak menatap arah asal suara. Seorang wanita dewasa yang cantik dengan tubuh yang bisa dikatakan ideal dan sempurna bak model, berjalan ke arah keduanya dengan tatapan mengarah pada bocah laki laki di depan Zee.
"Boy, mom mencarimu kemana mana ternyata kau kabur kesini!" ucapnya setelah sampai di depan bocah kecil tersebut dan berjongkok menyamai tingginya.
Tatapan matanya beralih pada seseorang yang masih ada di dekat mereka, menatap interaksi keduanya dalam diam. "Em..."
"Ah, you can call me Zee, Mrs." Zee mengulurkan tangannya melihat tatapan wanita itu padanya.
"Panggil aku Aurel saja, Zee." Ia membalas uluran tangan Zee dengan senyum ramahnya.
"Pantas saja kau kemari, ternyata ada gadis cantik heh?" Aurel menatap kembali putranya yang hanya tersenyum pepsodent.
"Apa dia putramu?" tanya Zee.
"Ya.. dia putra pertamaku. Namanya Raveliz Crock. Suamiku berada disini sedang menemui kakakku." Ia menjawab setelah memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Apa dia Sean?" tanya Zee.
"Ya! Tapi tunggu em... apa hubunganmu dengan Sean? Apa kau mengenalnya?" tanya Aurel.
Zee sekarang bingung harus menjawabnya apa karena dirinya juga tak tahu hubungan apa yang mereka miliki. "Aku... temannya! Ya, temannya yang sedang berkunjung juga kesini."
Aurel sedikit mengerutkan dahinya tak percaya kemudian tersenyum menggoda. "Benarkah? Apa tidak lebih dari itu?"
"Tentu saja!" Zee menatap ke arah lain.
"Mom, aku ingin main dengan tante cantik! Berhentilah mengajaknya berbicara." Ravel anak Aurel, menghentikan dirinya untuk berdiri juga.
"Kau bermainlah sendiri dulu, mom ingin bicara dengan tantemu sebentar." Aurel mulai membujuk Ravel.
Bocah itu memegang tangan Zee membuat Zee menatap dirinya. Zee menatap kepala Ravel yang menunduk.
"Aku akan menemanimu bermain," ucap Zee tersenyum padanya.
"Zee!"
"Mom!"
Aurel menatap tak suka Ravel yang berteriak padanya dan melipat tangan di depan dada.
"Tante cantik ingin bermain denganku!"
Aurel menghela nafasnya dengan menutup matanya. "Kalian menang"
"Sean tak pernah membawa siapapun ke sini kecuali orang yang mengenalnya dengan baik dan keluarganya." Aurel berkata demikian.
"Ayo little boy, Aunt punya tempat bagus." Zee tak menjawab Aurel, ia memilih pergi membawa Ravel dan menuntun tangannya. Ravel balik menatap Aurel di belakangnya dan memeletkan lidahnya dengan mata mengejek.
"Bocah itu!" ucap Aurel kesal.
Senyumnya mengembang ketika mengingat Zee. "Kejutan luar biasa Sean."
-
-
-
tbc
Follow ig Riby_Nabe
__ADS_1