Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 37 : Engaged ?


__ADS_3

Zee hanya berjalan mengikuti kemana ibu dari pria itu membawanya. Setelah tiba di depan meja yang berisi beraneka ragam makanan dan minuman, wanita paruh baya di depannya terlihat memilah-milah minuman di depannya.


"Kau minum?" tanyanya tanpa melihat dirinya.


"Tidak, Aunt," jawab Zee ramah. Wanita di depannya langsung melihat dirinya tak suka.


Zee mengerutkan dahinya menatap wanita itu namun sedetik kemudian ia menyadari kesalahannya. "Aku tidak minum mom-my?" Zee sedikit kaku ketika menyebutnya ibu.


"That's right!" serunya sembari memberikan segelas air lemon untuk Zee.


"Namaku Alana Rexford dan suamiku Julian Rexford, tetapi kau harus memanggilku Mommy dan Daddy pada kami seperti putra putriku ya?"


Zee mengangguk ragu-ragu. "Tap-"


"Kau akan tau sebentar lagi, Sayang," potong Alana sembari mengarahkan atensinya pada suaminya yang mulai menaiki tangga menuju panggung.


"Ladies and gentlemen, please pay attention..." Suara bariton khas ayah Sean membuat semua perhatian tertuju padanya.


"Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih kepada anakku Sean karena sudah menjalankan usaha bisnis keluarga kami yang sudah kakekku rintis sejak kecil. Kemudian saya berterima kasih pada istriku, putriku, dan seluruh keluargaku karena sudah mendukungku hingga sekarang." Suara tepuk tangan yang riuh terdengar setelah kepala keluarga Rexford itu mengucapkan kalimat pembukanya.


"Saya juga sangat berterima kasih kepada asistenku, pegawaiku, seluruh staff dan jajarannya yang sudah bekerja keras dan bekerja sama mengembangkan perusahaan kita. Saya ucapkan selamat ulang tahun ke 125 tahun untuk Rexford corp!" Tuan Rexford mengangkat gelasnya setelah selesai mengucapkan kalimatnya yang diikuti para hadirin yang lainnya dan meneguknya bersama. Setelah menyimpan gelas yang dipegangnya, Sean berjalan ke atas panggung menyusul ayahnya.


"Ada satu berita bahagia yang akan saya umumkan juga pada kalian semua," ucap Aland kembali berbicara di depan microfonnya.


"Acara ini juga sekaligus acara pertunangan putraku dengan kekasihnya yang ia rahasiakan selama ini." Setelah kalimat itu mengudara di dalam ballroom hotel, suara bisik-bisik dan mulai terdengar.


Jantung Zee semakin berdegup kencang. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari pria paruh baya di depan panggung itu, yang akan menyebutkan siapa gadis yang akan bertunangan dengan putranya. Tak beda jauh dengan Zee, bahkan semua tamu yang mendengarnya termasuk wartawan yang sudah siap dengan kamera masing-masing, menyiapkan telinga untuk mendengar siapa nama gadis yang akan dipanggil.


"Nona Alanza saya persilahkan naik ke atas panggung." Nama Alanza yang disebutkan lantas membuat wartawan semakin ricuh. Semua tatapan mengarah pada Zee yang diam membatu menatap lurus pada Sean yang tersenyum tipis. Juga menatap Zee dari atas panggung.

__ADS_1


"Sayang..." Suara Alana sekaligus sentuhan tangannya yang memegang pundaknya menyentak Zee. Ia menatap wanita paruh baya itu yang tersenyum hangat menatapnya sembari mengangguk.


Alana membimbing Zee melangkah ke atas panggung. Zee masih diam bagai manequin menatap lurus ke arah Sean yang semakin dekat dengannya. Suara jepretan kamera dan lampu blitz mengiringi langkah kaki Zee yang berjalan menaiki tangga dengan bimbingan Nyonya Rexford.T Hingga tibalah Zee melangkahi anak tangga terakhir sampai akhirnya ia berdiri di depan Sean yang mengulurkan tangannya padanya.


Zee tak urung menyambut tangan Sean yang terulur membuat Sean angkat suara. "Baby Girl..."


Zee barulah tersadar setelah suara Sean masuk ke dalam telinganya. Ia lantas perlahan menyambut tangan Sean, masih sambil menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Sean menggandeng tangan Zee membawanya ke hadapan sang ayah yang sudah memasang senyum tipisnya menatap calon menantunya yang masih menampilkan ekspresi bingung sekaligus terkejut.


Seseorang datang membawakan sepasang cincin pertunangan yang di alasi bantalan empuk berwarna merah. Sean mengambil salah satu cincin tersebut dan menyematkannya di jari manis kanan Zee yang lentik. Setelah berhasil menyematkan cincin tersebut, ia mengecup lembut jari tangan Zee tanpa melepas tatapannya yang dalam. Kini giliran Zee yang harus menyematkan cincin di jari manis Sean. Namun gadis itu tak kunjung melakukannya. Ia masih diam dengan gaya maneqinnya membuat suara bisik-bisik dari para tamu yang berspekulasi mengenai keduanya.


"Zee..." Suara wanita paruh baya di belakangnya bagai alarm perintah yang harus dilalukan Zee. Akhirnya ia mengambil cincin tunangan pria kemudian menyematkan pada jari manis Sean.


At Panthouse Sean, Manhattan, LA, NYC


Zee diam termenung di kamarnya masih dengan gaun pestanya sembari memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya. Sean baru saja keluar dari toilet menatap Zee yang masih diam di sisi ranjang memandangi jarinya.


"Kyaaa!!!"


"Sean pakai bajumu!" Zee menjerit sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketika menatap tubuh Sean yang shirtless.


Setelah mendengar suara pintu terbuka lalu tertutup kembali, Zee mengintip melalui sela-sela jarinya untuk memastikan. Ia menurunkan tangannya sembari mengusap dadanya yang bergemuruh hebat, kemudian menepuk-nepuk pipinya yang ia gembungkan yang terasa panas.


Pintu kembali terbuka, Zee menatap Sean yang berjalan santai ke arahnya dengan celana pendek selutut dan kaos hitamnya. Tangan kekar dan berotot Sean bergerak untuk menyugar rambutnya ke belakang yang semakin membuat jantung Zee terpompa keras.


Ada apa dengannya?! Dan ada apa dengan pria itu yang semakin hari semakin sexy?! Rutuk Zee dalam kepalanya. Zee lantas berdiri dan berjalan ke arah berlawanan Sean hendak merendam dirinya.


"A-aku akan mandi," ucap Zee berusaha berbicara dengan suara normal.


"Tunggu!" Sean mencegah dirinya yang melangkah dengan memegang pergelangan tangannya ketika Zee berjalan melewatinya. Zee jadi semakin panik sendiri ketika suara Sean masuk ke dalam telinganya. Akhirnya mau tak mau ia membalikkan tubuhnya menatap Sean kembali.

__ADS_1


"Apa kau butuh bantuan?" tanya Sean sembari menaik turunkan alisnya.


"Bantuan apa?" Zee mengerutkan dahinya.


"Gaunmu..."


"Sean! Mesum!" teriak Zee kemudian menghempaskan tangan Sean dan berlari dengan kesusahan menuju kamar mandi.


"Jangan berlari, Sayang!"


Blam!


Suara pintu kamar mandi yang terbanting keras terdengar meredam suara Sean yang memperingati Zee. Sean menghela napas seraya menggelengkan kepalanya menatap tingkah gadis manisnya.


Akhirnya ia bisa mengikat gadis itu agar selalu berada disisinya. Perasaan membuncah di hatinya tak dapat ia definisikan. Dirinya adalah seseorang yang selalu mengedepankan logika dan perhitungan dalam hidupnya, tetapi sekarang entah mengapa hatinya begitu senang hanya karena seorang gadis telah benar-benar menjadi miliknya. Bukan alasan logis bagi seorang Sean, yang notebenenya adalah seorang pria pebisnis. Ia sudah merasa bahwa poros hidupnya adalah gadis itu ketika ia menatap untuk pertama kalinya pada gadis yang berhasil menguasai dan mengendalikan dirinya hingga sekarang. Jika ia dulu memandang rendah seorang wanita dan hanya menilainya sebatas pemuas nafsu saja. Namun sekarang, ia memiliki seorang wanita yang berhasil sepenuhnya membuat dirinya bertekuk lutut.


Sungguh hukuman yang... manis?


Dan sekarang yang menjadi tujuan utamanya adalah, bagaimana ia harus membuat Zee berada di sisinya selamanya.


-


-


-


To be continued


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2