
Zee mengerjapkan matanya setelah ia terbangun. Begitu ia berusaha untuk bergerak sedikit, seluruh tubuhnya terasa lemas seakan tulang mereka sudah tidak ada di tempatnya. Ia sama sekali tidak mengenal Sean semalam yang benar-benar tidak ada kata lelah. Netranya melirik jam yang ada di kamarnya, menunjukkan pukul 12 siang. Ia beralih pada Sean yang masih tertidur pulas tepat di depan dadanya. Tangannya tidak melepaskannya sedikitpun perutnya.
"Dasar hewan buas," bisik Zee lirih.
"Siapa yang berkata 'aku menginginkan lebih, Sean' semalam?" Sean menjawab dengan mata terpejam.
"Kau yang gila!" Zee membalas tidak mau kalah. Memukul kepala Sean pelan dengan pipi yang kembali memerah.
"Iya, aku yang gila. Wanitaku yang waras," jawab Sean mengalah seraya membuka matanya dan mengusap kepalanya.
"Tapi kau begitu menikmatinya. Bisakah kita mengulanginya lagi, Sayang?" tanya Sean yang kembali bersemangat dan menatap Zee dengan binar di kedua matanya.
"Aku bisa mati karena tulangku remuk karenamu yang liar," jawab Zee ketus.
"Aku melupakan makan kita." Sean segera tersadar ketika matanya menangkap waktu yang sudah menunjukkan hari sudah siang.
"Kita bisa makan nanti, jawab dulu pertanyaanku." Zee menahan pergerakan Sean yang hendak melepaskannya.
"Kau tidak melupakannya, kan?" tanya Zee sambil memainkan tangannya di rambut Sean.
Sean terdiam tanpa menjawabnya. Lama menatap kedua netra penuh harap milik Zee.
"Bagaimana jika aku mati karena rindu padamu?" tanya Sean dramatis.
"Kita bisa berhubungan lewat ponsel atau bertemu setiap libur. Kenapa kau begitu berlebihan?" Zee tertawa mendengar penuturan Sean.
Sean sudah terbiasa dengan adanya Zee setiap ia bangun dan sebelum tidur. Jika Zee tinggal jauh darinya, ia harus menyesuaikan diri dengan hal itu. Entah ia akan kuat menahannya atau tidak. Belum lagi dengan kondisi Zee yang tengah hamil. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Ia harus segera menikahi Zee.
"Baiklah," jawab Sean pada akhirnya dengan berat hati setelah menghembuskan napasnya.
"Tapi mari kita ulangi kegiatan kita semalam." Sean melanjutkan dan mulai mendekati bibir Zee.
"Sekarang aku lapar dan lelah." Sebelum berhasil, Zee menahan bibir Sean dan bergerak menjauh darinya.
"Aww ... Sean ... " Zee tertawa ketika Sean menggelitiki perutnya dan bibirnya menggigit kecil leher Zee. Meninggalkan satu lagi kissmark miliknya.
"Baiklah, ayo." Sean melepaskan Zee dan beranjak dari tidurnya. Ia memakai kembali pakaiannya yang berserakan dan berdiri.
"Sean ... " Zee berkata dengan pelan memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang?" Wajah Sean mengeluarkan ekspresi menggoda Zee.
"Aku akan meminta tolong Austin saja untuk menggedongku ke kamar mandi," ujar Zee ketus.
"Aus--"
Sean secepat kilat memotong ucapan Zee dengan membungkamnya kembali dengan bibirnya. Lagi-lagi, siang hari mereka diawali dengan ciuman panas yang kembali menggairahkan.
"Kita sudahi di sini," ucap Sean terengah-engah setelah menghentikan ciuman mereka.
Begitupun dengan Zee yang kembali ditarik Sean dari gairah yang sudah dibangkitkan pria itu juga dari tangannya yang mulai bergerak liar menjamah tubuhnya dan ciuman panas mereka. Zee memerah karena begitu mudahnya ia kembali dibuat bergairah hanya karena sentuhan Sean.
"Aku tidak akan bisa menahan diri lagi jika dilanjutkan. Kau harus makan dulu." Sean berkata sambil mengusap air liur yang cukup membasahi bibir Zee dengan ibu jarinya.
Zee merentangkan kedua tangannya untuk meminta gendongan dari Sean. Dengan senang hati dan tanpa diperintah lagi, Sean membawa Zee ke dalam gendongan bridal style nya beserta selimutnya untuk membungkus tubuh Zee. Ia menurunkan Zee di atas kloset toilet.
"Aku akan meminta Marlyn menyiapkan sarapan kita ke kamar. Kau harus lebih banyak istirahat." Zee hanya mengangguk dengan senyum di bibirnya. Ia lantas melangkah pergi meninggalkan Zee.
"Sean!" Tak lama Sean keluar, ia segera masuk kembali ke kamar mandi yang baru ditinggalkannya karena mendengar suara teriakan Zee.
"Ada apa, Sayang? Kau terluka?" tanya Sean panik seraya menghampiri Zee yang berdiri di depan cermin.
"Salahkan tubuhmu yang begitu menggoda dan manis, Zee," jawab Sean acuh sambil mengangkat kedua bahunya dan keluar secepat kilat.
"Dasar hewan buas!" teriak Zee.
Zee berjalan tertatih-tatih ke bak mandi untuk merendam tubuhnya dan mengistirahatkannya dari barang sekejap. Sean memang benar-benar adalah definisi hewan buas jika sudah masalah ranjang. Memikirkan itu membuat Zee terpikirkan jika Sean sudah pernah melakukan itu berulang kali dengan wanita lain sebelum dirinya. Itulah kenapa ia bisa sangat hebat. Zee menghela napas memikirkan sesuatu yang membuat ia kesal. Tidak masalah, itu adalah masa lalu dan Sean tidak akan mengkhianatinya. Ia harus menerimanya, seperti Sean menerima dirinya.
"Bibi Marlyn," sapa Zee begitu ia keluar dari kamar mandi dan mendapati pembantu setia Sean ada di kamar tengah menyiapkan sarapan.
"Halo Zee." Marlyn mendekat padanya dan menyentuh wajahnya.
"Apa kau dan Sean sudah baikan?" tanya Marlyn kemudian yang membuat Zee tidak bisa berkata apa-apa.
"Kau seharian tidak keluar kamar dan murung di dalamnya. Aku cukup khawatir denganmu. Tapi, melihat kau sudah baik-baik saja, aku tidak seharusnya cemas." Marlyn melirik ke arah leher Zee yang tertutupi oleh pakaiannya.
"Ahh, aku dan Sean tidak ada masalah sebenarnya," ucap Zee salah tingkah sekaligus malu dengan orang tua di depannya.
"Baiklah, aku akan kembali bekerja. Selamat makan Zee." Marlyn melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
Tak berselang lama Sean masuk ke dalam kamar. Pakaian yang dikenakannya sudah berganti dan tubuhnya kelihatan sudah segar kembali.
"Ayo kita makan," ucap Sean memecah keheningan.
Zee duduk di kursi yang Sean tarik. Sean duduk di samping Zee dan tangannya mulai mengambil piring dan makanan untuk mengisinya. Zee hanya diam memperhatikan saja.
"Selamat makan," ucap Zee sebelum akhirnya memakan makanannya.
"Makanlah yang banyak agar kau bisa bertenaga di kegiatan malam kita," balas Sean dengan nada gurauan dan kerlingan nakalnya.
"Makanlah makananmu!" seru Zee kesal.
"Lusa aku sudah memasuki semester baru kuliahku. Untuk bisa mempersiapkan semuanya, aku kira hari ini aku akan kembali ke apartemen." Suara sedok yang beradu dengan piring, menimbulkan suara yang cukup nyaring.
"Sean, aku sudah mendapatkan persetujuanmu, bukan? Kau sudah mengatakan bahwa kau mengizinkanku tinggal dengan Kyra lagi." Tanpa menghiraukan Sean, Zee melanjutkan perkataannya.
"Tapi tidak hari ini juga, kan? Kita masih punya waktu dua hari. Kau tinggal di sini saja sampai kau masuk kuliah lagi," mohon Sean.
"Tidak, aku akan sekarang," jawab Zee tegas.
"Lusa, Zee." Sean mencoba bernegosiasi.
"Hari ini," timpal Zee.
"Besok dan itu penawaran terakhir. Atau tidak akan pernah sekalipun!" Sean dengan tegas berkata.
Nada suara dan ekspresi wajah Sean membuat Zee kali ini sudah tidak dapat dibantah lagi. Salah-salah, jika ia keras kepala, ia tidak akan mungkin bisa pergi.
"Baiklah," jawab Zee akhirnya mengalah.
-
-
-
To be continued
Hai gays, maapin terlambat update... Sebenarnya chapter udah jadi dari hari sebelumnya, tetapi karena isinya terlalu vulgar dan ditolak (wkwk), jadinya aku revisi ulang besar-besaran.
__ADS_1
p.s. Yang dihapus kayaknya disukai readers, haha