
'Aku sudah ada dibawah, tebak aku ada dimana, Sean.'
Sean masih menoleh ke kanan dan kiri di dalam lobi untuk mencari keberadaan wanita itu. Namun, ia sama sekali tidak menemukan keberadaannya dimanapun yang membuat Sean khawatir.
'Sayang, jangan bercanda. Aku akan masuk dan jika kau tertangkap, aku tidak akan melepaskanmu sampai kita menikah besok!'
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Sean memasukan kembali ponselnya dan mulai berjalan masuk ke dalam lobi. Ia mencari keberadaan Zee diantara orang-orang yang masih berlalu lalang keluar masuk. Namun, ia sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Zee diantara sekian banyak orang.
"Tuan Rexford!" Suara seseorang yang memanggilnya membuat Sean menoleh.
"Apa Anda sudah bertemu dengan Zee? Dia sudah keluar beberapa menit yang lalu," ucap Kyra dengan wajah yang sudah panik.
Sean terdiam sebentar kemudian kembali menoleh ke kanan dan kiri. Matanya tiba-tiba memicing, melihat sebuah benda yang tak asing. Sebuah ponsel tergeletak begitu saja di lantai. Ia berjalan ke arah ponsel tersebut, diikuti oleh Kyra yang masih panik. Ia memungut ponsel tersebut.
"Itu punya Zee!" seru Kyra yang bertambah panik. Dalam sekali lihat, Sean sudah mengenali jika ponsel itu milik tunangannya.
"Tuan Rexford, apa terjadi sesuatu pada Zee? Apa Anda sudah bertemu dengannya? Apa dia diculik?" Kyra bertanya beruntun.
Namun, tak mendapati jawaban apapun dari Sean. Sean justru segera berdiri dan pergi meninggalkan Kyra tanpa mengatakan apapun.
"Tuan Rexford!" teriak Kyra.
"Hubungi pria itu dan suruh dia untuk mencari keberadaan Zee!" Hanya satu kalimat itu saja yang dikatakan Sean sebelum pergi.
Kyra masih hanya bisa mematung setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sean. Tubuhnya gemetar dan pikirannya kosong.
"Sadarlah! Hubungi Aidan dan suruh dia untuk membantu menemukan Zee!" Sean mengguncangnya dan sekali lagi berusaha menyadarkan Kyra.
"Cepat sebelum Zee pergi jauh! Sial!" umpat Sean seraya melenggang pergi dengan terburu-buru.
Sean mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang. Tanpa mendengar balasan apapun, ia segera mengatakan tujuannya. "Cari tunanganku secepatnya!"
Kyra baru bisa tersadar dan melangkah dengan tergesa kembali ke apartemennya untuk ke ponselnya dan menghubungi Aidan. Seharusnya, ia tidak membiarkan Zee sendirian ke bawah sejak awal.
"Kyra, Kyra, ada apa? Mana Zee?" Begitu masuk ke dalam rumah, ia mendapati Dante langsung dan bertanya padanya mengenai keberadaan Zee.
"Zee ... Zee," jawab Kyra terbata-bata.
__ADS_1
"Zee kemana?" tanya Dante sekali lagi sambil mengguncang tubuh Kyra.
"Zee hilang, Om!" jawab Kyra berseru.
"Sekarang kita harus hubungi Aidan dan minta dia buat bantu cari Zee juga, Om!" ujarnya lagi.
"Zee hilang? Se-sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Dante yang masih tidak mengeti akan situasinya.
"Zee, tadi bilang ingin bertemu dengan Sean yang sudah ada di bawah. Ta-tapi, dia tidak bertemu dengan Sean dan sekarang menghilang." Kyra menjelaskannya dengan derai air mata di wajahnya.
Tangan Dante yang memegang bahu Kyra melemah. Dari ekspresi wajahnya ada banyak emosi di dalamnya. Kyra segera mengambil ponselnya. Sambil menangis, ia menceritakan semua yang terjadi pada Aidan.
"Om, tenanglah. Zee pasti akan segera ditemukan oleh Sean dan Aidan akan segera kemari untuk membantu mencari Zee." Setelah berbicara dengan Aidan dan mendengar pria itu akan segera datang, tugas Kyra untuk menenangkan ayah dari sahabatnya itu yang masih sangat syok.
"Aku akan mencari Zee, kau tunggulah Aidan di sini kemudian ikutlah mencari Zee." Dante tidak berdiam diri lagi dan ikut mencari keberadaan putrinya itu.
"Tapi, Om. Ini Kota London. Om bisa tersesat." Kyra mencoba mencegahnya.
"Kau kira Om adalah orang tua biasa. Lepaskan, aku akan mencari putriku." Setelah mendengar nada bicara Dante, Kyra tahu, ia sudah tidak bisa lagi mencegah kepergian Dante.
"Sean, ada apa sebenarnya? Mom mendengar dari Axel jika Zee menghilang? Apa itu benar?" tanya Alana dari seberang telfon.
Alana semakin khawatir dibuat oleh putranya. Julian dan anggota keluarga yang lain menunggu apa yang akan diinformasikan oleh sang ibu.
"Sepertinya Zee benar-benar hilang, Julian." Alana segera menangis dalam pelukan suaminya.
"Aku akan mengerahkan semua orang untuk membantu Sean mencari calon menantu kita." Julian berusaha menenangkan Alana yang menangis.
"Kalau begitu, aku akan mengurus pernikahannya dan segera ikut membantu." Zach berdiri dan segera melakukan apa yang dirinya sendiri katakan.
"Temukan dan selamatkan dia dan bayinya apapun yang terjadi!" seru Alana.
Julian ikut menyusul Zach. Setelah sebelumnya menatap oada putrinya untuk menenangkan sang ibu.
"Ini semua dari kamera cctv di apartemen Nona Alanza. Sudah dipastikan ia diculik oleh seorang pria yang bersama dengannya di lift. Tampaknya, dia memang sudah merencanakannya, Tuan." Axel memberikan penjelasan sambil memperlihatkan rekaman cctv yang didapat di apartemen Zee.
"Dan siapa orang ini?" tanya Sean tanpa menatap lawan bicaranya.
__ADS_1
"Sepertinya dia adalah orang yang selama ini kita curigai menguntit Nona Alanza, Tuan. Dia kemungkinan besar adalah Samuel yang kabur saat itu."
Brak!
"Panggil bajingan itu kemari dan kalian semua, cari tunanganku sampai dapat! Kalau sampai dia atau calon anakku terluka barang seujung kuku, kalian yang akan mendapat ganjarannya!" Sean keluar setelah memberikan perintahnya.
"Sialan!" Begitu masuk ke dalam ruangannya, ia mengacak seluruh barang yang ada di dalamnya.
Tak lama merenung di dalam ruangan pribadinya, seseorang menerobos masuk ke dalam ruangannya dengan napas terengah-engah.
"Ada apa memanggilku, Sean?" tanya Zach yang baru saja tiba itu.
Sean menatap tajam pada Zach dan segera berjalan menghampirinya. Tanpa mengatakan apapun lagi, ia langsung memberikan satu tinjuan padanya yang membuat Zach jatuh tersungkur.
"What the ****?! Apa-apaan ini Sean?!" tanya Zach kesal.
"Karena kau yang tidak becus mengurus satu keluarga hama, Zee sekarang menghilang, Bajingan!" seru Sean sembari mencengkram kerah kemeja Zach.
"Apa?" tanya Zach yang masih tidak mengerti.
"Bajingan itu kabur darimu, kan?" tanya Sean mengguncang Zach.
Zach lama terdiam dan segera mengerti akan situasi ini. "Jawab, Bajingan!"
"Tidak mungkin dia bisa sampai di sini dan menculik Zee," ucap Zach pelan.
"Lalu ini apa?" Sean memperlihatkan rekaman cctv tersebut pada Zach.
"Dasar tidak becus!" Sean melepaskan kerah baju Zach dengan kasar.
"Kalau begitu sekarang dengan tanganmu sendirilah kau lenyapkan dia! Aku akan membantumu mencarinya untuk menebus kesalahan itu." Zach keluar dari ruangan Sean untuk sementara menjauh dari pria itu. Ia akan mencari keberadaan Zee, sebelum Sean benar-benar akan membunuhnya.
"Zee, Sayang."
-
-
__ADS_1
-
To be continued