
"Selamat pagi, Sean." Zee menyapa kedatangan Sean di meja makan yang sudah ada ayah Zee dan Zee sendiri menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Sayang, Tuan Dante," balas Sean sambil melirik ke arah calon ayah mertuanya yang tidak memberikan respon apapun. Baru saja Sean hendak mencium Zee, segera Zee menghindari Sean sambil melirik ke arah ayahnya. Sean lagi-lagi dibuat kecewa.
"Bagaimana dengan tidur kalian di kamar Zee?" tanya Dante dengan nada yang dingin tanpa menatap keduanya.
Zee membeku tidak bergerak, mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Sean yang meski tidak mengerti ucapan ayah Zee, tapi ia mengerti dari respon Zee bahwa yang dikatakan ayahnya pastilah membuat wanita itu tidak bisa berkata-kata. Dari semua kemungkinan, pasti ayahnya sudah mengetahui bahwa dirinya tidur bersama putrinya itu.
"Pa-papi ternyata tau," ucap Zee gelagapan yang ditutupi dengan tawa canggungnya.
"Papi hari ini tidak bekerja? Kenapa belum bersiap?" tanya Zee segera mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Dante menyimpan gelas susu yang isinya sudah habis itu dan mendongak menatap pada Zee. "Papi ingin pergi bermain golf setelah sekian lama, bersama calon suamimu ini." Tatapannya kini mengarah pada Sean.
"Sean," panggil Zee menatap padanya.
"Aku mengerti, golf bukan?" tanya Sean yang sudah lebih dulu.
"Ya, kita pergi bermain golf sekarang sambil berbicara." Tiba-tiba saja ayahnya menggunakan Bahasa Inggris yang jelas dimengerti Sean.
"Tentu, Tuan Dante." Sean menjawab tanpa senyum di wajahnya yang tidak menunjukkan keramahan. Sifatnya pada orang lain, sekalipun pada calon ayah mertuanya, Sean masih tetap kaku.
"Sean, kau yakin bisa melakukannya?" tanya Zee setelah mereka tiba di kamar yang ditempati Sean.
"Semasa kuliah dulu, aku adalah atlet yang popular. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang. Poin pentingnya bukan golf ini, tapi pembicaraan antara seorang pria. Ayahmu hanya canggung saja denganku dan mengatakan hal ini." Sean menjelaskan maksud dari ayah Zee tersebut.
"Be-begitukah?" tanya Zee yang juga baru menyadarinya.
"Baiklah, aku lega mendengarnya," ucap Zee kemudian dan berjalan hendak keluar bersama Sean.
"Zee, ikut mobil Papi!" perintah Dante, melihat putrinya yang sudah keluar bersama dengan Sean.
Zee menatap Sean dengan raut penyesalan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil Dante. Sean juga mulai merasa kesal dengan semua aturan ini dan itu, tapi demi kelancaran hubungannya dengan Zee, ia berusaha menahan diri. Hanya di sini.
"Pi, bagaimana menurutmu Sean?" tanya Zee memulai pembicaraan ketika mobil sudah melaju.
Dante diam dan masih tetap fokus ke jalanan, mempersiapkan jawaban yang ada di kepalanya. Sedangkan Zee menunggu jawaban ayahnya.
"Dia bertanggung jawab," jawab Dante singkat yang sedikit membuat Zee kecewa.
__ADS_1
"Sejujurnya, dia sedikit mirip dengan Papi. Semoga saja dia juga sama seperti Papi yang menyayangi keluarga dan tidak terlena dengan hartanya." Dante melanjutkan.
"Apa Papi mengenal Sean?" tanya Zee penasaran.
"Siapa yang tidak mengenal dirinya dalam dunia bisnis? Dalam sekali lihat Papi sudah menyadari jika dia adalah keluarga Rexford yang terkenal itu." Bahkan ayahnya mengetahui siapa Sean tanpa diberitahu Zee. Seterkenal itukah seorang Sean?
"Meski dia terlihat sangat menyayangimu yang Papi tidak meragukan hal itu. Tapi, latar belakangnya itu membuat Papi sedikit ragu," ucap Dante kembali.
"Kenapa dengan latar belakangnya?" tanya Zee menyerngit tidak mengerti.
"Ya, kau sendiri juga mengetahui bagaimana anak-anak 'beruang' itu bersosialita. Karena mereka memiliki uang, mereka merasa memiliki segalanya. Siapa yang tau, bagaimana gaya hidup Sean sejak kecil dan kebiasaannya?" Ucapan ayahnya justru membuat Zee sedikit takut ketika baru memikirkan hal tersebut.
"Papi juga bisa dikatakan seperti Sean, bisa saja Sean memang sama dengan Papi. Papi sendiri yang mengatakan jika dia mirip dengan Papi," sangkal Zee.
"Semoga saja," sahut Dante.
"Jangan terlalu dipikirkan, Zee. Jika dia menerimamu dalam keadaan apapun dan tidak pernah protes atau mendebatkan perbedaan kalian selama kalian berhubungan, Papi yakin Sean adalah pria yang baik." Dante berusaha menenangkan putrinya yang terlihat menjadi ragu.
Zee tidak menjawab lagi dan mulai sibuk dengan pikirannya. Batinnya terus meyakinkan dirinya untuk percaya pada Sean. Apapun masa lalu Sean, itu adalah masa lalu. Bagaimanapun kebiasaan atau sikap buruk Sean, ia akan menerimanya. Begitu pun dengan Sean yang menerima masa lalunya dan membiarkan itu menjadi masa lalu. Zee yakin jika pria itu adalah pria yang tepat untuknya.
Sudah sejam yang lalu ia tiba di lapangan golf yang luas ini. Sejak kedatangannya, ia sama sekali tidak melakukan apapun selain menonton pertandingan antara ayah dan tunangannya itu di kursi santai yang teduh. Mereka berdua, terlihat cukup akrab jika dilihat dari kejauhan. Sesekali mereka mengobrol yang entah mengobrolkan apa.
"Nona Alanza, bukan?" sapa seorang pria paruh baya yang entah sejak kapan sudah ada di dekatnya.
"Ya, benar." Zee menjawab dengan senyumannya.
"Kau mengingatku, kan? Kita pernah bertemu di acara amal perusahaan," tanyanya.
"Tentu," jawab Zee ramah.
Dalam batinnya, ia terus bertanya dan berusaha mengingat-ingat. 'Siapa dia? Siapa dia?'
"Apa pria yang bermain bersama dengan ayahmu itu benar-benar Tuan Rexford, pengusaha asal Inggris itu?" Ah, sekarang Zee mengerti tujuan dari pria ini.
"Benar," jawab Zee.
"Bagaimana dia bisa ada di sini dan bersama denganmu dan ayahmu?" Ia terlihat terkejut.
"Babe!" Suara Sean lebih dulu menyapa, sebelum ia sempat menjawab. Sean merangkul pinggang Zee setelah mereka dalam jarak yang dekat.
__ADS_1
"Apa kalian sudah selesai 'bermain'? Kenapa sangat sebentar?" tanya Zee mengalihkan tatapan pada Sean.
"Papi sudah tidak bersemangat bermain dan ingin pulang." Dante yang menjawab.
"Kau pulanglah bersama Sean, Papi akan pulang duluan." Kemudian ia melenggang pergi begitu saja.
Zee menatap ayahnya yang terlihat memiliki ekspresi yang tidak bagus. "Apakah pembicaraan kalian berjalan lancar?" tanya Zee.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Papi cukup pandai Berbahasa Inggris ternyata," jawab Sean.
"Nona Alanza." Zee hampir saja lupa dengan pria paruh baya di depannya yang masih menonton mereka.
"Ah, dia tunanganku," jawab Zee sebelum akhirnya mengajak Sean pergi dari lapangan golf. Ia tidak ingin menerima banyak pertanyaan lagi dari pria yang terkejut itu.
"Apa dia mengganggumu?" tanya Sean setelah mereka berada di dalam mobil.
"Tidak," timpal Zee.
"Aku terkejut, bahkan kau sangat terkenal juga di Indonesia," ucap Zee kemudian.
"Itu tidak ada apa-apanya jika kita tidak bertemu, Sayang." Sean mengucapkan kata-kata manis yang membuat Zee selalu memerah.
"Dasar penggoda!" seru Zee yang tidak dipungkiri cukup senang sekaligus malu.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Zee mengubah topik pembicaraan mereka.
"Ini hanya pembicaraan antara seorang pria." Jawaban Sean cukup membuat Zee kecewa. Namun, ia juga tidak ingin memaksanya.
"Karena urusan kita sudah selesai di sini, bagaimana jika kita berkeliling kota ini lebih dulu sebelum kembali ke London besok?" usul Zee.
"Masih ada yang harus kami bicarakan, Sayang. Kita akan pulang lusa." Sean menjawab.
"Apa?" tanya Zee kesal.
-
-
-
__ADS_1
To be continued