
Ini sudah piring ketiga pesanan Zee. Isi piring kali ini adalah cake berwarna merah cantik yang tampak menggiurkan. Apa lagi kalau bukan red velvet. Salah satu favorit gadis itu. Sean hanya tersenyum menatap gadis di depannya yang seolah tak menganggap keberadaannya. Ia makan tanpa peduli pada apapun.
"Kau mau, Sean?" tanya Zee sambil mengulurkan sendok berisi potongan red velvet.
"Tidak, kau habiskan saja cakemu. Apa kau tak takut berat badanmu naik?" tanya Sean.
"Dulu tidak, tapi sekarang ya," ujar Zee menjawab.
"Kenapa?" tanya Sean kembali yang kali ini mengerutkan dahinya.
"Karena sekarang kau tidak memperbolehkanku olahraga. Biasanya setiap sore aku akan berlari di atas trade mill ku jika luang." Zee menjelaskan.
"Itu karena kakimu-"
"Ya aku tau," potong Zee sebelum Sean menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi sekarang kau sudah tak ada alasan lagi untuk melarangku." Zee melanjutkan lagi. Sean hanya terkekeh, tangannya terulur untuk mengusap rambut Zee.
"Sean, cobalah ini sedikit." Zee menyodorkan satu sendok cake ke arah mulut Sean yang dengan senang hati ia membuka mulutnya membiarkan cake manis itu masuk ke dalam mulutnya.
"Emm... manis, bahkan terlampau manis karena aku memakannya sambil menatapmu." Sean mengerlingkan matanya ketika mata mereka bertemu.
"Hahaha..." Zee tertawa sumbang menatap Sean datar kemudian memutar bola mata jengah.
"Kita akan ke mall setelah ini," ujar Sean.
"Apa kau mau membeli sesuatu?" tanya Zee.
"Iya, sebuah hadiah. Aku ingin kau memilihkannya untukku." Sean menjawab.
"Untuk siapa? Bagaimana karakteristik orangnya?" tanya Zee kembali sambil memikirkan pilihan-pilihan hadiah di dalam otaknya.
"Dia seorang gadis yang istimewa dan berbeda."
Deg
Zee menunduk tak berani menatap Sean di depannya. Ia memegang erat sendok yang ia pegang. Jantungnya berpacu cepat ketika pernyataan itu meluncur dari mulut Sean. Mungkinkah itu untuk kekasihnya yang akan menjadi tunangannya?
"Bi-bisakah kau menjelaskannya lebih spesifik?" tanya Zee mencoba memberanikan diri, tetapi masih enggan menatap Sean.
"Dia... dia sepertimu. Jadi kupikir pilihanmu akan disukainya juga," jawab Sean dengan tatapan yang mengarah pada Zee.
'Mir**ip denganku? apa itu alasan kau menculikku juga?'
__ADS_1
"Jadi apa kau sudah selesai memotong isi piring yang sudah habis itu?" tanya Sean menatap Zee yang masih memegang sendoknya seolah memotong red velvet yang sudah habis beberapa menit lalu.
"Apa? Emm... ya, aku sudah selesai. Maaf... tanpa sadar aku melamun karena memikirkan hadiah yang cocok." Zee kembali ke alam sadarnya dan berusaha mengontrol ekspresinya.
"Apa ada yang menganggu pikiranmu, Sayang?" tanya Sean melihat perubahan ekspresi Zee yang tak terlalu kentara, tetapi disadari oleh Sean.
"Tidak, aku kan sedang memikirkan hadiah apa yang cocok untuk... calon tunanganmu?" Zee kali ini mencoba menebak, melalui ekspresi wajah Sean setelah ia memancingnya.
Sean menatap Zee dengan tatapan yang sulit di artikan. Baru saja ia akan menyuarakan suaranya, suara Zee kembali terdengar membuat ia mengurungkan niatnya.
"Kalau begitu ayo!" Zee beranjak dari kursinya sebelum Sean berbicara, berjalan mendahului Sean ke parkiran restoran.
📍📍📍
Zee menatap sekeliling toko perhiasan yang terlihat begitu mewah dan mahal. Ia mengedarkan pandangannya pada setiap kaca etalase berisi pernak-pernik perhiasan yang begitu indah dan berkilauan. Sean melepaskan tangannya pada pinggang Zee ketika seorang wanita yang berseragam formal mendekati mereka.
"Selamat siang, Tuan Rexford. Pesanan Anda ada di sebelah sana, Tuan," ucap wanita tersebut sembari menunjukkan jalan agar Sean mengikutinya.
"Sayang, kau bisa memilih perhiasan apapun sebagai hadiahnya dan kau juga bisa memilih untukmu." Sean berkata sebelum akhirnya pergi mengikuti wanita tadi.
Zee menghampiri salah satu kaca etalase yang menampilkan berbagai kalung yang berkilauan. Matanya jatuh pada salah satu kalung dengan ukiran yang membentuk simbol cinta. Simple, cantik, dan elegan. Mata Zee berbinar menatap kalung tersebut yang terlihat berkilauan di matanya.
"Halo, Nona. Kalung mana yang Anda inginkan?" Suara seorang pramuniaga menyentaknya. Zee menatap pramuniaga tersebut dengan tatapan terkejut.
"Nona yang bersama Tuan Rexford itu kah?" tanya pramuniaga tersebut juga terkejut. Zee mengangguk ragu.
"Apa Nona tunangannya?" tanyanya lagi dengan wajah yang penuh binar, tanpa ragu. Zee menggeleng.
Raut wajah pramuniaga tersebut langsung berubah. Ekspresi wajahnya yang awalnya begitu antusias menceritakan pertunangan Sean, kini menatapnya tak suka.
"Boleh aku melihat kalung ini?" tanya Zee sembari menunjuk kalung yang dimaksud. Pramuniaga tersebut mengambil kalungnya dan memberikannya pada Zee.
"Apa kau akan membayarnya dengan tubuhmu itu?" tanya pramuniaga tersebut menatap remeh Zee.
Atensi Zee teralihkan, ia hanya diam menunduk menatap kalung tersebut kemudian melenggang pergi tanpa berkata apapun.
Ia beralih ke kaca etalase berisi gelang lantas meminta pramuniaga yang berjaga untuk mengambilkannya tanpa banyak bicara. Ia berniat mengambil gelang tersebut sebagai hadiaah, tanpa berpikir panjang. Ia menunggu Sean di kursi tunggu sembari meremas jarinya yang sudah berkeringat dingin. Sebuah tangan besar hinggap di kepala Zee membuyarkan lamunannya.
"Kau sudah selesai?" tanya Sean sembari mengelus lembut rambut Zee. Segera Zee memperlihatkan kantong belanjaan kecil berisi gelang yang tadi ia pilih.
"Mau membeli sesuatu yang lain?" tanya Sean kembali yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Zee.
"Bisa kita pulang sekarang?" Zee mengambil tangan Sean yang bertengger di kepalanya.
__ADS_1
"Sure..." Sean membawa Zee kembali ke mobilnya setelah menyelesaikan pembayarannya.
"Sayang, apa kau sakit? Kau terlihat pucat dan lesu. Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Sean setelah menjalankan mobilnya meninggalkan basemant mall.
Zee menggeleng kembali karena tidak mungkin ia menceritakan apa yang terjadi pada Sean. Siapa dirinya hingga bercerita seperti itu pada Sean? "Hanya kelelahan, aku mau tidur saja setelah ini." Zee kembali menatap jalanan kota London yang tak terlalu ramai, menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. Setetes air jatuh membasahi kaca mobil, yang diikuti oleh tetesan lainnya kemudian semakin besar menjadi hujan yang deras.
"Peluk aku," ujar Sean tanpa menatap Zee. Atensi Zee beralih menatap Sean yang terlihat fokus ke jalan di depannya.
"Aku tidak kedinginan," jawab Zee kembali mengalihkan tatapannya ke luar kaca yang buram.
Sean menepikan mobilnya ke sisi jalan dan mematikan mesin mobil membuat Zee kembali menatap Sean. Ia bergerak melepas sabuk pengamannya kemudian mengambil sesuatu dari kursi belakang. Sebuah mantel. Ia menyodorkannya pada Zee.
"Aku tidak kedi-"
"Sean!" pekik Zee karena Sean mengangkatnya dan mendudukannya dipangkuannya.
"Aku tidak ingin kau sakit," ucap Sean sembari memakaiakan mantel tersebut. Zee dengan sedikit enggan memakainya sendiri.
Setelah selesai memakai mantelnya, Zee bergerak hendak kembali ke tempat duduknya. Namun, Sean menahan pinggang gadis itu sehingga ia tak dapat bergerak.
"Sean... Please, don't start." Zee berusaha menolak apa yang akan dimulai Sean.
"Aku tidak bisa menjalankan mobilku karena hujan terlalu lebat." Tatapannya mengarah ke luar kaca mobil yang memang hujan deras. Zee tidak mengatakan apapun selain menghela napas.
"Tapi aku ingin duduk di kursiku," pinta Zee.
"Kau kan lelah, jadi tidur saja di sini dulu." Sean mengeratkan pelukannya. Zee menatap Sean dengan lamat-lamat.
"Tidurlah," ucap Sean sembari membawa Zee ke dalam pelukannya. Akhirnya Zee mengalah dan menuruti apa yang dikatakan Sean. Ia bersandar pada dada Sean. Elusan lembut di rambut dan punggungnya terasa menenangkan membuat kantuk mulai menyerang Zee.
'Dengar yah wanita murahan! segera tinggalkan anakku karena dia sudah memiliki kekasih dan lusa mereka akan bertunangan.'
Suara itu tiba-tiba masuk ke dalam ingatan Zee membuatnya kembali membuka matanya. Ia menjauhkan wajahnya pada dada Sean yang menatapnya datar. Zee kembali berniat untuk duduk di kursi sampingnya.
"Jangan keras kepala, Sayang." Sean masih memeluk pingganya erat membuat Zee tak bisa bergerak. Ia kembali menarik kepala Zee dan mengusap rambutnya. Sean benar-benar memperhatikan suaranya.
Kantuk semakin menyerang, mata Zee perlahan memberat tak kuat membuka matanya. Sayup-sayup suara Sean terdengar berbisik di telinganya. "Don't worry, Lil Girl. Aku yang akan menjaga hidupmu selamanya"
-
-
-
__ADS_1
tbc
Follow ig Riby_Nabe