
"Ada angin apa kau memanggilku kemari?" tanya Zach begitu ia masuk ke dalam ruangan Sean.
Sean tidak ada di mejanya, ia berdiri membelakangi Zach, menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota London. Zach sudah bisa menebak jika ada sesuatu yang membuat Sean gelisah. Namun, ia belum bisa menebak apa alasan yang membuat sahabat karib sekaligus kakak iparnya itu gelisah.
"Kau dan Zee akan segera menikah, bahkan sudah memiliki calon bayi. Orang-orang yang dulunya sudah menyentuh wanitamu itu sudah aku urus sampai bersih. Lantas, apa lagi yang membuatmu gelisah, Sean?" Zach kembali berbicara pada Sean.
"Benar-benar sudah kau urus hingga bersih?" Sean kali ini angkat suara bertanya pada Zach seraya berbalik untuk menatapnya.
Zach menoleh ke arah Sean dan menegakkan tubuhnya kembali. "Tentu saja! Kau tidak percaya padaku?" tanya Zach kembali.
"Mereka sudah aku urus sesuai dengan apa yang kau inginkan. Mereka tidak bisa menyuap polisi mana pun untuk membantu mereka, mengambil semua harta mereka hingga menjadikan mereka pengemis, tidak, lebih tepatnya seorang buronan. Polisi dan penagih hutang. Mereka sudah pasti menjadi tikus di negara mereka sendiri." Zach menjelaskan lebih detail guna membuat Sean tenang.
"Apa yang membuatmu bertanya?" Ia menebak jika pertanyaan Sean ada kaitannya dengan masalahnya kali ini.
"Aku akan mengurusnya sendiri dengan tanganku sendiri," ucap Sean seraya melangkah kembali ke meja kerjanya.
"Hei, ada apa? Apa ada sesuatu yang mencurigakan terjadi padamu atau Zee?" Zach mulai merasa penasaran dan mendesak Sean.
"Keluarlah, aku harus bekerja sekarang." Tidak menjawab, Sean mengusir Zach setelah fokusnya kembali pada komputer di depannya.
Zach mendengus kasar dan membuang wajahnya. "Buang-buang waktu saja!"
"Apa kau tidak memiliki pekerjaan?" Suara Sean yang keluar dengan nada dingin membuat Zach kembali menoleh padanya.
"Tentu aku akan bekerja sekarang."Zach berdiri dari duduknya dengan kaku dan melangkah keluar dari ruangan Sean. Meninggalkannya seorang diri yang sudah tenggelam dalam pekerjaannya.
"Gue kira lo udah pulang semalam, jadi gue tidur duluan. Cape banget." Kyra berbicara sambil memainkan ponselnya.
"Kalian berdua keluar juga semalam?" tanya Zee yang dirasakan anggukan kepala pada bahunya yang disandari oleh Kyra.
__ADS_1
"Zee, gimana keadaan dia? Gimana rasanya ada dia? Usianya berapa?" Kyra tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatap pada Zee dengan mata berbinar, memberikan pertanyaan beruntun padanya.
Zee selesai menghabiskan makanannya dan mengusap perutnya. "Ngomong-ngomong tentang itu, aku dan Sean belum sekalipun memeriksanya. Aku hanya mendengarnya dari pembicaraan dengan Zach yang membicarakan kehamilanku. Aku juga sama sekali tidak merasakan gejala-gejala yang biasanya ditunjukkan orang hamil membuat aku merasa tidak sedang hamil."
"Gimana kalau kita perisa dia sekarang?" tanya Kyra sambil menjetikan jarinya.
"Gimana?" Kyra semakin menatap Zee dengan tatapan penuh harap.
"Ok, ayo kita lakukan." Zee akhirnya mengangguk menyetujui.
"Bagus! Ini bisa jadi kejutan buat Tuan Rexford dari lo!" seru Kyra kegirangan.
"Ayo pergi, biar gue yang nyetir. Mulai sekarang lo gak boleh nyetir karena kandungan lo." Kyra berdiri dan merebut kunci mobil yang dipegang Zee. Hei, sejak kapan Kyra menjadi sangat protektif seperti Sean?
Namun, Zee tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti kemauan Kyra. Lagi, ia merasa penasaran bagaimana dengan keadaan calon bayi yang ada di dalam perutnya. Ketika mereka melangkah pergi meninggalkan Cafeteria, Zee lagi-lagi merasakan seseorang mengikutinya.
"Ayo, Zee!" ajak Kyra yang menarik tangan Zee yang tanpa sadar menghentikan langkahnya.
Kyra menyalakan mesin mobil dan menoleh ke arah Zee. Ia kemudian menatap kaca spion mobil.
"Ya, gue ngerasa tiap kali pergi sama lo. Selama itu gue gak ada kejadian aneh-aneh. Mungkin itu orang suruhan Sean buat jaga lo," jawab Kyra.
Zee sekali lagi menoleh ke belakang saat mobil sudah dikendarai oleh Kyra. Apa yang dikatakan oleh Kyra memang benar. Namun, ia merasa risih dan tidak nyaman dengan adanya mereka yang sangat disadari oleh dirinya. Ia mengambil ponselnya dan menelpon pada nomor seseorang.
"Hei, ini buat kebaikan lo juga kali. Abaikan aja mereka." Seolah sudah mengetahui niat Zee, Kyra menegurnya. Namun, ia sama sekali tidak diindahkan oleh Zee.
"Hai, Bae. Apa kau mulai merindukanku?" Suara Sean langsung menyapa indra pendengaran Zee begitu nada dering kedua berbunyi.
Sean menjauhkan ponselnya dari telinganya begitu mendengar teriakan tunangannya. Sejak kapan tunangannya yang cantik, manis, dan pendiam itu menjadi seperti ibunya yang mirip macan?
__ADS_1
"Ok, ok, aku mengerti. Tapi itu semua aku lakukan untuk keselamatanmu bukan untuk memata-mataimu." Perkataan Sean tidak salah sepenuhnya juga.
"Bagaimana jika tiga?" tanya Sean mulai bernegosiasi.
"No, big no. Negosiasi selesai. Tiga atau kau akan kembali." Sean mulai mengancam Zee setelah ia mendengar permintaannya.
"Dengar, Sayang. Kau sedang hamil dan aku tidak bisa-"
"Halo? Halo, Sayang? Zee?" Sean memanggil-manggil nama Zee karena sambungan telpon langsung terputus begitu saja. Jika Zee bukan wanitanya, ia pastikan akan membuat Zee menyesal menutup telponnya.
Sean melemparkan ponselnya ke atas meja dengan kesal. Kesal kepada orang-orang suruhannya yang tidak profesional. Jika mereka bekerja seperti ini, sia-sia saja uangnya. Ia melirik ke arah orang-orang di depannya yang hening tidak bersuara sedikitpun. Bahkan tidak bergerak seinchi pun.
"Kenapa semua orang di sini mendadak menjadi batu? Apa kalian tidak akan melanjutkan rapat ini atau sudah bosan bekerja?" tanya Sean dengan nada dingin.
"Ba-baik, Tuan Rexford." Salah satu pegawainya yang tadi tengah presentasi di depannya berbicara dan melanjutkan presentasinya yang sempat terpotong.
Kyra pikir, memang tidak ada perubahan besar meski Zee hamil sekalipun. Atau setidaknya belum ada perubahan. Namun, ia kini sudah melihat perubahan dari seorang wanita hamil. Ia akan menjadi lebih penurut dan tidak akan mencari gara-gara pada Zee yang kini terlihat seperti induk macan yang siap meledak kapan saja.
"Axel, bagaimana dengan pekerjaanku satu bulan ke depan? Sangat banyak?" tanya Sean pada sekretarisnya yang merangkap sebagai tangan kanannya juga.
"An-anda tidak memiliki banyak pekerjaan mendesak yang mengharuskan lembur atau pergi ke luar kota, Tuan." Setelah sejak tadi menjadi pendengar kemarahan bosnya yang diluapkan kepada para bodyguard yang diperintahkannya, Axel sedikit gemetar ketika menjawab. Takut akan melakukan kesalahan yang membuat ia menjadi sasaran kemarahan bosnya yang kedua kali.
"Bagus, aku akan mengerjakannya dengan cepat supaya selesai dalam waktu yang lebih singkat. Aku harus pergi ke suatu tempat. Begitu pekerjaan sudah selesai, aku ingin kau mengurus keberangkatanku dengan tunanganku." Sean kembali duduk di meja kerjanya dan mulai fokus bekerja.
"Baik, Tuan."
-
-
__ADS_1
-
To be continued