Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 47 : Accept


__ADS_3

"Sean! Kau sudah kembali?" tanya Zee yang pertama kali menyadari keberadaan Sean yang tengah menghampiri meja yang ditempati oleh Zee, Kyra, dan Aidan.


"Kenapa cepat?" tanya Zee memberenggut tak suka tetapi tetap mengulurkan tangannya pada Sean yang sudah dekat meja mereka, yang digapai oleh Sean juga. Sean terkekeh dan mencium pelipis Zee setelah duduk di samping gadisnya.


"Miss you so bad." kini giliran Zee yang terkekeh karena mendengar jawaban Sean.


Kyra dan Aidan hanya menatap dalam diam pemandangan di depannya. Di satu sisi mereka bahagia bisa melihat kembali senyum Zee yang sudah hilang selama ini. Namun di sisi lain tak mereka pungkiri, jika mereka khawatir pada kebahagiaan Zee yang mungkin saja semu juga kali ini.


"Zee apa selama ini tinggal bersama dengan Tuan Rexford?" tanya Aidan.


"Iya, karena Sean membawaku ke mansionnya dan mengajakku tinggal bersama," jawab Zee tanpa menatap Aidan.


"Apa untuk sekarang, Zee ga akan tinggal dengan Kyra lagi? Bukankah kalian selama ini tinggal bersama di Kota ini? Lagipula, kalian kan belum menikah?" tanya Aidan kembali sembari menatap tangan Sean menggenggam tangan Zee.


Suasana mendadak canggung setelah Aidan mengatakan hal tersebut. "Ai, jangan terlalu kuno, mereka sudah bertunangan dan sudah sama-sama dewasa." Kyra berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung itu.


"Lagipula itu apartment Zee, jadi dia bebas datang kapanpun dia mau," lanjutnya. 


"Zee karena hari udah sore juga, kita balik dulu ya?" ucap Kyra berpamitan pada sahabatnya. Zee menatap sedih Kyra, ia beralih menatap Sean dan melepas genggaman tangan keduanya untuk beralih memeluk sahabatnya.


"Kita bakal ketemu lagi, pasti!" ucap Zee ditengah tangisnya yang kembali terdengar. Kyra mengangguk mengiyakan. Zee beralih memeluk Aidan juga yang tak kalah membalas pelukan Zee erat. "Kita juga pasti bakal kayak dulu lagi," ucap Aidan setengah berbisik.


Keduanya melambaikan tangan, sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan restoran tadi tempat mereka bertemu. Zee menghela napas dan kembali murung setelah kepergian kedua sahabatnya.


"Waktunya pulang, Sayang." Sean berkata seraya memakaikan kembali coat milik Zee pada tubuh mungil gadis itu.


Sepanjang perjalanan pulang, Zee sama sekali tak mengeluarkan suaranya. Sean juga tidak terlalu banyak berbicara dan hanya menggenggam tangan mungil tersebut. Dengan sesekali mengecupnya. Cukup hanya dengan membiarkan dirinya menggenggam tangan kekasihnya saja sudah cukup. Sean memarkirkan mobilnya di pekarangan mansionnya. Ia melepas sabuk pengaman lantas keluar dan memutari mobil untuk membuka pintu mobil di sebelah Zee. Dugaannya memang tak salah. Zee benar-benar lelah setelah seharian bersama kedua sahabatnya. Ia sudah terlelap dengan nyenyak di dalam mobil saat perjalanan pulang.


Sean dengan hati-hati membawa tubuh Zee ke dalam kamar tanpa membangunkan gadis itu. Setelah menidurkan Zee dan memastikan gadis itu nyaman di posisinya sekarang, Sean memanggil Marlyn.

__ADS_1


"Tolong gantikan pakaiannya, Marlyn," ucap Sean sembari melepas dasi yang mengikat lehernya.


Pria tersebut berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang lengket karena aktifitas seharian. Tak lama ia berjalan keluar dengan handuk kecil ditangannya untuk menggosok rambutnya yang basah. Marlyn sudah tak ada dan Zee sudah berganti pakaian. Ia melemparkan handuknya asal dan menaiki kasur di samping Zee. Kemudian masuk ke dalam selimut yang sama dengan gadisnya. Perlahan Sean menggantikan bantal yang dipakai Zee dengan tangannya dengan hati-hati. Setelah posisinya nyaman, ia memeluk pinggang Zee dan mendekatkan tubuh gadisnya agar lebih dekat dengannya. Zee semakin merapatkan tubuhnya pada dada Sean, berusaha mencari kenyamanan dalam dekapan hangat milik Sean sekaligus tubuh dingin Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Sean memandangi lamat-lamat wajah Zee yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka membuat gadisnya ini bertambah menggemaskan dimatanya. "Sekarang, bagaimana bisa aku tidur tanpa ada kau di sampingku, Linzy?" gumam Sean lirih.


Tangan Sean beralih turun untuk mengusap perut rata Zee. Tentu saja dirinya bahagia mendengar bahwa, ia akan menjadi calon ayah dari bayi yang dikandung wanita yang ia cintai. Tapi apakah ia akan tega pada kesehatan Zee, jika ia egois dan lebih memilih mempertahankan bayi mereka?


"Sayang, apa kau senang akan menjadi calon ibu? Aku tidak ingin merawatnya tanpa ada kau di sisiku," bisik Sean lirih.


 


Zee menguap lebar dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang tersa kaku. Ia tak menemukan keberadaan pria itu di sisinya. Tanpa mau berpikir kemana Sean pergi, Zee menyingkap selimut yang menyelimutinya dan turun dari atas ranjangnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ia menatap tubuhnya yang setengah naked itu di depan cermin besar yang ada di walk in closet. Pikirannya melayang kembali pada obrolan Sean dan Dokter Johan yang mengatakan bahwa dirinya hamil. Saat itu kondisinya tidak stabil dan menarik fakta dari dirinya sendiri, berpikir hanya tentang dirinya sendiri. Biar bagaimanpun, bayi ini tak berdosa, bayi ini juga ada karena Sean. Zee pikir, itu tidak terlalu buruk.


Pikirannya jauh membayangkan masa depan yang akan ia alami ke depannya. Bagaimana perutnya membesar dengan tubuhnya, bagaimana anaknya kelak menyebutnya Mami, bagaimana ia mengajarkan anaknya. Zee sangat excited dan tak sabar menantikan momen-momen itu.


Zee menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatif itu dari. Ia harus mengatakan ini pada Sean dan berdiskusi tentang masalah ini. Ia menganggukkan kepalanya yakin dan segera bersiap untuk menemui pria itu. Zee menuruni undakan tangga dengan hati-hati setelah selesai mempersiapkan dirinya. Kakinya melangkah ke dapur untuk menemui Marlyn.


"Selamat pagi, Bibi Marlyn," sapa Zee pada Marlyn yang sudah berada di meja pantry.


"Selamat pagi Zee, apa ada yang kau inginkan?" tanya Marlyn.


"Apa Sean sudah berangkat?" tanya Zee. "Ya, dia sudah berangkat satu jam yang lalu dan menitipkan pesan padaku agar memastikanmu sarapan." Marlyn menjawab.


"Aku hanya ingin segelas susu coklat," ucap Zee tersenyum hangat.


"Baiklah, akan aku siapkan." Marlyn segera membuatkan susu coklat pesanan Zee.

__ADS_1


"Terima kasih, Bi," ucap Zee dengan senyumannya yang masih terukir.


"Apa ada hal baik yang membuat moodmu bagus?" tanya Marlyn sembari membawa susu coklat panas di tangannya dan memberikannya pada Zee.


"Ah, ya! Aku ucapkan selamat pada kalian karena sudah bertunangan," ucap Marlyn tersenyum menggoda pada Zee.


"Aku hanya ingin menemui Sean," jawab Zee sebelum meneguk habis susu coklatnya. Menutupi dirinya yang gugup.


"Kalau begitu sampai jumpa, Bi!" pamit Zee setelah menghabiskan susu coklatnya.


Zee tengah berada dalam mobil bersama dengan Austin yang mengendarai mobil. Pria pembohong itu mengatakan tak memiliki mobil lain, tetapi di garasi mansion, banyak sekali berbagai jenis mobil. Zee jadi kesal setelah memikirkan itu.


Setelah melewati jalanan yang lumayan padat, ia akhirnya sampai di depan gedung pencakar langit dengan huruf RX Corp. yang besar di atas gedung ini. Kakinya melangkah untuk masuk ke dalam kantor. Tak seperti awal ia menginjakkan kaki di kantor ini, karyawan yang berpapasan dengannya menyapanya ramah. Zee menekan tombol bersimbol tak terbatas di dalam lift khusus CEO untuk mengantarkannya ke ruangan Sean berada. Tak biasanya, kubik yang biasanya ada wanita menor itu sekarang kosong. Apa Sean juga tak ada di dalam ruangannya?


Zee hendak membuka pintu coklat besar yang menjulang tinggi di depannya. Namun, suara seseorang yang berasal dari dalam membuat ia de javu seketika.


"Itu anakmu Sean! kau gila akan membunuhnya?!"


-


-


-


tbc


Akhirnya, tiba saatnya setelah menyelesaikan revisi!!! See u tomorrow in the next chapter, Readers!!!


Big love for all of you! 🍓

__ADS_1


Jangan lupa follow ig Author @Riby_Nabe!


__ADS_2