
Sean pergi meninggalkan Zee di perpustakaan dengan dua bodyguard yang menjaganya tanpa diketahui gadis itu. Ia pergi ke arah Dokter Johan yang sudah menunggunya di depan lift. Lift terbuka dan keduanya pun masuk tanpa banyak bicara. Sean membawa dokter Johan ke ruang kerjanya. Setelah mempersilahkan dokter itu duduk, ia mulai menyimak apa yang akan dikatakan dokter di depannya.
"Sebuah perubahan yang cukup bagus dan cukup cepat untuk Nona Alanza." Dokter Johan mulai membuka suaranya.
"Tetap jaga Nona Alanza seperti ini. Besok saya akan mengambil sampel darah Nona Alanza dan tes urin untuk mengetahui penyakit fisik lainnya jika ada dan alergi obat-obatan yang mungkin dia derita. Hasilnya akan keluar kemungkinan 5 hari atau lebih. Saya akan kembali lagi setelah hasilnya keluar dan menjelaskan lebih lanjut untuk prosedur pengobatan Nona Alanza." Dokter Johan menjelaskannya.
"Jaga moodnya agar tetap baik, jauhkan benda tajam apapun yang berpotensi bisa ia gunakan untuk menyakiti atau membunuh dirinya, dan jangan biarkan dia melamun." Sang dokter menasehati.
"Itu saja yang akan saya sampaikan, saya permisi." Dokter Johan berpamitan setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia melenggang pergi setelah mendapat anggukan dari Sean. Tak lama Sean pun berdiri dari duduknya untuk menghampiri Zee di perpustakaan. Gadisnya terlihat tengah membaca buku dengan serius tanpa mempedulikan sekitarnya. Ia senang melihat Zee mulai kembali seperti saat ia pertama kali kemari. Ia berjalan mengendap ngendap dan memeluk tubuhnya setelah berada di jangkauannya.
Sean merasakan Zee yang terkejut dengan kehadirannya. "Apa yang kau baca?"
Tak ada jawaban apapun dari Zee, ia tetap fokus pada bukunya membuat Sean sedikit kesal. "Kita kembali ke kamar untuk beristirahat."
Tanpa mendengar jawaban Zee, Sean langsung menggendongnya. Sepertinya ia terkejut karena perlakuan Sean. Perlahan tangan Zee mulai melingkari leher Sean, membuat senyum tipis terukir di bibir pria itu. Salah satu kemajuan untuknya. Setelah sampai di kamar, Sean menurunkan Zee dengan hati-hati di atas kasur. Ia mulai mengoleskan salep pada kaki Zee yang sudah terlihat mulai membaik.
"Kau bisa membaca novelmu setelah kau istirahat, sayang." Sean meletakkan novel yang dibawa Zee ke meja nakas dan menyelimuti tubuh Zee dengan selimut sampai batas leher.
"Kalau kau butuh sesuatu aku ada di ruang kerjaku." Sean mengecup dahi Zee lembut sebelum meninggalkannya.
Pintu kamar tertutup setelah Sean keluar. Mata Zee yang semula terpejam kembali terbuka setelah keberadaan Sean tak ada. Ia membuka novelnya lagi dan membacanya dengan serius. Tidak mungkin ia menundanya hanya untuk tidur pagi. Zee kembali terhanyut di dalam novel yang ia baca.
Sean duduk di kursi kerjanya memperhatikan cctv yang terhubung di ponselnya memperlihatkan seorang gadis yang tengah membaca buku novel di atas kasurnya. Ia memasang cctv di kamarnya, walk in closet, dan toilet ditempat tersebunyi yang tak akan gadis itu sadari yang hanya tersambung pada ponselnya saja. Langkah ini ia ambil agar bisa memantau Zee agar tidak kabur atau membahayakan dirinya.
"Gadis nakal," gumam Sean tersenyum kecil melihat Zee yang keras kepala membantah ucapannya.
__ADS_1
Sean membiarkannya karena ini adalah salah satu kemajuan dalam diri Zee. Salah satu sifat Zee yang keras kepala dan suka membantah telah kembali keluar. Sean menyimpan ponselnya ke mejanya dan mulai berkutat dengan dokumen-dokumen menggunung yang sudah di antarkan Axel satu jam yang lalu.
⌛⌛⌛
Waktu sudah menunjukan pukul 13.15 siang, Sean akhirnya selesai memeriksa dan menanda tangani semua berkas dan dokumen yang menumpuk di mejanya. Ia kembali membuka ponselnya untuk mengecek cctv di kamarnya. Masih menunjukkan gambar hitam putih seorang gadis yang tengah membaca buku novelnya.
Ia menutup kembali ponselnya dan menyimpannya ke dalam saku celana. Sean berdiri untuk ke kamar Zee. Perlahan-lahan ia membuka pintu berusaha tak mengeluarkan suara sedikitpun. Setelah menutup pintu dengan tanpa suara, Sean berdiri melipat tangan di depan dada. Ide jahil muncul di kepalanya.
"Gadis nakal," ucap Sean datar, berhasil mengalihkan atensi Zee dari novelnya.
Zee menutup bukunya dan menatap Sean dengan keringat dingin yang sudah keluar dari tubuhnya melihat Sean menatapnya dingin. Sean berjalan mendekati Zee dengan langkah santai dan pasti. Tatapan masih dingin mengarah tepat pada manik mata Zee. Ia menaiki ranjang dan bergerak lebih mendekat pada Zee. Sedangkan Zee mulai kembali takut jika Sean akan melukainya lagi seperti hari itu. Ingatan-ingatan itu seketika kembali berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Zee semakin takut, matanya terpejam tak berani menatap Sean. Air matanya turun bebas begitu saja. "Se-an... Kumohon jangan."
Seketika Sean tersadar dengan kesalahannya. Menakut-nakuti Zee sama saja dengan mengingatkannya dengan dirinya pada hari itu.
"Bae jangan menangis, aku tidak akan melukaimu... aku minta maaf karena keterlaluan mengerjaimu." Sean menjadi panik ketika melihat air mata Zee sudah mengalir di matanya.
"Kau akan melukaiku lagi, kau tak akan mendengarkanku... " ucap Zee di tengah isakan tangisnya.
"No.. sure not." Sean tak berhenti berkata demikian.
"Kau akan menyentuhku seperti ja--lang seperti hari itu..." ucap Zee memukuli dada bidang Sean dengan membabi buta.
Sean menerima semua pukulan kecil itu pada dadanya. Ia membiarkan Zee melampiaskan kekesalannya. Tangan Sean tak berhenti mengelus punggung dan rambut Zee dengan sayang. Beberapa lama tangis Zee mulai berhenti, hanya isakan isakan kecil yang keluar.
"Kau sudah puas?" tanya Sean menatap mata Zee yang memerah.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena melukaimu dan tak mendengarkanmu, aku minta maaf jika aku menyentuhmu dengan kasar. Tapi mulai sekarang aku tak akan melukaimu dan hanya akan menyentuhmu dengan lembut. I'm promise." Sean memberikan jari kelingkingnya yang besar ke depan wajah Zee. Awalnya Zee hanya diam bergeming. Namun, setelah beberapa detik akhirnya ia membalas janji kelingking itu dengan Sean.
"And lock," ucap Zee lirih sembari menempelkan kedua ibu jari mereka.
Sean tertawa, tangannya yang menjadi bantal untuk kepala Zee bergerak untuk mendekatkan kepala Zee pada kepalanya. Menempelkan dahi satu sama lain.
"Ini baru dinamakan mengunci janji." Pipi Zee memerah saat jarak wajahnya dengan wajah Sean hanya beberapa centi. Ia dapat merasakan harum mint dari nafas Sean.
"Nah gadis nakal, apa hukuman manis yang cocok untukmu karena membantahku?" tanya Sean masih dengan menempelkan dahi keduanya.
Bibir Sean semakin maju mendekati bibir Zee.
"Baiklah aku akan tidur!" ucap Zee kesal sembari menutup mulut Sean yang hendak menciumnya. Zee menjauhkan wajahnya dari wajah Sean.
"Aku hanya terkilir bukan lumpuh," gerutu Zee yang dapat didengar Sean.
"Kenapa-" Ucapan Zee terpotong karena Sean yang mencium hidungnya tiba tiba.
"Kalau kau bicara lagi aku akan menciumu tepat disini." Sean menunjuk bibir merah muda Zee dengan jempolnya dan mengusapnya sensual kemudian memasukan jempolnya ke dalam mulutnya sendiri, mengecap rasa bibir Zee melalui ibu jarinya.
"Huh!" dengus Zee sembari menutup matanya. Sean tersenyum puas dan mulai mengelus kembali punggung Zee mengantarkannya sampai ke alam mimpi. Ia tidak bisa lebih senang dari hari ini. Zee, akhirnya berbicara dan bersikap kembali normal padanya.
-
-
-
__ADS_1
tbc
Follow ig Riby_Nabe