Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 50 : Stop acting like her brother


__ADS_3

"Apa maksudnya ini, Tuan Rexford?" Aidan bertanya dengan intonasi suara yang dingin pada Sean.


Tatapannya menunjukkan dengan jelas, penuntutan akan penjelasan pada Sean. Namun, Sean tak kunjung juga mengeluarkan suaranya. Ia terlihat sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan pada Aidan yang kesabarannya sudah berada di ujung tanduk.


"Jadi, maksudnya adalah ... " Zach angkat bicara untuk memberikan penjelasan pada dua orang di depannya. Namun, suaranya terpotong karena seseorang di belakang mereka membuat semua atensi beralih.


"Nona Alanza sudah sadar, Tuan," ucap seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Zee.


Kyra segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Zee. Begitu pun dengan Sean dan Zach yang hendak menyusul. Namun, Aidan berdiri di depan Sean, menghadang jalannya. Tatapannya masih menunjukkan permusuhan yang jelas kentara pada Sean.


"Sebaiknya Anda memberikan penjelasan kepada saya, Tuan Rexford." Aidan berkata kembali dengan suara rendah.


"Zee ... " Kyra berdiri menatap Zee di depan pintu. Atensi Zee segera beralih, mendengar namanya dipanggil.


"Kyra ... " Air mata Zee tidak dapat dibendung lagi ketika melihat sahabatnya berdiri tak jauh darinya.


Kyra segera melangkah mendekati brangkar Zee untuk memeluknya. Zee bangun dari tidurnya dan segera menyambut pelukan hangat Kyra. Keduanya menangis menumpahkan segala emosi yang membumbung di dalam diri masing-masing.


"Hei, biar gue liat keadaan lo." Kyra melepas pelukan mereka dan meneliti wajah Zee. Menghapus air mata yang mengaliri pipinya membuat Zee tersenyum.


"I'm ok, Ra," jawab Zee tertawa pelan.


"Liar! Zee, sekarang lo selalu kasih surprise buat kita berdua setiap kita ketemu!" Perkataan Kyra membuat senyum Zee perlahan menghilang.


"Kyra ... " Netra Zee kembali berkaca-kaca, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


"Sstt ... Don't cry, don't say anything," ucap Kyra yang segera kembali membawa Zee ke dalam pelukannya.


Kali ini Zee segera menangis sesegukan, seolah menumpahkan semua yang ia rasakan. Meski Kyra masih belum mengetahui semuanya dengan lengkap, ia tidak banyak bertanya. Hanya menenangkan Zee dengan sabar dan memastikan Zee percaya bahwa dirinya selalu ada di sisinya.

__ADS_1


"Ra, aku minta maaf," ujar Zee di tengah tangisnya. Mendongak menatap pada Kyra.


"Buat apa lo minta maaf? Lo gak salah sama sekali, Zee. Udah ya," jawab Kyra menggelengkan kepalanya.


"A-aku hamil, Ra ... " Perasaan dan emosi Zee menjadi tidak stabil, mengetahui jika sahabatnya mengetahui semua yang terjadi padanya. Seolah Kyra akan memandangnya buruk dan meninggalkannya.


"Aku udah ngecewain kalian, Papi, semuanya. Apa yang aku bilang ke kalian di hari itu, semuanya bohong! Aku dan Sean, kita, bukan. Kyra ... "


"Hei, hei, Zee ... Calm down, ok? Tenang, lo punya banyak waktu buat jelasin semuanya sama gue. Gue tetep bakal stay di sisi lo, meski di waktu terburuk lo. Yang wajib ada di pikiran lo, gue bakal selalu dukung lo. Apapun yang terjadi. Kita sama-sama lewatin semuanya, ok?" Kyra berusaha menenangkan Zee yang mulai cemas.


"Tapi Papi gimana, Ra? Aku udah kecewain Papi," ucap Zee yang masih belum bisa menghilangkan kecemasannya.


"Lo bahagia sama Sean?" Pertanyaan Kyra tidak mendapatkan jawaban apapun dari Zee dalam waktu yang cukup lama.


"Lo bahagia ada bayi lo di dalam perut lo?" tanya Kyra sekali lagi.


Tanpa Zee menjawab, ia sudah mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri. Itu semua terlihat dalam ekspresi dan tingkah laku Zee belakangan. Sejak pertama kali mereka bertemu lagi di hari itu. Begitu pun dengan Sean yang tampak sangat menyayangi dan mencintai Zee. Pasti ada sesuatu hal lain yang membuat Zee menjadi seperti ini.


"Hei, ada apa?" tanya Kyra setelah lama keheningan di antara mereka.


"Tapi Sean ... Sepertinya ia tidak bahagia dengan bayi kami," jawab Zee lirih seraya membuang wajahnya ke samping. Perkataan Zee mengundang dahi Kyra menyerngit.


"Se-sean? Maksudnya apa dia gak bahagia sama kehamilan lo, Zee?" Kyra bertanya kembali.


"Aku hampir kecelakaan di kantor Sean karena melarikan diri darinya. Aku baru saja mendengar, jika dia berniat menggugurkan kandunganku," ucap Zee bersamaan dengan air matanya yang mengalir turun membasahi pipinya kembali. Kyra segera membawa Zee kembali ke dalam pelukannya.


"Atas dasar apa saya harus menjelaskan kondisi tunangan saya kepada Anda?" Sean membalikkan perkataannya pada Aidan. Nada suara dan tatapannya balik mengintimidasi Aidan.


"Tentu saja karena Zee adalah orang yang penting bagi saya. Dia lebih dulu mengenal kami dan bersama kami hampir setengah hidupnya. Zee sudah dianggap sebagai adik." Namun, Aidan tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan intimidasi Sean. Keberaniannya masih tetap sama lewat perkataannya.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aidan, Sean terkekeh pelan. Siapapun pasti akan merasa jika itu adalah sebuah tawa pertanda keburukan. Atensi Sean kembali beralih pada Aidan. Tatapannya semakin menajam. Ia maju selangkah mendekati Aidan. Jari telunjuknya menunjuk dada Aidan.


"Mulutmu berkata seolah tunanganku adalah adikmu. Namun, kau sama sekali tidak mengetahui apapun mengenainya. Jadi, berhenti bersikap seolah Zee adalah adikmu." Perkataan tajam Sean membuat Zach sedikit khawatir. Melihat bagaimana Aidan sejak tadi bersikap.


"Gentleman, sebaiknya kita sudahi ini di sini. Ini adalah rumah sakit. Ada baiknya kita menjenguk Zee saja," ucap Zach berusaha mencairkan suasana sambil menatap khawatir bergantian pada Sean dan Aidan yang masih melemparkan tatapan tajam. Sebelum akhirnya Sean mengakhirinya dan melangkah meninggalkan Aidan.


"Apa mengenal Zee selama beberapa bulan membuatmu mengetahui semua tentang Zee? Dan aku juga yakin jika hubungan kalian berdasarkan paksaaan dan kau memperkosanya hingga membuat Zee hamil. Tindakanmu itu memperparah kondisi Zee. Asal kau mengetahuinya, Zee adalah gadis yang memiliki--"


"Aku mengetahuinya! Setidaknya aku berbuat sesuatu untuknya meski baru mengenalnya. Tapi kau, orang yang menganggap dirinya sebagai kakak selama kalian bersama tidak pernah melakukan apapun! Jadi, kubilang berhentilah bersikap seolah kau adalah kakaknya, kiddos!" Sean berbalik pada Aidan dan mencengkram kerah kemeja pemuda tersebut.


"Wow, Sean, tenanglah! Dia hanya anak-anak, tidak perlu melukainya meski ini rumah sakit." Zach dengan sigap segera menahan Sean yang bisa kapan saja berbuat nekad memasukkan Aidan ke ruang UGD selanjutnya.


"Aku bertanya padamu, apa yang kau lakukan untuk mengobati depresi Zee?" tanya Sean.


"Aku bertanya, apa yang kau lakukan untuk mengeluarkannya dari rasa putus asanya itu hingga membuatnya ingin mati?!" bentak Sean seraya menguatkan cengkramannya pada kemeja Aidan. Aidan mendadak tidak mengeluarkan perlawanan apapun pada Sean.


"Sean!" Zach masih berusaha menenangkan Sean.


"Zee mengatakan, Anda akan menggugurkan kandungannya. Apa itu benar, Tuan Rexford?" Suara Kyra yang ternyata sudah keluar dari ruangan Zee membuat atensi mereka semua beralih.


Sean melepaskan cengkraman tangannya dari kemeja Aidan dengan kasar. Ia mendorong Aidan dan menatap bergantian dengan tajam pada Kyra. Aidan masih mencerna apa arti dibalik ekspresi wajah Kyra yang tak jauh berada di dekat mereka.


"Sudah kuduga kalian semua tidak mengetahui apapun mengenai Zee," ucap Sean menghela napas kasar.


"Apa itu benar, Tuan Rexford?!"



__ADS_1


*


To be continued


__ADS_2