Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 28 : Rexford corp


__ADS_3

Pagi yang cerah kembali datang untuk memulai hari yang penuh harapan dari setiap orang. Namun seorang gadis cantik yang tidur dengan posisi yang sangat tak teratur ini masih terlelap di alam mimpinya begitu nyenyak. Sedangkan seorang pria yang baru saja keluar dari walk in closetnya sudah tampak rapi dan segar menambahkan kadar ketampanan yang dimiliki. Sean berjalan sembari menggunakan jam tangannya ke arah ranjang king size yang masih ditiduri Zee dengan lelapnya. Gadis itu tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.


"Babe... wake up," bisik Sean tepat di depan telingan Zee sambil meniupnya pelan. Zee masih tetap bergeming di tempatnya seolah tak merasakan gangguan apapun. Sean duduk di ranjang menegakan tubuhnya kembali, cara pertama tak membuahkan hasil. Ia memikirkan cara lain untuk mengganggu tidur gadis ini.


"Babe..."


Sean kali ini mengganggu Zee dengan menciumi hingga menggigiti pipi Zee lembut hingga sedikit lembab. Akhirnya caranya membuahkan hasil. Putri tidur ini akhirnya mengerjapkan matanya berberapa kali guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia kemudian menatap wajah Sean yang tepat di depannya tengah tersenyum manis.


"Morning, Baby Girl," sapa Sean.


"Morning..." Suara Zee begitu serak saat ia membalas sapaan Sean.


Zee tersenyum hangat membalas sapaan Sean."Ingatkan hari ini akan ke kantorku?"


Zee mengangguk dengan senyumannya. "Lalu kenapa putri tidur ini sulit untuk bangun, hm?"


"Sorry." Zee tersenyum penuh rasa bersalah.


"Cepatlah mandi dan bersiap, aku akan menunggu." Sean kembali menegakkan tubuhnya. Zee menguap sekali dan meregangkan tubuhnya lantas merentangkan tangannya pada Sean.


"Kenapa tiba tiba kau jadi manja, Sayang?" tanya Sean seraya menerima menggendong tubuh Zee.


Gadis itu menatap Sean dengan tatapan tak enaknya karena merasa bersalah. "Maaf... aku merepotkanmu ya?"


"Tentu saja tidak! Aku senang kau manja padaku. Aku senang kau merepotkanku." Sean terkekeh lantas mencubit pelan hidung mancung Zee dengan kedua jarinya.


"Tap-"


"Aku senang kau merepotkanku." Sebelum Zee menyelesaikan kalimat bantahannya, Sean sekali lagi menegaskan.


Mereka menghentikan perdebatan. Sean menurunkan Zee di atas toilet. Air di dalam bath up sudah terisi untuk Zee mandi. Begitupun dengan semua peralatannya. Zee bak putri raja saat ini.


"Aku akan menunggu di kamar," ucap Sean sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.


Zee segera memulai ritual mandinya. Tak memakan waktu lama untuk dirinya mandi, selama 30 menit ia sudah memakai kimono mandinya dan berjalan ke arah walk in closet untuk memilih pakaian. Setelah memilah-milih pakaian yang cocok, pilihannya jatuh pada dress pendek di atas lutut berwarna hitam.


Ia melangkah ke meja rias untuk sedikit memoles make up pada wajahnya agar terlihat lebih segar. Entah milik siapa make up ini, atau kapan pria itu membeli semua make up selengkap ini. Zee tidak terlalu peduli. Setelah selesai dengan wajahnya ia menyisir rambut bergelombangnya hingga rapi. Merasa sudah siap, ia keluar dari walk in closet untuk menemui Sean.

__ADS_1


"Aku sudah selesai," ujar Zee.


"Sayang, ganti pakaianmu." Sean berusaha mengontrol suaranya agar tak menakuti Zee.


"Apa masalahnya? apa aku memalukanmu?" tanya Zee sambil menatap pakaian yang melekat di tubuhnya.


Yang benar saja! Tidak mungkin Zee memalukan dirinya. Apapun yang dipakai gadis itu, akan selalu terlihat cantik. Rok yang digunakan Zee terlalu pendek, ia hanya tak rela paha gadis itu menjadi tontonan karyawannya. Ia tak sudi berbagi apapun tentang Zee.


Hei Sean memang siapa dirimu dalam hidup Zee hingga mengatur kehidupannya?


"Tidak, tentu saja tidak. Ganti dengan rok panjang dan pakaian hangat karena diluar dingin." Sean akhirnya mengeluarkan suaranya setelah lamunannya buyar.


"Tapi hari ini-"


"Kita akan pulang malam dan aku tidak ingin kau sakit, turuti perkataanku ya?" Zee mengangguk dengan sedikit ragu kemudian berlalu masuk kembali ke dalam walk in closet.


"Like this?" tanya Zee setelah dihadapan Sean.


"Rok-"


"Ayolah Sean kita akan terlambat jika kau menyuruhku mengganti baju terus!" gerutu Zee sembari menghampiri Sean.


"Keras kepala," ucap Sean yang pada akhirnya luluh dengan tatapan penuh permohonan gadis ini.


📍📍📍


Sean membukakan pintu mobil terlebih dahulu untuk Zee kemudian memasangkan sabuk pengaman padanya. Setelah Zee duduk dengan nyaman, ia menutup pintu dan memutari mobil menuju pintu kursi kemudi. Mobil sport berwarna maroon itu melesat membelah jalanan di tengah hutan menuju jalan raya kota besar yang akan membawanya menuju Rexford corp. Begitu sampai, Sean kembali membukakan pintu untuk Zee dan membawanya masuk ke lobby yang sudah ada Axel. Menunggu kedatangan bosnya untuk segera naik ke ruangan CEO perusahaan.


"Selamat pagi, emm..." Zee menatap Axel dengan tatapan bertanya.


"Panggil saja Axel, Nona," ucap Axel saat Zee hendak menyapanya tetapi bingung tak tahu namanya.


"Aku lebih muda darimu, jadi aku memanggilmu Kakak saja." Zee tersenyum sembari mengulurkan tangannya.


"Dia bukan kakakmu, Sayang. Sekarang lebih baik kita segera ke ruanganku." Sean membawa Zee segera menuju lift khusus petinggi perusahaan sebelum jabatan tangan itu sempat bersentuhan.


Axel mengikuti keduanya dari belakang. Ia menekan tombol bersimbol tak terbatas yang terletak paling atas yang akan membawa mereka ke ruangan CEO, begitu berdiri di depan lift. Sesampainya di ruangan, tatapan Zee sudah menjelajahi seisi ruangan, meneliti setiap barang yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan Rexford. Anda sudah ditunggu oleh para eksekutif di ruang rapat." Suara seorang wanita yang sudah masuk ke dalam ruangan membuat atensi Zee dan kedua orang lainnya beralih menatap sosok tersebut.


Tubuh tinggi semapai dan ideal dengan pakaian kurang bahan dan make up tebal berdiri di depan pintu menatap ketiganya. Lebih tepatnya Sean.


"Aku akan ke ruang rapat yang ada di depan ruangan ini, kau tunggulah aku disini, ya? Aku tak akan lama," ucap Sean beralih menatap Zee untuk berpamitan padanya.


Atensi Zee masih menatap ke arah wanita cantik yang masih menatap Sean terang-terangan. Ada rasa takut di hati kecilnya yang menggelayuti pikirannya.


"Babe? Apa kau sakit?" Suara Sean kali ini membuyarkan lamunan singkat Zee. Ia beralih menatap Sean.


"Ha? Tentu saja tidak, aku mengerti, kau pergilah." Zee mendadak gugup.


Wanita yang notebennya adalah sekretaris Sean beralih menatap Zee yang baru saja dipanggil dengan panggilan sayang yang keluar dari mulut bosnya.


"Baiklah aku pergi." Sean mengecup dahi Zee sebelum ia pergi.


"Sean..."


Baru saja tangan Sean menyentuh gagang pintu, suara lembut Zee masuk ke dalam telinganya yang membuat atensinya kembali menatap gadis itu.


"Kau tidak akan lama kan?" tanya Zee memastikan.


"Tentu saja tidak, kau boleh memainkan ponselku yang berada di meja, Sayang," ucap Sean kemudian keluar ruangan bersama Axel dan sekretarisnya.


Blam


Meninggalkan Zee sendirian yang tak tahu harus berbuat apa di dalam ruangan ber-ac itu. Zee menghela napasnya dan mendudukan bokongnya di sofa empuk ruangan tersebut, menyandarkan kepalanya. Seharusnya ia tidak terbawa suasana ketika mencoba bersikap baik dan menuruti Sean. Agar dirinya bisa kembali secepat mungkin. Atau ini seharuanya menjadi kesempatannya untuk kabur. Tetapi hatinya terasa begitu berat meninggalkan Sean. Setelah melihat jika Sean di dampingi oleh sekretarianya yang begitu cantik.


Perasaan apa ini?


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2