
"Zee!" Suara yang ia kenal dan seseorang yang ia kenal keluar dari mansion.
"Aura!" Zee bergantian memeluk wanita itu.
"Aunty!" Suara kecil dan melengking dari dalam mengikuti diiringi dengan langkah kakinya yang kecil berlari ke arah mereka berdua yang tengah berpelukan. Bocah itu segera memeluk kaki Zee dan mendongakkan kepalanya.
"Ravel, I miss you." Zee yang merasakan pelukan di kakinya segera menggendong Ravel dan mencium pipinya.
"I miss you too, Aunty." Ravel balas mencium pipi Zee.
"Ravel, jangan mencium Aunty Zee sembarangan. Uncle Sean tidak akan suka dan akan marah padamu nanti." Aurel memperingati putranya itu dengan nada candaan.
"Biarkan saja cium aku sepuasmu, Uncle Sean tidak ada di sini." Zee mendukung Ravel.
"Ada apa di sini?" Suara lain yang dikenal oleh Zee ikut terdengar dari dalam mansion.
"Mommy?" Zee terkejut mendapati ibu Sean ada di mansion ini.
"Zee, Sayang." Alana memeluk Zee hangat yang masih menggendong Ravel.
"Ayo kita masuk ke dalam. Ravel, turun dari Aunty Zee, Sayang. Aunty Zee sedang membawa bayinya juga di dalam perut." Aurel berbicara, menyadari jika mereka masih ada di depan mansion.
Zee dan yang lainnya masuk ke dalam setelah Ravel tanpa membantah turun dari gendongan Zee. Namun, ia tetap memegang erat jari jemari Zee sambil menatap penasaran pada perut rata Zee.
"A baby?" tanya Ravel pada Zee yang masih memperhatikan perut Zee.
"Dia masih tumbuh di dalam perutku. Saat perutku membesar, dia akan segera keluar dan menjadi teman Ravel." Zee menyentuh perutnya.
"Itu benar," tambah Aurel.
"Baby, I love you." Ravel melepaskan jari Zee dan berlarian masuk ke dalam.
"Ravel, jangan berlarian!" peringat Aurel dan segera menyusul putranya.
"Mommy sejak kapan datang kemari?" tanya Zee setelah tersisa hanya mereka berdua.
__ADS_1
"Aku datang bersama Aurel sejak tadi pagi. Aku juga sudah mendengar jika kalian kemarin pergi ke Indonesia untuk meminta restu dari orang tuamu," jawab Alana.
"Iya, Mommy. Dan tadi saat aku ke kampus, aku mendengar dari temanku jika undangan pernikahanku dan Sean sudah tersebar. Padahal belum satu hari sejak aku kembali dari Indonesia, tapi dia sudah mengejutkanku," curhat Zee setelah keduanya duduk di sofa salah satu ruangan yang terlihat ruang seperti ruang keluarga.
Alana hanya tertawa mendengarnya. Ia mengerti dengan kekesalan Zee yang begitu terasa tiba-tiba. Putranya itu memang bergerak sangat cepat untuk membuat Zee menjadi miliknya.
"Sebenarnya, dia sudah mempersiapkan undangan itu sebelum kalian pergi ke Indonesia. Dia sudah mempersiapkan semuanya dan yang dia butuhkan hanya restu dari ayah mertuanya. Jadi, setelah kalian selesai dari Indonesia, Sean melakukan semua yang sudah ia persiapkan." Alana juga menjelaskan.
Tiba-tiba ingatan Zee kembali ketika Sean tidak menghubunginya dalam waktu lama. Ia mengatakan jika dirinya hanya bekerja untuk mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indonesia. Namun, ia juga ternyata mempersiapkan pernikahan mereka tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Jangan khawatir, Zee. Sean tidak mempersiapkan semuanya sendiri, kau juga turut andil dalam memilih apapun yang kau suka. Gaunmu, dekorasi, kue pernikahan, semuanya kau tinggal memilih, Sayang. Itulah sebabnya Mommy dan Aurel ada di sini." Belum selesai terkejut, Zee kembali dikejutkan dengan apa yang dikatakan oleh Alana.
"Ta-tapi, aku tidak membantu apapun?" tanya Zee.
"Kau sudah membantu dengan memilih, Sayang. Itu bagianmu dan biarkan Sean yang melakukan sisanya. Itu tidak akan terlalu sulit, Sayang." Zee akhirnya mengerti jika semuanya memang mudah asalkan uang ada.
"Karena hari sudah terlalu sore, kita akan mulai besok saja. Kau juga pasti lelah karena baru saja pulang kuliah. Apa kau sudah makan malam?" tanya Alana yang mendapati gelengan dari Zee.
"Kita akan makan malam bersama setelah Sean pulang. Sebentar lagi dia pasti akan pulang, apalagi mengetahui kau ada di sini." Alana lagi-lagi tertawa.
"Ngomong-ngomong, dia sekarang berusia berapa?" tanya Alana lagi mengubah topik pembicaraan.
"Aku senang dia baik-baik saja. Apa dia masih tidak menyulitkanmu?" tanya Alana kembali yang kali ini lebih terasa mewawancarainya.
"Tidak, dia masih sama seperti sejak bertemu dengan Mommy terakhir kali." Pembicaraan ini berlanjut dengan cerita-cerita dari Alana ketika ia mengandung Sean dan Aura.
"Uncle!" Ravel berlari ke pintu utama mansion bersama dengan Marlyn yang membukakan pintu untuk Sean.
"Hei, little boy." Sean segera menggendong Ravel.
"Terima kasih, Marlyn." Sean berkata ketika Marlyn mengambil jas dan tas kerjanya.
"Mansion lebih ramai sekarang karena Nyonya besar, Nona Aurel, dan Nona Linzy ada di sini." Marlyn tampak senang ketika memberitahu Sean.
Sean tidak menjawab dan hanya ikut tersenyum. Marlyn masuk ke dalam lebih dulu untuk menyimpan tas dan jas kerja Sean.
__ADS_1
"Dimana Mommymu?" tanya Sean seraya masuk ke dalam.
"Dia ada bersama grandmom dan Aunty Zee," jawab Ravel kecil.
Langkah Sean berjalan ke arah ruang keluarga yang biasanya ditempati. Semakin dekat, ia mulai mendengar suara-suara dari wanita-wanita yang ia cintai.
"Sean sudah pulang, Nak." Alana berujar yang pertama kali menyadari kehadiran Sean.
"Ayo kita makan malam sekarang. Ravel, biarkan Uncle mu membersihkan tubuhnya," ucap Alana seraya berdiri dari duduknya.
Ravel dengan patuh turun dari gendongan Sean dan kembali mendekati Zee sambil menggenggam jarinya. Zee menatap sekilas pada Sean dan melewatinya begitu saja. Namun, Sean tidak membiarkannya dan menahan pergelangan tangan Zee yang lain. Ia mencuri satu ciuman di bibir Zee dan mengerling nakal padanya.
Sean naik ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu sepulang kerja. Ketika kembali ke meja makan, meja makan sudah lebih dipenuhi keluarganya yang lain yang baru datang. Ayah dan adik iparnya sekaligus sahabat karibnya sudah datang.
"Inilah pria yang dalam satu minggu akan melepaskan masa lajangnya!" seru Zach menyambut kedatangan Sean.
"Dia lebih cepat daripada ayahnya," timpal Alana.
"Mommy, apa Aunty Zee dan Uncle Sean akan menikah?" tanya Ravel.
"Iya, Sayang," jawab Aurel.
"Selamat datang di keluarga Rexford, Zee." Julian berbicara dengan hangat sambil menatap Zee lembut.
"Terima kasih sudah menyambutku di keluargamu, Daddy." Zee hampir saja tidak bisa menahan air matanya.
Kehangatan keluarga lengkap yang sudah sangat lama tidak ia rasakan sejak kepergian ibunya, diberikan oleh Sean padanya saat ini. Pria ini tidak hanya menyelamatkannya dari kegelapan itu, tapi juga memberikan banyak kebahagiaan padanya.
Sean yang duduk di sampingnya menggenggam tangan Zee yang berada di bawah meja. Zee menoleh dan mendapati wajah Sean yang tersenyum lembut padanya. Zee sudah tidak tahan untuk mendekat padanya dan memeluknya erat.
"Terima kasih, terima kasih Sean."
-
-
__ADS_1
-
To be continued