
"Haruskah aku juga mengikutimu?" tanya Sean sembari mengecup lembut jari lentik tersebut.
Sebuah pergerakan tiba-tiba saja terasa di tangannya, yang membuat Sean segera menatap terkejut jari tersebut. Ia lantas menatap pada wajah Zee yang masih menutup matanya. Namun, alis itu perlahan berkerut seolah kedua matanya akan terbuka. Benar saja, tak berapa lama, kedua bola mata itu perlahan terbuka dan berusaha menyesuaikan pencahayaan, memperlihatkan kembali warna coklat indah yang selalu membuat Sean jatuh hati.
"Sa-sayang ... " panggil Sean seraya berdiri dari duduknya dan tak dapat menyembunyikan ekspresi senang bercampur terkejut.
"Se-sean ... " Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Zee setelah ia baru saja tersadar.
Sean segera menekan tombol yang berada di sisi ranjang kasurnya untuk memanggil dokter. Sean juga tetap berteriak memanggil dokter sambil melihat terus menerus keluar ruangan. Tak lama, beberapa dokter berdatangan mengelilingi ranjang Zee untuk memeriksa kondisi tubuhnya. Sean tetap berada di posisinya, meski menghalangi pekerjaan dokter. Tetap ingin melihat Zee nya kembali padanya. Senyum indah yang selama ini hanya ditunjukkan pada Zee, kembali terbit di wajah Sean. Penantiannya yang baginya sudah sangat lama itu, akhirnya terbayarkan juga. Tunangannya tersadar. Tidak ada yang lebih diinginkan Sean selain hal tersebut.
"Pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Ia hanya membutuhkan perawatan pemulihan selama beberapa hari lagi di rumah sakit. Setelah satu minggu, jika perkembangannya baik, pasien sudah diperbolehkan pulang." Perkataan dokter hanya mendapatkan anggukan dari Sean. Namun, jauh di lubuk hatinya, Sean sangat bersyukur dan berterima kasih karena tunangannya telah kembali. Dokter-dokter serta suster keluar dari ruangan.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Katakan padaku kapanpun, Sayang." Sean mengelus lembut wajah yang selama beberapa hari belakangan hanya terpejam itu.
Zee menggeleng pelan. Tangan Zee yang ditempeli infus, bergerak pelan ke arah perutnya. Hal pertama yang ia pikirkan adalah bayinya. Sebuah kejanggalan sudah dirasakan Zee ketika ia menyentuh perutnya. Meski kehamilannya masih terbilang muda dan ukuran perutnya belum membesar, Zee bisa merasakan sebuah perbedaan. Sean mulai khawatir, menyadari raut wajah Zee dan perkataan apa yang selanjutnya akan terlontar.
"Apa dia selamat?" Pertanyaan yang paling ditakuti Sean akhirnya terdengar dari mulut Zee.
"Zee!" Belum sempat mendapat jawaban, pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka dan memperlihatkan keluarga lengkap Sean, Aidan dan Kyra, serta ayahnya yang ternyata masih ada di London.
"Semuanya ... " Zee memanggil seluruhnya sekaligus.
"Aunty! What's going on?" Suara kecil Ravel yang pertama kali bertanya padanya.
"Nona Alanza akan pindah ke ruang perawatan, keluarga bisa menjenguknya di sana. Tapi tolong untuk tidak terlalu banyak membebani pasien." Beberapa suster datang untuk memindahkan Zee.
Semua anggota keluarga menyingkir dan memberikan jalan pada Zee. Setelah pindah ke ruang perawatan, yang menjenguk hanyalah ayahnya seorang. Sisanya kembali pulang karena merasa sudah cukup dengan melihat Zee telah sadar.
"Papi ... " Dante menangkap tangan putrinya yang hendak menggapai tangannya.
"Ya, Papi di sini, Sayang." Ia mengecup lembut jarinya.
"Dia sudah tidak ada." Zee mengatakan sesuatu yang membuat Dante terkejut.
Dari kalimat itu, Dante mengira jika Sean sudah memberitahu Zee semuanya. Padahal, Zee hanya mencoba bertanya lewat perkiraannya saja. Namun, melihat ekspresi wajah ayahnya, Zee mengetahui faktanya.
"Ia sudah lebih bahagia bersama Tuhan, Nak. Kamu dan Sean masih bisa memiliki anak lagi. Sean tidak akan membiarkanmu bersedih. Papi, percaya sepenuhnya pada Sean dan keluarganya. Papi bisa tenang sekarang." Mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, Zee tersenyum lemah dan tipis di bibirnya.
"Zee senang kalian semua ada untuk Zee. Aku sangat berterima kasih untuk semuanya dan maaf sudah mengkhawatirkan." Ucapan Zee membuat Dante menggelengkan kepalanya.
"Jangan banyak berpikir dan beristirahatlah. Papi akan menetap lebih lama di London untuk menunggumu kembali pulang." Dante berdiri dari duduknya dan melepaskan dengan lembut tangan Zee.
"Zee merindukanmu, Papi." Meski tidak mengerti dengan ucapan Zee, Dante tetap tersentum, sebelum akhirnya pergi meninggalkan putrinya untuk membiarkannya beristirahat.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah Dante keluar dari ruangannya, Sean kembali masuk. Dengan wajah yang sedikit tegang, Sean memaksakan senyumnya. Perasaan takut dan bingung dengan cara menjelaskan semua kebenaran pada Zee tanpa membuatnya bersedih.
"Sean ... " panggil Zee lembut.
"Apa ada yang sakit?" tanya Sean khawatir.
Zee menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut pada Sean. Ia lantas menepuk sisi kasurnya yang luas dan kosong, memberikan kode padanya untuk tidur bersama dengannya.
"Aku baik-baik saja. Kau lah yang seharusnya beristirahat, Sayang." Sean menggelengkan kepalanya dan mengelus lembut rambut Zee.
"Sean, aku merindukanmu. Tidak bisakah aku tidur dalam pelukanmu seperti biasanya? Kantung matamu sudah meminta bantuan padaku untuk membuatmu tidur." Disaat sakit seperti ini, Zee masih bisa bercanda dengannya.
"Sean ... " Zee memanggilnya sekali lagi untuk meminta Sean sekali lagi.
Sean akhirnya menuruti apa yang diinginkan oleh Zee. Ia dengan hati-hati naik ke atas ranjang king size tersebut dan berusaha memeluk Zee tanpa menyakiti tubuh wanita itu. Tidak dapat dipungkiri jika ia sendiri juga merindukan momen ini. Tak hanya itu, ia merindukan senyum manis Zee, bibirnya, tubuhnya, kehangatannya, dan semua yang ada pada diri Zee, Sean begitu merindukannya. Begitu menghirup dalam aroma tubuh Zee yang memabukkannya, Sean langsung merasakan kantuk.
"Sean, aku mencintaimu," ungkap Zee jujur. Ia pikir, Zee akan menanyakan perihal kehamilannya, tapi ia justru mengungkapkan isi hatinya.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun, Zee," balas Sean di tengah kesadarannya yang mulai tersisa setengah.
"Katanya, jika seseorang terlalu mencintai orang lain, rasa sakit kehilangan orang yang dicintai akan semakin sakit. Cintai aku sewajarnya saja, Sean." Sean sudah sedikit tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Zee.
"Kau memang hidupku, Zee." Sean menjawab asal.
'Kamu ini hanya ****** sampah bekasku, Zee.'
'Kamu tidak pantas mendapatkan Sean dan kebahagiaan itu.'
'Kamu bahkan tidak becus menjadi seorang ibu, untuk apa kamu hidup, Zee?'
Setelah sekian lama suara-suara yang mendorongnya pada kematian tidak terdengar, itu kembali terdengar sejak Samuel mencoba membunuhnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga berharap bahwa ia mati di tangan Samuel saja. Namun, alasan ia untuk hidup, ternyata juga sudah meninggalkannya. Jadi, untuk apa ia hidup sekarang?
Sebuah pisau buah yang tergeletak sudah berada di tangan Zee. Darah sudah keluar dari infus yang ia lepas dan biarkan begitu saja, menjadi jalan keluar darahnya. Zee ikut menambahkan jalan keluar darah dari tubuhnya dengan mengiris nadi di pergelangan tangannya. Sambil menangis dan memasang raut wajah tersenyum bahagia, Zee menatap pada Sean.
"Sean, aku mencintaimu selamanya." Itu adalah bisikan terakhir sebelum akhirnya Zee menutup matanya.
-
-
End
-
__ADS_1
-
Jangan lupa mampir dan dukung juga karya selanjutnya Author yang judulnya '(Not) Mistake'! Dijamin gak kalah seru, romantis, hot, dan lebih menantang lagi dengan konflik yang mendebarkan.
SPOILER !!!
Di tengah pikirannya, sentuhan lembut dari jari Alvaro pada wajahnya, menyadarkan Olvee.
Alvaro menyentuh pipinya untuk bisa membuat ia menoleh ke arahnya. Olvee mau tak mau
akhirnya menatap pada Alvaro. Niat hati ingin menjauhinya, ia justru tidak bisa melakukan apapun dan semakin tenggelam di dalam kedua netra yang menatapnya lembut itu.
Perlahan ia memejamkan matanya saat Alvaro mulai menyatukan bibir mereka. Otaknya memerintahkan Olvee untuk menghentikan Alvaro karena ini semua adalah kesalahan. Namun, hatinya yang merasakan kelembutan, kenyamanan, bercampur dengan manisnya rasa bibir Alvaro membuat Olvee enggan melakukan apa yang diperintahkan otaknya. Ia pada akhirnya memilih menyerah dan memilih hatinya.
Tangan Alvaro beralih pada tengkuk Olvee untuk semakin memperdalam ciuman mereka.
Begitu pun dengan tangan Olvee yang meraih leher Alvaro dan melingkarinya. Hingga
mereka terbaring di atas kasur. Namun, itu tak membuat ciuman mereka terganggu. Alvaro
semakin memperdalam ciuman mereka yang mulai menimbulkan suara decapan. Meresapi
setiap rasa pada bibir Olvee yang mulai saat ini akan selalu menjadi candu baginya.
Sesekali Alvaro melepaskan bibir mereka selama sepersekian detik untuk membiarkan mereka
saling memperebutkan oksigen. Namun, ia kembali memiringkan kepalanya untuk kembali
mencium bibir Olvee.
“Alvaro! Kenapa mobilmu dibiarkan di luar?” Suara ibunya yang tiba-tiba terdengar
dari luar kamar membuat Olvee lebih dulu tersadar dan membuka matanya.
Olvee sudah tidak fokus lagi pada ciuman mereka. Ia melepaskan pangutan bibir keduanya dan menatap Alvaro yang juga akhirnya terdiam menatapnya juga. Kedua napas mereka
terengah-engah saling bersahutan satu sama lain. Posisi yang sangat intim, penampilan
yang berantakan, dan bibir mereka yang basah serta membengkak karena sudah saling bertukar saliva lewat ciuman panas.
“Alvaro, kau sudah pulang?” Suara ibunya terdengar semakin dekat ke kamar Olvee.
“Mama sudah pulang!” seru Olvee mulai panik dan menyingkirkan Alvaro dari atas tubuhnya dengan kasar.
__ADS_1
Selengkapnya di '(Not) Mistake'