Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 45 : Confused


__ADS_3

"Morning, Babe." Suara Sean langsung menyapa pendengarannya begitu Zee bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan Sean yang tersenyum hangat.


Zee menguap lebar dan meregangkan tubuhnya. Ia menutup kembali matanya karena masih terasa begitu berat. Tangannya menarik kembali selimut yang sudah tak lagi pada tempatnya.


"Kau akan kehabisa napas sayang," ucap Sean sembari membuka selimut yang menutupi Zee sampai wajahnya.


Zee membuka sedikit matanya dan berdecak sebal. Ia memutar tubuhnya memunggungi Sean. Tangan kanan Sean menarik pinggang Zee.


"Apa kau tak mau ikut denganku?" tanya Sean.


"Tidak," jawab Zee singkat.


"Aku ada sedikit kejutan untukmu." Sean kembali berkata untuk membujuk Zee.


"Tidak." Zee tetap menolak.


"Zee..." Sean mulai memberikan nada peringatan pada Zee pertanda ia tak menyukainya.


"I just wanna sleep until sunset, ok?! So please stop bothering me!" seru Zee kesal.


"Apa kau tak merindukan kedua temanmu?" tanya Sean masih berusaha sabar.


"Aku tidak akan bertemu mereka kembali jika bukan karena kau menculikku," ujar Zee ketus menyindir sarkas Sean.


Sean diam selama beberapa detik. Hanya menatap tubuh Zee yang membelakanginya berbalutkan selimut.


"Zee. Bagaimana jika kita sekarang menemui temanmu?" Sean masih berusaha membujuk Zee.


"Aku memang akan menemui mereka jika kau tidak menggangguku tidur." Zee menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya lagi.


"Babe... ada apa? apa aku masih membuatmu marah? Kenapa sikapmu begini? Bukankah sebelumnya kita baik baik saja?" Sean mulai jengah dengan sikap Zee. Ia masih berusaha untuk menekan nada suaranya agar tak membentak Zee, masih berusaha untuk menekan batas kesabarannya.


"Babe..."


"Pergi!" teriak Zee tiba-tiba dan tangisnya pecah. Ia bangun dan mendorong Sean kasar yang berada di belakangnya.


"Pergi!" Zee semakin membabi buta mendorong, memukul, dan mencakar Sean.


Sean hanya diam, menerima semua luka yang Zee berikan padanya. Berharap jika dengan memukulnya, Zee dapat lebih lega. Ia masih tak mengerti dengan apa salahnya. Yang ia tau, emosi Zee sedang tidak stabil saat ini. Zee menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisnya semakin kencang sesegukan. Sean membawa Zee ke pelukannya, berusaha menenangkan tunangannya.


"Sstt... aku sudah mengatakan, apapun yang kau rasakan dan pikirkan kau bisa berbicara padaku. Berhentilah menangis. Kau tidak pantas menangis, Sayang." Sean dengan sabar menghadapi Zee.


"Aku pantas! Diam kau, Sean!" Zee seperti anak kecil dimata Sean sekarang.

__ADS_1


"Kau mau menertawakanku?!" tanya Zee sewot ketika mendapati wajah Sean yang seperti menahan kedutan di bibirnya.


"Tidak," jawab Sean terlihat serius kembali.


"Sean!!!" Tawa Sean pecah sudah, ia tak dapat menahan tawanya menatap Zee yang, ahh Sean tak dapat mendeskripsikan bagaimana manisnya gadisnya saat ini.


Ia tau, ia seharusnya menenangkan dan menghibur tunangannya yang saat ini tidak stabil. Tetapi melihat Zee yang terlihat seperti anak-anak yang tengah merajuk, membuat Sean tidak bisa menahan tawanya.


"Aww!" Sean meringis kegelian ketika tangan Zee mencubit keras perutnya.


"Nakal sekali gadis ini!" seru Sean sambil mendekati wajah Zee.


Suara kecupan Sean pada bibir Zee terdengar nyaring di keheningan kamar yang sunyi ini. Sean menatap puas Zee yang membulatkan matanya dan bersiap melayangkan kembali tangannya mencubit Sean. Zee sudah terlihat kembali seperti biasanya. Sean sedikit lega karenanya.


"Ayo kita temui kedua temanmu." Sebelum Zee berhasil mencubit Sean, perkataan Sean lebih dulu menyela.


"Kau... benar?" tanya Zee tak yakin.


"Ya, tentu saja." Sean menjawab yakin. Sedetik kemudian Zee memeluk tubuh Sean.


"Terima kasih," ucap Zee.


"Dan maaf." Zee melanjutkan dengan suara lirih.


"Maaf kenapa?" tanya Sean setelah melepas pelukan keduanya.


"Kau mau memaafkanku kan?" tanya Zee kemudian.


"Of course. Aku mengerti," jawab Sean.


"Sekali lagi, terima kasih." Perasaannya yang kali ini senang mendominasi hati Zee membuat ia bahkan dengan berani mencium bibir Sean lebih dulu.


Zee melingkarkan tangannya pada leher Sean dan tersenyum menatapnya setelah menciumnya. Ia tidak tau, apa akibatnya membangunkan singa yang kelaparan. Zee tidak menyadari hal itu.


Dalam sekali gerakan, Sean menarik tubuh Zee hingga posisinya sekarang, gadis itu duduk di pangkuannya. Menempelkan tubuhnya dan tubuh Zee hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Tanpa aba-aba ia mencium bibir Zee yang sedikit terbuka membuat Sean semakin leluasa untuk menjelajahi dan merasakan bibir yang selama ini selalu berhasil menggodanya.


Tangan kirinya menahan tengkuk Zee agar ia tak melepaskan pangutan bibir keduanya. Sedang tangan kanannya menahan pinggang gadis itu. Ciumannya semakin dalam dan menuntut hingga dirinya merasakan Zee sudah tak bisa mengibangi permainannya.


Bibirnya semakin turun menjelajahi leher putih nan mulus milik Zee, menciptakan beberapa jejak kemerahan menandakan kepemilikannya pada gadisnya. Leher Zee yang tanpa sadar sedikit mendongak, memberikan lebih banyak akses pada Sean. Tangan kanannya yang berada dipinggang Zee sudah berkeliaran masuk kedalam kaos yang dipakai oleh Zee dan mengelus punggung gadis itu langsung.


"Se-an... S-stop it... Ahww!"


Zee menjambak rambut Sean yang berada di lehernya yang semakin menggila memberikan jejak-jejaknya pada leher putih miliknya. Bukannya berhenti, Sean semakin menjadi ketika mendengar ******* Zee. Demi tuhan, suara gadisnya semakin membuat Sean bergairah.

__ADS_1


"Se-an!" Dengan susah payah, Zee mengeluarkan suaranya memanggil pria itu yang akhirnya membuahkan hasil.


Sebelum Sean berhasil membuka kaosnya, pria itu akhirnya menatap dirinya. "Tidak lebih dari ini," ucap Zee dengan napas terengah-engah.


Sean memeluk tubuh Zee. "I'm sorry, Babe. I lost."


Usapan lembut Zee rasakan pada rambutnya, ia membalas pelukan Sean yang hangat. "No problem." Sean melepas pelukan keduanya dan membenarkan kembali pakaian dan rambut Zee yang tak beraturan.


"Sekarang mandi dan bersiaplah," ucap Sean setelah melepas pelukan mereka. Zee mengangguk mengerti. Sean menjauh dari Zee dan keluar dari kamarnya.


Begitu pintu kamar ditutup, ekspresi wajah Zee kembali seperti semula. Emosinya sudah lebih baik dan bisa ia kendalikan ketika bersama Sean. Meski itu berkat Sean juga. Tetapi sisi lain dalam dirinya tetap tidak terdefinisikan setelah mendengar kabar bahwa dirinya hamil. Dan melihat tanda-tanda dari Sean, pria itu tampak tidak ada tanda-tanda akan memberitahunya. Apa sebenarnya yang direncanakan pria itu?


Cepat atau lambat ini semua akan terungkap. Ia akan bertemu dengan kedua sahabatnya kembali dan sudah dipastikan ia harus menjelaskan semuanya. Sahabatnya akan mengetahuinya, tetapi ia masih bingung apa yang harus dilakukan atas kehamilannya. Meski pada akhirnya mereka juga akan mengetahuinya, tetapi ia masih belum mengerti dengan Sean, membuat Zee sulit mengambil keputusan. Belum lagi bagaimana dengan ayahnya di Indonesia? Apakah ia bisa menjelaskan semuanya setelah berhasil mengecewakannya? Ia pergi ke London untuk belajar dan membanggakan ayahnya, tetapi malah berakhir dengan kehamilan.


Selain itu, ia juga masih mengkhawatirkan hal lain. Pantaskah ia bersama dengan Sean dengan masa lalunya yang buruk?


Zee menghela napas dan mengakhiri pikiran-pikirannya. Ia memilih beranjak dari kasurnya dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap.


Toktoktok


Suara pintu yang diketuk dari luar ruang kerja Sean, mengalihkan atensinya. Sean berkata, menjawab ketukan pintunya. Tak lama Axel masuk ke dalam dengan beberapa map di tangannya.


"Ini hasil dari beberapa meeting di kantor saat Anda ke Manhattan," ucap Axel sembari memberikan map yang dibawanya.


"Aku akan memeriksanya," jawab Sean seraya membuka salah satu map yang dibawa Axel.


"Kau boleh pergi," lanjut Sean.


"Saya undur diri, Tuan." Axel keluar dari ruangan Sean.


Tetapi tak lama pintu ruangan Sean kembali dibuka. "Apa ada yang tertinggal, Axel?" tanya Sean tanpa menatap lawan bicaranya.


"Saya membutuhkan Anda untuk pergi, Tuan." Suara dari seorang wanita membuat Sean mendongak.


Ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan berjalan menghampiri Zee yang sudah siap dengan pakaiannya. Zee tersenyum dan menyambut pelukan Sean.


"Kau sudah siap?" tanya Sean yang mendapat anggukan dari Zee.


"Kalau begitu, ayo pergi." Sean merangkul Zee dan menuntunnya keluar.


-


-

__ADS_1


-


tbc


__ADS_2