Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 23 : Bad dream or past


__ADS_3

Zee membuka matanya, tempat terakhir yang ia lihat tak seperti ini. Ia kini sudah berada di atas kasur empuk dan langit-langit kamar yang sudah dua minggu lebih ini ia tempati. Jangan lupakan perutnya yang terasa berat karena tangan seseorang yang memeluknya erat. Zee berusaha melepaskan tangan Sean yang memeluk pinggangnya erat. Namun semakin ia bergerak semakin erat pula pelukan Sean. Ia berdecak sebal dan menatap Sean kesal. "Sean lepaskan!"


"Tidak." Mata Sean masih terpejam sembari mengatakannya.


"Aku kesulitan bernapas!" seru Zee kesal.


"Biar aku beri kau napas buatan." Wajah Sean sudah mendekati wajahnya membuat Zee menjauhkan wajahnya dari Sean. Tangannya memukul kepala Sean pelan karena terus mendekatinya membuat Sean membuka matanya dan mengusap kepalanya.


"Kau sudah membuat seisi mansion mencarimu dan sekarang kau memukulku." Sean terlihat kesal menatap Zee.


"Maaf." Zee tak berani menatap Sean.


"Jangan pergi lagi," ucap Sean kembali memejamkan matanya menghirup dalam rambut Zee yang beraroma strawberry.


"Iya..." jawab Zee pelan.


"Tapi aku ingin bangun." Zee lagi-lagi mengeluarkan suaranya meminta dilepaskan.


"Kemana? Di luar dingin tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Sean tanpa membuka matanya, melarang Zee.


"Aku... " Sebelum Zee menyelesaikan kalimatnya, perutnya berbunyi nyaring membuat pipinya memerah seketika dan menjalar sampai ke telinga. Sean terkekeh ketika mendengarnya.


"Jangan tertawa!" bentak Zee kesal.


Akhirnya dengan sedikit enggan ia melepaskan Zee dan bangun dari posisinya. Ia menatap Zee yang menyembunyikan wajahnya di balik tangannya. Sean menarik lembut tangan yang menutupi wajah Zee. "Tidak..."

__ADS_1


"Jadi kau tidak lapar?" tanya Sean kembali terkekeh dengan tingkah Zee.


Zee mengintip Sean dari balik jarinya dan ikut bangun dari tidurnya. Tanpa menatap Sean ia berjalan turun dari ranjang dan keluar kamar. Tawa Sean pecah begitu saja ketika Zee sudah menutup pintu kamar. Tingkah menggemaskan Zee berhasil mengundang tawa Sean, ia menggelengkan kepalanya dengan sisa tawanya. Kemudian turun dari ranjang untuk menyusul Zee.


"Aku ingin nasi goreng seafood seperti saat aku makan di restoran tempat tinggalku dulu di Indonesia," ucap Zee setelah mendudukkan bokongnya di kursi pantry.


"Tapi aku tak tahu bagaimana rasa nasi gorengnya bae." Sean berkata pelan.


"Aku ingin nasi goreng itu ada disini 30 menit." Suara Zee dengan nada perintah membuat Sean mau tak mau segera memasak makanan sesuai request'annya.


Sebelum 30 menit selesai, sepiring nasi goreng sudah dihidangkan di depannya. "Aku ingin kembali tidur, kau saja yang makan." Sebelum Zee mencicipi nasi goreng tersebut, ia sudah bergerak turun dari kursi pantry dan berjalan meninggalkan Sean dan nasi gorengnya.


Sean menganga tak percaya dengan yang apa yang baru saja di dengarnya. Gadis itu memerintahkannya dan meninggalkannya begitu saja. Untuk pertama kalinya ia diperintah bukan memerintah. Seorang Sean Rexford! Terlebih itu oleh seorang wanita. Sean melangkah gontai menyusul Zee yang sudah pergi berlalu. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur memeluk tubuh Zee yang sudah terlelap di dalam mimpi. Tak lama disusul Sean.


😴😴😴


"Hei, Baby... Wake up..." ucap Sean terus menepuk pipi Zee yang bergerak gelisah dalam tidurnya.


Zee membuka matanya cepat, nafasnya terengah engah, dengan air mata dan keringat yang sudah membasahi wajahnya.


"Babe?" Suara Sean menyentak lamunan Zee. Ia menatap Sean dengan raut wajah ketakutan dan cemas, tubuhnya sudah gemetar. Tangan kanannya perlahan melukai tangan kirinya dengan kuku jarinya yang panjang hingga mengeluarkan darah segar yang menetes ke atas sprai kasur.


Pelukan hangat memeluk tubuh Zee erat membawa kewarasannya kembali, ia tersadar atas apa yang dilakukannya. Isakan-isakan kecil mulai keluar disertai dengan air matanya yang terus keluar membasahi pipinya. Zee membalas pelukan Sean tak kalah erat, menangis di dalam dada bidang Sean yang kokoh ketika ingatan-ingatan masa lalunya mulai kembali. Usapan lembut pada punggungnya semakin membuat Zee terhanyut dalam kenyamanan. Ia akhirnya mulai tenang kembali.


Perlahan Sean melepas pelukan mereka setelah tak mendengar suara isakan tangis Zee. Sean beranjak hendak mengambil kotak obat untuk mengobati luka Zee, tetapi kaosnya yang ditarik oleh Zee menghentikannya. Sean akhirnya membawa Zee besertanya di dalam gendongan koalnya. Ia membawa Zee ke toilet dan mendudukannya di sana. Sementara dirinya mengambil betadine, kapas, dan perban di lemari obat. Dengan telaten ia mengoleskan obat merah itu pada luka Zee setelah ia mencucinya kemudian membalut luka tersebut dengan perban hingga rapi tertutupi.

__ADS_1


"Feel better?" tanya Sean. Zee mengangguk sekali menatap Sean sayu.


"It's ok, it's just bad dream." Sean membawa Zee ke dalam pelukannya dengan lembut, mengusap usap punggungnya.


'Lebih tepatnya masa lalunya.' Kalimat itu hanya dapat Zee ucapkan dalam hatinya, tak berani untuk keluar di mulutnya.


"Kau mau tidur kembali?" Zee menggeleng.


"Aku ingin menonton tv," jawab Zee.


"As you wish, babe." Sean menyambut tangan Zee yang direntangkan meminta untuk menggendongnya bak anak balita.


Ia kembali membawa Zee ke dalam gendongan koalanya. Membawa gadis itu kembali ke kamar. Sean menurunkan Zee di sofa yang empuk berbahan kulit itu dengan hati hati, ia juga duduk di samping Zee setelah menurunkannya. Tangan Zee mengambil remot yang terletak di meja kaca hadapannya. Ia lantas menekan tombol power untuk menyalakannya. Sean merebahkan tubuhnya di sofa dan menarik Zee agar ikut berbaring di sampingnya dan memeluk pinggangnya kembali dengan erat lalu memejamkan matanya. Tangannya secara alami bergerak mengelus rambut Zee.


"Pukul berapa sekarang?" tanya Zee.


"1 malam," jawab Sean tanpa membuka matanya. Ia sempat melirik jam di dinding.


Mata Zee terasa semakin berat ketika ia menatap televisi di depannya. Sampai akhirnya kesadarannya hilang dibawa menuju ke alam mimpi yang menjemputnya. Sean perlahan membuka matanya ketika mulai merasakan Zee yang sudah kembali tertidur. Ia segera menggendong Zee dengan hati-hati dan memindahkannya ke atas kasur. Tak lupa menyelimuti mereka berdua. Ingatan Sean menerawang pada peristiwa beberapa menit yang lalu. Sepertinya ia harus mencari bajingan itu untuk melampiaskan kemarahannya karena sudah membuat miliknya seperti ini.


-


-


-

__ADS_1


tbc


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2