
"Hei, are you awake?" Elusan lembut pada kepala dan perutnya dirasakan Zee begitu ia membuka mata. Ia menoleh ke samping dan mendapati wajah Sean.
"Pukul berapa sekarang?" tanya Zee dengan suara seraknya,
"Masih pukul 8. Kau masih belum makan sejak tadi tiba, Aku akan meminta-"
"Tetap seperti ini," rengek Zee memotong ucapan Sean seraya menahan tangannya yang dijadikannya bantal.
Sean mengecup lembut rambut Zee. "Baiklah." Ia tidak banyak memaksa dan mengikuti semua yang Zee inginkan.
"Sean, aku ingin minum," ucap Zee kemudian.
Sean bangkit untuk mengambil gelas di meja nakas membuat Zee ikut bangun dan duduk bersandar. Ia menerima gelas yang disodorkan Sean dan meminum habis isinya. Kemudian memberikan kembali gelas yang sudah kosong tersebut pada Sean.
"Kembalilah tidur," ucap Sean seraya berusaha mengubah posisi tubuh Zee menjadi berbaring kembali.
Zee menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengantuk, jangan memaksaku lagi."
"Baiklah," jawab Sean yang lagi-lagi tidak memaksa Zee. Tangannya berpindah merangkul bahu Zee.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Sean setelah cukup lama tidak ada pembicaraan atau kegiatan yang dilakukan di antara keduanya.
Zee tidak menjawab. Ia mengambil tangan Sean yang lain dan menempatkannya di atas perutnya. Menggerakkan tangan pria itu untuk mengelus perutnya. Sean segera mengerti dan dengan sendirinya mengelus lembut perut Zee membuat gadis itu memejamkan matanya.
"Apa kedua orang tuamu akan senang dengan kabar kehamilanku?" tanya Zee membuka pembicaraan tanpa membuka matanya.
"Tentu saja. Mungkin ini adalah sesuatu yang mereka tunggu," jawab Sean lantang dan tanpa ragu. Ia sudah bisa memprediksi bagaimana respon kedua orang tuanya, terutama ibunya ketika mendengar berita ini.
Zee tidak berbicara lagi dalam waktu yang cukup lama. Ia sedikit tenang dengan apa yang dikatakan oleh Sean. Namun, ia tidak bisa berhenti mencemaskan ayahnya. Papinya adalah orang yang cukup tegas dan masih memegang adat yang kental budaya Indonesia. Dimana kehamilan haruslah terjadi dalam ikatan pernikahan. Sedangkan dirinya sudah berbadan dua tanpa ikatan pernikahan. Terlebih, ia hamil di saat ia berpamitan pada papinya untuk menuntut ilmu. Sudah dipastikan jika papinya akan sangat kecewa padanya.
"Pernikahan apa yang kau inginkan?" tanya Sean membuyarkan lamunan Zee.
"Aku ... " Zee kembali melamun memikirkan pernikahan impian yang ia inginkan.
Keinginan Zee sangat sederhana mengenai pernikahannya kelak. Ia hanya ingin pernikahan sederhana dengan calon suami yang juga sederhana, rendah hati, dan yang paling penting, tulus mencintainya. Ia sudah sangat bahagia hanya dengan itu. Namun, sepertinya Sean tidak akan mengabulkan keinginannya. Keluarga Rexford adalah keluarga pengusaha yang cukup terkenal di kota ini dan salah satu yang berpengaruh. Pernikahan putra sulung mereka sudah pasti akan digelar megah dengan dihadiri tamu yang sebagian besar adalah orang-orang penting. Ia tidak terlalu keberatan karena yang terpenting Sean mencintainya dengan tulus. Meski ia bukan orang yang sederhana dan rendah hati.
"Aku tidak keberatan bagaimana pernikahan kita akan digelar, yang terpenting calon suaminya adalah kau." Zee mendongak menatap Sean ketika menjawabnya.
"Tentu saja aku yang akan menjadi calon suamimu, siapa lagi?" Sean terkekeh pelan mendengar jawaban Zee seraya mencium hidungnya.
"Sean, aku ... " Zee menggantungkan perkataannya, masih menahan untuk membicarakan apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Sean menatap Zee.
"Papi, aku mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan Papi mendengar kabar ini." Zee akhirnya membicarakan apa yang seharusnya dibicarakan pada Sean.
"Bagaimana jika Papi tidak menerimanya dan berusaha memisahkan kita? Apalagi, mendengar caramu yang cukup ekstrem," ujar Zee yang secara tidak langsung menyindir Sean.
"Kenapa ia memisahkan kita? Kita saling mencintai dan akan memiliki cucunya. Tidak mungkin ia akan mengambil kebahagiaan putrinya," jawab Sean heran.
"Kau melupakan aku berasal darimana? Budaya Asia berbeda dengan budaya Eropa atau Barat. Stereotype di sana masih memandang buruk kehamilan di luar pernikahan. Papi adalah salah satunya. Aku cukup khawatir dengan hal itu." Sean baru menyadari dan mengerti apa yang dikhawatirkan Zee. Ia segera mengingat darimana tunangannya berasal.
"Jangan khawatir, apapun yang akan menjadi respon ayahmu, ia tidak akan bisa memisahkan kita. Aku tidak akan meninggalkanmu dan kita akan tetap menikah meski tanpa persetujuannya." Sudah Zee duga, inilah yang akan dikatakan oleh seorang Sean Rexford.
"Aku tidak berharap itu akan keluar dari mulutmu," ucap Zee seraya mendesah kecewa.
"Lalu apa yang kau harapkan?" tanya Sean bingung.
"Sean, aku berharap ini akan menjadi pernikahan sekali seumur hidupku. Aku tidak ingin menikah tanpa restu dari Papi apalagi dalam keadaan ia marah karena kecewa padaku." Otak Sean segera mengerti apa yang diinginkan oleh Zee.
Hal-hal merepotkan seperti itu tidak ingin dilakukan oleh Sean. Yang ia inginkan harus terjadi sesuai keinginannya, tak peduli apapun alasannya. Namun, lain halnya dengan ini. Hal ini berkaitan dengan Zee, tunangannya dan wanita yang ia cintai. Jika nantinya Zee tidak bahagia di hari pernikahan mereka karena tidak mendapat restu dari ayahnya, itu tidak akan membuat Sean bahagia. Belum lagi, wanitanya tengah mengandung anak mereka yang bisa rentan dengan kesehatan mental dan fisik Zee. Ia tidak bisa mengabaikan akibat-akibat apa saja yang akan terjadi nantinya.
"Kita akan membujuk ayahmu sampai ia merestui kita. Namun, aku yakin ia akan merestui kita karena aku adalah ayah dari anak yang kau kandung." Akhirnya perkataan yang diinginkan oleh Zee, keluar dari mulut Sean, Ia lega sekaligus bahagia dan terharu pada Sean.
"Kau benar," jawab Zee menimpali.
"Sean ... " Zee kembali mendongak pada Sean.
"Hm?" Sean bergumam untuk menjawabnya tanpa membuka matanya yang sudah terpejam.
"Aku akan kembali kuliah bulan depan, karena itu-"
"Tidak, kau akan berhenti dari kuliahmu dan fokus pada kehamilanmu saja. Kuliah hanya akan memebuatmu lelah saja," potong Sean sebelum Zee benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Baru saja Zee berbicara untuk kembali kuliah, tetapi Sean sudah melarangnya. Bagaimana jika ia meminta izin untuk tinggal bersama Kyra sampai mereka menikah nanti.
"Sean, aku hanya akan bosan di mansion seluas ini jika kau terus membuat aku beristirahat. Jika bosan, aku akan stres. Bukankah itu akan buruk pada kesehatanku dan bayi kita?" Zee mulai berusaha membujuk Sean.
"Kau tidak berniat untuk melihat pemuda itu lagi, kan?" tanya Sean kali ini menatap pada Zee.
"Aidan adalah sahabatku, tentu saja-"
"Athan Guelt." Lagi-lagi Sean memotong ucapan Zee. Mendengar nama yang sudah tidak lama ia dengar kabarnya ini membuat Zee mengingat pria itu.
"Jangan mengingat wajah pria itu lagi, aku tidak suka dan tidak mengizinkannya!" seru Sean tak lama membuyarkan lamunan Zee. Ia tidak bisa jika pria itu merusak bujukannya pada Sean.
__ADS_1
Zee segera mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Sean. "Hei, apa kau tidak mempercayai apa yang aku katakan saat di rumah sakit?" tanya Zee.
Gerakan tangan Zee mengundang Sean untuk mengecup telapak tangan tersebut. "Aku mempercayaimu. Yang aku tidak percayai adalah dia." Sean menangkap tangan Zee.
"Ia sudah memiliki kekasih setauku terakhir kali. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Aku juga berjanji tidak akan kelelahan yang membuatmu khawatir padaku. Selain itu ada Aidan dan Kyra yang akan menjagaku," yakin Zee.
"Baiklah, kau sudah berjanji." Sean tidak berlama-lama memutuskan dan mengizinkan apa yang Zee inginkan. Zee kembali menguji keberuntungannya.
"Lalu, karena kita akan menikah dan tinggal selamanya berdua, seharusnya aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan sahabatku. Bukankah begitu?" Sean membuka matanya dan berhenti menciumi telapak tangan Zee.
Sean menggeleng. "No, kau tidak bisa."
"Aku akan menghabiskan waktu bersamamu lebih lama karena kita akan menikah. Bahkan saat ini kita belum menikah pun, kita sudah tinggal bersama. Izinkan aku kali ini, saja." Zee tetap bersikeras dengan apa yang diinginkannya.
"Tidak untuk itu. Semua yang kau inginkan sudah aku kabulkan, tidak untuk tinggal berpisah denganku. Itu juga demi keselamatanmu, Sayang."
"Tapi Sean ... "
"Sekarang tidur, Zee." Sean memotong ucapan Zee seraya menutup matanya dengan satu tangan.
Zee menyingkirkan tangan Sean dari wajahnya dan mendengus kesal. Nada suaranya sudah tidak dapat dibantah oleh Zee, menunjukkan bahwa ia tidak bisa melakukan negosiasi lagi. Zee berbalik memunggungi Sean pertanda jika ia marah padanya.
"Babe ... "
Zee tidak menjawab dan lebih memilih memejamkan matanya. Ini bukan berarti ia akan menyerah untuk membujuk Sean. Ia hanya mundur untuk memikirkan cara lagi sampai Sean mengizinkannya. Ia sudah lama jarang menghabiskan waktu dengan Kyra dan Aidan. Satu-satunya cara adalah dengan tinggal lagi bersama Kyra lagi, sampai ia menikah.
__ADS_1
To be continued