
Sean mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya. Menatap lurus pada ponsel miliknya yang hening sejak tadi seolah tengah menunggu seseorang menghubunginya. Mengabaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Bahkan seseorang yang masuk ke dalam ruangannya pun tak ia gubris.
"Tuan Rexford," panggil asisten sekaligus orang kepercayaannya, Axel.
"Ada apa?" tanya Sean tanpa menatap lawan bicaranya.
"Rapat akan segera dimulai," jawabnya sedikit takut sambil menundukkan kepalanya.
Melihat bosnya yang terlihat tidak memiliki mood yang bagus membuat ia sedikit takut akan menjadi sasaran kemarahannya. Semenjak kepergian Nona mudanya, bosnya menjadi lebih menyeramkan seperti masa lalu.
"Baiklah, ayo kita pergi." Sean beranjak dari duduknya.
Axel berjalan di belakangnya menuju ruang rapat yang sudah dihadiri oleh kepala dari masing-masing divisi. Di tengah jalan mereka, ponsel milik Sean berbunyi. Secepat kilat Sean mengambil ponselnya dan mengangkat telponnya. Siapapun bisa menebak siapa gerangan yang menelpon bosnya itu.
"Maaf aku baru menelponmu kembali karena sedang menghadiri kelas. Ada apa, Sean? Apa kau tidak bekerja?" tanya seseorang di seberang telpon, begitu sambungan terhubung.
"Apa aku tidak bisa menelpon tunanganku karena merindukannya?" Bisa Sean tebak jika Zee di seberang telpon sana tengah tersipu malu.
"Hei, kau lebih baik bekerja saja sana, daripada menggombaliku! Kita setiap hari berkomunikasi lewat ponsel, dan baru berpisah selama beberapa hari. Jangan terlalu berlebihan!" Zee berbicara dengan cepat.
"Apa kau tidak akan mengatakan merindukanku juga?" Sean semakin menggoda Zee.
"Aku juga merindukanmu. Sudah, aku akan makan siang. Kau bekerja yang benar dan jangan terlalu sering menelponku. Dan jangan terus melimpahkan pekerjaanmu itu pada Kak Axel."
"Kak Axel?!" Mendengar namanya disebut dari mulut sang bos membuat pemilik nama tersebut menoleh. Ketika menoleh, Axel segera membuang wajahnya kembali karena Sean yang menatapnya garang.
"Sudah, cukup. Aku akan menutup telponnya!" Zee tidak memperpanjang lagi pembicaraan mereka.
"Tunggu!" Namun, perkataan Sean membuat ia mengurungkan niatnya untuk menutup telpon mereka.
"Aku berencana mengunjungi orang tuaku untuk memberikan kabar pada mereka. Entah mereka sudah mengetahuinya atau belum, aku akan mengajakmu mengunjungi mereka." Topik pembicaraan inti yang ingin dibicarakan Sean akhirnya keluar.
"Kapan?" tanya Zee.
"Aku akan mengabari orang tuaku dulu dan mencari tahu dimana mereka sekarang," jawab Sean.
"Kabari aku lagi. Aku akan menutup telpon sekarang."
__ADS_1
"Aku mencintaimu," ucap Sean terakhir kali yang tidak dibalas Zee.
"Wanita itu." Sean berdecak kesal, tetapi tetap tersenyum setelah selesai bertelpon dengan Zee.
"Ayo masuk," ujar Sean pada Axel. Nada bicaranya kembali berubah dari ketika ia berbicara tadi pada sang tunangan.
Begitu Sean masuk ke dalam ruang rapat, mereka yang ada di dalamnya berubah menjadi tegak. Aura dingin langsung menyelimuti ruangan dan membuatnya menjadi suasana yang tegang seketika. Namun, sebelum seseorang memulai pembicaraan rapat mereka, ponsel dari sang bos kembali berdering.
"Baru saja dibicarakan," gumam Sean menatap layar ponselnya.
"Silahkan mulai rapatnya," perintah Sean sebelum mengangkat telpon dari sang ibu.
Kyra berdehem membuat Zee segera tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Kyra di sampingnya yang sudah siap menggodanya. Zee segera berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
"Apa itu Sean?" tanya Kyra.
"Ah, bodohnya aku! Tentu saja, siapa lagi yang akan mendapatkan kata-kata manis itu." Sebelum sempat menjawabnya, Kyra kembali berkata.
"Ngomong-ngomong, Kyra. Apa kita terlihat aneh? Kenapa semua orang terasa memperhatikan kita? Aku sudah merasakannya sejak pertama kali kembali masuk ke kampus," tanya Zee mengubah topik pembicaraan.
"Saat kau menghilang, aku dan Aidan sudah menyebarkan beritamu. Namun, berita itu membuat semua orang gempar. Pria yang mereka puja dan agung-agungkan tiba-tiba bertunangan. Seluruh mahasiswa terutama gadis, langsung mengetahui jika itu adalah dirimu. Tentu saja sekarang kau menjadi pusat perhatian mereka!" jelas Kyra panjang lebar.
"Aku ingat, kau mengetahuiku karena berita pertunanganku. Aku tidak menyangka itu akan sangat viral sampai seluruh orang mengetahuinya." Zee kali ini menganggukkan kepalanya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Ambil sisi positifnya saja dan ayo kita segera makan sebelum kau dan dia kelaparan." Kyra menarik tangan Zee, melanjutkan perjalanan mereka menuju cafeteria.
"Tetap saja aku masih tidak terbiasa. Mereka terlihat ingin melahapku hidup-hidup," ucap Zee.
"Anggap saja mereka iri kepadamu," timpal Kyra.
Sore harinya, setelah jam pulang bekerja, Sean segera membereskan pekerjaannya dan memakai jasnya kembali serta mengambil kunci mobilnya. Jam pulang kerjanya hari ini bertepatan dengan jam pulang tunangannya dari kuliahnya. Ia berniat segera menjemputnya dan membawanya mengunjungi kedua orang tuanya yang sudah sampai di London. Ibunya itu pasti langsung kemari begitu mendengar kabar Zee. Ini akan menjadi kejutan untuk wanitanya.
Setelah selesai dengan kelas terakhirnya, Zee dan Kyra keluar. Ketika berjalan di lorong, hampir setiap saat seseorang berlarian di lorong menuju gerbang pintu keluar. Seolah mereka tengah diburu oleh sesuatu yang disebut waktu.
"Apa sekarang banyak orang yang sibuk?" tanya Kyra keheranan.
"Aku tidak tau," jawab Zee yang sama tidak mengetahuinya dengan Kyra.
__ADS_1
Mereka tetap berjalan santai sampai di gerbang keluar yang ternyata sudah dipadati oleh mahasiswa. Seharusnya mereka sudah pulang jika mereka sejak tadi terburu-buru. Namun, semuanya seolah berada di tempat parkir.
"Sepertinya aku mengetahui kenapa mereka terlihat terburu-buru," ucap Kyra yang menatap pada satu arah.
"Aku juga." Begitu pun dengan Zee yang menatap pada atensi yang sama dengan mahasiswa yang memadati tempat parkir.
Sean berdiri bersandar pada kap mobilnya dengan wajah khasnya yang datar. Sesekali menoleh mencari seseorang yang menjadi tujuannya kemari. Sean mengambil ponselnya dan menempelkannya pada telinganya.
"Gue pulang duluan kalau gitu pake mobil lo. Selamat berkencan!" Kyra meninggalkannya begitu saja.
Dering ponsel milik Zee terdengar. Ia mengangkat telpon dari Sean itu masih sambil menatap pada pria yang tampak sempurna dari penampilannya.
"Halo," sapa Zee lebih dulu.
"Kau dimana, Sayang?" tanya Sean.
"Aku sudah melihatmu, mana mungkin aku tidak melihat seseorang yang menarik begitu banyak perhatian." Zee melihat Sean semakin menoleh ke kanan dan kirinya mencari dirinya.
Begitu mereka melakukan kontak mata, Sean menutup ponselnya dan menegakkan tubuhnya. Menyambut pelukan Zee yang berlari ke arahnya.
"Jangan berlari, Sayang. Kau sudah tidak sendiri lagi," ucap Sean lembut setelah pelukan mereka terlepas.
Tangan Sean mengelus rambut Zee lembut selembut tatapan dan senyumannya. Ekspresi wajah datar di wajah Sean sebelumnya menguap, seolah tidak pernah ada. Mereka yang sejak tadi menonton drama romantis di depannya, tidak percaya dengan apa yang sudah mereka lihat sendiri. Seorang pria yang memiliki citra yang dingin tak tersentuh oleh wanita mana pun, bersikap manis pada seorang wanita.
"Kenapa tiba-tiba kau kemari?" tanya Zee.
"Ayo pergi sekarang," ajak Sean tanpa menjawab pertanyaan Zee.
"Kemana?"
-
-
-
To be continued
__ADS_1