Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 42 : Believe


__ADS_3

"Bagaimana dengan masakan Zee?" tanya Alana menatap seluruh anggota keluarganya yang tengah menyantap makanannya masing-masing.


"Apa ini masakanmu?" tanya Sean di samping Zee. Ia mengangguk menjawab pertanyaan Sean.


"Zee sangat pandai! Dia langsung mengerti setelah kujelaskan sekali" ucap Alana memuji Zee yang sudah salah tingkah di tempatnya.


"Aku hanya mengikuti arahanmu, Mom," jawab Zee tersipu malu.


"Bagaimana Sean?" tanya Alana menatap Sean di depannya.


Sean mengangguk sekali. "Ini sangat lezat." "Tapi... kau tidak diizinkan kembali ke dapur." Zee menunduk lesu mendengar jawaban yang dilontarkan Sean. Pria itu selalu saja berhasil membuat perasaannya naik dan turun.


"Sean..." Alana berusaha membujuk putranya.


"Keputusanku sudah final, Mom. Ini semua demi keselamatan Zee." Mereka semua tidak mengetahui bagaimana keadaan Zee sekarang. Ia lakukan ini semua untuk Zee.


"Sudahlah, Honey.. Sean ada benarnya juga,


dan sebaiknya kau juga berhenti ke dapur." Julian sang kepala keluarga akhirnya angkat suara membela Sean.


"Ayo kita makan sebelum makanannya dingin," lanjutnya sebelum Alana sempat menyuarakan penolakannya.


Semua makan dengan hening. Hanya ada suara alat makan yang beradu dengan piring. Setelah selesai makan, semua anggota keluarga berpisah-pisah untuk menikmati waktu berdua dengan pasangan masing-masing. Sementara Sheila sudah berpamitan lebih dulu setelah acara makan selesai.


Berbeda dengan sepasang tunangan ini. Zee saat ini tengah berada di gazebo yang tak jauh dari kolam renang yang lumayan luas. Ia menatap lurus ke arah kolam renang yang telihat begitu tenang. Enggan menatap Sean yang sedari tadi menggodanya.


"Zee..."


"Berapa lama lagi kau akan menghukumku, Bae?" tanya Sean mulai merasa putus asa.


"Bukankah seharusnya kita bermesraan seperti ayah ibuku dan adikku?" tanya Sean lagi.


"Baby..."


"Jangan melarangku ke dapur lagi." ucapan itulah yang keluar dari mulutnya setelah keterdiaman Zee.


Berbeda sekali dengan pikiran Zee yang melayang pada perasaan Sean dan Sheila yang terlihat lebih dari sekedar sahabat masa kecil biasa. Terlebih Sean yang begitu memperhatikan Sheila. Apa mereka saling menyukai?


"Baiklah. " Suara Sean menyentak Zee yang tengah melamun.


Ia menatap Sean di sampingnya yang menyandarkan punggungnya pada sandaran gazebo yang empuk.


"Kau... serius?" tanya Zee memastikan. Sean menarik Zee ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya lembut.


"Iya... tapi kau harus berjanji untuk tak melukai dirimu sendiri lagi," ujar Sean tanpa menghentikan usapan lembutnya pada kepala Zee.


"Jika kau khawatir dan merasa cemas pada apapun, kau bisa bercerita padaku, dan membaginya denganku. Aku sekarang adalah tunanganmu." Zee bergeming di tempatnya, mendengar detak jantung Sean yang berdetak cepat sama seperti miliknya.

__ADS_1


"Apapun itu masa lalumu, atau sekarang dan masa yang akan datang." Zee mengangguk kecil di dalam pelukan Sean.


Tak ada percakapan apapun dalam waktu yang cukup lama. Mereka satu sama lain seolah menikmati dan meresapi setiap waktu yang mereka habiskan berdua. Menikmati irama detak jantung mereka yang bersahutan satu sama lain.


"Sheila..." ucap Sean setelah keterdiamannya.


"Dia gadis pertama yang bisa begitu dekat denganku... dia gadis sederhana, murah hati, dan senang menolong saat aku mengenalnya sejak kecil. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan semakin dewasa, sama seperti perasaanku yang mulai tumbuh."


"Aku tidak mau mendengar kelanjutannya," ucap Zee menotong ucapan Sean. Ia menarik kepalanya dan menatap Sean berkaca-kaca.


"Jika kau menyukainya kenapa kau bertungan denganku?" tanya Zee dengan mata yang siap meluncurkan cairan bening yang bisa tumpah kapanpun.


"Zee..."


"Jawab aku!" seru Zee sembari menepis tangan Sean yang hendak menyentuh pipinya.


"Kau... kau jahat Sean! Aku menyesal bertunangan denganmu!" ucap Zee sembari melepaskan cincin pertunangannya.


"Zee, Sayang... dengarkan aku dulu." Sean menghentikan niat Zee.


"Jangan sentuh aku!" bentak Zee melepaskan tangan Sean yang menggenggam tangannya.


"Jangan sentuh aku, kubilang, Sean!" bentak Zee semakin keras diiringi dengan tangisan dan isakannya yang mulai keluar.


"Babe, don't cry, please... " Sean semakin memaksa Zee masuk ke dalam pelukannya.


"Sorry, bae..." Sean mengusap rambut Zee teratur, berusaha menenangkan gadisnya.


"Kenapa kau menangis padahal belum mendengar kelanjutannya, hm?" tanya Sean lembut.


Zee diam tak menanggapi, ia masih sibuk menghentikan tangisannya yang disertai sesegukan yang belum kunjung berhenti. Ia juga tidak tau kenapa ia harus menangis dan tidak suka dengan Sean yang dekat Sheila.


"You jealous aren't you, right?"


"Tidak!" seru Zee kencang sembari melepas pelukan Sean dan menatapnya tajam.


"Ok, easy, Bae..." Sean terkekeh dan kembali membawa Zee kedalam pelukannya.


"Kenapa kau tertawa?! kau menertawakanku?!" tanya Zee dengan nada membentak.


"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya merasa jika kau lebih menggemaskan," ucap Sean dengan mata yang menatap Zee dalam dan lembut.


"Ahh Sean! I hate you!"


See? Zee sangat menggemaskan ketika sedang blushing. Bagaimana cara ia menyembunyikan pipi merahnya di dalam pelukan Sean.


"Tapi apa yang akan kau katakan tadi?" tanya Zee sembari mendongakan kepalanya menatap Sean.

__ADS_1


"Kau tidak akan menangis lagi?" tanya Sean balik menjawab pertanyaan Zee.


"Katakan!" seru Zee.


"Kau tau-"


"Tidak," potong Zee cepat. Sean mencubit hidung Zee gemas.


"Aku belum selesai, Sayang..."


"Maaf." Zee tersenyum memperlihatkan gigi giginya yang berderet rapi.


"Sheila tumbuh jadi gadis yang cantik, dewasa dan juga bertalenta, sedangkan aku... aku dulu seorang pria cupu yang hanya dipandang karena nama belakangku. Aku merasa kalau aku tidak berkembang apapun dalam hidupku. Aku dulu tidak memiliki cita-cita apapun, dan tak memiliki gairah untuk hidup. Tapi berkat Sheila, aku kembali memiliki semangat hidup, dan bercita-cita melampaui ayahku. Hingga aku bisa sampai diposisiku sekarang, Sheila berperan besar di dalamnya." Sean melanjutkan perkataannya.


"Tapi aku tak bisa menerimanya lebih dari sahabatku, sedangkan dia menganggap kasih sayang yang aku berikan padanya lebih dari seorang sahabat. Sampai sejauh ini tak ada yang membuatku sampai jatuh sedalamnya pada pesona seorang wanita. Tidak sebelum aku bertemu denganmu. Aku ingin kau jadi yang terakhir untuk ku Zee." Zee terpaku menatap mata Sean dalam berusaha mencari sedikit celah kebohongan dalam pancaran matanya.


"Ak-aku... kita tidak akan tau kedepannya akan bagaimana, dan jujur aku sedikit ragu, jadi-"


"Zee..." Sean memotong ucapan Zee dengan menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Kalau kau ragu denganku kenapa aku masih mempertahankanmu sampai sejauh ini?" tanya Sean.


"Aku tau dulu aku sangat brengsek dan bajingan sampai aku menjadi pria terburuk. Tapi itu semua sebelum aku mengenalmu Zee," ujar Sean.


"Untuk pertama kalinya aku merasakan arti dari memiliki seorang gadis, mempertahankannya, dan menjaganya agar tetap disisiku. Untuk pertama kalinya hati ini berdetak lebih cepat dari biasanya hanya karena melihatmu, berada di dekatmu bahkan aku bisa kehilangan kendali akan diriku hanya karena bersentuhan denganmu." Sean membawa tangan Zee ke dadanya.


"I just wanna you stay in myside forever, Babe... I don't wanna life without you, please." Sean menempelkan dahinya pada dahi Zee dan mengelus pipinya lembut. Zee hanya mampu memejamkan matanya ketika napas Sean terasa begitu dekat dengan wajahnya.


Pikirannya kosong, hatinya belum siap dan sedikit merasakan keraguan. Ada rasa ketakutan yang amat dalam di lubuk hatinya yang terjauh karena luka masa lalu yang masih membekas. Satu sisi hatinya ingin menerima Sean namun disisi lain dirinya ragu. Jika ia menerima Sean, pantaskah dirinya bersanding dengan seorang Sean Rexford? Bagaimana pandangan orang-orang pada dirinya? Dan yang lebih ia takutkan, bagaimana Sean menatapnya jika mengetahui kebenaran tentang dirinya yang sudah...


"My Love." Suara Sean memecahkan lamunannya, ia membuka matanya melihat Sean yang juga tengah menatapnya.


"Look at my eyes... and just listen to me. Jangan pikirkan perkataan orang lain, jangan pedulikan pendapat orang lain, dan tolong jangan berprasangka buruk tentangku ya?" Seolah Sean mengerti isi hati dan pikirannya.


"Please trust me, because I trust you and I will always in yourside, Ok?" Hati kecilnya bergetar ketika mendengar Sean mengatakan kalimat yang mampu menyentuh relung terdalam hatinya. Tak ada perkataan apapun yang dapat keluar dari mulut Zee selain anggukan kepalanya.


-


-


-


tbc


Aku cinta kalian readers! jangan lupa klik suka, komen, dan favorit 🍓🍓


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2