Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 40 : jealous 2


__ADS_3

Mobil sport hitam itu memasuki pekarangan mansion yang begitu mewah di depannya. Zee menatap mansion di depannya yang berdiri begitu megah dan mewah. Didominasi warna putih dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi menjadi penyanggah. Lebih besar dari mansion milik Sean yang berada di London. Mesin mobil sudah mati. Sean melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil, memutari mobil untuk membukakan pintu mobil sebelah Zee.


"C'mon, Babe." Zee diam masih tak kunjung menerima uluran tangan Sean. Ia hanya diam menatap wajah Sean dengan raut wajah cemas.


"Ada apa, hm? Kau gugup?" Zee mengangguk mengiyakan.


"Disana akan ada, Aurel, tenanglah. Kalau kau merasa tak nyaman aku akan membawamu pulang, setuju?" Akhirnya setelah penuh persiapan, Zee menerima uluran tangan Sean. Ia menggenggam erat tangan Sean, seolah tak mau dilepaskan.


Langkahnya semakin mendekati pintu besar yang menjulang tinggi di depannya. Setalah sampai di depan pintu bercat putih tersebut, seorang pelayan dari dalam membukakan pintu dari dalam. Sean berjalan dengan tegas dan angkuh. Tak lupa raut wajahnya yang datar. Berjalan semakin memasuki mansion yang berinterior mewah dengan lukisan-lukisan klasik. Beberapa foto terpajang di dindingnya. Atensi Zee beralih menjelajahi setiap penjuru mansion. Rasa gugupnya sedikit hilang karena beralih menjelajahi isi mansion.


"Mom, Dad." Suara Sean yang menyapa kedua orang tuanya membut fokus Zee beralih pada sepasang pasutri yang sudah tak muda lagi. Namun, tubuh dan kulitnya masih terlihat kencang dan segar meskipun usianya tak muda lagi.


"Zee!" Wanita paruh baya yang adalah ibu Sean, menatap keduanya dengan kegirangan. Ia berjalan cepat ke arah Sean dan Zee.


"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya Alana sambil memeluk hangat Zee.


"Aku baik, Mommy. Bagaimana denganmu?" Keduanya kemudian saling menempelka pipi satu sama lain.


"Aku juga baik. Ayo sini-sini kita berbincang-bincang, Zee. Ada begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan denganmu." Alana membawa Zee ke sofa yang tadi mereka duduki. Seorang wanita cantik yang tak Zee kenali baru ia sadari kehadirannya ketika ia baru saja mendudukkan bokongnya pada sofa empuk.


Zee menatap wanita di depannya yang juga menatapnya. "Ini Sheila, teman sejak kecil Sean, Zee." Alana memperkenalkan Zee pada wanita yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan angkuhnya.


"Linzy." Zee mengulurkan tangannya di depan wanita tersebut yang dibalas juga dengan uluran tangan serta senyum manis yang terpatri di wajahnya. Mengubah raut keangkuhannya menjadi begitu ramah.


"Sheila." Wanita bernama Sheila ini melepaskan genggaman mereka dan berdiri.


"Sean!" Sheila beralih menghampiri Sean yang berjalan ke arah Zee. "Aku merindukanmu."


Suara bernada manja itu milik Sheila. Ia memeluk dan mencium pipi Sean tanpa permisi di depan semua orang yang ada.


"Sheila!" Sean berseru dengan nada penuh tekanan menatap Sheila tajam.


"Kenapa? Bukankah sejak dulu kau tak keberatan aku seperti ini?" Sheila menggelayuti lengan Sean membuat pria itu merasa risih. Sekali hentakan Sean melepaskan tangan Sheila yang menggelayuti lengannya. Ia beralih duduk di sisi Zee.


"Kalian mengobrol bertiga dulu, ok? Mommy akan ikut memasak di dapur." Alana baru saja akan berdiri, tetapi tangan Zee menahannya.


"Aku ikut, Mom. Bolehkah aku belajar memasak darimu?" tanya Zee.


"Ofc sweety, come with me." Alana ikut memegang tangan Zee dengan senyumannya.


"Tidak!" Suara Sean menghentikman langkah kedua wanita itu.


"Kau tidak boleh memasak, Sayang. Di sana banyak benda yang bisa membahayakanmu." Sean menggenggam tangan Zee yang berdiri di sisinya baru saja akan melangkah.

__ADS_1


"Tapi aku ingin belajar memasak dengan Mommy, sekaligus saling mengenal satu sama lain. Ya kan, Mom?" tanya Zee menatap Alan di belakangnya untuk meyakinkan Sean.


"Ya tentu saja! Sean jangan seperti ayahmu! berikan Zee sedikit ruang!" Alana angkat suara.


"Tapi, Mommy-"


"Bukankah kalian sudah lama tak bertemu? Kalian berbincanglah berdua." Zee memotong perkataan Sean yang hendak membantah.


"Dia benar Sean! Biarkan Zee memasak, lagipula dia menginginkannya." Sheila ikut angkat suara.


"Enjoy with her." Zee melepaskan tangan Sean yang memegang tangannya dan berlalu bersama Alana ke dapur.


📍📍📍


"Kenapa Mommy memasak sendiri?" tanya Zee memulai pembicaraannya.


"Aku hanya ingin membuat makanan untuk keluargaku dengan kedua tanganku sendiri," ucap Alana sembari membuka lemari pendingin untuk mengeluarkan bahan masakan yang akan di olah.


"Sebenarnya, aku ingin menebus kesalahanku dulu karena aku menelantarkan Sean sejak kecil. Kepribadian dan sikapnya adalah tanggung jawab kami sebagai orang tua. Aku dan Julian sering meninggalkannya sejak kecil karena tuntutan pekerjaan kami hingga Kami melupakan dan melewatkan tumbuh kembang Sean. Hingga saat ia beranjak dewasa dan memutuskan untuk keluar rumah, aku menyadari kesalahanku..."


"Aku terlalu takut mengucapkan maaf padanya, jadi aku berusaha agar ia tak merasa kesepian meskipun aku tau itu terlambat." Zee merasakan perasaan bersalah yang amat dalam pada nada suara Alana. Ia menghampiri wanita itu dan mengusap punggungnya.


"Aku yakin Sean mengerti, Mom," ucap Zee.


"Maafkan aku Zee... Tak seharusnya aku bicara ini padamu." Alana tertawa kecil merasa bersalah.


"Tentu saja kau putriku, kau calon menantuku." Alana tertawa kembali.


"Bagaimana orang tuamu Zee?" tanya Alana.


"Ayahku tinggal di Indonesia, dan ibuku sudah meninggal sejak aku kecil," ucap Zee sedikit terlihat murung ketika mengatakannya.


"Aku merantau sampai sini untuk kuliah bersama temanku," tambah Zee.


"Maafkan aku Zee, aku tak tahu. Pasti berat mengalami semua itu, kan? Sekarang kau memilikiku sebagai ibumu, Sayang." Alana membawa Zee ke dalam pelukannya.


"Thank u, Mommy." Zee membalas pelukan Alana yang memberikan kenyamanan yang sama ketika ia memeluk mendiang ibunya.


"Sekarang ceritakan bagaimana kau dan Sean bertemu Zee." Alana melepas pelukan keduanya dan menatap Zee penuh binar.


"Kami bertemu di... di kampus, dan yaa begitulah kami dekat." jawab Zee seadanya. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya pada ibunya, kan?


"Bagaimana dia menyatakan cintanya?" tanya Alana kembali.

__ADS_1


"Dia... dia bilang, dia menyukaiku," jawab Zee ragu.


"Itu saja? Dia itu benar-benar mirip sekali dengan ayahnya! Kau tau? Julian juga begitu padaku saat kami berpacaran dulu Zee. Dia mengklaimku seenaknya dengan bilang bahwa aku ini pacarnya pada seantero kampus membuat aku jengkel setengah mati padanya!" Alana terlihat bernostalgia.


"Dia memang dingin dan kaku tetapi itu menjadi keistimewaannya di mataku. Cara dia perhatian dan posesif padaku, menunjukkan kasih sayangnya padaku dengan cara berbeda membuat aku jatuh cinta padanya. Dan aku yakin, Sean memiliki cara tersendiri dan berbeda dari yang lain untuk menunjukkan cintanya padamu. Aku bisa melihat dan tau bagaimana putraku menatapmu dan cara dia memperlakukanmu." Zee memang bisa melihat dan merasakannya.


"Aku tau dia memang suka bermain wanita, tetapi dia sangat bodoh tentang perasaan dan wanita." Alana terkekeh. Ucapannya sama persis dengan Aurel.


"Kudengar dari Aurel dia tak sudi membawa sembarangan wanita ke mansion pribadinya, termasuk Sheila sahabatnya. Tapi kau dengan mudahnya bisa keluar masuk ke sana. Dia belum pernah sekalipun membawa seorang gadis pada kami, dan kau adalah gadis pertama yang dibawa Sean pada kami Zee. Jadi kuharap, kau bisa menjadi yang terakhir untuknya." Alana memotong bawang di tangannya sembari mengucapkan permohonan itu pada Zee membuat Zee diam tak tahu harus menjawab apa. Ia tak bisa mengatakan janji padanya yang tidak bisa ia tepati.


Obrolan-obrolan ringan menyelipi sela-sela acara memasak keduanya hingga beberapa jenis masakan selesai terhidang di meja makan.


Haaaah


Keduanya menghela napas dan mengelap keringat di dahi mereka dengan punggung tangannya. Mereka saling pandang dan tersenyum puas menatap hasil karya mereka yang sudah terhidang rapi di meja makan.


"Aku akan memanggil Julian, kau panggil Sean dan yang lainnya ya Zee," perintah Alana yang diangguki Zee.


"Siap, Mommy." Zee kembali ke ruang keluarga tempat ia meninggalkan Sean dan Sheila berdua.


Memikirkan itu kembali membuat mood Zee turun. Bisa-bisanya gadis itu mencium Sean di depan matanya sendiri yang adalah tunangannya! Ia menghentak-hentakan kakinya ke lantai sembari menggerutu dalam hati.


"Kenapa dengan kakimu, Sayang?" Suara Sean benar-benar membuat Zee terkejut. Ia sedikit menjauhi Sean dan menatapnya kesal.


"Selalu saja mengejutkanku!" ketus Zee.


"Maaf, Bae..." Sean kembali memeluk pinggang Zee.


"Panggil Sheila untuk ke meja makan." Zee melepaskan tangan Sean yang memeluknya dan melenggang pergi.


"Hai Zee," sapa seorang pria dari arah berlawanan Zee.


"Hai Zach, kapan kau sampai?" tanya Zee sembari tersenyum menatapnya.


"Baru saja. Aku akan memanggil Aurel sekalian dengan Sheila." Zach berlalu setelah mendapat anggukan Zee.


Zach menepuk pundak Sean yang berada beberapa meter di belakang Zee. "Kau menunggu apa? Cepat kejar dia sebelum dia bertambah marah, Bodoh!" Sean mendengus dan segera menyusul Zee. Itulah yanh akan ia lakukan.


-


-


-

__ADS_1


tbc


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2