
"Jangan memakai pakaian pendek, jangan terlalu dekat dengan pria lain selain pemuda itu, jangan terlalu lelah atau stres, jangan-"
"Sean, I know," potong Zee kesal. Telinganya sudah mendengar berulang kali kalimat Sean seperti itu.
"I just worry, Bae." Sean sekali lagi mengecup tangan Zee yang ia genggam.
"Fokuslah menyetir," perintah Zee.
"Ah, dan satu lagi, beritahu aku apapun. Kapanpun." Sean menatap Zee sekilas.
"Sean!" seru Zee kesal.
"Baiklah," jawab Sean terkekeh kecil.
Zee tidak mengatakan apapun karena Sean yang menyetir lebih lambat dari biasanya. Kesal bercampur lucu pada Sean karena tingkahnya. Sehingga mobil berhenti di depan apartemen Zee jauh lebih lambat dari perkiraan.
Sean menahan tangan Zee yang baru saja akan melepaskan sabuk pengamannya. Zee menoleh ke arah Sean yang menundukkan kepalanya, tanpa menatap Zee. Dalam sekali lihat, ia bisa mengetahui jika Sean tidak ingin ditinggalkan olehnya. Namun, perjanjian tetaplah perjanjian.
"Sean..." Zee ikut menyentuh tangan Sean yang menggenggamnya.
Sampai akhir, ia harus terus membujuk Sean yang tidak mudah melepaskannya. Ia jadi membayangkan bagaimana jika suatu saat mereka mendapati masalah yang tidak bisa diperbaiki di antara mereka dan takdir memisahkan mereka. Zee menggeleng, tidak ingin membayangkan sesuatu yang belum terjadi.
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu atau bayi kita? Bagaimana jika kau menginginkan sesuatu? Bagaimana jika-" Zee memotong pertanyaan-pertanyaan Sean dengan mengecup pipinya.
Sean kali ini menoleh menatap pada Zee. Bisa Zee lihat, ada sebuah tatapan penuh permohonan yang ada di wajah Sean padanya. Persis seperti seorang anak yang tidak ingin ditinggalkan oleh ibunya.
Zee berusaha melepaskan tangan Sean yang menggenggamnya. Membuat Sean semakin menatapnya penuh permohonan dan menggelengkan kepalanya. Setelah berhasil terlepas, Zee tiba-tiba naik ke atas pangkuan Sean.
"I trust you, and you must trust me, Sean." Zee mengalungkan tangannya pada leher Sean.
"I trust you, Bae. I just... I..." Sean tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Zee semakin menatapnya dalam.
Sean memeluk Zee erat, semakin mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin melepas Zee. Untuk sekarang, Zee membalas pelukan Sean karena ke depannya ia juga tidak akan bisa selalu memeluknya atau tidur tanpa pelukan Sean.
"Hei, kita hanya berpisah tempat tinggal saja. Itupun hanya sementara. Bukankah kita akan segera menikah? Dan aku juga yakin sepertinya, kita akan sering bersama sebelum hari pernikahan kita." Tawa Zee memenuhi mobil Sean.
"Aku akan mempercepat pernikahan kita," ucap Sean.
"Aku tidak berharap demikian," bisik Zee lirih.
"Apa?!" Sean yang mendengarnya bertanya dengan nada meninggi.
__ADS_1
"Ssttt!" Zee segera membekap mulut Sean dengan tangannya.
"Aku akan pergi," ujar Zee seraya berusaha berdiri dari duduknya di pangkuan Sean.
Sebelum Zee berhasil berpindah, Sean lebih dulu mencium bibir Zee. Menciumnya dengan terburu-buru dan sedikit liar, seolah itu adalah ciuman terakhir mereka. Sedikit demi sedikit Zee mulai terbawa dalam rayuan Sean yang merayunya dalam kabut gairah. Jika ia tidak segera menghentikan ini maka akan terus berlanjut.
"Sean, enough." Zee bernapas terengah-engah setelah terlepas dari bibir Sean. Begitu pun dengan Sean.
"Aku akan pergi." Setelah merapikan penampilannya, Zee akhirnya turun dari mobilnya. Begitu pun dengan Sean yang ikut turun dari mobil dan mengikuti Zee.
"Aku hanya akan mengantar sampai di dalam," ucap Sean seraya mengambil kembali tangan Zee untuk ia genggam.
"Alasan," jawab Zee yang tak ayal tetap membiarkan Sean.
Setelah berada di dalam lift yang sepi, Sean kembali hendak melancarkan aksinya. Berbuat mesum pada Zee, dirasa mendapatkan kesempatan. Zee tidak kembali terpengaruh dan menghentikan Sean. Sampai mereka berada di depan pintu apartemen.
"Zee?!" Begitu membuka pintu apartemen, suara kencang seseorang menyambut kedatangan Sean dan Zee.
"Zee!" Kyra segera berlari ke arah Zee dan memeluknya erat. Membuat Sean sedikit mundur dan membiarkan keduanya.
"Gimana kabar lo dan kandungan lo?" Kyra segera mengecek seluruh anggota tubuh Zee dan berakhir di perutnya. Meski Sean tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kyra, ia bisa mengerti maksudnya.
"Aku dan dia baik-baik aja, Ra." Zee tersenyum memperhatikan Kyra yang begitu antusias.
"Tebak siapa yang datang?" Kyra berbalik menatap pada Aidan.
"Kejutan!" seru Zee.
"Sebuah kejutan," jawab Aidan dan segera menghampiri Zee dan memeluknya.
Sean lagi-lagi hanya diam dan berdiri di tempatnya. Memperhatikan interaksi antara mereka bertiga. Membiarkan mereka, meski dirinya tidak dianggap keberadaannya. Melihat Zee begitu bahagia dan nyaman di antara mereka membuat Sean ikut bahagia. Meski ia harus membiarkan Zee dan berpisah darinya, hatinya lega meninggalkan Zee.
"Ayo kita masuk ke dalam," ucap Kyra yang sudah menyadari kehadiran Sean dan mengakhiri acara peluk memeluk mereka.
"Saya akan pergi setelah mengantar Zee. Itulah janjinya," jawab Sean menatap pada Zee yang kini telah berbalik dan menatapnya.
"Maksudnya?" Kyra bertanya dengan alis menyerngit tanda tidak mengerti.
"Aku akan kembali tinggal di sini sebelum pernikahan kami," jawab Zee dengan ekspresi wajah yang begitu berseri.
"Serius?" tanya Kyra heboh. Ketika anggukan sudah dilihat oleh Kyra, gadis itu semakin bersemangat. Sekali lagi Kyra memeluk Zee.
__ADS_1
"Sampai jumpa, aku akan menghubungimu nanti. Dan akan segera memberitahumu jika ada sesuatu," ucap Zee seraya menggenggam tangan Sean.
"Harus," jawab Sean yang diangguki Zee.
"Jaga dirimu," ucap Sean kemudian mencium dahi Zee lembut.
Zee berjinjit dan balas mencium bibir Sean. Sean membeku beberapa detik setelah mendapat ciuman dari Zee. Jika seperti ini terus, ia kembali lemah dan baru saja merindukan Zee.
"Bagaimana jika aku membawamu kembali, Baby girl?" tanya Sean memeluk Zee.
Kyra dan Aidan yang kali ini diam. Memperhatikan interaksi mereka yang begitu manis. Siapapun bisa melihat bagaimana dan seberapa besar cinta Sean pada Zee. Begitu pun dengan Kyra dan Aidan yang bisa melihat cinta di antara Sean dan Zee.
"Pergilah," ujar Zee melepaskan pelukan mereka. Sean mau tak mau keluar setelah sedikit dorongan dari Zee.
"Sean so sweet!" pekik Kyra begitu Sean sudah keluar dari apartemen.
"Zee! Are you serious?!" Kyra memegang kedua bahu Zee dan mengguncangnya.
"Yea, totally serious. So stop!" Zee menaikkan nada suaranya di kalimat terakhir.
"Selamat datang kembali di rumah, My little sister." Aidan sekali lagi menyambut Zee.
"Ayo kita masuk dan mengobrol lebih banyak," lanjutnya.
Sean sampai di depan mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia mengambil ponselnya yang berada di dalam saku jasnya. Menekan nomor seseorang dan menempelkannya di telinga.
"Cari orang untuk menjaga calon istriku. Harus profesional dan ahli untuk tidak diketahui olehnya." Tanpa menunggu jawaban apapun, Sean menutup telponnya lebih dulu. Ia masuk ke dalam mobil dan menjalankannya.
__ADS_1
To be continued