Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 62 : Miss him


__ADS_3

Sean terbangun dari tidurnya setelah sekian lama sejak ia terakhir kali tidur pulas. Sudah 10 hari lebihnya ia memaksakan diri untuk bekerja lebih cepat dari biasanya untuk segera menyelesaikannya. Demi bisa pergi bersama dengan Zee ke kampung halamannya menemui ayah dari gadis itu dan meminta restu padanya. Ia menggapai ponsel yang berada di atas nakas sisi ranjangnya. Menatap foto tunangannya lama di layar ponselnya yang ia jadikan wallpaper.


"Ia bahkan sama sekali tidak menghubungiku duluan setelah telpon itu. Apa ia tidak merindukanku?" gumam Sean yang menggerutu pada wanitanya yang begitu bersikap dingin hanya karena hal itu.


"Wanita yang dingin," decak Sean kesal. Namun, tak lama ia kembali tersenyum dan mencium layar ponselnya sendiri. "Tapi aku mencintaimu."


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Ia menoleh dan membiarkannya untuk masuk ke dalam. Tak lama terlihatlah Marlyn dengan senyum hangatnya masuk ke dalam kamar.


"Kau tampak tidur dengan sangat nyenyak semalam tanpa Zee. Kau pasti sudah bekerja keras," ucap Marlyn.


"Benarkah?" Marlyn mengangguk. Tentu saja karena ia tidak tidur dengan benar selama 10 hari lebihnya.


"Ngomong-ngomong, Axel sudah ada di bawah." Suara Marlyn kembali mengintrupsi.


"Aku datang untuk mengatakan itu," lanjut Marlyn.


"Aku akan bersiap kalau begitu." Sean segera beranjak dari atas kasurnya. Ada sesuatu yang harus ia lakukan lebih dulu sebelum menemui tunangannya sore nanti.


Zee masih berbaring di atas tempat tidurnya, bermalas-malasan, tanpa melakukan apapun di hari Minggu yang cerah ini. Ia menatap bergantian pada luar jendela, jam dinding, dan ponsel miliknya. Menunggu seseorang yang menghubunginya sejak tadi. Lebih tepatnya sejak 2 minggu yang lalu. Sudah dua kali hari minggu yang ia lewati hanya berbaring di atas kasurnya seperti ini. Ia juga ingin melakukan apa yang Kyra dan Aidan lakukan di hari Minggu. Namun, Sean bahkan tidak sama sekali menghubunginya.


Setelah pembicaraan terakhir kali mereka yang ia memarahi Sean, setelah hari itu terjadi, Zee mulai menyesali perbuatannya yang terbawa emosi. Ia ingin menunggu Sean menghubunginya lebih dulu lalu ia akan bersikap dingin supaya pria itu akan membujuknya. Namun, pria itu bahkan sama sekali tidak menghubunginya lagi. Hilang tanpa adanya kabar apapun. Seperti orang-orang yang Sean perintahkan untuk memata-matainya.


"Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?" gumam Zee bertanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba ia bangun dan membuka laci nakasnya. Sebuah foto dari janin yang kandung yang ia dan Kyra periksaan hari itu ke dokter kandungan. Ia ingin menunjukkan foto itu pada pria itu lebih dulu sebelum ke Aidan. Namun, lagi-lagi pria itu bahkan sama sekali tidak ada kabarnya.


"Dia sudah meninggalkan kita, Nak." Zee mulai berbicara pada foto tersebut sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Setelah mengatakan hal-hal yang tidak mungkin di dengar oleh janin yang bahkan belum tumbuh sempurna sebagai bayi di dalam perutnya, Zee perlahan-lahan meneteskan air matanya. Sudah lelah dengan penantian ini. Jika membayangkan Sean benar-benar memang meninggalkannya, Zee dirundung rasa ketakutan. Segera ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Sean tanpa berpikir panjang lagi. Namun, sampai di nada dering terputus, tidak ada jawaban dari Sean membuat tangis Zee semakin kencang.

__ADS_1


Kyra yang mendengar suara tangis Zee dari luar hanya menggelengkan kepalanya sambil mendecakkan lidahnya. Ia bergabung bersama Aidan di sofa.


"Tidakkah seharusnya kita menenangkannya?" tanya Aidan sambil terus menatap pintu kamar Zee yang tertutup yang mengeluarkan suara tangisan Zee dari dalam.


"Jangan, kalau kamu gak mau jadi sasaran kemarahan Zee!" seru Kyra yang langsung mengingat momen-momen apa saja ketika ia berusaha menghibur Zee, ia justru terkena amarahnya tanpa alasan yang jelas.


"Zee yang kita kenal, bukan Zee yang kita kenal." Perkataan Kyra membuat Aidan menyerngit tak mengerti.


"Maksudmu?" tanya Aidan.


"Ai, apa kamu gak tau wanita hamil itu bisa berubah?" tanya Kyra menatap horor Aidan. Dengan polosnya Aidan menggelengkan kepalanya.


"Pantas saja karena kau sudah lama tidak bertemu dengan Zee. Dan aku yang harus menjadi sasarannya," ucap Kyra sedih.


"Sejak dia hamil, emosinya menjadi lebih cepat meningkat. Tidak hanya itu, ia juga akan sangat labil. Dan yang terparah, aku harus selalu memberikan apa yang diinginkannya. Selama dua minggu ini bersama dengan dia, aku menderita, Ai." Kyra berkata dengan mendramatisir.


"Apa maksudmu?" tanya Aidan.


"Aku lupa menceritakan padamu, kalau beberapa hari yang lalu, Zee kesal pada tunangannya karena terus dimata-matai. Jadi, ia memarahinya di telpon. Tuan Rexford melakukan itu untuk melindungi Zee. Seharusnya dia tidak memarahinya dan berakibat ia yang menyesal sendiri," jelas Kyra.


"Jadi, Tuan Rexford belum menghubungi Zee selama itu?" tanya Aidan.


"Mungkin," jawab Kyra mengangkat bahunya.


"Kamu ini bukannya menghibur Zee atau membuatnya merasa lebih baik. Dan juga, sesibuk apapun Tuan Rexford, dia seharusnya menghubungi Zee!" Aidan berkata dengan nada yang kesal.


"Dia akan menjadi lebih baik nantinya. Dan, aku yakin Tuan Rexford memiliki alasan tidak menghubunginya." Kyra menjawab yang juga dengan nada kesal.


"Karena dia juga wanita hamil, dia seharusnya tidak boleh stres berlebihan. Apalagi dia memiliki riwayat penyakit mental. Bagaimana jika Tuan Rexford memang berniat menghilang selamanya?" tanya Aidan mencerca Kyra.

__ADS_1


"Ti-tidak, tidak mungkin seperti itu. Aku mendengar dari Zee, jika mereka sudah bertemu dengan orang tua Tuan Rexford dan mereka sangat menyayangi Zee." Kyra menyangkal.


"Aku akan mendatangi Tuan Rexford dan meminta dia bertanggung jawab. Kamu tenangkan Zee saja, ia sudah menangis sejak tadi." Aidan beranjak dari duduknya.


Namun, sebelum Aidan melangkah, suara bel dari pintu apartemen mereka berbunyi. Kyra dan Aidan saling pandang.


"Aku akan membuka pintunya," ucap Kyra pergi untuk membukakan pintu.


Ketika Kyra membuka pintu, senyum mengembang di bibirnya, mengetahui siapa yang datang. Tidak dengan Aidan yang justru menatap kesal pada orang yang berdiri di depan pintu. Baru saja mereka membicarakannya, ia sudah datang kemari.


"Zee, tebak siapa yang datang?" Kyra berteriak untuk memanggil Zee keluar.


"Aku tidak peduli!" teriak Zee dari dalam kamar.


"Lihat dulu siapa yang datang!" perintah Zee kembali.


Aidan bergerak untuk mengetuk pintu kamar Zee. "Zee, tunanganmu-"


Sebelum Aidan menyelesaikan perkataannya, pintu kamar Zee lebih dulu terbuka. Menampakkan Zee dengan penampilan yang sangat berantakan dan berwajah kesal menatap tajam pada Kyra. Namun, tatapannya berubah ketika ia menjatuhkan atensinya pada orang di depan Kyra. Zee menutup pintu kamar kembali.


"Zee!"


-


-


-


To be continued

__ADS_1


__ADS_2