Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter dua puluh : Little happiness


__ADS_3

Sinar matahari masuk ke dalam jendela kamar yang besar menyorot pada kedua insan yang masih setia memejamkan matanya. Tampak begitu nyaman di posisinya. Salah satu dari mereka terbangun lebih dulu, menatap objek pertama yang ia lihat pertama kali saat ia membuka matanya. Gadis cantik yang masih setia memejamkan matanya dengan mulut sedikit terbuka membuat ia semakin menggemaskan di mata seseorang yang tengah memperhatikannya. Selalu cantik kapanpun, dimanapun, bagaimanapun. Sean menyingkirkan anak-anak rambut Zee yang sedikit berantakan. Gadis di dalam pelukannya sedikit terusik tetapi tak terbangun. Hanya merapatkan tubuhnya pada Sean mencari kenyamanan di dada bidangnya.


Apa sekarang ia mulai mencintai gadis ini?


Kenapa setiap kali Zee dalam bahaya dirinya selalu kehilangan kendali dan terasa seakan sesuatu meremas jantungnya?


Kenapa ia tak ingin gadis dalam pelukannya kenapa-napa atau pergi dari sisinya?


Kenapa sekarang rasa obsesinya pada gadis ini berubah menjadi rasa ingin melindungi?


Sean tak tahu ini apa, tetapi yang dirasakannya sekarang, akan ia jaga sampai kapanpun. Perlahan namun pasti, Sean menarik tangannya yang menjadi bantal bagi Zee. Setelah terlepas, ia perlahan melepaskan tangannya pada pinggang Zee agar tak terbangun. Sean duduk di sisi ranjang meregangkan ototnya yang terasa sedikit pegal. Setelahnya berjalan menuju walk in closet untuk menyegarkan tubuhnya. 30 menit, Sean keluar dengan keadaan yang sudah lebih segar. Ia menatap ke atas ranjang yang masih ditiduri Zee dengan lelapnya. Sean membiarkannya saja sampai Zee bangun dengan sendirinya. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan menyiapkan sarapan sendiri untuk Zee.


"Selamat pagi Marlyn," sapa Sean dengan senyuman hangatnya.


"Selamat pagi Sean," jawabnya juga dengan senyuman yang sedikit menggoda Sean.


"Apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Marlyn yang merasa Sean sedikit berbeda dari biasanya. Lebih hangat dan bahagia.


"Ya... "


"Apa itu dari Zee?" tanya Marlyn kembali.


Sean mengangguk "Zee memanggil namaku kembali untuk pertama kalinya. Apa ia mulai mempercayaiku lagi?"


"Puji tuhan terima kasih banyak." Marlyn menangkupkan kedua tangannya di depan dada menutup matanya berterima kasih pada tuhannya. Sean ikut tersenyum.


"Semoga ini menjadi awal yang bagus untuk kalian! Aku menantikannya," ucap Marlyn kemudian.

__ADS_1


Sean mengangguk. "Aku ingin memasak untuk sarapan Zee, Marlyn."


"Hoho... baiklah. Kendali dapur ada padamu kapten." Marlyn tertawa kemudian meninggalkan dapur setelah menepuk bahu Sean.


Sean mengambil apron dan mulai berkutat dengan peralatan dapur. Ia mengambil beberapa bahan masakan dari dalam lemari pendingin kemudian mengolahnya. Gerakannya cekatan dan lihai untuk seseorang yang sudah lama tak memasak di dapur. Dirinya yang biasa tampil sempurna dan rapi dengan balutan jas mahal di dalam ruangan ber-ac, kini berubah menjadi Sean rumahan dengan kaos pendek maroon dan jeans sebatas lutut serta apron yang ia kenakan bergambar teddy bear membuat kesan keimutan Sean meningkat.


Tak lama telur mata sapi, sosis, dan bacon sudah terhidang diatas piring dengan sempurna. Sean beralih membuat susu untuk dua gelas. Kursi pantry yang bergeser mengalihkan atensi Sean untuk membalikkan tubuhnya ke arah meja pantry. Seorang gadis terlihat kesulitan untuk duduk di salah satu kursi karena kakinya yang bengkak menyulitkan dirinya. Sean terkekeh kecil melihat Zee yang sudah seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Ia menghampiri Zee dan mengangkat tubuhnya dengan mudah, mendudukmannya di kursi.


"Kenapa kau tak menungguku di kamar saja? Kan sudah ku bilang kakimu belum benar-benar sembuh," ucap Sean seraya menyentuh hidung Zee. Bibirnya mendarat di dahi Zee yang tertutupi poni, mengecupnya lembut.


Pipinya mulai memanas dan merah lagi. Pilihannya sepertinya salah dengan datang kemari. Sean kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Setelah mengaduk kedua susu di masing masing gelas, Sean menghidangkan sarapan yang tadi ia masak dan susu putih untuk Zee dan untuknya.


"Selamat makan," ucap Sean. Dengan ragu-ragu, Zee mengambil garpu dan pisau kemudian mulai menyuapkan sosis ke dalam mulutnya.


Sean tak berhenti menatap setiap pergerakan Zee dengan senyuman yang masih menghiasi wajah tampannya. Semua makanan sudah habis tak bersisa. Zee meneguk susunya hingga tandas juga. Sean berdiri untuk mengambil air putih untuk Zee.


"Selamat pagi, Tuan Rexford," sapa Dokter Johan ramah setelah menyadari keberadaan Sean. Sean hanya mengangguk menjawab sapaan.


Wajah datar dan dinginnya kembali. Moodnya sedikit turun karena melihat dokter itu. Tapi lagi-lagi ia menekan ketidaksukaannya demi kesembuhan Zee.


"Sebaiknya kalian bicara di tempat yang lebih tenang," ucap Sean datar, lebih tepatnya pada DokterJohan.


"Baiklah, asalkan nona Alanza nyaman." Sean memimpin jalan dengan memapah Zee menuju ke perpustakaan pribadinya di lantai tiga.


Ketiganya masuk ke dalam lift. Sean meninggalkan Zee dengan Dokter Johan untuk mengobrol, dirinya pergi mengambil beberapa buku untuk menutupi wajahnya yang sedang menguping pembicaraan keduanya. Rasa tidak suka Sean masih tetap ada ketika melihat kebersamaan Dokter Johan dan Zee. Meskipun hubungan keduanya hanya hubungan dokter dan pasien.


Jarak mejanya dengan keduanya membuat ia tak terlalu jelas mendengarkan. Ia hanya melihat Zee yang hanya membuka mulutnya dua kali untuk menjawab pertanyaan dokter Johan. 30 menit dokter Johan akhirnya selesai dengan perbincangannya bersama Zee dan keluar dari perpustakaan. Tanpa menyadari adanya Sean. Sean menghampiri Zee yang seorang diri.

__ADS_1


"Bae, aku antar kembali ke kamar, ya?" tanya Sean.


Zee nampak enggan dengan ajakan Sean. Ia hanya duduk diam, bergeming ketika Sean mengajaknya. Sean yang mengerti pun akhirnya mengelus rambut Zee lembut. "Kalau kamu masih pengen disini gapapa, ada yang harus aku omongin sama Dokter Johan." Sean mengecup dahi Zee sebelum ia meninggalkannya.


Setelah kepergian Sean, Zee menatap sekelilingnya yang dipenuhi rak-rak buku dan terisi penuh buku sepanjang matanya memandang. Sofa besar dan meja kaca tempat untuk membaca buku, tempat ia duduk sekarang. Dari tempat ia duduk, ia dapat melihat melalui kaca transparan perpustakaan yang berhadapan dengan gym. Ya gym, karena di dalamnya terdapat beberapa alat olahraga dan barbel dengan berbagai berat. Tak heran jika Sean memiliki tubuh yang atletis. Tak perlu di ragukan lagi, pria itu pasti rajin olahraga dan menjaga tubuhnya agar tetap atletis.


Ia mulai berdiri dan menjelajahi rak demi rak buku. Sebagian besar adalah buku tentang bisnis, tentang kesehatan dan manusia, novel dan juga komik. Zee memang tak terlalu suka membaca buku, hanya buku-buku tertentu yang bisa menarik minatnya. Aroma buku-buku yang khas juga menjadi salah satu kesukaan Zee.


Kakinya berhenti di depan rak buku novel. Tangannya menarik salah satu novel bersampul hitam dan ungu berjudul 'After' karya penulis Anna tod. Dari gambar covernya, ia sudah bisa menebak novel ini adalah novel bergenre romance.


Pertama ia mencium aroma buku yang baru saja ia buka, menghirup dalam baunya. Ahh bau yang selalu ia sukai. Ia membaca sinopsis buku tersebut dan mulai membaca isinya. Cukup lama ia tenggelam dalam novel yang ia baca hingga tak menyadari ada seseorang yang berjalan mengendap-ngendap dibelakangnya. Setelah berada di dekat Zee sosok itu langsung memeluk tubuhnya dari belakang membuat Zee terkesiap.


"Apa yang kau baca?" Sean bertanya.


Zee diam masih sibuk menormalkan detak jantungnya yang meningkat. Entah karena terkejut atau takut berada di dekat Sean, jantungnya berdetak cepat.


"Kita kembali ke kamar untuk beristirahat." Tanpa mendengar jawaban Zee, Sean langsung menggendong Zee yang lagi-lagi Zee terkejut karena perlakuan Sean. Perlahan tangan Zee mulai melingkari leher Sean, membuat senyum tipis terukir di bibir pria yang menggendongnya.


*


*


*


tbc


Follow ig Riby_Nabe

__ADS_1


__ADS_2