Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 39 : Stuck with me


__ADS_3

Matahari sudah menampakkan dirinya. Cahayanya sudah mencoba masuk ke dalam ruangan melalui celah-celah gorden. Namun kedua insan yang masih terlelap tidur dibawah selimut yang sama ini tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Terlihat begitu nyaman pada posisi keduanya. Suara nada dering dari ponsel yang berada di meja nakas membuat salah satu dari kedua insan itu merasa terusik. Perlahan bola mata itu terbuka menampilkan warna biru keabu-abuan yang jernih.


"Emm, Kyra jangan ganggu aku."


Zee mengigau dalam tidurnya sebab tangan Sean yang memeluknya bergerak berusaha melepaskan pelukannya. Zee semakin merapatkan tubuhnya pada Sean, mencari tempat ternyaman dalam dada bidang Sean. Perlahan namun pasti, Sean kembali berusaha menggapai ponselnya yang terus berdering tanpa menganggu Zee yang masih terlelap dalam pelukannya.


Dan, berhasil!


Sean mengambil ponselnya dan menggeser touch screennya ke arah tombol hijau dan menempelkannya pada telinganya. Suara nyaring di seberang sana menyapa pendengaran Sean begitu ponselnya menempel pada telinganya, membuat Zee sedikit terusik. Tangan kirinya yang dijadikan bantalan Zee mengusap lembut rambut Zee agar kembali nyenyak dalam tidurnya.


"Mommy.. kecilkan suaramu, Zee masih tidur." Sean menekan suaranya namun tetap menjaga nada suaranya.


"Ada apa?" tanya Sean setengah berbisik.


"..."


"Aku masih disini."


"..."


"Baiklah, lagipula aku ada sedikit urusan dengan Zach."


"..."


"Tidak."


"..."


"hmm."


"..."


"Iya aku akan membawa Zee, kami akan kesana siang ini."


"..."


"Malam ini."


"..."


"Bye."


Sambungan terputus ketika ibunya sudah selesai bicara. Sean kembali meletakkan ponselnya di meja nakas. Ia beralih menatap wajah Zee yang masih terlelap dengan nyenyak di dalam pelukannya. Tangannya terangkat untuk merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah cantik Zee. Manis dan cantik, selalu dan kapanpun. Dimata Sean.

__ADS_1


"Bae... "


"Hei, Gorgeous..."


Sean mengelus pipi mulus Zee dengan ibu jarinya. Namun tentu saja, itu tak akan membuat ratu tidur seperti Zee terbangun. Akhirnya Sean memilih untuk melepaskan pelukannya, ia perlahan menarik tangannya yang dijadikan bantal dan menggantinya dengan bantal empuk. Ia bangkit untuk menuju ke kamar mandi dan memulai ritual mandinya.


Zee membuka matanya perlahan ketika suara pintu terbuka dan tertutup kembali terdengar. Tanda bahwa Sean sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ia bangkit berdiri dan membuka knop pintu kamar. Kaki telanjangnya yang jenjang dan putih berjalan menuruni anak tangga yang melingkar. Langkah kakinya membawanya ke arah meja pantry. Ia duduk di salah satu kursi dan mengambil gelas yang berada di depannya, kemudian menuangkan air. Setelah air putih tersebut meluncur melalui kerongkongnnya, tenggorokannya baru merasa lega.


Zee turun dari kursinya dan berjalan ke arah kulkas, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tangannya terulur mengambil apel merah yang terlihat menggiurkan. Ia menggigit kuat-kuat apel itu dan menutup pintu kulkas kembali. Berjalan kembali menuju sofa didepan tv sembari menggigit apel yang dibawanya.


Membosankan! tayangan televisi pagi sangat membosankan, karena hanya ada berita pagi saja. Tangannya menekan terus tombol untuk berganti chanel.


"Billionaire muda yang sukses dan most wanted man seantero London ini akhirnya melabuhkan hatinya! Wanita beruntung ini diketahui adalah seorang mahasiswi di universitas milik salah satu keluarga terkaya di negara ini..."


Jarinya berhenti menekan karena telinganya menangkap suara wartawan yang membacakan berita tersebut. Atensinya mengarah sepenuhnya pada berita yang dibawakan. Inikah bayaran yang harus ia terima karena berhubungan dengan pria itu?


Cup!


Lamunannya buyar ketika seseorang mendaratkan kecupan manis itu pada pipinya. "Morning, Bae." Zee mendongak menatap Sean yang tersenyum manis, sudah terlihat begitu rapi dan segar dengan pakaian casualnya.


"Kau sedang menonton apa?" tanya Sean, mengalihkan atensinya pada televisi. Ia mengambil tempat di samping Zee, ikut menonton televisi yang menyiarkan berita pertunangannya semalam


"Apa kau mau pergi?" tanya Zee balik.


"Kemana?" tanya Zee kembali.


"Kita akan ke mansion orang tuaku sekarang. Bae, kau mandilah dan bersiap, ya?" Sean memerintahkannya dengan lembut.


"Tapi ada apa?" tanya Zee.


"Ibuku hanya ingin bertemu denganmu sebelum kita kembali ke London." Zee menelan ludahnya susah payah, ia masih saja takut pada ibu pria itu karena telfon yang diangkatnya. Meski yang ia maksud adalah dirinya sendiri saat ia tidak tau.


"Babe?" Suara Sean kembali terdengar membuat lamunan singkatnya buyar.


"Ha? Ya? Baiklah aku mandi." Zee mendadak salah tingkah dan berdiri dari duduknya untuk menuju kamarnya kembali.


Zee segera berendam di dalam bathup begitu masuk ke dalam kamar mandi. Membiarkan wangi segar dan manis dari sabun beraroma buah-buahan menempel di tubuhnya. Entah kenapa, ia ingin tampil sempurna di depan ibunya Sean. Jadi ia ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin. Setelah cukup lama di dalam bathup hingga kulitnya mengerut, ia berdiri di bawah shower dan membilas tubuhnya. Selesai dengan mandi, tangannya sudah sibuk memakai hair dryer mengeringkan rambutnya. Setegah kering, kini tangannya beralih ke almari besar yang berisi segala macam pakaian dan aksesoris wanita. Beralih mencari cari pakaian mana yang paling cocok untuk ia pakai. Tangannya menarik satu dress berwarna biru muda sepaket dengan cardigannya, lantas memakainya.


Selesai berpakaian, ia duduk di depan meja rias dan mulai berkutat dengan alat make up di depannya. Hanya make up tipis yang memoles wajahnya agar tak terlalu pucat. Beberapa waktu berlalu, and voila! Zee sudah begitu cantik hanya dengan dress simple dan make up naturalnya. Ia memakaikan bando kain pada rambutnya yang ia biarkan tergerai. Ia mengambil tas selempang dan sepatu yang senada dengan dressnya dan keluar dari kamar. Baru saja ia akan melangkah keluar kamar, Sean sudah berada di depan kamar.


"Sean! Kau selalu saja mengejutkanku!" Zee mengusap dadanya karena Sean tiba-tiba muncul.


"Kenapa?" tanya Zee karena Sean hanya diam menatapnya.

__ADS_1


"Sean apa kau akan menatapku terus dan tak jadi pergi?" Zee berucap kesal karena Sean tak kunjung membuka suaranya.


"Ide bagus." Zee semakin keheranan di tempatnya karena Sean mengucapkan kata yang membuat ia semakin bingung.


"Sebaiknya kita tak usah pergi saja," tambah Sean.


"Tapi kenapa? aku sudah siap." Zee mulai tidak suka dengan ucapan Sean.


"Kau terlalu cantik." Zee mendengus ketika alasan konyol itu meluncur dari mulut Sean.


"Kalau begitu aku yang pergi sendiri." Sean merangkul pinggang Zee ketika gadis itu lebih dulu melangkah pergi mendahuluinya.


"Kalau kau pergi sendiri lalu siapa yang akan melindungimu dari para pria yang ingin merebut tunanganku, hm?" Pipi Zee memerah sempurna ketika Sean menyebut status mereka. Panggilan itu masih terasa asing di telinganya, tetapi entah kenapa hatinya menghangat.


"Bukankah seharusnya aku yang berkata begitu?" tanya Zee.


"Beribu wanita sempurna yang ada di hadapanku, apapun yang terjadi, aku pasti memilihmu." Zee terkekeh geli mendengar gombalan receh Sean.


Ia jadi mengingat bagaimana sikap Sean saat mereka pertama kali berinteraksi. Begitu dingin dan kaku. Namun, sekarang pria itu berubah 180 derajat menjadi hangat dan pandai merayu seperti pria playboy kelas kakap.


"Hoho... benarkah?" tanya Zee menggoda Sean.


"Tapi aku akan memilih pria yang lebih baik darimu."


"Tidak akan semudah itu, Nona."


"Why not?" Zee terkekeh dan berbalik menatap Sean yang berada di depannya membukakan pintu mobil untuknya.


"Because... I'll make u stuck with me, Baby Girl." Suara Sean menerpa kulit wajahnya.


Ia menatap bibir Sean yang berada di depannya. Semakin lama bibir merah itu semakin mendekati bibirnya. Hingga sampai hanya berjarak satu centi, Zee beralih menatap tepat manik mata Sean dan tersenyum. Sedetik kemudian ia masuk ke dalam mobil sport hitam Sean dan menutup pintu mobil sedikit keras.


Sean hanya bisa tersenyum miring ditempatnya. Ia beralih menatap pintu mobil yang baru saja tertutup. "Akan kubalas kau nanti, Zee."


Sean memutari mobil dan masuk ke dalamnya, duduk di kursi kemudi. Ia mulai menyalakan mesin mobil hingga suara gerungan mobil terdengar cukup keras. Sean menatap Zee di sampingnya yang sudah duduk manis dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang. Ia lantas menginjak pedal gas dan mobil pun melaju meninggalkan basemant menuju lalu lintas yang akan membawanya ke kediaman utama keluarga Rexford.


-


-


-


Tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2