Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter 48 : Dont Go


__ADS_3

"Tuan, Anda memiliki jadwal rapat setelah makan siang. Selain itu, proyek di Valencia juga akan selesai dengan Anda menandatangani dokumen ini." Axel memberikan laporannya sekaligus menempatkan beberapa map yang ia bawa ke atas meja Sean.


Sean mengalihkan atensinya. Ia membuka dan membaca dokumen-dokumen tersebut untuk yang terakhir kalinya sebelum mengangguk puas dan menandatanganinya. Kemudian ia kembali memberikannya pada Axel.


"Kau sudah bisa menanganinya sendiri tanpa bantuanku. Aku akan memantau perkembangan barunya setiap bulan," ucap Sean tegas tetapi tetap pada nada yang dingin pada Axel. Namun, kali ini tangan kanannya itu tampak tidak merasa ketakutan dan justru terlihat ikut merasa senang. Mood bosnya yang baik membuat ia sedikit lega dan tenang.


"Kau boleh pergi," perintah Sean kemudian seraya menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan waktu makan siang.


"Baik, Tuan, saya permisi." Axel menundukkan kepalanya, sebelum akhirnya melenggang pergi.


"Kemana bajingan keparat itu?" gumam Sean yang terlihat menunggu seseorang datang. Ia mengambil ponselnya hendak menelfon seseorang. Namun, suara pintu yang dibuka membuat ia mengurungkan niatnya.


"Yo, what's up!" sapanya cukup kencang begitu ia masuk ke dalam ruangan Sean dan menatap Sean yang menatap dirinya datar.


"Apa kau begitu merindukanku sehingga beberapa menit waktu terlambat membuatmu marah, Sean?" tanya Zach seraya duduk di sofa empuk Sean dan mengangkat kakinya ke atas meja dengan angkuh.


Sean memutar bola matanya malas. Namun, ia tak urung berdiri untuk bergabung dengan Zach. Sean melonggarkan dasi yang begitu mencekik lehernya sambil menghela napas berat.


"Bagaimana dengan rencanamu menghancurkan bocah bajingan itu?" tanya Zach memulai pembicaraan.


"Seperti yang kau katakan. Aku tidak ingin ini diketahui Zee, atau mereka mengetahui aku berhubungan dengan Zee jadi melakukan ini pada mereka. Rencana ini harus dilakukan perlahan namun pasti menghancurkan mereka," jelas Sean.


Zach mengangkat sebelah alisnya menatap Sean lantas mengangguk sekali mengerti. Baru beberapa hari yang lalu dirinya dan Sean sering pergi ke klab dan minum bersama. Namun, pria ini sudah jarang sekali ke sana. Lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan wanitanya.


"Ngomong-ngomong, apa yang membuat aku harus datang kemari?" Zach kembali bertanya memulai inti pembicaraan mereka yang membuat dirinya datang kemari.


Sean menatap Zach lama dengan tatapan tak terbaca. Kemudian berkata pelan, "Zee hamil."


"Really?" tanya Zach penuh keterkejutan. Sedetik kemudian ia tersenyum lebar.


"Congratulations, Bro! You'll become a Daddy, Sean!" pekik Zach memberikan selamat pada sahabat karibnya sekaligus kakak iparnya.


Sean terlihat tidak senang dan tidak bereaksi apapun dengan apa yang dikatakan oleh Zach. Ekspresi wajahnya masih terlihat sama dan tidak berubah. Mengundang Zach untuk mengerutkan dahinya keheranan. Tidak mungkin pria ini tidak berbahagia atas kehamilan dari wanita yang ia cintai.


"Ada apa, Sobat? Kau terlihat tidak senang?" tanya Zach.

__ADS_1


"Zee mengalami depresi sebelum bertemu aku karena bocah bajingan itu," jawab Sean. Dari apa yang dikatakan Sean, Zach mulai mengerti apa yang dikhawatirkan Sean.


"Hei, wanita mana yang tidak akan bahagia dengan kabar kehamilannya." Zach akhirnya membalas.


"Dengar, di awal hubunganku dengan Zee sama sekali tidak berjalan baik-baik saja." Perkataan Sean membuat dahi Zach kembali berkerut. Ia menjadi penasaran akan awal hubungan mereka berdua.


"Kau tau di awal aku hanya tertarik padanya sebagai boneka cantikku saja yang bisa kumainkan. Namun, setelah aku menculiknya dan ia berusaha kabur kemudian aku memperkosanya, ia mencoba untuk membunuh dirinya. Setelahnya aku mencoba mencari tau kebenarannya dan psikiater mengatakan, jika dia sebelumnya mengalami depresi. Sampai aku mengetahui dari dirimu bahwa Zee pernah mengalami pelecehan dari bajingan itu. Namun, kami--"


"Menculiknya?" Zach memotong penjelasan Sean dan bertanya.


"What the fool you are!" Zach ingin tertawa tetapi mengasihani Zee.


"I know," jawab Sean menghela napas berat. Zach sempat ingin membuka mulutnya untuk memuji Sean yang dikenalnya angkuh dan arogan, mengakui dirinya sendiri  bodoh. Namun, ia menyadari ini bukan waktu yang tepat.


"So, what's the plan?" Pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut Zach. Ia sedikit merasa iba pada Sean yang berada di tengah kebimbangan. Namun, dari situ ia melihat sisi Sean yang lembut dan begitu mencintai Zee.


"Aku harus melakukan pengobatan untuk kesembuhan mental Zee. Psikiater mengatakan, jika obat-obatan dan semua kondisi Zee saat ini membuatnya akan sulit untuk sembuh. Kau tau, aku ingin Zee sembuh dan hidup normal. Tanpa harus menyakiti dirinya sendiri, sewaktu-waktu mengalami gangguan kecemasan yang parah, melihat halusinasi, dan mencoba membunuh dirinya sendiri." Setelah penjelasan panjang itu, Sean menjeda kalimat selanjutnya yang akan ia katakan.


"Jadi, kurasa bayi itu datang di waktu yang tidak tepat. Aku akan menggugurkan kandungan Zee untuk kesembuhannya." Zach tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Coba pikirkanlah baik-baik, Sean!" ujarnya melanjutkan.


"Ini bukan hanya tentang kau! Namun, juga tentang Zee! Dia ibu dari bayi itu!" ucap Zach kembali berbicara sebelum Sean berbicara.


"Aku melakukan ini untuknya dan ini adalah yang terbaik untuk gadisku!" jawab Sean keras.


"Nona, kenapa Anda berlari? Nona!" Suara teriakkan dari seorang pria di luar ruangan Sean membuat pembicaraan Sean dan Zach terhenti. Sean menegakkan tubuhnya begitu pun dengan Zach. Keduanya saling menatap.


"Zee?" gumam Sean sebelum akhirnya ia berdiri dari duduknya, berlari ke arah pintu, dan membukanya secara kasar. Diikuti oleh Zach.


Saat sudah berada di luar ruangan mereka melihat Austin, salah satu bodyguard yang ditugaskan Sean untuk menjaga tunangannya, terlihat mengejar seorang gadis. Gadis yang sangat dikenali oleh Sean.


"Linzy! Baby!" Sean berseru memanggil Zee yang sudah masuk ke dalam lift. Austin bahkan tidak bisa mengejarnya.


Dari ekspresi wajah Zee yang terakhir kali Sean lihat, ia bisa menebak bahwa Zee mendengar pembicaraan mereka. Namun, ia tidak mengetahui darimana ia mendengarnya.

__ADS_1


"Sial!" umpat Sean yang sudah berada di depan lift yang tertutup dan menekan-nekan tombol lift.


"Apa kau tidak bisa hanya mengejar seorang gadis?!" Sean melampiaskan amarahnya pada bodyguard berkepala pelontos tersebut.


"Tangga," ucap Zach menghentikan Sean.


Mereka bertiga bergegas menuju ke arah tangga darurat dan menuruninya dengan cepat. Ini adalah lantai teratas, mustahil bisa mengejar lift yang hanya melewati lantai lobby dan lantai ruangan Sean. Tetapi ketiganya tetap menuruni tangga hingga mencapai lobby.


"Zee!" teriak Sean memanggil nama gadis itu yang terlihat sudah ada di lobby dan berlari menuju pintu masuk. Sean segera berlari untuk mengejar Zee. Dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian.


"Cegah dia keluar!" seru Sean memerintahkan kedua penjaga yang ada di depan pintu masuk. Penjaga yang mendengar teriakkan Sean segera menangkap Zee, bertepatan dengan gadis itu yang hendak melewati mereka.


"Lepaskan aku!" Zee mulai memberontak dengan sekuat tenaga dalam cengkraman kedua penjaga tersebut. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Sean yang hampir mendekati dan menjangkaunya.


Dengan air mata yang sudah mengalir dan rasa putus asa, Zee memberontak sekuat tenaga. Ia menendang kaki kedua penjaga tersebut hingga mereka meringis kesakitan. Kesempatan lengah itu Zee manfaatkan dengan menggigit tangan kedua penjaga tersebut sehingga berhasil ia melepaskan diri.


"Zee!" teriak Sean yang masih tetap mengejar gadis itu.


Titttt


Brak!


"Zee! Baby!"


*


*


*


To be continued


Hola readers, welcome back! Thank u so much for waiting!


See u in the next chapter! 🍓

__ADS_1


Jangan lupa follow ig @Riby_Nabe!


__ADS_2