
"Kamu sudah bangun, Zee?" Begitu tersadar, Zee langsung mendengar suara Samuel yang menyapa indra pendengarannya.
Rasa sakit di perutnya masih sangat terasa. Ditambah dengan sesuatu yang bisa ia tebak adalah darah, sudah ia rasakan membasahi selangkangannya. Tidak sampai sana, sekujur tubuhnya terasa remuk redam akibat amukan dari Samuel.
"Aku punya ide yang cukup bagus, Zee. Mau dengar?" Zee tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Samuel. Ia hanya mulai menangis.
"Sam, aku mohon tolong selamatkan anakku. Aku akan mengikuti semua kemauanmu, tapi tolong selamatkan anakku." Tak peduli akan apa resikonya, ia menangis, meraung, meminta pada Samuel untuk mengasihaninya demi bayi yang entah masih selamat atau tidak.
"Selamatkan anakmu? Sepertinya ia sudah mati di dalam perutmu." Bukannya merasa iba, pria psikopat itu malah menertawakan kemalangan yang terjadi pada Zee akibat ulahnya.
Zee menyentuh kaki Samuel untuk terus memohon padanya. Meski Zee sudah begitu, Samuel tidak menghentikan tawanya dan tetap menikmati setiap penderitaan yang Zee rasakan. Samuel melepaskan kakinya dari tangan Zee dan berjongkok di hadapannya.
"Zee, kamu tau. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan sekarang berkat pria itu," ucap Samuel sembari melepaskan tali yang mengikat kaki Zee.
"Tidak cukup hanya menghancurkan sumber penghasilan keluargaku, dia juga menyiksa kami seperti ini tanpa memberikan belas kasih, bahkan pada ibuku. Tidak peduli mau sekeras apa aku memohon ampun padanya, dia tidak pernah mengindahkanku dan tetap melanjutkan penyiksaannya sampai kami semua berharap mati adalah pilihan terbaik." Teriakan Zee terdengar semakin keras, seiring dengan pisau yang digunakan Samuel mengiris tangannya.
"Jadi, Zee, aku bertanya padamu. Apa sekarang kamu menginginkan kematian?" tanya Samuel tanpa menghentikan kegiatannya yang memberikan luka pada tangan Zee.
"Sa-sam, tolong hentikan ... " Zee sekarang sudah digenangi oleh darahnya sendiri yang terkuras oleh Samuel.
"Padahal aku hanya menikmati tubuhmu yang indah, tapi dia melakukan ini pada kami. Itu semua bukan kesalahanku jika tubuhmu memang indah, kan?" Zee hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Samuel melepaskan tangan Zee yang sudah terluka dan berlumuran darah begitu saja. Zee sudah terkulai lemah di depannya. Tangan Samuel mulai bergerak menyingkap baju yang digunakan oleh Zee dan mengarahkan pisau yang ia pegang pada perut Zee yang terbuka.
"Di sinilah kehidupanmu akan berakhir, Zee."
Dor!
"Lokasi Zee sudah ditemukan, Sean!" Begitu Zach berbicara, sambungan telpon sudah terputus begitu saja oleh Sean. Zach bisa menebak dengan yakin, jika Sean 100% pasti akan kemari.
"Ada apa, Sean!" Ibunya, Alana memanggil Sean untuk menanyakan kabar terbaru dari putranya itu yang terlihat menegang setelah menerima telpon entah dari siapa.
__ADS_1
"Zee, lokasi Zee sudah ditemukan, Mom," jawab Sean kalang kabut.
"Aku akan ikut bersamamu menyelamatkan putriku," ucap Dante angkat suara sebelum Sean beranjak hendak pergi. Sean tak berbicara dan hanya mengangguk sekali.
"Dad akan ikut menyusul dengan orang-orangku," tambah Julian yang lagi-lagi mendapat anggukan dari Sean. Sean dan Dante akhirnya pergi untuk menuju ke mobil Sean, pergi bersama-sama.
"Aku akan ikut dengan Tuan Rexford. Kyra, kamu tunggulah di sini bersama dengan keluarga Rexford." Aidan berbicara sebelum akhirnya pergi mengikuti keduanya.
"Aidan!" Belum sempat Kyra berbicara, Aidan sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Semua orang yang ada di penthouse memiliki beragam macam emosi di dalam wajah mereka. Namun, yang paling mendominasi adalah sebuah kecemasan. Kecemasan yang sama yang ditunjukkan pada Zee. Mereka mendoakan keselamatan Zee dan bayi yang dikandungnya.
"Zach, kirimkan lokasi keberadaan Zee sekarang!" Begitu perintahnya sudah dikatakan, Sean lagi-lagi mematikan sambungan telpon dengan seenaknya.
Tak lama sebuah pesan masuk datang yang dipastikan itu dari Zach. Setelah melihatnya, tak butuh waktu lama untuk Sean semakin meningkatkan kecepatan mobilnya menuju tempat Zee berada. Dante bahkan sudah berpegangan karena saking cepatnya, Sean memacu mobil.
Tak butuh waktu lama bagi Sean untuk sampai di sebuah bangunan besar yang tampak sudah tidak digunakan lagi. Bukan hanya karena Sean yang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk sampai di lokasi tersebut, tapi juga karena lokasi memang tidak terlalu jauh dari apartemen Zee. Tempat yang bahkan tidak pernah terpikirkan.
"Di sinilah kehidupanmu akan berakhir, Zee."
Dor!
Begitu melihat keberadaan dari sang penculik, Sean melepaskan satu tembakan yang tepat mengenai punggungnya. Belum sempat Samuel menusuk perut Zee, peluru Sean lebih dulu bersarang di punggungnya. Membuat Samuel menoleh dan terkejut karena mendapati Sean. Sean tidak membiarkan Samuel lari, ia melangkah mendekat pada keduanya sambil menembaki tubuh Samuel.
Semakin dekat ia dengannya, semakin ia dapat melihat kondisi dari tunagannya yang sudah tergenang dan bersimbah darah. Setelah memastikan Samuel sudah tidak bisa bergerak lagi, ia membuang senjatanya asal dan segera menghampiri Zee yang lemah. Air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi, melihat kondisi memprihatinkan dari Zee.
"Babe, please, stay with me ... " ucap Sean lirih seraya memangku kepala Zee di pahanya.
"Zee ... Wake up," lanjutnya sambil menepuk-nepuk pipi Zee.
"Se-sean," panggil Zee lirih.
__ADS_1
"Selamatkan a-anak kita." Zee berbicara sambil menangis lega ketika melihat wajah Sean. Meski pandangannya semakin memburam dan kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang.
"Jangan tutup matamu, Zee. Tetap bersamaku." Sean menggelengkan kepalanya.
"Tolong! Seseorang! Tuan Dante!" seru Sean memanggil-manggil dan berteriak meminta tolong pada bangunan yang terasa hening ini.
"Sean!" Dante menghampiri mereka berdua bersamaan dengan datangnya Zach, Julian, beserta orang-orangnya.
"Ya Tuhan, putriku." Dante ikut tak kuasa menahan air matanya ketika melihat kondisi Zee.
"Dia sama sekali tidak memberikan keamanan. Beraninya mengusik keluarga Rexford dengan kemampuan ini!" umpat Zach kesal.
"Sean, cepat bawa Zee. Biar kami yang urus sisanya di sini dan bajingan itu!" perintah Julian di saat semua orang tidak sadar apa yang terpenting di waktu seperti ini.
Tanpa diperintah dua kali, Sean menggendong Zee dan berlari lagi bersamanya untuk membawa sang tunangan ke rumah sakit. Diikuti oleh Dante yang masih setia.
"Z-Zee?" Aidan yang baru saja sampai, terkejut melihat bagaimana kondisi dari sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.
"Cepat bawa mobilmu untuk ke rumah sakit sekarang!" seru Sean pada Aidan.
Aidan mengangguk dan membuka pintu mobil kursi penumpang. Dante juga ikut masuk ke dalam dan ternyata sudah bersiap di kursi pengemudi.
"Cepat masuk, Aidan!" seru Dante.
Begitu Aidan masuk ke dalam, Dante memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Entah darimana kemampuan mengemudinya itu yang datang tiba-tiba ketika kondisi Zee sedang sekarat.
-
-
-
__ADS_1
To be continued