
Zee masih memasang ekspresi wajah kesalnya dari mereka di mobil sampai di dalam pesawat. Ia masih jengkel dengan usaha Kinta mendapatkan perhatian Sean. Dia benar-benar mirip dengan ibunya yang selalu menggoda ayahnya bahkan setelah ia ada dan masih anak-anak. Setelah kematian ibunya, bibinya itu benar-benar memiliki kesempatan. Tapi bahkan sampai saat ini, ayahnya sama sekali tidak membuka pintu hatinya untuk bibinya yang sudah mengejar-ngejarnya. Zee menatap pada Sean di sampingnya. Dalam batinnya bertanya-tanya, bisakah Sean seperti ayahnya?
"Sean, jika aku mati ketika melahirkan anak kita-"
"Apa yang kau katakan, Zee? Berhenti bicara omong kosong!" Tiba-tiba saja Sean memotong ucapan Zee keras.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati sebelum aku mati. Dan itu dalam waktu yang panjang setelah kita tua nanti." Sean melanjutkan ucapannya dengan nada yang sedikit lebih lembut.
Zee tidak berbicara lagi. Ia memang sudah bergantung sepenuhnya pada Sean, begitu pun dengan Sean yang begitu terobsesi padanya. Zee sadar akan hal tersebut. Haruskah ia senang karena mereka saling bergantung satu sama lain dan tidak bisa hidup tanpa satu sama lain?
"Apa yang kau pikirkan sejak tadi, Sayang?" tanya Sean pelan menatap intens pada kedua netra coklat Zee.
Sean mengetahui keanehan dalam diri Zee. Ia berspekulasi jika Zee yang sejak tadi memasang ekspresi wajah kesal itu karena masih merasa kesal dengan hari kemarin. Ia cemburu dengan orang-orang yang memperhatikan mereka.
"Aku tidak suka dengan Kinta," ucap Zee.
"Kinta? Siapa dia?" tanya Sean.
Padahal baru beberapa saat mereka meninggalkan Indonesia dimana Kintan baru memperkenalkan dirinya. Tapi, Sean sudah melupakannya semudah itu.
"Dia sepupuku tadi," jawab Zee.
"Apa kau cemburu padanya? Aku sudah mengatakan padamu, Sayang ... "
"Aku lebih tepatnya membenci Kinta dan ibunya," potong Zee.
"Kenapa?" tanya Sean.
"Dulu saat aku masih kecil, meski aku masih lah kecil saat itu, aku mengetahui bagaimana sikap aneh bibiku pada Papi. Itu sesuatu yang berbeda antara adik dan kakak ipar. Setelah aku semakin dewasa dan Mami meninggal, aku sadar jika Bibi seperti itu untuk menggoda Papi. Bahkan saat Mami masih ada." Zee mulai menceritakan masa kecilnya.
__ADS_1
"Aku mendengar jika Bibi hamil di luar nikah dan kekasihnya itu tidak mau bertanggung jawab. Sepertinya itu memang benar karena Bibi masih belum menikah sampai Kinta sekarang dewasa. Mamiku yang baik tidak tega untuk memperlakukan adiknya dengan pantas meski dia sudah menggoda suaminya. Dia lebih memilih mempercayai Papi. Dan untungnya Papi memang sangat setia dan menyayangi Mami bahkan sampai sekarang ia sudah meninggal."
"Papi tidak bisa melarang Bibi untuk berkunjung ke rumah karena kebaikan Mami dulu meski tau jika sikap Bibi masih sama seperti dulu. Aku cukup bangga dan kagum dengan kesetiaan Papi pada Mami. Ketika aku berhubungan dengan Sam dan membawanya ke rumah, Kinta bertemu dengannya. Dan aku bisa melihat kesamaan yang dimiliki olehnya dengan ibunya. Jadi, aku membenci mereka meski mereka keluarga Mami."
"Aku berterima kasih kau sudah mau bercerita padaku." Sean akhirnya angkat suara setelah Zee tidak berbicara lagi.
Jika dipikirkan kembali, ini pertama kalinya ia bercerita panjang pada Sean mengenai dirinya di masa lalu. Ia merasa lega setelah menceritakannya pada Sean. Selain itu, mendengar apa yang dikatakan Sean, ia benar-benar dibuat senang.
"Terima kasih sudah mendengarkan," balas Zee.
"Aku menceritakan ini bukan berarti aku tidak mempercayaimu, aku hanya tidak ingin memberikan dia kesempatan meski nanti kita juga akan tinggal jauh darinya. Kita tidak mengetahui apa yang bisa dia lakukan." Zee melanjutkan.
"Aku mengerti, Sayang. Tapi, aku akan katakan lagi jika dia bukan apa-apa dibandingkan dirimu. Kenapa aku harus memilihnya dibandingkan dengan dirimu yang sudah sempurna?" Perkataan Sean membuat Zee tersenyum.
Pelan Zee mencium bibir Sean lembut yang dibalas tak kalah lembut olehnya. Tangan Zee mulai bergerak ke arah tengkuk Sean dan bergerak di antara helaian rambut belakangnya.
Sebenarnya ia juga tidak akan bertindak lebih jauh dari ciuman. Namun, Sean tidak akan bisa bertindak seperti dirinya. Ia akan menerobos jika sudah lepas kendali.
"Sekarang kau beristirahatlah," ucap Sean membawa Zee ke dalam pelukan hangatnya.
Zee lagi-lagi tidak membantah karena kenyamanan yang diberikan Sean. Ia juga mulai sedikit mengantuk dan pada akhirnya jatuh dalam mimpinya. Kali ini, giliran Sean yang mulai meninggalkan Zee seorang diri dan membiarkannya tertidur sementara ia bangun.
"Selamat tidur, Berlianku." Sean mengecup dahi tunangannya sebelum akhirnya pergi meninggalkannya.
Setelah mendapatkan restu dari ayah Zee, semuanya akan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang ia inginkan. Hanya tinggal menghitung hari dari sekarang sampai ia selesai mempersiapkan pernikahannya dan Zee. Maka ia bisa memiliki Zee sepenuhnya dan terus berada di sisinya.
Zee mengerjap pelan ketika ia telah terbangun dari tidurnya. Langit-langit yang ia lihat terakhir kali sudah berbeda kini. Namun, ia masih mengenalinya. Ini adalah kamar Sean yang ia tempati di mansionnya. Zee keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang kerja Sean di seberangnya untuk mencari pria itu.
"Sean ... " Zee memanggilnya ketika mendapati Sean berada di meja kerjanya bersama dengan seorang pria berjas putih yang ia kenali.
__ADS_1
"Dokter Johan?" tanya Zee.
"Kemarilah, Zee." Sean memberikan kode pada Zee untuk mendekat dan duduk di dekatnya.
"Apa yang membawamu kemari, Dokter?" tanya Zee seraya berjalan mendekat pada keduanya. Namun, tidak untuk duduk di pangkuan Sean ketika di depan ada orang lain.
"Aku memiliki beberapa pekerjaan dengan Tuan Rexford. Zee, bagaimana kabarmu?" tanya Dokter Johan.
"Aku baik-baik saja setelah tidur yang cukup panjang," jawab Zee mencoba untuk menyindirnya yang tidak sama sekali membangunkannya dari sejak mereka sudah mendarat.
"Kau tertidur sangat pulas bahkan setelah aku menciummu," ucap Sean yang membawa pandangan Zee ke arahnya.
"Jangan katakan sesuatu yang memalukan seperti itu di depan orang lain, Sean!" seru Zee kesal.
Mau bagaimana lagi jika Sean cukup sedikit kesal dengan kedekatan Zee dan Dokter Johan. Ia percaya pada Zee, tapi tidak dengan Dokter Johan.
"Sepertinya kau memang sudah baik-baik saja. Apa ini adalah sifat aslimu yang sesungguhnya?" tanya Dokter Johan.
"Aku cukup senang melihatmu begitu ceria dan merasakan semua emosi juga meluapkannya. Teruslah seperti ini, Zee. Jangan memendam semuanya sendiri lagi dan menutupinya. Sean pasti selalu ada untukmu." Dokter Johan memberikan nasehatnya.
"Terima kasih, Dokter. Kalian berbicaralah, aku akan menemui Marlyn." Zee melenggang pergi meninggalkan keduanya.
-
-
-
To be continued
__ADS_1