Obsession Of Jerk

Obsession Of Jerk
Chapter delapan : Don't deserve to be happy ?


__ADS_3

"Kyra! Aidan!" seru Zee saat melihat Kyra dan Aidan baru saja pulang dari kencan mereka.


"Ada apa Zee?" tanya Kyra setelah melepas tasnya dan membuka kaleng minuman soda dari kulkas.


"Bantu aku nembak Athan!" Kyra menyemburkan minumannya yang baru saja ia teguk.


Aidan dan Kyra saling pandang karena tadi mereka bertemu Athan sedang berkencan juga dengan wanita lain. Zee dengan wajah bahagianya kembali masuk ke dalam kamarnya dengan riang gembira.


"Gimana dong, Ai?!" tanya Kyra panik. Aidan hanya bisa menghela napas lantas menggeleng tak tahu dan menggidikan bahunya.


Zee mengambil ponselnya berniat menghubungi Athan untuk bertemu dengannya malam ini. Di nada dering ke lima barulah seseorang di seberang sana mengangkat telfonnya.


"Hello Zee," sapa Athan terlebih dahulu dengan sedikit nada keraguan.


"He-hello, Athan, emm.." Zee mendadak gugup ketika mendengar suara Athan. Sudah lebih dari sebulan ini ia tak berbicara atau berinteraksi dengan Athan semenjak kejadian itu.


"Ya, ada apa?" tanya Athan kembali di sebrang sana. Zee terdiam cukup lama.


"Apa kau ada waktu malam ini?" tanya Zee pelan. Suaranya tak cukup keras untuk bisa didengar Athan.


"Bisa kau ulangi?" tanya Athan sekali lagi.


"Bisa kau datang ke cafe Sunrise malam ini?" tanya Zee cepat dan sedikit mengeraskan suaranya.


"Ya, tentu saja," ucap Athan mengiyakan ajakan Zee.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," lanjut Athan membuat jantung Zee berdetak tak karuan.


"Aku juga," balas Zee lirih.


"Kalau begitu sampai jumpa di cafe Zee," ucap Athan.


"Ya sampai jumpa." Sambungan Zee putuskan secara sepihak tanpa mendengar apa yang akan Athan katakan lagi.


Zee melempar ponselnya ke atas kasur sembarang arah, ia juga membanting tubuhnya ke atas kasur sembari memegangi dadanya yang bergemuruh. Pipinya memerah padam semenjak mendengar suara Athan kembali dari telfon. Ia berguling-guling tak tentu arah di atas kasur. Zee berdiri dari kasurnya dan berjalan ke arah lemarinya untuk memilih pakaian yang akan ia pakai saat ke Cafe menemui Athan. Memikirkan Athan membuat pipinya memerah kembali. Setelah lama memilih pakaian dan mengacak- acak isi lemarinya, akhirnya pilihannya jatuh pada celana jeans panjang dan tang top putih yang dilapisi cardigan berwarna mint.


Sekarang pukul 16.45. Zee segera mandi berendam dengan sabun favoritnya selama 30 menit. Selesai dengan ritual mandinya, ia berdandan lebih lama kali ini untuk mempercantik dirinya. Bukan dengan make up tebal tapi make up yang lebih berat namun terkesan natural.


18.30 P.M.


Zee selesai dengan mempersiapkan dirinya sehingga lebih cantik dari biasanya. Ia keluar dari kamar dan melihat Kyra dan Aidan yang masih berada di ruang tamu. Aidan dan Kyra menatap Zee dari ujung kaki hingga ujung kepala yang begitu cantik. Tak lupa aroma sabun yang semerbak harum dari tubuh Zee ketika dirinya keluar dari kamar.


"Lo temen gue?" tanya Kyra tak percaya.


"Yaiyalah!" ucap Zee sembari mengibaskan rambutnya ke belakang. Aidan masih membatu ditempatnya menatap Zee yang lebih cantik dari biasanya.

__ADS_1


"My Lil Zee." Hanya itu kata yang keluar dari mulut Aidan. Pipi Zee merona merah karena dipuji oleh kedua sahabatnya. Kepalanya menunduk dalam.


"Aidan, Kyra, ayo dong anter Zee nemuin Athan!" ucap Zee setelah lama diam. Keduanya terdiam kemudian saling melempar pandang.


"Lo udah hubungin Athan?" tanya Aidan. Zee mengangguk mengiyakan sebagai jawaban.


"Yaudah, ayo," ajak Aidan kemudian.


"Tapi kita bakal beda meja ya Zee sama lo berdua," ucap Kyra kemudian mengambil tasnya di sofa. Mereka bertiga mengendarai mobil menuju Cafe Sunrise.


Kyra duduk tak tenang di tempat duduknya memandang resah ke arah Aidan yang sama gugupnya. Apa yang akan dikatakan Athan nanti saat mendengar pengakuan dari Zee?


Lima belas menit akhirnya mereka sampai di Cafe Sunrise. Athan melambaikan tangannya dari tempat ia duduk ketika mengetahui kehadiran Zee, Kyra, dan Aidan. Zee melambaikan tangannya membalas sapaan Athan ia berjalan mendekati meja Athan.


"Than, kita duduk di meja lain ya," ucap Kyra menggandeng tangan Aidan. "Kenapa gak bareng kita aja?" tanya Athan mengerutkan dahinya.


"Biasalah, kita mau berduaan." Aidan menimpali. Mereka berlalu pergi yang menyisakan Zee dan Athan.


Mendadak suasana canggung menyelimuti. Setelah kopi pesanan Zee datang, ia menyeruput sedikit kopinya yang masih mengepulkan uap untuk mengurangi kegugupan.


"Athan..." Panggil Zee pertama kali setelah beberapa detik memecah keheningan. Athan berfokus pada Zee, mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan gadis didepannya.


"Ada yang mau aku omongin," lanjutnya lagi.


"Iya." Athan sudah menyiapkan telinganya baik baik


"Aku waktu itu masih belum sadar kalau rasa suka itu udah lebih dari sekedar teman." Zee melanjutkan ucapannya. "Dan nolak kamu begitu aja..."


"Setelah satu bulan lebih kita ga berinteraksi apapun aku baru sadar, kalau aku emang suka kamu lebih dari sekedar teman." Zee kali ini menatap tepat pada manik mata Athan yang masih menutup mulutnya.


"Maaf waktu itu aku salah nafsirkan perasaan aku. Aku terlalu bodoh soal perasaan,Than. So sorry because I realized it too late," ucap Zee berkaca kaca. Entah untuk alasan apa.


"Apa kamu masih menyukaiku?" tanya Zee setelahnya.


Athan menatap Zee dengan pandangan tak terdefinisikan. Zee menunggu harap-harap cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan Athan. Bisa saja perasaan Athan sudah hilang begitu saja karena hanya sekedar rasa suka biasa atau kekaguman pada Zee. Athan menghela napasnya sebelum ia membuka mulutnya untuk berbicara.


"Aku juga ingin meminta maaf padamu, Zee. Maaf untuk aku yang tak menghubungi setelah hari itu..." ucap Athan.


"Untuk jawaban dari pertanyaanmu, aku minta maaf," lanjutnya lagi.


Perkataan maaf yang Athan ucapkan membuat Zee keringat dingin di tempatnya. Tangannya sudah ia remas sedari tadi karena kegugupannya hingga basah.


"Aku sudah punya kekasih Zee... maaf." Zee menahan mati-matian air matanya yang akan keluar setelah mendengar penolakan Athan.


"Hi babe, what r u doing here?" tanya seorang gadis dari arah belakang Zee.

__ADS_1


"Hi baby, kenalin ini Zee teman aku," ucap Athan memperkenalkan Zee pada kekasihnya.


Zee menarik napasnya lalu menghembuskannya sebelum ia menatap wajah kekasih dari orang yang disukainya.


"Hi! I'm Linzy, nice-" Ucapan Zee terpotong ketika mengetahui siapa gadis dibelakangnya.


"Hai Zee! lo kenal sama cowok gue?" tanya Teressa menampilkan wajah keterkejutan yang terlihat berpura-pura.


Kyra dan Aidan datang menghampiri Zee begitu tau ada Teressa yang entah datang dari mana. Kyra langsung mendorong kasar bahu Teressa hingga mundur beberapa langkah. Ia memasang tubuh didepan tubuh Zee, Aidan dibelakang Zee memegang bahunya. Athan menghampiri Teressa dan menahan tubuhnya agar tak jatuh. Ia menatap tak suka ke arah Kyra.


"What the hell is this, Kyra?!" tanya Athan kesal pada Kyra yang menatap tajam Teressa yang sudah playing victim. Kyra bergantian menatap tajam Athan yang membelanya.


"Kau mengenalnya?" tanya Kyra datar.


"She's my girlfriend!" seru Athan. Aidan dan Kyra sedikit terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya.


"Ra kita pergi, liat kondisi Zee sekarang," ucap Aidan menahan Kyra agar tak emosi dulu. Akhirnya Kyra mengalah dan pergi bersama Aidan membawa Zee.


"You'll regret after relate with that bit*ch, Athan." Kyra berkata dengan nada dingin melewati Athan yang masih di sisi Teressa memegang pundaknya.


"Aku ingin pergi sendiri." Zee mengeluarkan suaranya setelah sampai didepan mobilnya.


"Tapi Zee ini udah malam, sebaiknya kita pulang," ucap Aidan khawatir.


"Please..." Zee menatap penuh permohonan pada keduanya. Aidan dan Kyra akhirnya memperbolehkan Zee untuk pergi dengan mobilnya sendirian meninggalkan Kyra dan Aidan. Mereka pikir sahabat mereka memang butuh waktu sendiri.


Jalanan kota London lumayan ramai malam ini karena jam masih menunjukan pukul 19.30. Zee mengendarai mobilnya tak tentu arah sampai ia di jalan yang sudah jarang dilewati kendaraan berlalu lalang. Sehingga suasana jalan lumayan lebih sepi. Ia berhenti di sisi jalan dan mematikan mesin mobilnya. Menyandarkan kepalanya di depan stir mobil setelah menghela napas lelah. Air mata mulai turun membasahi pipinya tanpa isakan tangis ia menangis sendirian di dalam mobil. Tangannya sudah melukai pergelangan tangannya dengan kuku jarinya yang panjang sampai mengeluarkan darah dan membasahi cardigan dan celananya.


Di tengah ia menangis, seorang pria asing mengetuk kaca mobilnya sembari menodongkan pistol ke arahnya dari luar. Pria itu memberikan kode agar ia keluar dari mobilnya. Suasana jalan yang sepi dan gelap membuat Zee ketakutan sekarang. Tak ada siapapun untuk ia mintai tolong. Pada akhirnya ia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang dinginkan pria tersebut demi keselamatannya.


Zee keluar mobilnya dan mengangkat kedua tangannya disamping kepala. Wajahnya sudah basah dengan air mata, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia hanya menunduk ketika ujung pistol sudah menempel tepat dikepalanya. Tiba-tiba sebuah sapu tangan yang sudah diberi obat, membekap mulut dan hidungnya membuat Zee tak sadarkan diri.


Seorang pria asing lainnya keluar dari mobil yang berada di belakang mobil Zee. Menghampiri Zee yang sudah tak sadarkan diri. Ia menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang tadi ia kendarai.


"Buat ini seakan kecelakaan!" perintahnya dingin sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.


Pria yang memegang pistol itu hanya mengangguk menjawab perintah bosnya. Mobil pria asing itu melaju pergi meninggalkan mobil Zee yang kosong.


-


-


-


tbc

__ADS_1


Follow ig Riby_Nabe


__ADS_2