
Zee masih tidak percaya jika ia besok akan menikah. Semuanya sangatlah terjadi dengan cepat ketika dirinya bahkan belum genap satu hari, tiba kembali di London setelah mengunjungi ayahnya di Indonesia. Ayahnya sekarang sudah ada bersama dengannya yang akan menjadi pengiring dirinya berjalan di altar pernikahan besok. Lebih-lebih lagi, ia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan semegah dan semewah apa. Meskipun ini dipersiapkan dalam waktu yang singkat.
"Zee, kau masih belum tidur?" Suara berat seorang pria membuyarkan lamunannya.
"Pi ... " sapa Zee yang melihat sang ayah keluar dari kamarnya dan menghampiri dirinya yang duduk di kursi bar.
"Gugup, ya?" tanya Dante seraya duduk di samping putrinya.
"Sedikit," jawab Zee sambil memperlihatkan senyum yang menunjukkan giginya yang putih.
Setelahnya, tidak ada suara dari satu sama lain. Baik Zee dan ayahnya, terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Mereka menikmati waktu kebersamaan antara ayah dan anak yang hanya bersisa beberapa jam itu, sebelum Zee terlepas dari tanggung jawab Dante.
"Papi juga gugup." Dante kembali memecah keheningan yang membuat Zee menoleh.
Suara tawa Zee yang kecil, terdengar di keheningan ruangan. "Zee yang akan menikah, Pi."
"Apakah seorang ayah tidak boleh merasa gugup ketika putrinya akan meninggalkannya?" Pertanyaan Dante membuat senyum yang berada di wajah itu hilang.
"Papi mengatakannya seolah kita benar-benar tidak akan bertemu, padahal ketika Zee ke London, kita juga tidak bertemu. Tapi kita masih bisa berkomukasi lewat telpon." Zee mengetahui dengan jelas apa maksud perkataan ayahnya, tapi ia berusaha menghiburnya.
"Maka sekarang pun, tidak akan ada bedanya. Papi bisa bebas menghubungi Zee dan datang kapanpun. Sean juga tentu tidak akan melarang kita bertemu, Pi. Papi tau bagaimana Sean, kan? Dia membuat aku jadi prioritasnya, dunianya, dan segalanya bagi dirinya." Dante bisa melihat sebuah pancaran kebahagiaan dari putrinya ketika ia membicarakan calon suaminya itu.
"Papi sekarang lebih tenang," ucap Dante menjawab.
Zee menatap sang ayah yang tersenyum teduh padanya. Kemudian ia memeluknya erat yang dibalas tak kalah erat oleh Dante.
"Papi percaya pada kalian berdua," ujarnya lirih sambil menyeka air mata yang keluar dari pelupuk matanya.
"Sekarang, kau beristirahatlah. Besok adalah hari besarmu, kau harus bersinar." Dante melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Papi juga, jangan terlalu berpikir kita akan berpisah setelah Zee menikah." Zee turun dari kursinya setelah mendapat anggukan dari Dante.
"Selamat malam, Pi," ujar Zee sebelum akhirnya pergi masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum tidur, ia melihat ponselnya yang menyala. Ia mengambilnya dan melihat disana ada panggilan tidak terjawab dari Sean. Pria itu juga belum tertidur di jam yang sudah hampir tengah malam ini. Zee menekan nomor Sean untuk menelponnya. Tak butuh waktu lama untuk ia menunggu karena Sean langsung menjawabnya di dering pertama.
Zee tertawa mendengar pertanyaan Sean yang memberondongnya. "Sean, mari kita bertemu?" Pertanyaan Zee langsung membuat Sean di seberang telpon terdiam.
"..."
"Baiklah, baiklah, aku akan menunggu di apartemen sampai kau sampai di depan gedung apartemenku. Sampai jumpa, Sayang." Zee menutup telponnya.
Sebelumnya ia sama sekali tidak berniat untuk bertemu dengan Sean. Namun, mendengar suara Sean yang memberondongnya dengan begitu banyak pertanyaan, membuat Zee juga merasa merindukan pria itu. Ditambah lagi dengan dirinya yang sudah tidak bertemu dengannya sejak 3 hari yang lalu. 3 Hari adalah waktu yang cukup lama baginya dan Sean.
Ting!
Di tengah lamunannya, ia mendengar suara notifikasi pesan dari ponselnya. Hanya melihat dari ponselnya, ia sudah bisa membaca pesan yang dikirimkan oleh Sean. Tanpa membuang waktu lagi, Zee segera bersiap menggunakan pakaian panjang dengan celana panjang seperti yang dikatakan Sean.
"Mau kemana lo?" Suara bisikan itu membuat Zee hampir saja terjatuh.
"Kyra!" Zee memanggilnya dengan menekan suaranya.
"Mau kemana lo malam-malam gini?" tanya Kyra yang masih berbisik.
Tak menjawab, Zee memperlihatkan ponselnya yang berisi pesan dari Sean. Kyra menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengizinkan.
"Udah malam Zee, bahaya." Benar saja jika Kyra tidak mengizinkannya.
"Ini London, Kyra. Jam segini orang-orang masih terbangun dan melakukan aktivitas. Tidak perlu khawatir," ucap Zee keras kepala.
__ADS_1
"Gue anter," putus Kyra.
Namun, Zee menggelengkan kepalanya dan mendorong Kyra menjauh darinya. "Masuk kamar dan lanjut tidur, anggap ini tidak pernah terlihat. Aku bisa menemui Sean sendirian."
"Zee!" Zee tidak mendengarkan apa yang dikatakan Kyra dan tetap keluar.
Zee menekan tombol lift untuk mencapai lobi. Karena ini lantai 9, membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika lift berada di lantai 5, pintu terbuka dan menampilkan seorang pria berpakaian hitam dan memakai topi. Hati Zee merasa tenang karena ada orang yang bersama dengannya. Dugaannya benar, bahwa orang-orang di negara ini, pastilah belum menghentikan kegiatan mereka.
Zee memilih memainkan ponselnya untuk mengalihkan pikirannya. Berkirim pesan dengan Sean untuk sekedar mengabari.
"Zee ... " Seseorang memanggilnya sayup-sayup.
Zee mendongak dan langsung menatap pria di depannya. Ia melirik ke arah dinding lift yang memantulkan tubuh mereka berdua. Pria itu tengah memainkan ponselnya. Ditambah, mana mungkin pria ini mengenal dirinya. Zee lagi-lagi menepis pikiran negatifnya.
Hingga tak terasa jika pintu lift sudah terbuka. Pria di depannya berjalan lebih dulu keluar lift dan berbelok. Begitupun dengan Zee yang keluar dan segera berjalan menuju keluar gedung, dimana Sean mengatakan berada disana.
Senyum Zee mengembang ketika melihat dari dalam lobi, pria itu bersandar pada cup mobilnya. Sebuah ide muncul di dalam kepalanya.
'Aku sudah ada dibawah, tebak aku ada dimana, Sean.' Begitu pesan yang ia kirim.
Setelah mengirimkannya, Zee langsung melihat Sean yang memang tengah menunduk menatap ponselnya. Tak lama ia menatap ke dalam lobi, menoleh ke kanan dan kiri yang pasti mencari keberadaannya. Zee segera berjalan ke tempat dimana Sean tidak bisa melihatnya untuk memancing pria itu masuk dan mencarinya. Namun, itu adalah pilihan yang salah.
Senyum yang mengembang itu seketika menghilang. Berganti dengan wajah yang kepanikan dengan mata melotot terkejut ketika seseorang membekap mulutnya dan menyeretnya ke sisi gelap. Zee sekuat tenaga meronta, berusaha melepaskan diri. Sambil berusaha melihat seseorang yang menculiknya ini. Namun, nampaknya obat yang sudah dilumuri di sapu tangan yang membekap mulutnya itu sudah bekerja. Tenaganya melemah begitupun dengan kesadarannya.
"Begitu sulit untuk menculikmu, tapi kamu malah memberikanku kesempatan, Zee." Sayup-sayu di tengah kesadarannya yang tersisa, pria tersebut berbicara dalam bahasa Indonesia.
-
-
__ADS_1
-
To be continued