Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 10


__ADS_3

"Kak Anan"


Rengekan Syifa memanggil Adnan.


"Hmm"


Adnan hanya berdehem singkat.


"Kapan Syifa boleh pulang?"


"Kenapa ngebet banget pengin pulang sih"


Revan menyahut heran tanpa menoleh pada Syifa.


Revan sibuk menata makanan di meja untuk sarapan pagi ini dibantu oleh Vina.


"Ishh!. Syifa ga suka disini!. Mau pulang"


Syifa mencebikkan bibirnya lucu.


Menatap Adnan dengan tatapan menuntut.


Adnan yang diberi tatapan tersebut menghela napas.


"Kata Dokter, Ifa boleh pulang hari ini. Tapi nanti siang"


"Yeeyy.. Syifa pulang"


Syifa berjoget ria dengan menggerakan tangannya ke atas.


Adnan mendelik.


Adnan menurunkan tangan Syifa yang bergerak bebas. Ia takut infusnya naik, malah nanti darahnya ikut naik ke selang infus.


"Kenapa sih kak.? Syifa kan lagi bahagia"


Syifa cemberut karena acara jogetnya dihentikan begitu saja oleh Adnan.


"Ifa ga boleh gitu. Nanti infusnya naik. Darahnya nanti ikut ngalir di selang infus, mau lihat darah di selang infus Ifa?"


Adnan menjelaskan sambil menunjuk selang infus Syifa.


Syifa menggelengkan kepala ribut.


Ia benar benar tak mau itu terjadi.


Adnan tersenyum.


Karena ia tahu Syifa takut melihat darah.


"Ayo, sekarang Syifa sarapan dulu yah"


Vina tiba-tiba berucap, mengajak Syifa untuk sarapan.


Vina berjalan mendekat pada ranjang sembari membawa nampan berisi bubur, obat, serta vitamin.


Syifa mengangguk lalu membuka mulutnya menerima suapan dari Vina.


Yang lain juga ikut memakan sarapan masing-masing.


Syifa terhiur ingin memakan Snack yang dibawa Revan.


Syifa terlihat gelisah.


Vina menyadari itu.


Lalu ia berinisiatif bertanya.


"Kenapa Sayang?"


"Kak Rev"


Bukannya menjawab pertanyaan Vina.


Syifa malah memanggil nama Kakaknya.


Tentunya setelah Syifa menelan buburnya.


"Hmm, kenapa Sayang?"


Revan menjawab dengan menaikkan satu alisnya. Seraya mengunyah makanannya.


"Syifa mau itu"


Syifa menunjuk Snack punya Revan.


"Boleh yaa"


lanjut Syifa dengan tatapan memohon.


Semua orang disana terkejut.


Apalagi Adnan dan Bara yang sudah menatap Revan dengan pandangan membunuh.


Berani-beraninya Revan membawa makanan seperti itu.


Gawat kan kalau Syifa sudah merengek meminta makanan itu.


Nah!


Sekarang ini sedang terjadi.


Revan sendiri sudah pias, wajahnya memucat.


Revan sungguh takut dengan tatapan Adnan dan Bara.


Revan sampai lupa, Ia seharusnya tidak membawa Snack itu ke ruang rawat Princess.


Mati gue!. Batin Revan menjerit.


Setelah perang tatapan itu, akhirnya Aditya yang bertindak.


Aditya mengambil jajanan Snack itu, membukanya lalu memakannya.


Setelah beberapa kunyahan, Aditya memulai aksinya.


"Huah! huah! ini pedas Princes!."


"Bara cobalah"


Aditya mengedipkan satu matanya pada Bara sebagai kode.


Bara yang duduk disebelah Aditya mengerti kode itu.


Bara memakan Snacknya lalu berpura-pura kepedasan.


"Hah! Iya ini sungguh pedas Princess. Huh! Huh!"


Bara mengibaskan tangannya didepan mulut. Sebagai tanda bahwa ia kepedasan.


Revan, Adnan, dan Mommy Vina juga mengerti dengan tingkah mereka berdua.


Mereka berdua berusaha membujuk Syifa untuk tidak memakan Snack itu.

__ADS_1


Baru juga pulih, masa sudah makan jajan sembarangan No Way!. Batin mereka bersuara.


Syifa menatap Mereka berdua aneh.


Syifa memicingkan mata curiga.


"Kalian gak bohong kan?!"


Bara gelagapan.


Bara berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Hmm. Mana mungkin kakak bohong sama Baby"


"Ini beneran pedes loh Sayang. Nanti kalau perut Syifa sakit kaya waktu di kelas, bagaimana?. Mau perut Syifa sakit lagi?" Lanjutnya dengan pelan dan lembut agar Babynya ini mengerti.


Syifa menggeleng ribut.


Lalu Syifa menunduk, ia mencebikkan bibirnya.


Adnan mengangkat tubuh mungil Syifa ke pangkuannya.


Mengelus pelan pipi Cubby Ifa-nya ini.


"Ifa Sayang"


"Apa?!"


Adnan mengulum senyumnya.


Ifanya ini sekarang sedang merajuk.


"Sekarang habiskan dulu buburnya, minum juga obat dan vitamin"


Syifa memalingkan wajahnya.


Tidak mau menatap Adnan.


Ia ingin sekali makan Snack itu.


"Habiskan dulu buburnya. Katanya mau pulang, hmm"


Adnan mencuri kecupan pada pipi Cubby dan merah milik Ifa.


Pipinya merah karena Ifa sedang kesal sekarang.


"Pulang?!"


Ucap Syifa antusias menanggapi ucapan Adnan tadi.


Adnan tersenyum lega, ia telah berhasil mengalihkan perhatian Ifa dari jajanan Snack milik Revan.


"Iya. Nanti kita buat agenda. Apa saja yang ingin Syifa lakukan seharian. Setuju?"


"Setuju!!"


Ucap Syifa semangat sembari menyengir. Menunjukkan deretan giginya yang putih rapi.


Akhirnya Syifa lupa dengan perihal Snack itu.


Mereka semua kemudian melanjutkan acara sarapan yang tertunda tadi.


...●●●...


Siang ini Syifa menyibukkan diri di sofa ruang keluarga dengan TV didepannya.


Yang menayangkan sebuah kartun.


Ia tadi baru saja pulang dari Rumah Sakit.


Menurutnya kartun kali ini sangat membosankan.


Ia lebih suka bermanja-manja dengan Kakaknya.


Kakak yang dimaksud siapa lagi jika bukan Adnan.


"Kak Anan"


"Hmm. Apa sayang"


Mata Adnan masih fokus melihat laptop dipangkuannya.


Ia mengerjakan pekerjaannya di rumah.


Karena sudah buat janji dengan Syifa saat di Rumah Sakit.


Perihal agenda kegiatan seharian ini, yaitu menonton kartun.


"Kakak, Ifa bosan"


"Loh bukannya kamu suka nonton kartun"


"Iyaa, tapi kartun hari ini sangat membosankan"


Sembari menduselkan wajahnya pada dada bidang Adnan.


Adnan menutup laptopnya lalu meletakkannya pada meja didepannya.


Sekarang matanya terfokus pada Syifa yang masih bergerak menggesekkan kepalanya.


Adnan mendudukkan Syifa ke pangkuannya, menghadapnya.


Tanpa aba-aba Syifa telah menaruh kepalanya pada bahu lebar Adnan.


"Sekarang Ifa mau apa hmm"


Adnan mengelus punggung Syifa naik turun secara teratur.


"Mau Kue"


Syifa mengangkat kepala menatap mata teduh Adnan.


"Kue rasa apa? Biar kakak pesankan"


Adnan baru saja akan mengambil Ponsel di saku celananya.


Tetapi di tahan Syifa.


"Tidak mau! Syifa maunya Kak Anan, Kak Revan sama Kak Bara yang buat. Nanti Syifa yang jadi juri-nya"


Matanya menatap Adnan dengan berbinar.


Ia sungguh mengharapkan Kakak-kakaknya mau menurutinya.


"Baiklah. Ayo kita cari keberadaan Revan sama Bara"


Adnan berdiri sambil menggendong Syifa di depan ala koala.


"YES!! MARI MASAK!!!"


Teriak Syifa keras membuat Adnan terkejut.


"Ifa Sayang jangan teriak-teriak. Nanti tenggorokkan kamu sakit. Jangan di ulangi lagi yaa"

__ADS_1


"Iya"


Cicit Syifa pelan.


Lalu tangannya memeluk leher Adnan dengan erat.


...●●●...


"Itu jangan kebanyakan nanti bantet!"


Syifa menunjuk Tepung tapioka ditangan Adnan.


"Ihh! Jangan di buat mainan!. Kotor kan jadinya!"


Syifa mulai mengomel pada Revan.


"Ini garam bukan gula!"


Bara dengan asal-asalan menyendok sesuatu sesukanya.


Menurutnya yang penting warna putih.


"Diaduk Kak jangan digoyang-goyang!. Nanti tumpah"


Revan lagi-lagi berulah.


"Ihh Syifa pusing!. Kalian gak ngerti-ngerti!"


"Ya dikasih tau dong Baby biar paham"


Sahut Bara tiba-tiba.


"Kan dari tadi udah Syifa kasih tau. Tapi tetep aja gak ngerti"


"Kakak paham kok. Seperti ini kan ngaduknya"


Revan memperlihatkan cara mengaduk dengan kedua tangannya.


Padahalkan udah ada mixer.


Dasar Revan saja yang banyak tingkah.


"Ihh kok pake tangan. Itu udah ada mixernya ngapain pake tangan. Tangan kakak jadi kotor kan"


Omel Syifa untuk ke sekian kalinya.


Ia menghela nafas menghadapi ketiga Kakaknya yang benar-benar menguji kesabaran seorang Syifa.


Awas saja nanti jika kesabaran Syifa habis.


Revan meringis mendengar Syifa yang tak berhentinya mengomel.


Cerewet sekali.


Revan suka saat Syifa mengomel.


Itu terlihat lucu dan imut sekaligus.


Dengan bibir mengerucut. Menggembungkan pipi Cubbynya. Dan mata yang melotot.


Sungguh manis.


"Ifa Sayang habis di aduk langsung di taruh di oven kan. Terus langsung jadi" Imbuh Adnan.


Adnan mengira setelah diaduk langsung taruh saja dalam oven.


"Kak Anan gimana sih!. Ya gak boleh sama baskomnya juga dimasukkin ke oven. Adonannya taruh dulu dalam loyang. Baru di masukkin oven" ucap Syifa gregetan.


Ingin sekali Syifa ikut membantu.


Tapi lihatlah yang sudah dibuat Kakak-kakaknya.


Berserakan.


Akhirnya, ini satu-satunya cara membuat mereka paham sepaham-pahamnya.


Syifa menarik nafas dalam-dalam lalu,


"MOMMY!!!"


Teriak Syifa menggema seluruh ruangan Mansion.


Gawat! Gawat!. Batin Bara.


Mati gue!. Batin Revan.


******!. Batin Adnan bersuara.


"Hiks hiks Mommy!!"


Vina berlari tergesa-gesa mendengar suara teriakan Putrinya.


Ia takut Syifa kenapa-napa.


"Kenapa sayang?!!"


Vina berucap panik saat melihat Putrinya menangis.


"Itu lihat Mommy"


Adu Syifa pada Vina.


Menunjuk ketiga Kakaknya yang diam berdiri kaku.


Vina molotot.


Seolah-olah matanya akan copot.


Bagaimana ini bisa terjadi.


Lihatlah sekarang keadaan dapur bisa dikatakan seperti kapal pecah.


Satu kata untuk menggambarkan keadaan dapur saat ini.


KACAU!!.


...■■♤■■...


1292 Karakter.


Huh selesai juga nulisnya.


Nih ya Double Up nya.


Lunas!!


Tungguin next part yah.


Vote✔


Comment✔


^^^Minggu, 20 September 2020.^^^

__ADS_1


Ba-bye👋👋


Luv you❤💜😙


__ADS_2