
Pagi ini cuaca cerah, matahari bersinar sewajarnya, tidak terlalu panas.
Walau matahari sudah menampakkan dirinya, seorang gadis mungil belum juga terbangun dari tidurnya. Tidak terganggu sama sekali dengan gangguan luar, termasuk sinar matahari.
Kakaknya yaitu Adnan memasuki kamar milik Syifa. Ia menggelengkan kepala melihat Syifa masih bergelung dengan selimut dan guling dipelukannya.
"Ifa"
"Bangun sayang"
Tak ada tanggapan dari Syifa, bergerak pun tidak.
Adnan mengehela nafas dengan sabar, "Ifa sayang"
Ia duduk ditepi ranjang dan membungkukkan badannya agar lebih dekat dengan Syifa.
Setelah itu usapan lembut diterima Syifa di kepalanya. Adnan juga dengan iseng mencubit pipi Syifa dengan gemas.
Ternyata itu berhasil, Syifa mulai terusik.
Tangan Syifa terangkat untuk menyingkirkan tangan Adnan yang berada di pipinya, tetapi matanya belum terbuka sama sekali.
"Sayang!"
"Ifa!"
Syifa hanya bergumam pelan tanpa menggubris lebih Kakaknya yang sudah kesal, "Hmm"
"Astaghfirullah"
Adnan mengelus dada juga menghela nafas agar tidak marah pagi-pagi begini.
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang bersarang di otaknya, ia akan mengerjai Adiknya yang sulit sekali dibangunkan.
"Ifa sayang"
Adnan tersenyum smirk, ia yakin rencananya bakal berhasil 100%. Ia mendekatkan mulutnya didepan telinga Syifa.
"Alfa hari ini nikah sama cewek lain, Kamu gak mau dateng buat kondangan?"
"HAH?!!"
Syifa dengan tiba-tiba bangun lalu duduk dengan sekali hentak. Adnan terkejut dengan reaksi Syifa yang begitu tiba-tiba, Ia bahkan sampai mundur karena saking terkejutnya.
"Nikah?!"
Adnan mengangguk sekilas atas pertanyaan yang dilontarkan Syifa.
Syifa menggelengkan kepalanya ribut, "Enggak! gak mungkin!"
Matanya berkaca-kaca karena sudah membayangkan yang tidak-tidak. Masa iya, dia hanya menjaga jodoh orang?
Melihat ekspresi Syifa yang begitu lucu, bibir maju kedepan, pipi memerah, dan matanya yang berkaca-kaca, Adnan tertawa lepas karena berhasil mengerjai Syifa.
Syifa mengenyitkan dahinya, "Kok, Kak Anan malah ketawa sih?! Syifa lagi sedih ini!"
Ucapan Syifa kembali membuat Adnan terus tertawa sampai memegang perutnya.
"Ya ampun Ifa, sayangku"
Adnan berusaha meredakan tawanya.
"Kamu Kakak kerjain kok masih gak sadar sih?"
Setelah mengucapkan itu, Adnan kembali tertawa keras.
Syifa membulatkan matanya keget, ia tak habis fikir.
"Kak Anan jahat! Jantung Syifa sampe berdetak kaya musik DJ, dag-dug dag-dug"
Tangannya memegang dadanya dramatis dan mulutnya berbicara melebih-lebihkan. Adnan kembali terkekeh dengan tingkah Adiknya ini.
Adnan merapikan rambut Syifa yang sedikit berantakan, "Maafin Kakak Ifa sayang, Kakak gak bermaksud gitu"
"Lagian Kamu udah Kakak bangunin dari tadi, gak ada respon, gak bangun-bangun. Ya udah Kakak kerjain aja sekalian"
"Maafin Kakak ya" Pinta Adnan dengan lembut dan tulus.
Syifa tersenyum manis, rasanya menyegarkan mata. Pagi-pagi sudah disuguhi wajah tampan Kakaknya.
__ADS_1
"Syifa maafin kok"
"Makasih"
"Sama-sama Kak"
"Sudah sana mandi, bau iler" Ledek Adnan.
"Ih enggak! Syifa gak ileran!"
Syifa turun dari ranjang dengan cepat, lalu berjalan ke kamar mandi dengan menghentakkan kaki disetiap langkahnya.
Adnan terkekeh pelan, ia akhirnya merapikan bedcover milik Syifa, melipat dan menatanya dengan rapi.
Setelah selesai, ia keluar kamar untuk membangunkan Adiknya yang lain.
...●●●...
Syifa melangkah menuruni satu per satu anak tangga, tetapi ia berhenti sejenak setelah mendengar suara seseorang.
"Sepertinya ada tamu"
Syifa melangkah mendekati ruang tamu berada, ia melihat siapa tamu yang datang.
Disana ada Vina yang dari tadi berbincang dengan tamunya.
"Eh, sayang sini" Ajak Vina pada putrinya.
Syifa tersenyum canggung juga kikuk. Ia akhirnya mengangguk, "Baik Mom"
Ia berjalan mendekat, lalu duduk disamping Vina duduk. Didepan mereka berdua ada satu cewek.
"Princess, Mom mau kasih tahu kalau Caesa ini di Vonis Batu ginjal" Ucap Vina pelan dan hati-hati.
Mata Syifa membulat, "Beneran Mom?"
Kepala Vina mengangguk, "Iya"
...●●●...
POV Caesa
Gue hari ini akan berkunjung lagi ke Mansion Mommy Vina.
Dengan senang hati Gue bakal dateng kesana.
Setelah membayar ongkos Taxi, Gue melangkah memasuki halaman Mansion.
Tangan Gue dengan spontan langsung menekan bell di samping pintu.
*Ding dong
Ding dong*
Dua kali bell berbunyi, pintu segera terbuka oleh seorang wanita yang masih terlihat muda.
"Kamu udah dateng, yuk masuk" Sapa Mom Vina mengajak Gue buat masuk ke dalam.
Menganggukkan kepala Gue lalu menjawab, "Iya, Mom"
Kita berdua duduk berhadapan di ruang tamu, saling berbincang hangat.
Entah topik apapun Kita bahas.
Tiba-tiba percakapan Kita terpotong karena kedatangan Syifa.
Orang yang ditunggu-tunggu Gue, ternyata udah dateng.
"Princess, Mom mau kasih tahu kalau Caesa ini di Vonis Batu ginjal"
Gue melihat reaksi Syifa yang sangat terkejut setelah mendengar ucapan Mom Vina.
Mata Syifa terlihat membulat, "Beneran Mom?"
Dia sepertinya tak percaya karena terlalu kaget.
Kepala Mom Vina mengangguk, "Iya"
Gue menunduk, buat menguarkan suasana sedih.
__ADS_1
"Syifa doakan yang terbaik buat Caesa, Syifa yakin Caesa pasti sembuh"
Senyuman manis Syifa, Gue balas juga dengan senyuman sendu.
Tatapan Gue menyendu dan kepala Gue mengangguk.
"Iya, Aminn makasih Syifa"
"Sama-sama Caesa" Balas Syifa dengan raut ceria.
Wajahnya yang khas dengan keimutan dan keceriaan, beda sekali dengan wajah Gue yang lebih terkesan anggun.
"Kemarin Mom udah cari di google, sama tanya-tanya sama Dokter Ferdi juga"
Gue penasaean sama lanjutan ucapan Mom Vina.
"Kalau penderita Batu Ginjal harus mengkonsumsi daun seledri, maka dari itu Mom udah siapin daun seledri yang di beli Bi Sari di pasar"
"Bi! Bi Sari!"
Mati Gue, daun seledri?
Daun hijau itu?! Huek
Gak kebayang gimana rasanya tuh daun di mulut Gue, iuuhhh.
Dan yang gak Gue sangka adalah bisa-bisanya Mom Vina terpikirkan sampai kesana.
Lalu datanglah seorang wanita paruh baya, yang Gue yakin sebagai Maid disini.
"Iya, Nya"
"Bi, tolong ambilin daun seledri sama minuman buat Kita semua ya"
"Baik, Nya"
"Em, enggak usah Mom. Nanti biar Caesa siapin dirumah aja. Ga-"
"Eh, jangan gitu. Udah Mom siapin masa gak Kamu makan sih?"
Melihat tampang sedih Mom Vina, mau tak mau Gue harus nurutin kemauan dia.
Akhirnya Gue pasrah menganggukan kepala.
Semoga rasanya manis deh nanti.
Seorang yang bernama Bi Sari tadi kembali ke ruang tamu untuk mengantarkan pesanan Mom Vina.
Di meja sudah tersedia satu gelas air putih, dua gelas Jus Jambu biji, dan satu mangkuk berisi daun seledri.
Mata Gue menatap daun seledri itu dengn seksama. No No, Gue gak mau itu daun masuk kedalam mulut Gue.
Baunya aja Gue udah gak suka, apalagi disuruh nelen.
Gue menelan saliva dengan susah payah.
"Mom Caes-"
Ucapan Gue terpotong sama Mommy Vina. Ish sebel.
"Ini sayang, ayok di kunyah. Nanti baru minum air putih"
"Tapi Mom-"
"Gak ada tapi-tapian. Ayok di kunyah, Mom liatin"
Gue kesel sekesel-keselnya, gak mau banget Gue disuruh ngunyah daun seledri. Yang Gue tau, yang mau ngunyah daun seledri tuh nenek-nenek jaman old.
Kok sasarannya malah jadi Gue.
Gue melirik Syifa sekilas, dia diem aja dengan muka sok polosnya. Tambah kesel deh Gue.
Mom Vina menyodorkan mangkuk itu di hadapan Gue. Tangan Gue dengan ragu-ragu meraih daun seledri di hadapan Gue.
Gue menatap mangkuk itu dengan nanar, logika Gue menolak dengan keras buat ngunyah tuh daun hijau.
"Ayok sayang, jangan kelamaan"
Maksa banget sih, nih ibu-ibu satu.
__ADS_1
"Iya" Gua jawab seadanya.
Setelah Gue mengambil satu helai daun seledri, mata Gue manatap Mommy Vina, dia menganggukan kepala mengisyaratkan Gue buat mengunyahnya.