
Happy Reading..
"Oh ya, Kita belum kenalan" ujar Kenzo menatap pasangan yang duduk didepannya.
Celetukan Kenzo membuat Syifa yang tadinya, masih nyaman dalam pelukan Alfa.
Akhirnya mendongak, menoleh pada Kenzo.
"Kenalin. Nama lengkapku. Kenzo Clarance."
"Clarance? Namanya bagus" Syifa berkata seraya telunjuknya ia taruh didagunya.
"Nanti, kalau Kita sudah menikah. Kita akan membuat nama-nama yang bagus untuk anak Kita." Balas Alfa dengan suara keras.
Wajahnya kelewat santai tanpa mempedulikan reaksi orang disekitarnya.
Syifa yang merona malu.
Keluarga keduanya yang hanya tersenyum geli. Sedangkan Kenzo, ia malah memperlihatkan ekspresi seperti mual.
Kenzo jengah dengan kebucinan Alfa. Yang semakin ngelantur kemana-mana.
Lagian Syifa aja baru Kelas 10 SMA. Kalau kalian lupa. Ini malah sudah bahas anak. Dasar Alfa bucin.
Kenzo mendelik sebal pada Atasan sekaligus Sahabatnya ini.
Lalu tanpa aba-aba, Alfa bangkit dan menggandeng Syifa untuk menjauhi keramaian. Mereka berdua akhirnya duduk dimeja awal. Meninggalkan Kenzo yang kembali duduk sendirian.
Lagi-lagi Kenzo ditinggalkan sendiri. Tanpa pamit lagi.
Ia berdecak kesal, sekaligus matanya melotot sebal pada Alfa yang seenaknya.
"Ishh! Menyebalkan!."
Desis Kenzo pelan. Ia juga takut jika sampai terdengar Alfa.
Ia sudah biasa dengan sikap Alfa, yang seenaknya sendiri. Tapi tetap saja rasanya menjengkelkan.
Kenzo meneguk minuman sirup dalam sekali teguk. Lalu meletakkan gelas kosong secara kasar kemeja. Ia sungguh kesal.
"Kenapa sih Kak Alfa. Kok malah ninggalin Kak Kenzo sendirian. Kasihan dong. Kan Kak Kenzo jomblo"
Syifa ini aneh, tadi sudah kasihan pada Kenzo. Lalu setelahnya malah mengatai Kenzo jomblo.
Alfa tertawa.
Gadisnya ini selalu bisa membuatnya tertawa. Ia semakin gemas pada Syifa.
"Gak apa-apa. Aku mau ngomong sesuatu. Tentang anggota keluarga Kamu yang cuekin Kamu. Bara dan Revan yang pura-pura kehilangan sesuatu, lalu secara tidak langsung menuduh Kamu. Itu semua adalah ide Aku untuk Prank Kamu. Maafkan Aku Sayang. Maaf. Aku gak bermaksud buat Kamu nangis seharian" Ucap Alfa menyesal.
Raut wajah Alfa kentara sekali, bahwa dirinya benar-benar menyesal.
Ia jamin, ini adalah yang terakhir kalinya, ia membuat Gadisnya menangis.
Setelah ini, ia tidak akan pernah membiarkan Syifa menangis lagi. Baik karena orang lain, maupun dirinya.
"Maaf Sayang"
Syifa berkaca-kaca, setelah mendengar penjelasan Alfa. Ia ternyata di Prank.
Ia lega, bahwa Keluarganya tidak benar-benar mendiamkannya.
Tapi disisi lain, ia juga sedih.
Ia sampai menangis sehari semalam karena Prank ini.
Tapi mana bisa Syifa marahan lama-lama. Nanti kalau kangen bagaimana. Ia juga yang repot menahan rindu.
Alfa melihat mata Syifa yang berkaca-kaca ingin menangis.
Ia panik.
Ia merasa bersalah sekali, lagi-lagi telah membuat Gadisnya menangis.
Ia tahu, Gadisnya ini cengeng dan manja. Tapi ia tetap suka dengan apapun yang ada pada diri Syifa.
"Sayang"
"Hiks.. Hiks.. Kak Alfa jahat.."
Syifa menangis sesenggukan. Ia tak kuasa menahan air matanya.
Alfa langsung saja memeluk Syifa erat.
Menumpukan kepala Syifa didadanya. Seraya tangannya mengelus lembut naik turun di kepala Syifa. Mencoba menenangkan Kekasihnya.
"Syuut.. Sayang. Aku minta maaf yah. Maaf banget. Kamu mau maafin Aku kan?" Tanya Alfa penuh harap.
Semoga saja Syifa mau memaafkannya.
Syifa mengangguk pelan.
"Iya. Syifa maafin Kak Alfa. Tapi jangan kaya gitu lagi"
"Iya Sayang. Aku gak bakal kaya gitu lagi. Terima Kasih Sayang" Alfa tersenyum senang sekaligus lega. Ia pun mengecup dahi Gadisnya lembut dan lama.
__ADS_1
Cup~
"Janji?"
Syifa mengulurkan jari kelinging mungilnya ke hadapan Alfa. Meminta Kekasihnya untuk mengaitkan jarinya.
Alfa tersenyum. Lalu jarinya dengan segera mengaitkan dengan jari mungil Syifa lalu berjanji.
"Janji Sayang" Alfa berucap yakin.
Ia merasa tautan tangan Syifa mengendur.
Lalu tak lama, tubuh mungil itu ambruk. Untungnya dengan segera Alfa menangkap pinggang Syifa.
"Syifa!!"
Refleks Alfa berteriak. Membuat semua mata langsung tertuju padanya.
Semuanya ikut panik.
Apalagi Alfa, ia dengan segera menggendong Kekasihnya, di depan. Langsung berjalan cepat menuju Mobilnya.
"Kenzo!!" Teriak Alfa menganggil Kenzo, Asistennya.
"Iya!" Kenzo langsung bergerak cepat, membuka pintu Mobil belakang. Dan ia duduk dikursi kemudi.
Kenzo melajukan Mobil dengan mengebut. Ia mengklakson semua kendaraan didepannya.
"Lebih cepat lagi Kenzo!!"
"Iya! Oke oke!" Kenzo pun dengan segera menambah kecepatan Mobilnya.
...●●●...
Adnan POV.
Gue sedang asik memandangi Ponselku. Yang menampilkan E-mail yang selalu masuk setiap saat.
Ya Gue tahu, ini merupakan tuntutan pekerjaan yang harus Gue selesaikan selama disini, Aussie.
Negara yang sedang Gue tempati untuk keperluan Bisnis.
Juga liburan Keluarga, walau sebenarnya tidak pergi kemana-mana. Hanya diam di Mansion saja.
"Syifa!!"
Gue terkejut. Jantuung Gue berdetak kencang.
Ada yang berteriak memanggil nama Ifa. Princessnya.
Ada apa ini?.
Deg.
Jantung Gue hampir berhenti tadi.
Walau hanya sekitar seperkian detik. Tapi tetap saja, itu membuat jantung Gue bekerja tidak normal. Terlalu cepat.
Bahkan Gue bisa mendengar suara detak jantung Gue sendiri.
Di sana Gue melihat Alfa, Kekasih Adiknya. Terlihat panik, sambil menggendong Ifa di depan.
"Ifa Kenapa? Dia baik-baik saja kan?!"
Gue melihat Ifa pingsan digedongan Alfa.
Alfa segera berlari dan meneriaki nama Kenzo.
Ahh, Gue tahu. Kenzo pasti Asistennya.
Gue ingat, kalau Ifa tak sadarkan diri tadi.
Gue segera menyusul Alfa dengan Mobil Gue. Mengikuti dibelakang mobil Alfa yang dikendarai oleh Kenzo.
Adnan POV End.
Revan berteriak kesal. Karena melihat keterdiaman Keluarganya.
Mungkin masih terlalu shock. Melihat Syifa yang tiba-tiba pingsan.
"Kalian masih mau diam saja!!. Tidak mau menyusul Kak Adnan dan Kak Alfa ke Rumah Sakit?!!." Tanya Revan ngegas. Ia sungguh kesal.
Bara yang pertama kali tersadar.
Lalu langsung menyuruh mereka untuk cepat masuk ke Mobil. Mereka semua akhirnya masuk mobil masing-masing.
Lalu melajukannya cepat, ingin segera sampai dan bertemu Syifa.
"Hiks.. Dad. P-princess Hiks.." Vina menangis pilu.
Melihat tubuh Putrinya tak sadarkan diri. Ibu mana yang tidak sedih, ketika melihat anaknya tak sadarkan diri seperti itu.
Saat Princess sakit saja, ia juga ikut merasakan sakit. Ia juga menangis, tak kuat melihat Syifa yang terus mengeluh kesakitan, pusing, dll. Apalagi ini!.
"Tenang Sayang. Dad yakin Princess bakal baik-baik aja. Mommy tenang yah. Jangan seperti ini. Princess juga butuh kita semua. Hmm."
__ADS_1
"Emm. I-iya Dad. Mommy bakal kuat, hanya untuk Princess"
Semangat Vina, ia tak ingin terlihat lemah dihadapan Putrinya. Jika ia lemah, nanti siapa yang akan menguatkan Princess.
Tak terasa, mereka semua sudah sampai di Rumas Sakit yang sudah di Sharelock oleh Alfa tadi.
Mereka, Keluarga Winata dan Sachdev. Sama-sama berlarian langsung menuju UGD. Disana sudah ada Kenzo yang sedang duduk di kursi tunggu.
Sedangkan Alfa, malah berjalan mondar-mandir. Kesana kemari tidak jelas.
Kenzo sudah lelah menasehati Alfa untuk duduk tenang selagi menunggu Dokter keluar nanti.
Jangan lupakan Adnan yang berdiri menyender dinding, dengan pandangan tertunduk. Mereka terlalu cemas. Sampai kalut seperti ini.
Semuanya berkumpul di depan Ruang UGD. Kecuali Bian dan Nara yang sudah Aditya suruh pulang.
Karena Grandpa dan Grandma Princess itu, tidak boleh sampai kelelahan. Setelah acara Pertunangan tadi, pasti Orang tua Aditya ini sudah kelelahan.
Makanya tadi saat Bian dan Nara bersikeras ingin ikut, dengan tegas Aditya menolaknya.
"Dokter belum keluar?" Vina bertanya pada Putranya juga Kekasih Putrinya.
"Belum Mom" balas Adnan dan Alfa serempak.
Setelah beberapa saat,seorang Dokter keluar dari Ruang UGD.
"Keluaga Pasien?"
"Kami"
Serentak semua mengucapkan itu. Seperti paduan suara. Dokter tersenyum menanggapi kekompakan itu.
"Kondisi pasien lemah. Ia kelelahan dan kekurangan cairan. Sebaiknya pasien dirawat inap dahulu agar sembuh total dan cepat pulih." Penjelasan Dokter diangguki oleh semuanya.
"Tapi, Putri Saya baik-baik saja kan?"
Vina mengajukan pertanyaan dengan raut wajah begitu khawatir.
"Pasien baik-baik saja. Mungkin akan siuman esok hari. Karena tubuhnya masih terlalu lemah."
Vina mengangguk mendengar penjelasan Dokter mengenai kondisi Putrinya.
"Ruang VVIP." Ucap Adnan tiba-tiba.
Terlebih terlalu singkat, padat, dingin, dan kurang jelas.
Dokter terdiam sejenak. Memikirkan maksud Adnan tadi. Lalu menganggukkan kepala, setelah mengerti maksud Adnan.
Yang menyuruh Dokter untuk memindahkan Syifa keruangan VVIP. Tentunya dengan Fasilitas lengkap.
Dokter tersebut langsung pamit undur diri. Juga mempersilakan anggota Keluarga pasien menjenguk. Dengan syarat tidak boleh menganggu istirahat Pasien. Dan diangguki oleh semuanya.
Alfa yang masuk pertama ke Ruangan Syifa.
Setelah barusan Syifa dipindahkan. Alfa duduk dikursi samping brankar. Mengenggam jemari mungil milik Syifa.
Alfa Mengecup pungung tangan Syifa lama dan dalam.
Cuup~
"Cepat bangun Sayang.." ucap Alfa lirih dan pelan. Hampir seperti berbisik.
"Ini semua salahku."
"Alfa.." ucap lirih Sarah. Melihat Putranya bersedih seperti ini.
"Hei nak. Jangan bilang begitu. Ini bukan salah Kamu sepenuhnya. Ini juga salah Kita. Jangan menyalahkan diri sendiri." Balas Vina bijak dan lembut.
Memberi pengertian pada Alfa, agar tidak menyalahkan diri sendiri seperti ini.
Alfa memandang wajah ayu Vina. Wajah yang penuh keibuan juga lemah lembut.
Tanpa aba-aba Alfa memeluk Vina, calon mertuanya dengan erat. Menyalurkan kehangatan, yang begitu dirasakan Alfa dalam pelukan ini.
Semuanya tersenyum melihat bagaimana dekatnya Alfa dan Vina. Yang sudah seperti Ibu dan anak kandung.
Vina dengan lembut mengelus punggung tegap dan lebar milik Alfa. Ia sudah menganggap Alfa seperti anaknya sendiri, sama seperti Adnan.
...■■♤■■...
1489 Karakter.
Aku Update malem ini😆💕
Aku minta maaf, kalau masih ada typo. Tolong dikoreksi yah😉
Aku ngantuk nih. Ngetik dengan mata tinggal 5 Watt. Redup😂
Jangan lupa VOTE✔✔✔
COMMENT✔✔✔
Semoga suka Part ini😍😍😍
Dadah Sayangku😍😗
__ADS_1
Stay tune yah😂
^^^Minggu, 18 Oktober 2020.^^^