Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 68


__ADS_3

Syifa sudah berdandan rapi dengan seragam sekolahnya pagi ini. Ia berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin.


"Syifa udah rapi, uhuy"


Syifa mencangklok tas gendong di pundak dan memasukkan ponsel ke dalam saku seragamnya.


Mereka yang melihat Syifa turun sudah rapi dengan seragam dan tasnya merasa terkejut, karena mereka khawatir Syifa belum sembuh total.


"Sayang, kok kamu turun sih. Kenapa pake seragam gini?" Tanya Vina khawatir dengan menyentuh kedua bahu Syifa.


Syifa menatap Vina polos dan tersenyum cerah, "Syifa mau sekolah, Mom"


"Tidak!" Ucap ke empat lelaki yang berada di sekitar meja makan.


Syifa cemberut, "Boleh ya, ya ya ya please.." Bujuk Syifa dengan puppy eyes nya.


Adnan beranjak mendekati Syifa dengan pandangan teduh.


"Kamu belum sembuh total, Fa"


"Ihh Syifa udah sembuh, lihat nih Syifa udah sehat" Syifa memutar badannya untuk menunjukkan bahwa ia sudah sembuh.


Adnan tersenyum tipis, tak tega bila melarang Syifa untuk pergi ke sekolah. Pastinya bakal sedih.


"Kakak percaya sama kamu, jaga kepercayaan kakak. Jaga kesehatan sayang!"


Syifa mengangguk antusias, akhirnya ia di perbolehkan untuk sekolah hari ini.


"Iya, siap. Syifa bakal baik-baik aja. Kalian tenang aja"


Vina menatap putra sulungnya dengan pandangan protes, tetapi Adnan dengan segera menghampiri Mommynya dan berbisik pelan.


"Gak papa Mom, percaya deh sama Adnan"


Vina menghela nafas, "Mommy harap Princess benar-benar udah sembuh" Gumam Vina lirih.


"Pasti Mom, buktinya dia udah seceria itu hari ini" Balas Adnan pelan, lalu menghampiri Syifa yang masih berdiri di depan meja makan.


Adnan menuntun Syifa untuk duduk di kursi dengan hati-hati, "Duduk"


Syifa menurut lalu menunggu Bara yang sedang mengoleskan roti tawar dengan selai coklat, sedangkan Revan menyodorkan segelas susu coklat, Syifa menerimanya dengan senang hati.


Syifa segera menenggak susu hingga tersisa setengah, lalu melahap roti yang sudah di lumuri selai coklat di dalamnya.


"Terima kasih kakak!"


Bara dan Revan mengangguk kompak akan ucapan terima kasih dari adiknya.


Setelah sarapan, Syifa bergegas untuk ke sekolah, "Baby, biar Kakak anterin kamu ya" Tawar Bara pada Syifa, ia sedikit khawatir makanya berinisiatif untuk mengantar.


Syifa menggeleng tegas, "Enggak, Syifa berangkat sama sopir aja"


"Baby-"


"Dadah, Syifa berangkat duluan, Assalamualaikum!!" Syifa memotong ucapan Bara, lalu sedikit berlari menuju pintu keluar setelah mengucap salam.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka serentak saat menjawab salam.


"Haish, Princess membuat Mommy khawatir" Vina menatap punggung Syifa dengan cemas.


"Gak papa sayang, Daddy yakin sama Princess" Aditya menenangkan Istrinya dengan sebuah rangkulan dan mengelus pundak Vina.


Vina menatap Aditya, suaminya itu juga sama sedang menatap dirinya lekat. Keduanya hanyut dalam suasana yang mereka ciptakan.


Tanpa sadar kepala Aditya sudah merunduk dan mendekati wajah Vina, sebelum terjadi hal yang lebih lanjut, Revan dengan kurang ajarnya berdehem keras, membuyarkan suasana romantis dari sepasang pasutri.


"Ekheemm!!" Revan berdehem keras, terlihat sekali jika deheman itu di buat-buat.


Anak kurang ajar, ganggu aja orang mau mesra-mesraan, batin Aditya menahan kesal, tetapi raut wajahnya tak bisa berbohong.


Aduhh, Mommy malu, batin Vina menahan malu.


Pipi Vina memerah, tangannya menutup wajah yang berubah memerah dalam waktu singkat. ia berusaha menutupi wajah agar rasa malunya berkurang.


Beda lagi dengan wajah Aditya, wajahnya memerah, bukan karena malu tetapi lebih dominan rasa kesal. Matanya melotot tajam pada Revan, anaknya yang sudah kurang ajar menganggu. Tak lupa dengan alis menukik seolah-olah itu seperti mata pisau yang tajam.

__ADS_1


"Revan kamu-"


"Udahlah Dad, Daddy aja yang gak tau tempat!" Potong Adnan lebih tidak sopan, berani membuat seorang Aditya ini tambah murka.


"Iya, kan masih ada kita" Sahut Bara memanas-manasi suasana, alias memojokkan sang kepala keluarga dengan perkataannya, walau terdengar tidak sopan, tetapi biarlah. Toh, jarang-jarang mereka bisa membuat Daddynya ini di pojokkan.


Revan menatap Daddynya mengejek, "Daddy kalo mau mesra-mesraan di kamar aja sana, tapi jangan sampai keblabasan. Kita gak mau ya nambah dedek bayi lagi"


Sebelum Aditya mengeluarkan suaranya, Revan lebih dulu beranjak dari kursi meja makan lalu berlari sekuat tenaga menjauhi ruang makan. Di luar ruangan meja makan terdengar suara tawa keras dari Revan. Sepertinya dia terlalu senang membuat Daddynya marah-marah pagi ini.


Balik lagi ke meja makan, Aditya sudah tidak tahan, ia naik pitam.


"Siapa yang ngajarin kalian jadi kurang ajar sama Daddy hah?!" Tanya Aditya kesal, ia menatap Bara dengan tajam untuk mengintimidasinya.


Bara bergidik, ia sungguh takut dengan tatapan Daddy saat ini.


"Ee- Yang n-ngajarin jelas aja bukan Bara, tapi dia!" Tunjuk Bara pada Adnan yang sedang meneguk segelas kopi.


"Uhuk-uhuk!!"


Adnan tersedak minumannya sendiri, kopi itu muncrat dari mulutnya membasahi meja di depan tempat duduk yang di tempati.


Bara melempar sekotak tisu yang langsung di tangkap cepat oleh Adnan, setelah membersihkan bibir dan dagunya, Adnan melempar tisu sembarang di atas meja.


Kini Bara tambah ketakutan ketika ia mendapatkan sepasang tatapan tajam lagi, dan ia terima dari Kakaknya. Adnan memelototi Adiknya yang sudah memfitnah dirinya.


"Sejak kapan hah?! Gak pernah tuh ngajarin kalian hal-hal yang gak berfaedah begitu!" Sungut Adnan kesal menahan amarah.


Pagi yang menjengkelkan, Adnan buru-buru berdiri lalu mengambil tas kantornya yang berisi laptop, berkas-berkas, dan lain-lain.


Adnan berlalu setelah sekali lagi menatap tajam Bara, tatapan itu isyarat sebagai peringatan. Jangan mengusik ketenangannya.


Dasar adik lucknut!


Bara mati kutu di tinggal sendirian dengan kedua orang tuanya, Aditya masih setia melotot padanya.


Satu-satunya harapan berada pada seorang wanita yang telah melahirkannya, Bara menatap Vina memelas, ia terlihat memohon dari tatapan sendunya. Mengenaskan, ia butuh pertolongan.


Vina meringis melihat wajah memelas dari Bara, siapa suruh membangunkan singa yang tertidur. Tapi ini juga salah mereka berdua tadi.


"Sudah Dad, Bara kamu cepat ke kampus. Kalo telat Mommy potong uang jajan kamu sebulan!" Ancam Vina tegas.


Bara tersentak, ia tidak mau ada pemotongan uang jajan, tidak boleh ada.


"Okey Mom, laksanakan. Bara bakal pastiin, kalo Bara gak bakal pernah telat!" Ucapnya yakin, walau di hati ketar-ketir takut suatu saat ia akan terlambat karena suatu hal mendesak yang tak terduga, ya siapa yang tau.


"Ya sudah sana, hati-hati!"


"Iya Mom!"


"Bara berangkat dulu Mom, thank you udah bantuin Bara!" Bara berlari menjauhi meja makan, rasa takut tadi menghilang entah kemana setelah mendapat pembelaan secara tidak langsung dari Mommynya.


Dan keberanian itu merambat ke permukaan membuatnya berani pergi tanpa pamit pada Daddynya, ia tadi hanya pamitan pada Mommy saja.


"Pasti tuh aki tua bangka lagi marah-marah gak jelas!" Di susul suara tawa, Bara terlihat terhibur dengan hal yang terjadi pagi ini.


"Aki tua bangka yang Lo maksud itu Daddy Lo!"


...•••••...


"Ini karena kamu ya, Mas!"


"Kok jadi aku sih, yang!" Balas Aditya tak terima di salahkan.


"Ya emang kamu yang salah. Ngapain tadi nunduk-nunduk wajahnya, terus peluk-peluk lagi!" Sungut Vina kesal, tetapi di dalam lubuk hatinya ia sangat malu karena sampai di tegur putra-putranya.


Untung saja Syifa sudah berangkat, kalo tidak, bahaya.


Aditya menyeringai, "Tapi kamu suka kan aku peluk, aku cium apalagi kalo kita berdua di kamar-"


"Stttss" Vina dengan sigap menutup mulut Aditya yang sedang berbicara dengan tangannya.


Aditya menatap istrinya dengan jahil. Aditya dengan mudah melepaskan tangan kecil istrinya yang menutup rapat bibirnya.


"Apa sayang" Tanya Aditya menggoda.

__ADS_1


"Udah kamu diem aja!"


"Sana berangkat! Jangan malas-malasan buat kerja!" Lanjut Vina, ia berbicara ketus untuk menutupi rasa malunya.


Aditya melihat pipi istrinya yang perlahan berubah memerah, ia tertawa lepas melihat Vina salah tingkah karenanya.


Vina tambah malu mendengar tawa suaminya, "Ishhh! Jangan gitu Mas, diem gak?!" Ucap Vina galak di sertai rengekan.


Aditya tak mau berhenti tertawa, saking gemasnya dengan istrinya ini, Aditya memeluk Vina. Pelukan itu di sambut dengan baik oleh Vina, Aditya tersenyum puas.


Udah gak ada mereka kan? Bisa peluk sepuasnya. Dasar Anak kurang ajar, sungguh mengganggu. Batin Aditya merutuki ketiga putranya.


...••••••...


"Aki tua bangka yang Lo maksud itu Daddy Lo!"


Bara berbalik, ia terkejut melihat sosok lelaki tengah menyender di pintu Mansionnya.


Bara mendekat, "Lo ngapain di situ?" Tanya Bara pada sosok itu.


"Awwsh, sakit!!"


Bara mengelus jidatnya yang kena jitakan dari seseorang yang notabanenya adalah salah satu sahabatnya.


"Gue tadi habis jemput Abi, mobilnya dia lagi service di bengkel"


"Terus?" Bara menunggu kelanjutan ucapan orang itu.


"Terus nabrak!"


"Serius Gue! Jangan bercanda!" Bara berujar dengan wajah datar.


"Iya-iya, jadi Gue pikir sekalian aja jemput Lo"


"Tumben amat Lo mau jemput Gue, kalo di suruh pun tetep kagak mau. Lha ini, tiba-tiba dengan sukarela jemput Gue!" Cibir Bara kejam.


Orang itu menghela nafas dengan kejulidan Bara, "Jadi Lo gak mau di jemput nih?"


Bara diam tak menjawab.


"Ya sudah, Gue tinggal. Lo berangkat sendiri!" Ucap orang itu kelewat ketus.


Saat orang itu akan beranjak, Bara menghadangnya.


"Eits.. siapa bilang Gue kagak mau. Ya maulah kan tebengan gratis!"


Orang itu mendengus, tak menghiraukan Bara yang cengar-cengir tak jelas.


Bara menyusul langkah si cowok yang satu kampus dengannya, "Tungguin Gue, Genta!!"


"Bodo amat! Jalan sendiri, Lo punya kaki!" Sentak Genta kasar.


Genta lah yang datang menjemput Bara dengan inisiatif sendiri tanpa di minta, sedangkan saat di mintai tolong dia kabur dan pura-pura punya kesibukan, sok sibuk.


Sahabat lucknut ya begini.


...•••••...


Hai


Udah lama gak up, udah berapa abad hah?


Hehe.. maapin Aku tuh sering berubah-ubah mood.


Udah niat mau nulis, eh ada aja halangannya, ke ganggu mulu.


Kalo nulis saat mood buruk, takut alurnya atau kalimatnya atau dialognya nanti acak amburadul.


Maklumin ya, kalian pasti juga punya cerita lain saat nunggu cerita OAF up.


Makasih yang udah bertahan, 'karena yang bertahan sampai akhir lebih berarti dari pada yang datang lebih awal.'


Acieee, siapa hayo....


Bye lah, gak usah banyak omong, aku termaauk orang cerewet sebenarnya, takut kalian gak nyaman aku ngomong panjang lebar, dahh sampai ketemu di next episode.

__ADS_1


__ADS_2