
Syifa POV.
Hal yang paling seorang murid sukai adalah waktu istirahat, karena apa? Jelas kita bisa terbebas dari rumitnya pelajaran yang sangat menguras energi dan otak.
Otak yang jenuh dengan berpikir keras akan materi yang diberikan langsung fresh melihat banyaknya jajanan tertata rapi di sepanjang stand makanan di kantin.
Tak terkecuali, Ana dan kawan-kawannya, ya termasuk Aku.
Perut yang berbunyi menandakan rasa lapar mulai melanda, hidung pun dapat mencium bau harum yang menggoda selera.
Dapat dipastikan semua siswa berbondong-bondong mendatangai stand makanan dan rela tubuhnya berdesakan.
Tapi kupikir itu bukan ide yang buruk, mempunyai tubuh mungil sepertiku kayaknya memberi keuntungan secara tak langsung di saat-saat seperti ini.
Aku melirik ketiga sahabatku, mereka masih mengobrol tanpa di sadari mereka, Aku berhenti berjalan.
"Matematika adalah musuh sejati Gue mulai sekarang!!" Ucap Lita menggebu-gebu.
"Pusing mikirin Matematika, padahal dia kagak mikirin Gue balik tuh, kagak adil!" Nisa tak kalah ngegas dalam berucap.
"Sabar aja sih, kan kita masuk IPA" Ini nih si Ana, sang penengah.
"Coba kalo kita masuk IPS" Andai Lita, berandai-andai yang takkan tercapai. Udah jelas kita masuk IPA dari awal, mana bisa pindah jurusan di pertengahan gini.
"Sama aja, IPS juga ada Matematikanya kok" Balas Ana tenang.
"Tapi kan gak ada Matematika Peminatan, Matematika Wajib aja udah susah, ini Peminatan lebih susah!" Lita masih aja ngeyel.
"Gak usah sekolah aja Lo sana, di rumah rebahan!" Nisa yang kepalang kesel jadi ikut nyolot kan.
"Sama Lo ya, kita berubah status dari pelajar jadi perebah"
"Apaan tuh perebah?"
"Orang yang suka rebahan, wahaha" Lita tertawa di akhir kalimat.
"Gak jelas Lo ah!"
Ku biarkan mereka berjalan ke meja kantin tanpaku, Aku akan memulai misi untuk merampok makanan di kantin. Karena siapa cepat dia dapat.
Aku tak ingin kehabisan menu makanan karena saking banyaknya yang memburu makanan tersebut.
Ku langkahkan kakiku perlahan dan membuka kerumunan dengantangan kecilku, lalu tubuhku masuk ke dalam kerumunan itu dengan usaha maksimal.
"Hah, akhirnya bisa masuk juga"
Aku menghirup udara dengan rakus, yang serasa menipis karena banyak orang yang berdesakan di sini.
Mungkin kita seperti menghirup udara di wadah yang sama yang akhirnya bakal habis lebih cepat, dari pada kita menghirup udara saat kita berjarak. Eum, perumpamaan yang bagus.
"Bu, Ibu... Syifa mau beli yang ini, ini, ini, sama ini!"
"Ouh yang itu juga!" Sambungku cepat sambil menunjuk makanan yang ku maksud.
Setelah mendapat apa yang ku inginkan, Aku segera membayar semuanya, juga Aku harus berusaha keluar dari sini secepatnya.
Ternyata rasa pengap membuatku sesak nafas.
"Permisi.. Permisi" Ucapku agar mereka memberiku jalan.
Aku lumayan kesulitan keluar dari lautan manusia ini, rasanya dadaku sakit karena kekurangan oksigen.
"Aku butuh oksigen"
"Akhh!"
Aku terkejut saat seseorang menarik satu tanganku dengan cepat agar segera keluar dari kerumunan ini.
Aku menarik nafas sebanyak-banyaknya agar bisa kembali bernafas normal.
"Hahh Hahh.." Nafasku ngos-ngosan, satu detik kemudian aku teringat. Siapa yang tadi menarikku keluar.
Kepalaku mendongak menatap orang yang berdiri di depanku, dia seorang lelaki terlihat dari celana panjang seragam sekolah yang dia pakai.
Mataku melotot terkejut ketika berpandanangan dengan mata tajam bak silet yang siap menyayat kulit.
Aku mengalihkan pandangan darinya, lalu menunduk, antara takut juga merasa bersalah.
"Tau apa kesalahanmu sayang?"
__ADS_1
Aku berkedip-kedip, lalu mengangguk.
"Jawab" Suaranya terdengar rendah dan penuh penekanan.
"I-iya tahu" Balasku terbata karena takut.
Memilin jari-jariku yang salah satu tanganku memegang bungkusan plastik berisi makanan.
Sebuah tangan menarik daguku untuk mendongak menatap orang yang berdiri tegap di depan tubuhku. Aku yang tadinya menunduk berakhir menatap orang itu dengan takut-takut.
"M-maafin Syifa.."
Kurasakan elusan di pipi kiriku yang basah karena air mata ku menetes tanpa aku sadari.
"Hiks hiks.."
Aku menangis tanpa mempedulikan pandangan orang yang menatap kami dengan penasaran, yang terpenting aku benar-benar merasa takut sekarang.
"Sstt, udah sayang jangan nangis. Nanti sesak nafas lagi"
Karena ucapannya barusan membuatku tambah menangis kencang.
Dia segera menarikku ke dalam pelukannya lalu membawaku berjalan keluar dari kantin, entah membawaku kemana.
Aku membalas pelukannya erat, sangat erat. Elusan di kepala dan punggung pun aku terima dari seseorang yang memelukku. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya.
"Hiks hiks.. Maafin Syifa Kak"
Tak ada jawaban membuatku lanjut menangis, ini menyebalkan dengan rasa bersalahku. Huhu semoga Aku di maafkan.
Kini, Aku sudah lebih tenang, duduk di bankar yang ada di UKS.
Yaps, orang yang memelukku membawaku ke UKS. Tak hanya berdua saja, tetapi ada tujuh orang termasuk kita berdua.
"Jelasin sama Kakak" Ucapnya datar.
Aku menatapnya dengan pandangan memohon tetapi tak digubris, aku pasrah dan akhirnya menjelaskan apa yang aku lakukan tadi di kantin.
Kakakku Revan, dialah orang yang menarikku dari kerumunan orang di stand kantin dan memelukku lalu membawaku kemari.
Sekarang menatapku datar meminta penjelasan dariku, di tambah dengan tatapan lima orang lainnya yang ikut menatapku dengan menuntut.
Haish, ini suasana yang tak aku inginkan.
"Tadi?"
"Tadi mau beli jajan di kantin, takut kehabisan jadinya nyelip" Jelasku sesingkat mungkin.
"Terus gak bisa keluar dari kerumunan, sampe sesak nafas gitu maksudnya?" Ucap Revan tajam, ughh kejamnya.
Meringis karena masih sedikit takut, Aku mengangguk mengiyakan.
Revan bahkan sampai mengusap wajahnya kasar karena kalut, aku tahu dia seperti itu karena terlalu khawatir padaku.
"Kakak.. Maaf"
Aku mencebikkan bibir ketika tak ada balasan dari bibir Revan sama sekali, dia bungkam.
Mataku berkaca-kaca siap menumpahkan air mata, rasanya sedih ketika kakak sendiri masih mendiami kita karena marah, apa mungkin dia belum memaafkanku?
Aku harus dapat maaf darinya, bagaimanapun caranya.
"Kakak.."
"Syifa m-minta maaf hiks hiks... Huaaa"
"Eh eh!"
Revan yang mungkin terkejut dengan suara tangisanku yang mengencang langsung memelukku.
"Sstt jangan nangis lagi, Kakak kan udah bilang, nanti sesak nafas lagi gimana, hmm?"
"Hiks hiks.."
"Udahlah Van, maafin aja adek Lo" Ujar Sandi bijak.
"Iya, gak kasihan apa tuh udah nangis kejer" Celetuk Doni menambahkan.
Revan menghela nafas, "Iya, Kakak maafin"
__ADS_1
Aku mendongak dengan wajah berurai air mata, mataku berbinar senang.
"Beneran di maafin?"
"Iya, jangan di ulangin lagi atau kakak kasih kamu hukuman"
"Enggak Syifa ulangin lagi" Ucapku sungguh-sungguh.
Revan mengangguk puas, "Bagus!" Pujinya senang.
Revan menghapus sisa air mata di pipi dan bawah mataku.
"Jangan nangis, jelek tau" Ejeknya dengan wajah menyebalkan.
"Ihh enggak ya, Syifa gak jelek!" Ucapku menyangkal, masa iya aku sebegitu jeleknya.
Aku menatapnya sebal.
Revan tertawa, yang lain pun ikut terkekeh.
"Iya kamu enggak jelek kok, cantik imut gini mana bisa jelek sih" Revan mengucapkan itu dengan nada menggoda.
Tanganku memukul bahunya pelan, tak terlalu keras sebagai balasan. Siapa suruh menggodaku dengan wajah yang di buat-buat. Lagipula aku juga malu di tatap banyak orang walau dari orang terdekat.
"Ciee malu"
"Ishh udah kak!" Aku menutup wajah dengan kedua tanganku, pasti pipiku memerah karenanya.
"Iya iya"
"Sekarang boleh makan? Laper nih Gue" Ucap Nisa mengalihkan atensi semuanya.
Lita memutar bola matanya, "Ck! Lo ngerusak suasana tau gak!"
Nisa justru tak peduli, ia hanya menggedikkan kedua bahunya.
"Yuk makan!" Ajaknya entah pada siapa.
Nisa berjalan ke arah brankar di depanku karena aku duduk menyamping, Revan yang berdiri di depanku bahkan sampai membalikkan tubuhnya.
Nisa duduk di sana lalu membuka bungkus plastik yang begitu banyak aneka ragam jajanan. Memakannya tanpa peduli tatapan lainnya yang tertuju padanya seorang.
"Astaga ini anak, Kita di sini gak di anggep nih?" Ujar Lita dengan kekesalan.
"Siwapwa suwyuh diwem ajya"
"Di telen dulu!" Seru Doni memperingati.
Setelah Nisa menelan makanan yang ia kunyah di dalam mulut, ia melanjutkan ucapannya.
"Kan tadi udah Gue ajak buat makan, kenapa diem aja. Salah sendiri" Ia lanjut menggigit makanan ditangannya.
"Syifa mau" Ucapku pelan, Revan yang peka dengan cepat mengambilkan satu kresek jajanan yang tadi ku beli.
Wajahku cerah menatap kantong keresek di tangan Revan, "Sini Kak!"
Aku cepat-cepat membukanya, lalu memakannya dengan lahap.
Melihatku makan dengan lahap, Revan tersenyum memandangku, aku pun balas tersenyum sampai mataku menyipit.
Revan mengelus pucuk kepalaku lembut, "Makan yang banyak yah"
Aku mengangguk menanggapinya.
Yang lain pun ikut memakan makanan yang ada dengan tenang, mereka pasti membeli semua makanan itu dan membawanya kemari. Huft, ternyata hal yang kupikir sepele bisa serumit ini menyelesaikannya.
Butuh perjuangan mendapat maaf dari Revan. Aku paham bahwa dia khawatir padaku, tapi aku masih merasa tak terbiasa dengan hal yang berlebihan setelah tinggal di Mansion Winata.
Setelah bertemu dengan keluarga kandung dan tinggal bersamanya, Aku bisa memahami hal yang berlebihan karena mereka orang kaya. Tetap aja Aku kadang merasa tak enak, juga masih belum terbiasa.
Aku sudah tinggal di Mansion itu sekitar enam bulan, atau setengah tahun. Sungguh tak terasa.
Di tengah Aku mengunyah tiba-tiba aku mengingat dengan Alfa, tunanganku.
Bagaimana kabarnya ya? Apakah selalu sibuk? Makan dan tidur teratur tidak yah? Berbagai pertanyaan muncul dalam kepalaku.
Kita menjalani LDR dengan jarak yang jauh juga perbedaan waktu empat jam lebih lambat dari Waktu Indonesia Barat.
Aku menatap jam dinding ruang UKS, jarum jam menunjukkan angka sembilan lewat lima puluh menit, yang berarti di Instanbul adalah pukul lima lewat lima puluh menit.
__ADS_1
Mengunyah dengan lambat sambil memikirkan intensitas kita berdua yang sudah jarang berkomunikasi.
Apa dia terlalu sibuk sampai jarang menghubungiku, entahlah yang jelas kini aku merindukannya.