
"AYO SEMUA TURUN SARAPAN DULU"
Suara teriakan Vina mampu memenuhi ruangan dapur, bahkan juga sampai ke ruang kamar milik anak-anak yang berada di lantai dua.
"IYA MOMMY!"
Sama, balasan dari ketiga anak Winata juga dengan sebuah teriakan.
Tak dapat di elakkan, wajah Aditya mengernyit dan meringis dengan suara Istrinya yang mampu berteriak sekeras itu.
Tangannya yang memegang koran dengan cepat mengusap telinganya yang terasa pengang dan berdengung. Matanya menatap Istrinya yang mondar-mandir menyiapkan berbagai menu makanan yang memenuhi meja makan.
Ia ingin menegur tapi tidak jadi karena tidak ingin memulai perdebatan dengan Istrinya. Beberapa menit kemudian, ketiga anak laki-lakinya berjalan berurutan menuruni tangga menuju meja makan.
Aditya celingak-celinguk mencari keberadaan putri satu-satunya, "Dimana Princess, Adnan?"
Pertanyaan yang bersarang di otaknya akhirnya muncul, ia melempar pertanyaan pada putra sulungnya.
Adnan menaikkan satu alisnya, lalu menunjuk lantai atas dengan dagunya, Aditya menghela nafas dengan sikap dingin Adnan yang tak pernah berubah sejak insiden itu.
Insiden yang di maksud adalah saat Syifa kecil menghilang, sudahlah ia tidak ingin mengingat kejadian itu kembali.
Ia paham dengan maksud Adnan saat menunjuk lantai atas dengan dagu, bahwa Syifa masih berada di dalam kamarnya.
"Sayang, Dad mau nyusul Princess ke kamar ya" Pamit Aditya pada Vina, Istrinya.
"Iya, suruh cepet ya Dad, takut telat ke sekolah"
Aditya mengangguk atas permintaan Vina, ia melipat koran dan meletakkannya di atas meja. Kakinya melangkah lebar dan cepat menaikki puluhan undakan tangga.
Setelah berdiri di depan kamar putrinya, ia mengetuk pintu tiga kali, tak ada balasan dari dalam, ia berinisiatif membuka knop pintu dengan pelan.
Pintu terbuka dengan mudah, ternyata tidak di kunci, ia melangkah mendekati putrinya yang duduk membelakanginya.
"Sayang, sudah siap kan ayo turun, Kita sarapan"
Syifa terkejut mendengar suara Aditya di kamarnya, tubuhnya berjengit, ia dengan cepat menghapus lelehan air mata yang menetes di kedua pipinya.
"U-udah kok, Syifa udah selesai siap-siap" Ucapnya sedikit gugup karena ditatap seintens itu dari Aditya.
"Nih lihat, Syifa udah rapi" Lanjut Syifa dengan pandangan menunduk, menujukkan seragam yang ia pakai.
Aditya tertawa kecil, ia berjalan mendekati putrinya. "Iya, Daddy tahu kok. Ya udah kita turun yuk, sarapan"
Kepala Syifa mengangguk menyetujui ajakan Aditya, "Ayo"
Syifa meraih tas gendongnya yang berwarna Purple yang terletak di kursi yang sepaket dengan meja belajar. Lalu mencangklokkan tas itu pada kedua pundaknya. Sebuah senyuman terbit di kedua sudut bibirnya. Kaki mungilnya melangkah mendekati Aditya yang senantiasa tersenyum lembut di penuhi tatapan teduh.
Aditya mengulurkan satu tangannya untuk Syifa genggam, Syifa menerimanya bahkan tertawa pelan dengan aksi Daddynya barusan.
"Serasa Syifa mau nikah aja" Candaan Syifa meluncur dari bibir mungilnya.
Aditya tertawa menanggapi candaan putrinya.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar Syifa, Aditya dengan sigap menutup pintu kamar.
"Mau di bawain bekal gak, Princess?"
Syifa mendongak menatap Aditya yang jelas lebih tinggi, bahkan sangat jauh tinggi dengan dirinya yang memiliki postur mungil.
"Mau!!" Balasnya dengan antusias, tak lupa dengan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Sandwich? Atau yang lain?" Tawar Aditya, tangannya berganti merangkul tubuh Syifa untuk lebih dekat dengan tubuhnya, seperti memeluk.
"Sandwich aja"
"Okey" Balas Aditya, kepalanya mengangguk singkat.
"Sama susu!" Ujar Syifa, menambahkan menu bekal hari ini.
"Iya, iya Princess, apa sih yang gak buat putri Daddy"
"Go Away"
Aditya mendelik, dari tatapannya jelas terlihat terkejut. "No no no!! Kamu gak boleh kemana-mana, jangan pergi jauh-jauh!" Ucap Aditya sewot, ia berbicara kelewat cepat.
Syifa tersenyum lembut, "Enggak kok Daddy, Dad tenang aja"
Aditya menghembuskan nafas dengan lega, ia pikir Putrinya benar-benar akan pergi jauh dari sisinya. Ia tidak akan bisa membayangkan itu akan terjadi di kehidupan nyata.
Ia tiba-tiba teringat, tadi saat dirinya masuk ke kamar Syifa, ia juga melihat gerakan tangan Syifa yang mengusap kedua pipinya. Ia tidak bodoh, ia tahu pasti Syifa baru saja menangis.
Apakah ini ada hubungannya, yang pasti Aditya tidak akan membiarkan hal buruk menimpa keluarganya, terutama Syifa.
Semoga saja.
"Lama banget sih Dad, nyusulnya" Celetuk Vina membuyarkan lamunan Aditya yang sudah berpikir macam-macam.
Senyuman Aditya terbit, "Maaf lama, Kita keasikan jalan sambil ngobrol, gak kerasa kalau jalannya jadi kayak siput" Candaan Aditya dibalas tawa semuanya, kecuali Adnan yang hanya tersenyum tipis.
Tatapan Adnan penuh kekhawatiran pada Syifa yang dari tadi menunduk. Ia ingin menyapa tapi, suasana hati Adiknya sedang tidak mendukung. Raut wajah Syifa terlihat mendung, tatapannya lesu tidak ada semangat.
"Ayo Kita sarapan, isi tenaga dulu" Perintah Vina dengan lembut, langsung dituruti semuanya.
Mereka sarapan dengan keadaan hening seperti biasa.
"Mom" Ucap Vina lirih.
"Iya, ada apa Sayang?"
"Syifa kok gak lihat Caesa, kemana Caesa?"
Kalimat yang sebenarnya sensitif untuk ia tanyakan, tapi rasa penasaranlah yang menggoyahkan egonya.
Vina terdiam sesaat, lalu menjawab dengan raut sedih, "Caesa udah pulang pagi-pagi buta, ia tidak ingin menginap di sini lagi"
Syifa menghela nafasnya, belum sempat ia membalas, Vina kembali membuka suara. Kali ini mampu merobohkan dinding pertahanan yang ia buat dan siapkan untuk hari ini.
"Tapi, Mom udah minta Caesa untuk sering-sering main ke sini, Mom kasihan kalau Caesa kesepian"
Ucapan Vina mampu meruntuhkan rasa semangat yang sempat ada dalam dirinya, "Ouh gitu ya Mom"
"Iya, Kamu senang kan nanti jadi punya teman main kalau di rumah?"
Gak! Syifa gak mau! Syifa gak senang sama sekali! Batin Syifa.
Ingin sekali ia meneriakkan itu, tetapi tidak bisa. Ia terseyum dengan lemah, "Iya Mom, Syifa senang kok"
"Bagus" Balas Vina dengan senang.
Tiba-tiba sebuah bisikan terdengar di telinganya, "Jangan bohong sayang, Kakak tahu apa yang Kamu rasa, Ifa-nya Kakak sedang tidak baik-baik saja"
Matanya membulat terkejut, "K-kak" Kepalanya menoleh ke arah kiri, menatap Kakak pertamanya kini sedang menundukkan sedikit tubuhnya agar bisa berbisik tanpa terdengar orang lain.
__ADS_1
"Syuuttt, jangan bicara apapun, Kakak udah paham sayang" Ucap Adnan dengan senyum tipisnya.
Syifa hanya mampu menganggukkan kepala dengan kaku.
"Syifa pamit sekolah Mom, Dad"
...📜...
Syifa berangkat sekolah tanpa semangat, ia diantar sopir pagi ini. Kakak-kakaknya sudah lelah menawari tumpangan untuk mengantarnya.
Adnan juga paham perasaan Adiknya yang tentu tidak baik-baik saja. Akibat ucapan Vina saat sarapan tadi sudah membuktikan bagaimana hancurnya hati Syifa.
"Syifa!!" Panggil Lita dengan suara cemprengnya.
Syifa mendongak, ia melihat Lita yang berdiri di kejauhan sedang melambaikan tangan kepadanya. Ia balas dengan senyuman, lalu berjalan menghampiri dimana Lita berdiri dengan langkat cepat, sedikit berlari.
"Kita masuk kelas barengan yuk" Ajak Lita dengan semangat.
"Ayo" Balas Syifa dengan suara pelan.
Mereka berjalan beriringan dengan langkah santai, "Lo kenapa? Lesu gitu"
Sebuah gelengan yang Lita dapatkan dari Syifa, Lita menghela nafas kasar, "Lo boleh kok cerita sama Gue, sama yang lain juga jangan sungkan"
"Syifa gak papa"
"Bohong!" Pekik Lita keras, mengundang tatapan banyak siswa yang mengarah pada mereka berdua.
Syifa meringis malu lalu menunduk menghindari tatapan aneh siswa-siswi.
"Maaf, Gue kelepasan" Lita meminta maaf dengan raut wajah bersalah.
Syifa buru-buru menggeleng, "Gak papa, Syifa tahu maksud Lita baik kok"
"Nanti Syifa ceritain semuanya deh, di kelas"
"Nah gitu dong dari tadi, Gue tunggu"
Syifa tersenyum tipis menanggapi ucapan Lita, tak terasa mereka sudah ada di depan pintu kelas.
"Lo masuk duluan" Lita mempersilakan Syifa untuk masuk kelas lebih dulu.
Kepalanya mengangguk dan kakinya mulai berjalan dengan langkah kecil memasuki kelas. Anak-anak yang lain masih ada beberapa yang belum datang, mungkin datang saat lima menit sebelum bel berbunyi.
Mereka berdua melangkah menuju tempat duduk masing-masing, Lita meletakkan tas gendongnya lalu segera merapat duduk di hadapan Syifa.
Ana dan Nisa sudah ada di kelas lebih dulu, mereka berdua asik berbicara dengan duduk berhadap-hadapan. Jadi posisinya sekarang, Syifa dan Ana duduk bersebelahan, sedangkan Nisa dan Lita duduk di hadapan Syifa juga dengan bersebelahan.
"Syifa"
"Iya" Syifa menoleh ke arah samping, menatap Ana karena telah memanggil namanya.
"Ada apa?"
"Hah? Maksudnya?" Ujar Syifa bingung, ia mengerutkan keningnya tanda ia benar-benar kebingungan dengan maksud ucapan Ana.
Ana menipiskan bibirnya dengan cara melipat ke dalam, "Aku tahu Kamu lagi ada sesuatu kan?"
Syifa terdiam dengan menggigit bibirnya.
"Gak mau cerita?" Desak Ana, walau terlihat memaksa tetapi Ana melakukan itu bertujuan supaya Syifa bisa lebih terbuka.
__ADS_1
.