Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 60


__ADS_3

"Kalian pulang duluan aja, emang gak kasian sama Sopir yang udah capek-cepek jemput kalian, terus nunggu lama lagi. Juga sama Orang tua kalian yang khawatir kalian belum pulang sampai sekarang?!" Ucap Syifa panjang lebar berusaha membuat sahabatnya mengerti dan segera pulang kasian ortu mereka.


Ketiganya terdiam menatap Syifa lurus, merenungkan perkataan Syifa yang sudah membuka hatinya.


"Iya juga ya" Balas Lita mengetuk dagunya pura-pura berpikir keras.


Tangan Nisa menoyor kening Lita, "Lo diem aja deh!"


Lita cemberut karena kena semprot Nisa yang paling bisa membuat lawannya kicep.


"Beneran Lo gak papa Kita tinggal?" Nisa menyakinkan, ia bertanya lagi.


Syifa mengangguk, "Iya, no problem"


"Tapi-"


Syifa segera menyela protesan Ana, "Gak papa ih di bilangin, kalian ngeyel deh!"


"Lo juga ngeyel!!" Ucap mereka serempak membuat Syifa meringis.


"Kita pulang duluan nih, tapi kalau ada apa-apa, Lo harus kabarin Kita. Awas aja kalau enggak" Tutur Lita memperingati.


"Siap!" Bala Syifa sigap dengan tangan seperti hormat, mereka pun terkekeh melihat aksi Syifa.


"Beneran ya, jangan lupa ngabarin Kita!" Ucap Nisa tegas dengan telunjuknya yang mengacung di hadapan wajah Syifa.


"Ish! Galak" Syifa cemberut dengan alis berkerut.


Mereka pun pulang dengan mobil jemputan keluarga masing-masing, kini tinggal Syifa seorang diri. Berdiri di depan gerbang sekolah dengan kepala celingak-celinguk.


"Gak ada Taxi lewat sama sekali, gimana Syifa bisa pulang" Gumamnya lesu dengan kepala menunduk, ia memainkan kakinya dengan menggesekkan salah satu kaki ke tanah.


Dalam sekejab air segera terjun ke tanah, hujan mengguyur sekeliling Syifa berdiri dan sekitarnya, kepala Syifa mendongak, "Yah hujan!" Paniknya dengan tangan berusaha melindungi kepalanya dari guyuran hujan.


Ia berlari sedikit menjahui area sekolah, kaki mungilnya menapak dengan cepat, berlari melindungi diri dari hujan. Pandangannya tertuju pada tempat yang mampu menampungnya untuk berteduh sementara, Halte.


Yaps, Halte yang terletak tak terlalu jauh dari sekolahnya. Syifa mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia, ia mengusap rambut, baju, dan lengannya yang sedikit basah kena air.


"Sepi banget"


Tak ada orang di sekitarnya, mungkin mereka semua sudah pada pulang lebih awal dari dirinya. Itu pasti, ia memang sudah menunggu lama di depan gerbang tadi, kakinya bahkan sudah terasa pegal dan kesemutan.


"Dingin" Syifa mengusap kedua lengannya dengan usapan berkali-kali, cuaca sore ini sungguh dingin, hujan pun tak ada hentinya mengguyur tanah dengan derasnya.


Syifa teringat sesuatu, ia segera merogoh saku baju dan roknya mencari benda pipih. Setelah menemukan ponselnya ia segera menekan tombol power, tapi tak ada hasilnya. Ponselnya tetap menampilkan layar hitam itu tanpa perubahan.


"Yahh lowbat" Ucapanya sedih, bibirnya maju ke depan, mengerucut.


"Langitnya udah gelap banget, Syifa gak mau di sini sampai besok"


"Mereka khawatir sama Syifa gak ya?"


Matanya berkaca-kaca, kepalanya sudah berpikiran macam-macam, ia takut hal buruk akan terjadi padanya.

__ADS_1


Lalu kepalanya menggeleng, ia tak boleh menangis, ia harus mencari cara agar ia segera sampai rumah dan istirahat, tapi bagaimana caranya?


"Apa Syifa jalan kaki aja ya, nerobos hujan kayaknya gak masalah deh, daripada di sini sendirian sampai besok"


"Iya gak papa deh nerobos hujan" Monolognya dengan pikiran sendiri.


Ia akhirnya memutuskan untuk berdiri dan menerobos hujan yang masih setia mengguyur jalanan di depannya.


Kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi kepalanya, ia berjalan lebih cepat bahkan hampir berlari di trotoar.


Saat fokusnya menatap jalanan di depannya yang banyak genangan air, ia berusaha menghindarinya dengan sesekali melompat dan bergeser. Tapi naas, mobil yang melewat dengan santai menarik gas dengan cepat membuat genangan air yang ada terciprat hampir seluruh tubuhnya.


"Aahhh!"


Syifa berhenti berlari sejenak.


"Aduhh, seragam Syifa berubah warna, kotornya" Keluh Syifa menatap seragamnya yang berwarna cokelat akibat siraman air yang tercampur dengan tanah.


Syifa menunduk lesu membiarkan air hujan menetes membasahi tubuhnya tanpa perlawanan. Ia berjalan pelan sambil menunduk.


Jika di pikir-pikir lagi, jarak sekolahnya dengan Mansion tentu sangat jauh, begitu bodohnya ia berlari tanpa berpikir panjang.


Sekarang ia menyesal, ia bingung. Banyak pikiran bercabang yang bersarang di dalam otaknya, berbagai kemungkinan yang akan terjadi.


"Nanti Syifa di marahin gak ya, hujan-hujanan gini"


"Seragamnya juga kotor banget kayak gini" Pandangannya menatap seragam yang kini ia kenakan, sudah berubah warna. Yang tadinya berwarna putih jadi ada bercak kecoklatan.


Saat melamun, ia berjengkit kaget mendengar suara petir yang begitu menggelegar di telinganya.


"Takut.." Ia melirik jalanan dengan gelisah.


Kakinya mulai melangkah dengan cepat, ia ingin segera sampai ke rumah dan istirahat. Tak terasa air matanya luruh membasahi pipinya, air mata itu bercampur dengan guyuran air hujan.


"Syifa takut sendirian hiks"


Tangannya mengusap matanya yang memburam karena terkena buliran air. Ia mendekap kedua lengannya dengan erat karena mulai kedinginan dengan tetesan air hujan yang tiada hentinya.


Tin tin!


Syifa berhenti melangkah karena mendengar suara klakson disertai lampu yang menyorot tubuhnya. Ia menengok ke belakang dan terkejut.


Di sana berhentilah sebuah mobil putih, seseorang keluar dari pintu kemudi dengan payung di tangannya. Ia lebih terkejut lagi setelah mengetahui siapa orang itu.


"Kak Abi" Panggilnya lirih dengan bibir bergetar.


Syifa menatap Abi yang berdiri di depannya sambil memayunginya. Yaps, ia adalah Abi. Sahabat Bara yang berkuliah di tempat yang sama.


"Syifa, kok hujan-hujanan, ayo masuk mobil Kakak"


"Tapi nanti mobil Kakak basah" Bantah Syifa, merasa tidak enak merepotkan Abi.


"Udah gak papa, ayo cepat masuk!"

__ADS_1


Syifa menurut, Abi merangkulnya agar tidak lagi kehujanan. Bahkan payung itu ia miringkan hanya untuk menutupi tubuh Syifa. Biarkanlah ia yang basah kena hujan, jangan Syifa.


Abi khawatir melihat kondisi tubuh Syifa yang basah kuyup juga dengan wajah pucatnya, di tambah bibir itu terlihat membiru. Ia yakin ini pasti karena kedinginan.


Tanpa mereka sadari, seseorang memotret mereka berdua yang berdiri di bawah payung yang sama. Wajah mereka berdua terlihat jelas di jepretan kamera. Seseorang itu tersenyum smirk, Tunggu pembalasan Gue!


Abi membuka pintu penumpang samping kemudi dan memayungi Syifa. Setelah Syifa duduk dengan nyaman, ia menutup pintu dengan hati-hati.


Kemudian, ia berlari kecil mengitari mobil dan duduk dibalik kemudi. Meletakkan payung di jok belakang.


"Ini, pakai Fa. Kamu kedinginan"


Abi menyerahkan jaket bulu yang ia punya dari jok belakang, jaket itu tertinggal di mobilnya. Bersyukurnya ia, jaket itu bisa berguna sekarang.


"M-makasih Kak"


Abi mengangguk, lalu menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Matanya sesekali melirik Syifa yang sedang memakai jaket miliknya.


"Kenapa belum pulang? Kenapa kehujanan?"


Syifa terkekeh lirih dengan pertanyaan Abi yang bertubi-tubi.


"Syifa gak ada yang jemput, terus karena gak ada kendaraan umum yang lewat, Syifa memutuskan jalan kaki"


"Jalan kaki? Hujan deras gini?" Kepala Syifa mengangguk pelan menyetujui ucapan Abi padanya.


"Kamu nekat banget sih!" Syifa menunduk mendengar ucapan tegas itu meluncur dari orang yang duduk di sebelahnya.


"Maaf" Ucap Abi merasa bersalah.


"Aku tuh khawatir, nanti kalau Kamu sakit gimana?"


Syifa hanya diam, Abi pun akhirnya ikut diam tak lagi bersuara.


Mobil Abi berhenti, Syifa celingak-celinguk melihat sekelilingnya, kok kayak asing di matanya, ternyata ini bukan di rumahnya.


"Kak, Kita di mana?"


Abi tersenyum, "Ini di rumah Kakak"


Syifa terkejut juga sedikit heran, kenapa ia tidak di antar ke rumahnya saja.


"Kenapa gak nganter Syifa ke rumah aja, kenapa malah ke rumah Kak Abi?"


"Karena rumah Kakak yang paling deket dari sekolah Kamu, Lagian Kamu juga udah kedinginan gini"


"Tunggu, biar Kakak yang bukain"


Syifa hanya diam menurut, Abi berjalan dan membuka pintu sampingnya. Abi juga membantu Syifa berdiri, setelah itu menutup pintu mobil kembali.


Syifa mengeratkan jaket yang ia kenakan, angin berhembus kencang membuat ia kedinginan.


Abi yang melihatnya segera merangkulkan tangan kanannya pada pundak Syifa, "Dingin banget ya"

__ADS_1


Syifa pun mengangguk, "Iya Kak"


__ADS_2