Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 16


__ADS_3

Syifa berjalan bergandengan tangan dengan Revan di koridor Sekolah. Sambil berbincang-bincang ringan.


"Kak Rev beneran nepatin janji Kakak buat ajak Syifa jalan-jalan di Kampus"


"Ya beneran dong. Masa boongan. Kakak juga udah janji sama Princess"


"Masuk kelas, belajar yang rajin. Jangan males-malesan"


"Ishh! Syifa gak pernah males ya Kak"


Syifa cemberut dengan bibir dimajukan.


Revan yang melihat itu tersenyum geli.


"Iya gak pernah males. Tapi kapan pinternya?"


"Syifa udah pinter kok. Masa mau-"


Revan langsung mendorong tubuh mungil Syifa masuk kelasnya.


Kalau tidak, Princess bakal terus mengoceh.


Revan melambaikan tangannya, kemudian berlalu. Tanpa mempedulikan wajah Syifa yang sudah menekuk.


Revan terkekeh di tengah ia berjalan. Membayangkan wajah Syifa yang tertekuk masam.


"Syifa!"


Merasa terpanggil Syifa membalikkan tubuhnya.


Disana ia melihat Ana duduk di kursinya dan tersenyum padanya. Ia berjalan lalu duduk di samping Ana.


"Kenapa wajahnya di tekuk gitu?"


Ana bertanya dengan penasaran.


"Syifa sebel sama Kak Revan!"


Ana mengangkat sebelah alisnya, menunggu Syifa untuk melanjutkan ucapannya.


"Syifa di katain kalau Syifa itu males-malesan, juga gak pinter. Emang iya Ana?"


Ana gelagapan.


Sebenarnya Syifa bukan gak pinter.


Cuman dia gak terlalu menunjukkan kalau dia itu cerdas.


Mungkin karena ketutup sama tingkah polos dan imutnya. Makanya gak kelihatan pinter, malah jadi gemesin.


"Bukan gak pinter Syifa, tapi Kamu itu terlalu polos"


Syifa mengernyitkan dahinya.


Mencerna kata-kata yang di ucapkan Ana.


Ish! Syifa gak ngerti. Batin Syifa berteriak.


Ana hanya geleng-geleng kepala.


Melihat respon Syifa yang mengernyitkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya.


Pasti dia gak paham.


Ck. Ck.


...●●●...


Syifa dan Ana berjalan celingak-celinguk di kantin. Mencari tempat duduk yang kosong.


Tapi semua sudah penuh kecuali, tempat duduk yang di duduki oleh Revan dan kawan kawan.


Syifa menarik tangan Ana semangat menuju meja Revan.


Revan yang sadar bahwa Adiknya berjalan mengarahnya, ia tersenyum.


Menepuk kursih disebelahnya. Bangku kantin berbentuk memanjang.


Syifa duduk diapit oleh Revan dan Doni.


Sedangkan Ana duduk di seberang Syifa, dan sampingnya ada Sandi.


Ana berbicara dengan Sandi, terlihat sangat akrab. Syifa terlihat tak ambil pusing.


"Kak!. Syifa mau kayak punya Kak Doni. Merah-merah pasti enak"


Revan melirik mangkok Doni, lalu mendelik.


Mana mungkin ia akan menuruti permintaan Syifa jika makanan yang dimaksud adalah bakso dengan saus dan sambal.


Iya, merah-merah yang dimaksud Syifa adalah kuah bakso yang berwarna merah karena sambal.


Doni yang paham karena delikan dari Revan yang mengarah padanya.


Ia membantu membujuk.


"Aduhh dedek emesh.. ini i-tu jamu!. I-iyah jamu. Makanya kuahnya merah-merah. Kamu pasti gak doyan. Revan aja nangis terus bolak-balik kamar mandi. Kasian gak kuat makan bakso kaya punya Kakak" bujuk Doni dengan mengatakan bahwa itu jamu.


Itu jelas bohong.


Aneh sekali Doni ini.


Mana ada bakso campur Jamu.


Bagaimana itu rasanya?


***** banget sih. Lo sekate-kate ngomong Jamu. Bakso kuah Jamu gitu?!. Batin Revan misuh-misuh.


Eits.. tapi untuk Revan nangis dan bolak-balik kamar mandi itu fakta.


Bahwa Revan gak bisa makan terlalu pedas. Ujung-ujungnya pasti Diare.


Revan menonyor belakang kepala Doni.


Ia kesal kenapa harus bawa-bawa ia saat Diare.


Juga kesal dengan ucapan Doni yang tidak masuk akal.


Emang yah.


Orang kalau bohong susah cari alasan. ujung-ujungnya ketahuan.


Doni juga secara tidak langsung mengatakan bahwa ia cengeng.


Menyebalkan!.

__ADS_1


"Kok minum jamu sama bakso. Kak Doni seleranya aneh"


Syifa bingung juga heran.


Nah kan!


Sudah ketebak.


Bahwa Syifa bakal mempertanyakan kewarasan Doni.


Tak lama terdengar tawa dari bibir Revan.


Ana dan Sandi yang dari tadi diam menyimak akhirnya ikut tertawa.


Menyenangkan rasanya bisa menistakan Doni.


Sabar sabar ya Allah. Doni selalu sabar biar di sayang gebetan. Batin Doni yang ternistakan sambil tangannya mengelus dada.


...●●●...


Di jok belakang mobil terdengar rusuh.


Dengan kejahilan Doni dan suara galak milik Ana.


Syifa hanya diam dengan memainkan ponselnya. Sedang berfoto ria.


Revan yang mengemudi dan Sandi duduk disamping kursi kemudi.


Mereka berlima sudah pulang sekolah.


Dan langsung menuju Kampus.


Masih ingat kan? Kampus yang dimaksud.


"Sudah sampai"


Revan bersuara untuk menyadarkan Doni dan Ana yang masih cekcok.


Semuanya turun lalu berjalan memasuki Kampus.


Revan berjalan dan meraih tangan Syifa untuk digandengnya. Syifa hanya menunduk malu karena banyak yang memperhatikan mereka.


Lebih tepatnya memperhatikan Syifa.


Revan yang peka terhadap sekitar, langsung menatap tajam orang-orang yang memperhatikan Princessnya.


"Gak papa Princess. Angkat kepalamu, jangan menunduk, okeyy"


Revan berbisik lembut di telinga Syifa. Sembari tangannya mengelus lembut rambut Syifa.


Syifa mengangguk dan tersenyum lebar.


Sangat manis.


"Hallo Kak. Lagi dimana sekarang?"


Revan berbicara di telfon dengan Bara. Menanyakan keberadaan Bara.


"Ouhh lagi di kantin sama temen. Ke sini aja Van"


"Okey, Kita ke sana. Aku tutup yah.."


Tuut~~


"Kak Bara lagi di mana?"


"Di kantin Princess. Ke sana yuk"


Revan dan Syifa berjalan di depan.


Revan sebagai petunjuk jalan yang memang sudah kenal betul denah Kampus ini.


"KAK BARA"


Bara menoleh, ia tersenyum melihat kedatangan Adik tersayangnya.


Ia mendorong salah satu temannya untuk duduk menjauh. Menyisakan ruang untuk di duduki Baby-nya.


Teman Bara yang terdorong menggerutu, tapi gerutuannya terhenti ketika menatap gadis mungil, cantik, imut, pokoknya gemesin.


Ia terpana.


"Sini Baby, duduk sini."


Bara menepuk kursi disisinya.


Syifa menurut, langsung duduk di samping Bara.


Di ikuti teman-teman Syifa, yang duduk di sisi lain kursi.


Tapi masih satu meja. Karena meja tersebut bisa terisi untuk 8 orang.


Sebelum mereka berlima datang.


Di sana udah ada 3 orang yang duduk, yaitu Bara dan 2 orang temannya.


"Siapa Bar?" tanya seorang lelaki yang duduk di depan Bara, sambil menatap intens gadis mungil disebelah Bara.


"Oh ya Guys, kenalin. Ini Syifa Adik perempuanku satu-satunya."


"Asyifa Putri Winata"


Syifa mengulurkan tangannya dengan senyum merekahnya.


Teman Bara membalas uluran tangan Syifa.


"Abiradja Darussain"


Syifa tersenyum lebar.


"Nama Kak Abi bagus. Syifa suka"


Abi tersentak.


Lalu sebuah senyuman kecil terbit di bibirnya.


Seseorang yang berada di samping Syifa memaksa tangan mungil Syifa untuk lepas dari tangan Abi.


Diganti bersalaman dengan tangannya.


Seseorang itu tersenyum.


"Perkenalkan, Genta Husada."


"Asyifa Putri Winata. Salam kenal Kak Genta"

__ADS_1


"Salam kenal manis" balas Genta dengan tersenyum aneh.


"Apa-apaan Kak Genta! Kaya om pedo!"


Revan berujar membuat semuannya tertawa.


Lalu perkenalan dilanjut dengan Ana, Sandi, dan Doni.


Kalau Revan, tak usah diperkenalkan. Karena Abi dan Genta sudah kenal dengan Revan.


"Kak Bara udah lama di kantinnya?"


"Udah sekitar 15 menit-an Sayang"


Bara mengelus pipi Syifa yang kemerahan.


Sangat imut.


"Mau pesan makanan Syifa?"


Syifa menatap Abi yang tadi bertanya padanya.


"Mau! Syifa mau Batagor!"


Syifa semangat menyebutkan nama makanan yang ingin ia pesan.


"Ya udah, biar Kakak aja yang pesankan. Yang lain mau apa?"


Abi bertanya pada teman-teman Syifa.


"Samain aja kak" balas Ana menjawab pertanyaan dari Abi.


"Minumnya Jus Mangga Kak!"


Revan berseru senang.


Pasti segar minum Jus Mangga di siang hari. Melegakan dahaganya nanti.


"Kamu ikut Kakak pesan Jus. Biar kakak yang memesan Batagor"


Abi beranjak lalu menarik kerah belakang Revan. Dengan Revan yang mengoceh tak terima.


Setelah pesanan mereka sampai, mereka langsung memakan makanan masing-masing.


Saat Syifa mengunyah Batagornya, sudut bibirnya ikut terkena bumbu Batagor.


Belepotan.


Bara langsung sigap meengambil tisu dan akan mengelas bibir Syifa. Tapi sudah keduluan oleh Abi.


Abi mengelap sudut bibir Syifa yang belepotan. Abi terlalu fokus pada Syifa yang sedang ia bersihkan bibirnya.


Ia tidak mengetahui semua orang di sekitarnya sedang menatapnya.


Bara saja heran.


Abi tidak pernah peduli tentang perempuan. Tidak pernah berdekatan, kecan apalagi pacaran.


Itu bukan Abi banget.


Abi hanya ingin fokus Kuliah lalu bisa bekerja dan memimpin Perusahaan milik keluarganya.


Lalu sekarang, apa yang sedang dilakukan Abi.


Sungguh membuat Bara, Genta dan Revan heran sekaligus takjub.


Mereka bertiga yang sudah mengetahui bagaimana Abiradja itu.


"Makasih Kak Abi"


Syifa tersenyum manis sambil menatap netra coklat milik Abi.


Senyuman Syifa menular pada Abi.


Abi tersenyum tampan.


Bahkan membuat wajahnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.


"Kak Abi sangat tampan"


Syifa berucap polos.


Membuat Abi tersipu malu.


Padahal Abi sering mendapat pujian seperti itu.


Tapi mendengar pujian dari gadis mungil di depannya, membuatnya tersipu.


Genta dan Revan tertawa paling keras. Karena melihat wajah Abi yang memerah. Laki laki ternyata bisa blussing juga yah.


Bara menatap Abi menyelidik.


Membuat Abi salah tingkah.


Lalu Bara mengubah tatapannya kembali seperti biasa dan mengedikkan bahu.


Mereka pun melanjutkan makan yang sempat tertunda.


...■■♡■■...


1412 Karakter.


Haii👋👋👋


Aku Up Hari ini.


Maaf ya kemarin pas hari Kamis aku ga bisa Update.


Aku mau tanya, ada yang mau bantu buatin Cover ga??


Yang mau aja yah...


Bisa komen dibawah.


Kalo ga mau juga ga papa😀


Jangan lupa VOTE✔✔✔


Dan juga COMMENT✔✔✔


B-bye..😗


Salam sayang😙


Lia

__ADS_1


^^^Minggu, 4 oktober 2020.^^^


__ADS_2