
Kenzo yang sudah standby di sekitar rumah Syifa, mendapatkan informasi yang pastinya ampuh bagi Alfa, karena ini termasuk informasi yang penting.
Kenzo mengetik dengan kedua jempolnya, "Lo pasti terkejut Al"
Kenzo tertawa puas dengan hasil ketikannya.
Alfarezi
Hari ini Syifa gak masuk sekolah, Syifa sakit demam. Dan Lo tau siapa yang jagain Syifa seharian ini?
Yang jagain Abi, kasian Gue sama Lo. Udah LDR, hampir di tikung lagi.
11.51
...••••...
"Tapi Gue juga harus siap, kalo Alfa ngamuk sama Gue"
Belum juga satu menit pesan itu terkirim, Kenzo sudah mendapatkan telfon dari Alfa, yang ia yakini bakal marah-marah gak jelas.
"Ha-"
"Kenzo!! Kasih Gue infirmasi yang bener! Awas aja kalo cuma mau manas-manasin Gue, gaji Lo Gue pangkas!"
"Gue mana ada bohong, itu fakta ya. Abi emang lagi jagain Syifa, karena dia gak punya jadwal kuliah hari ini. Sedangkan Bara, dia ada janji buat ketemu Dosbing, Bara sibuk"
"Apa iya semua orang sibuk?!"
"Kayaknya iya Al, sampai Bara nyuruh Abi buat jagain Adeknya"
"Ck!"
"Cemburu kan Lo? Abi seharian gak keluar kamar Syifa tuh, mereka lagi ngapain ya?" Kenzo sengaja memanas-manasi Alfa yang memang sudah panas, seperti kebakaran jenggot.
"Kurang ajar Lo!!"
"Seharusnya yang kena semprot bukan Gue, tapi Abi noh!"
"Gampang Abi urusan terakhir, yang paling penting sekarang Gue pengin banget bunuh Lo!"
Kenzo tertawa ngakak, tidak ada takut-takutnya dengan ucapan Alfa yang penuh ancaman, seharusnya ia terintimidasi tetapi, sekarang ia sudah tau siapa pawang Alfa. Tinggal nanti ia meminta perlindungan dari Syifa, Alfa bakalan langsung kicep tuh.
"Karena Gue muak denger suara tawa Lo, gaji bulan ini Gue potong!!" Ancam Alfa tak main-main dengan ucapannya, setelah berucap seperti itu, Alfa mematikan telfon sepihak.
Kenzo melotot, ia menatap ponselnya nanar, "Gue gak rela, gaji Gue sekarat huhu.." Ucapnya dramatis.
Kenzo membalikkan badan menuju mobilnya yang berada tak jauh dari rumah Syifa, ia berjalan gontai, lesu tak ada tenaga.
"Gaji Gue.." Rengeknya seperti anak kecil, ia sungguh tak rela gajinya di potong, Alfa memang makhluk menyebalkan.
...••••...
Syifa tersenyum senang melihat semua teman-teman sekelasnya sedang berkumpul untuk menjenguknya.
Mereka duduk menyebar memenuhi ruang kamar Syifa yang luas. Syifa duduk bersandar di ranjang, ada Ana dan Lita di yang duduk di sisinya. Sedangkan Nisa duduk bersila didepan Syifa.
Di tangan Nisa dan Lita, masing-masing memegang satu jajan berupa makanan ringan dan memakannya dengan lahap.
__ADS_1
Yang lain pun sama, hanya Syifa dan Ana yang tidak memakan snack itu, Ana sengaja tidak ikut memakan makanan ringan itu agar Syifa tidak sendirian.
Syifa kan lagi sakit, jadi hindari dulu makanan ciki-ciki itu, tak terlupa tadi ada berbagai rengekan Syifa yang memaksa ingin memakan jajan itu.
Abi yang berada di dekatnya segera melarang Syifa untuk mamakan itu, berbagai bujuk rayu dari Abi dan sahabatnya, Syifa akhirnya mau menurut.
Semua yang berada dekat dengan Syifa yang sedang duduk di ranjang adalah para gadis, sedangkan mereka para lelaki sedang asik berbincang di area balkon kamar Syifa, termasuk Abi di sana.
"Gimana keadaan Lo?" Tanya Nisa menatap Syifa tetapi tangannya setia memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Syifa tersenyum, "Syifa baik-baik aja, udah mendingan" Balasnya ringan, ia senang karena semua teman sekelasnya termasuk para sahabat datang menjenguknya.
"Syukur deh" Balas Lita lega.
"Alhamdulillah kalo udah baikan" Ucap Ana bersyukur dengan keadaan Syifa yang lebih baik, Nisa tak menjawab tetapi ia menganggukkan kepalanya dengan bibir bergoyang, tentu ia sedang mengunyah.
Nisa menelan kunyahannya dengan cepat, "Semoga besok Lo udah sembuh deh, biar bisa sekolah lagi. Sepi tau tanpa Lo"
Mata Syifa membulat lucu, "Iya kah?"
Ketiganya mengangguk kompak, Syifa tersenyum sampai matanya menyipit, "Aminn, Syifa juga gak betah rebahan terus"
Mereka diam tanpa membuka suara karena sedang fokus menyimak percakapan teman sekelasnya yang sedang berbincang.
"Eh, Lo udah belum tugas kelompok yang kemarin di kasih sama guru" Tanya satu cewek berkuncir kuda dengan poni di depan.
"Lo tanya Gue?" Tanya cewek dengan rambut pedek sebahu pada cewe berponi tadi.
"Iya"
"Ya jelas belum lah" Ucap cewek berambut sebahu dengan sombong, padahal yang ia sombongkan tidak bermutu.
"Awws, sakit tau!!" Balas cewek sebahu dengan protesan, tangannya dengan sigap memegang kepala yang sehabis di jitak, lalu mengelusnya.
"Rasain!!"
"Eh-eh bentar dulu, Gue mau nanya" Ucap cewek rambut sebahu itu dengan wajah penasaran.
"Nanya apa?"
"Apaan?"
"Cepet elah, gak sabar Gue!"
Mereka dengan rasa penasaran yang membuncah segera memberondong si cewek berambut sebahu untuk segera melanjutkan ucapannya.
"Sabar dong! Gue mau nanya, emang tugas kelompoknya hari terkahirnya di kumpulin kapan?"
"Ouh mau nanya itu, Gue pikir apaan"
"Pasti Lo mikir, Gue mau gosip ya?"
"Iya, makanya Gue penasaran tadi"
"Yee Lo mah, yang biang gosip tuh si Siska" Si cewek rambut sebahu itu dengan kepercayaan yang pasti menujuk Siska yang sedang duduk menatap ponselnya, sudah mereka tebak pasti sedang menscroll berita-berita terupdate dan terhot news.
Mereka tertawa dengan ucapan di rambut sebahu tadi, itu memang kenyataannya, Siska adalah ratu gosip nomor satu, Siska memiliki komunitas untuk berita-berita terupdate seputar siswa-siswi WNHS.
__ADS_1
"Heh! Pertanyaan Gue belum di jawab!"
"Ouh iya, tugasnya di kumpulin terakhir hari senin depan. Masih ada waktulah, santai aja"
"Siiplah, Gue pikir buat besok!"
"Kagak"
Lita mengalihkan pandangan dari teman sekelasnya, kini menatap sahabatnya, "Kita juga belum ngerjain kan?"
"Emang belum" Balas Ana lugas.
"Kita kerja kelompok setelah Syifa sembuh aja" Balas Nisa melanjutkan memakan cemilan yang baru, kini ia membuang wadah kosong bekas jajan di tempat sampah yang tersedia.
"Lo kemaruk banget, jajan terus!" Ujar Lita melihat kelakuan Nisa yang tak ada jaim-jaimnya.
Nisa melirik Lita sekilas, "Suka-suka Gue! Sirik aja Lo!"
Lita melotot lalu melempar bantal dan mengenai wajah Nisa, "Yess! Tepat sasaran!"
"Kurang ajar Lo!"
Syifa tertawa melihat mereka berdua yang ribut tidak ada habisnya, Ana menggelengkan kepalanya dengan wajah jengah, Ana lebih memilih meminum minuman yang sudah di sediakan oleh Maid di sini.
Syifa membiarkan sahabatnya adu mulut karena itu terlihat lucu dan sebagai hiburan tersendiri baginya.
Ana mengambil satu brownis coklat dan menyuapinya pada Syifa, Syifa terlihat terkejut tetapi dengan senang hati menerima suapan demi suapan yang di berikan Ana tanpa kata.
Ana tersenyum Syifa memakannya dengan lahap.
...•••••...
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.43, sudah malam dan sekarang Bara berdiri di depan pintu kamar Syifa. Melihat Adik perempuannya sedang tertidur pulas.
Ia tadi ke sini memang berniat mengecek Syifa apakah sudah tidur apa belum, ia sudah berdiri di sana, lebih dari lima menit. Tetapi, ia sama sekali belum berniat beranjak keluar.
Memandangi wajah Adiknya dari jauh, karena jika ia mendekat, takut mengusik kenyamanan tidur Syifa.
"Maafin Kakak Baby, Kakak hari ini sibuk sama Kuliah. Semoga dengan Kakak menitipkanmu pada Abi dapat membuatmu bahagia, Kakak tidak ingin kamu kesepian"
"Selamat malam Baby" Ucapnya dengan senyum terpatri di wajahnya, setelah itu ia menutup pintu kamar Syifa dengan hati-hati.
Bara merasakan sebuah tepukan pelan di bahu kanannya, ia menoleh ternyata Adik lelakinya yang baru saja menepuk bahunya.
Bara menaikkan sebelah alisnya menatap Revan. Revan tersenyum, ah bukan senyuman melainkan cengiran khas anak tengil.
Bara menatap Revan malas, ia memutar bola mata dengan raut jengah.
"Gue lihat Lo tadi di depan pintu kamar Syifa, Lo tenang aja, Gue yakin Syifa bahagia hari ini karena banyak yang nemenin"
Bara mengangguk setuju, "Iya, Gue harap juga begitu"
"Percaya sama Gue, Syifa bahagia kok. Dengan keputusan Lo buat nitipin sama Kak Abi, dia dengan telaten jagain Syifa sampai Lo pulang kan?"
Bara terkekeh, "Iya, Abi emang dapat di andelin"
"Good job, my bro" Revan melambaikan tangan dan berjalan mendahului memasuki kamar.
__ADS_1
Bara pun sama, ia memasuki kamar dengan wajah cerah dengan senyuman terpancar dari lengkungan bibirnya.