Overprotective Asyifa Family

Overprotective Asyifa Family
Episode 8


__ADS_3

"Permisi keluarga pasien?"


Seorang Dokter laki-laki berucap setelah ia membuka pintu UGD. Dokter Ferdi namanya.


Dokter Ferdi merupakan Dokter Pribadi keluarga Winata.


"Bagaimana keadaan Putri saya?" sela Vina cepat.


"Nyonya tenang saja, Nona Syifa keadaanya sudah membaik"


"Bisa saya bicara sebentar dengan Orang tua pasien?"


"Baiklah-"


"Saya ikut" potong Adnan.


Ia juga ingin tahu detail tentang kondisi Ifa.


Aditya mengangguk, memperbolehkan Adnan putra sulungnya untuk ikut dengannya.


"Dok! Apa Syifa udah boleh dijenguk?" tanya Bara menatap penuh pada Dokter Ferdi.


Ia tadi melihat Princess sudah di pindahkan ke ruang rawat. VVIP lebih tepatnya.


"Iya, sudah bisa dijenguk. Tapi dimohon untuk tidak mengganggu istirahat pasien" Bara mengangguk menyetujui.


"Mari ikut ke ruangan Saya"


Dokter Ferdi berucap sebelum berjalan mendahului, diikuti Adnan di belakang.


"Ya udah aku ke ruangan Dokter dulu ya Sayang"


Aditya mengelus rambut istrinya lembut disertai senyuman. Yang malah mendapatkan dengusan dari kedua putranya.


Vina terkekeh geli mendengar dengusan Revan dan Bara, lalu mengangguk pada suaminya.


Setelah Aditya berjalan menjauh untuk menemui Dokter, Vina mengajak putranya dan sahabat putranya untuk masuk ruang rawat Syifa.


Mereka melihat Syifa yang masih terlelap diatas ranjang Rumah Sakit. Dengan infus ditangannya dan wajah pucat yang terpampang jelas.


Membuat mereka semua yang melihat itu tambah khawatir.


"Sayang"


Vina mendekat pada ranjang yang di tempati Syifa. Lalu duduk di kursi samping ranjang.


Mengambil tangan Syifa yang tidak di infus, mengelusnya pelan.


Disini yang paling sedih adalah Revan.


Lihat, dia sekarang hanya berdiri menatap ranjang Syifa dengan tatapan kosong. Ia benar-benar merasa bersalah.


"Sudahlah, ini bukan salahmu. Jangan salahkan diri sendiri"


Bara menepuk pundak Revan, berusaha menenangkan.


Vina yang melihat itu, menghampiri Bara dan Revan, lalu memeluk Revan erat, menyalurkan rasa hangat sebagai bentuk kasih sayang.


Revan membalas pelukan Vina tak kalah erat.


"Revan Sayang... dengar Mommy. Ini sama sekali bukan salah Kamu Sayang. Lebih baik hari ini sebagai pelajaran untuk kita semua. Itu artinya, kita harus extra lagi untuk menjaga Princess"


"Iya Mom. Thanks Mommy."


"Princess akan baik-baik saja kan?"


Lanjutnya melepaskan pelukan, lalu menatap Vina dengan pandangan sayu.


"Tentu, Sayang. Princess pasti akan baik-baik saja. Kamu siap kan menjaga Princess?"


"Always Ready Mom" ucapnya antusias.


Kini Revan telah kembali ceria.


Engghh


Suara itu.


Suara yang familiar di telinga mereka.


Ya itu adalah suara Syifa.

__ADS_1


"K-kak Revan.." panggil Syifa lirih.


Yang dipanggil berjalan mendekat lalu tanpa aba-aba langsung memeluk Syifa erat.


Saking eratnya pelukan Revan membuat Syifa sesak nafas. Ia menggeliat tak nyaman karena kekurangan Oksigen.


Sandi yang berdiri di dekat Revan melihat Syifa seperti orang Asma membuatnya panik.


Ia memukul punggung Revan keras sampai menimbulkan suara pukulan yang cukup nyaring.


Plakk


Revan berjengit kaget juga meringis menahan sakit bekas pukulan Sandi yang gak main-main.


Jangan salah, Sandi merupakan Juara Taekwondo, sabuk hitam lagi.


Setelah Revan melepaskan pelukannya dengan Syifa, Syifa akhirnya bisa bernafas lega sekaligus mengatur nafasnya yang tidak teratur.


"Apasih!"


Sewot Revan tak terima, ia dipukul dengan keras tadi oleh sahabatnya.


"Itu lihat Syifa!!"


Membuat yang ada di sana menoleh serempak.


Mereka terkejut mendapati Syifa yang seperti habis lari Marathon. Ngos-ngosan.


"Loh sayang, kamu kenapa? Kok nafasnya ga teratur gitu"


Vina mendekat pada Princess dengan panik, lalu mengelus dada atas Syifa pelan dengan naik turun.


Mencoba membantu Syifa bernafas normal lagi.


...●●●...


Dr. Ferdi Room


"Jadi begini, keadaan Nona Syifa bisa di bilang cukup baik. Tapi ada hal penting yang perlu Saya sampaikan pada Tuan"


"Baiklah, sampaikan saja"


Siapa lagi jika bukan Ferdi.


"Nona Syifa memiliki penyakit Magh yang cukup parah-"


Ferdi memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan berbicara, ia menatap kedua laki-laki yang duduk di depannya.


Ia melihat tatapan penasaran, sekaligus menuntutnya untuk melanjutkan perkataannya yang tadi sengaja ia jeda.


"Apakah tadi pagi Nona tidak sarapan?"


"Ifa tadi pagi sarapan. Cuman Ifa hanya makan dua lembar roti" jawab Adnan dengan detail.


Dokter Ferdi menganggukan kepalanya.


"Baik. Bisa Saya simpulkan bahwa Nona Syifa memiliki imun dan daya tahan tubuh yang lemah. Walaupun Nona sudah sarapan roti tapi itu tidak menjamin perut benar-benar terisi"


"Saya anjurkan Nona Syifa wajib makan nasi saat sarapan, jangan sampai telat makan. Minimal makan 3 kali sehari. Jangan terlalu lelah dan banyak beraktifitas"


Aditya dan Adnan mengangguk mengerti.


Setelah berpamitan dengan Dokter Ferdi, Aditya berjalan menuju Apotek untuk menebus obat dan vitamin Syifa sesuai resep Dokter.


Sedangkan Adnan berpisah tadi dengan Aditya diujung lorong.


Ia akan menuju ruangan rawat Syifa. Ia sungguh merindukan Ifa.


Ingin cepat-cepat bertemu dengan Princess.


Ceklek


Suara pintu terbuka.


Lalu disusul Adnan masuk ruangan.


"Adnan, dimana Daddy"


Vina bertanya karena tidak melihat suaminya datang bersama Adnan.


Kemana dia, pikir Vani.

__ADS_1


"Daddy sedang menebus obat dan vitamin Ifa"


"Ifa kenapa? Kok digendong sama Bara?" Tanya Adnan kebingungan.


"Itu kak, tadi saat Syifa siuman. Revan langsung peluk Syifa erat banget. Sampai Syifa sesak nafas kaya orang Asma dan ngos-ngosan habis lari Marathon"


Ceplos Doni terlalu jujur. Malah ditambahi dengan perumpamaan.


Adnan mendelik.


Menggeplak kepala Revan keras.


Plakk


Ia benar-benar jengkel dengan tingkah Revan.


"Sshh.."


Apes-apes. Gue udah dapet empat pukulan dalam beberapa jam. Tadi kena bogem kak Adnan, dipukul Sandi di punggung, lalu dijitak kak Bara juga. Dan sekarang gue dapat geplakan dari kak Adnan, lagi. Batin Revan menyedihkan.


Adnan mengambil alih Ifa dari gendongan Bara.


Bisa ia lihat, bahwa Ifa sedang tertidur pulas. Ia menaruh Ifa di pangkuannya, sedangkan dirinya duduk di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang.


Ia membetulkan posisi Syifa agar lebih nyaman, juga membenarkan selang infus yang terpasang pada punggung tangan Syifa.


Syifa sedikit terganggu, lalu mengerjapkan matanya lucu dengan bibir mengerucut.


Imut sekali.


Ia menatap seseorang yang ada didepannya juga sedang menatap pada dirinya.


"K-kak Anan.." ucapnya parau khas bangun tidur.


"Stt.. tidur lagi Sayang. Nanti kalau sudah waktunya makan dan minum obat akan Kakak bangunkan" ucapnya lembut sembari mengelus punggung Syifa naik turun.


Tak butuh waktu lama untuk Syifa kembali terlelap, menjelajahi alam mimpi.


Sekarang Aditya dan Vani izin pulang untuk mengambil keperluan Princess. Termasuk baju-baju ketiga putranya yang berniat untuk menginap di Rumah Sakit.


Sandi, Ana, dan Doni sudah pamit pulang tadi setelah beberapa saat Syifa siuman. Karena mereka harus kembali ke Sekolah untuk melanjutkan Pembelajaran.


Tadi memang mereka bertiga izin hanya beberapa jam saja untuk menjenguk Syifa.


Kini Revan terlelap disofa, sedangkan Bara sedang mengerjakan tugas Kuliahnya.


Tadi pagi saat ia bertemu dengan Adnan, ia berencana untuk Nugas bersama teman sekelompoknya di Cafe.


Tapi malah batal karena keadaan Syifa yang membuatnya sangat khawatir.


Tapi syukurlah sekarang Syifa keadaannya sudah lebih baik. Ia bertekad akan menjaga Princess dengan extra lagi.


...■■♡■■...


1164 Karakter.


Hai teman teman.


Aku Up lagi. Maaf ya kalo Up nya terlambat.


Aku Up malam karena aku benar benar sibuk. Ini ga bohong ya.


Dari jam 07.30 sampai 15.00 aku ada PTS. Meskipun ada jeda, aku ga bisa leluasa buat nulis Cerita ini.


Jadi sorenya sampai malam ini aku fokusin buat nulis ini👌


Semoga suka sama ceritanya😍


Vote✔


Comment✔


Bye bye 👋


Sampai jumpa lagi😊


Tungguin aku Up lagi ya hari Minggu👌👍✌


Luv you All💜💜💜


^^^Kamis, 17 September 2020.^^^

__ADS_1


__ADS_2